Mak Menikmati Kehujanan
Lebih baik kau tak bilang pada siapa pun, kecuali Tuhan. Mak, Mak dari ibumu ini telah mati. Jangan menangis, sebab tangismu tak akan menghentikan apa pun. Tangisan tak akan melahirkan apa pun.
Tuhan,
Aku seorang bocah tujuh tahunan. Lahir dalam bedeng kontrakan. Besar dan tidur di jalanan. Tiap hari aku bermain sepanjang trotoar, biasanya sepulang sekolah. Tiap malam kuhabiskan waktu sebelum tidur dengan mas-mas dan mbak-mbak yang sekolah di dalam sana. Mereka suka ngobrol soal cerita-cerita dan tulisan-tulisan lainnya. Mereka itu memang keranjingan tulisan. Kalau sudah ngomong soal tulisan bisa lupa makan. Memang, mereka tidak pernah makan di warung kami selain satu dua gelas kopi pahit. Semuanya begitu, dan semuanya baru bisa aku ikuti tentu saja sepulang mengaji. Oya Tuhan, setiap sore aku pergi mengaji. Guru ngaji bilang, kalau ada yang membuat susah berdoalah. Sebab Tuhan Maha Pemurah.
Dua minggu lalu, Mak sibuk bersih-bersih. Terpal plastik coklat itu digulung dan diturunkan dari atas rangka kayu pelindung warung. Diikat dan dicampur kumpul kompor, panci, dan lainnya.
”Mak, kita mau pulang ya?” Harap-harap cemas aku. Senang rasanya, membayangkan pulang kampung naik kereta.
”Nggak. Sudah, kamu main-main saja sana!” Mak terus menggosok gerobak kami dengan gombal basah. ”Tapi jangan jauh-jauh. Jangan turun ke jalan, jangan masuk-masuk kampus, nanti bikin susah ibumu.”
Aku diam, bingung melihat Mak marah-marah. Kuambil karet ban pengasih Pak Bur, mau kujadikan sabuknya Satria Baja Hitam1. Tapi mataku tak bisa dibohongi, berkedip-kedip tak mengerti. Semalam Mak memang kelihatan susah sehabis dipanggil Pak Bo, mas yang sekolah di dalam sana dan biasa nongkrong di warung juga. Pak Bo jualan buku di ujung jalan. Tapi, kalau Mak susah karena Pak Bo, kenapa yang kena marah aku.
Tiga kawanan itu Pak Bo, Pak Lo, dan Wak Ban, lewat depan warung. Mau mbongkar kiosnya Pak Bo mungkin. Orang-orang lain sudah pada mbongkari warungnya sendiri-sendiri tadi malam. Kelihatannya Pak Bo kelewat sibuk ngurusi orang lain, sampai lupa kiosnya sendiri.
Selagi tiga orang itu lewat tahu-tahu ada yang nyanyi.
”Semua tak sama. Tak pernah sama…” Tangan Mak masih menggosok gerobaknya. ”Apa, Pak? Lihat-lihat apa?”
Mak meringis, barisan giginya melongo sebagian. Tiga orang itu senyam-senyum dan saling adu pandang sebentar.
”Ah, Emak bisa saja…” Bertiga itu mengingatkan pada hormat pagi di kelasku.
Mereka pun beriringan lagi menuju pojok jalan itu. Juga Mak, terus saja dengan lagunya. Heran, darimana Mak tahu lagu orang-orang yang suka genjrang-genjreng di bangku warung itu? Nggak tahulah, yang penting Mak sudah bisa nyanyi. Aku pun ngeluyur pergi.
”Daripada sakit hati. Lebih baik sakit gigi ini.” Mak masih berlagu. Padahal kalau sakit gigi betulan, aku yang sering kena getahnya. Aku lari sekencang-kencangnya.
Mula-mula main di pinggir jalan. Lama-lama bosan juga, melihat banyak tampang menahan berak di mana-mana. Aku lari ke dalam, siapa tahu ada mbak-mbak ayu. Aku ingat setiap pulang sekolah, di jalan suka ada tukang becak yang nyanyi lagu jawa edan. Begini….
Mbakyu, Mbakyu, bakul jamu
Sampeyan meriki kulo tum…basi…2
Sampai di tum itu biasanya suka ada yang nyahuti jadi tumpaki3. Ah, dasar langgam4 jawa edan. Aku pernah dimarahi Bu Guru Bahasa Daerah gara-gara nyanyi lagu itu. Lha sumpah, Gusti Allah jadi saksi, aku ini tidak bisa nyanyi. Salah sendiri nyuruh aku nyanyi. Aku kan cuma menirukan yang pernah kudengar.
Siang langit terang. Aku main di dalam puas-puas. Lari ke sana, lari ke mari. Kadang jadi Satria Baja Hitam, kadang jadi Power Rangers5. Pokoknya, berubah! Berubah! Persis ular yang pintar ganti-ganti kulit. Ssst….mas-mas bilang itu panggilan buat Pak Lo. Intrik, kata mereka panggilan itu namanya intrik. Aku? Mana tahu yang begitu-begitu. Aku kan cuma pingin jadi jagoan di jalan depan itu, kalau besar nanti.
Kalau jadi jagoan, Tuhan, aku mau pukul orang-orang yang suka mintai uang Mak buat mabuk-mabukan di tikungan seberang sana. Aku hajar mereka, sampai nggak bisa apa-apa lagi. Sampai tangannya patah, kakinya patah. Kepalanya…kuinjak-injak sampai remuk. Darahnya kuminum, seperti lakon-lakonnya wayang kulit. Bapak pernah ngajak nonton wayang kulit sambil naik becak. Bapak yang genjot, aku yang kasih aba-aba. Tuhan, kecil-kecil begini aku ketua kelas lho, jadi biasa kasih aba-aba.
Sore langit seperti mau jatuh. Petir dan geledeknya menyambar-nyambar. Aku lari pulang ke warung, sekencang-kencangnya. Makin kencang makin baik. Terus lari sambil menyanyi lagu kesukaanku dalam hati.
Naik kereta tut-tut, tut tut tut
Siapa hendak turut
Kesambar putra petir
Kepalanya jadi opak gambir
Pak Lo pernah cerita soal Ki Ageng Selo yang jago nangkap petir. Lantas menurunkan lagu tadi. Pak Lo juga sudah mengajariku lagu penjinak petir itu. Aku tidak tahu, tapi percaya saja. Siapa tahu Pak Lo jelmaan petir itu sendiri, kata orang memang begitu. Petir di tangan Ki Ageng Selo jadi ulo alias ular besar.
Angin meliung-liung, lariku meliuk-liuk. Takut juga kalau warungnya Mak rubuh karena angin begini besar. Aku lari lebih kencang. Napasku sudah sengal satu-satu. Acara bongkar-bongkaran itu belum selesai. Tapi, warung Mak sudah tak ada lagi. Mak dan Ibu mau mendorong warung kami ke seberang jalan.
”Mak, kita jualannya pindah ke sana ya?”
”Nggak. Sudah, sudah. Diam saja di situ!”
Aku bingung lagi. Mak masih marah juga, padahal sudah bisa nyanyi tadi. Aku cuma bisa diam akhirnya. Sehabis membereskan semuanya, Mak mengajak kami pulang ke bedeng kontrakan. Semalaman itu aku mimpi ketemu ular besar memakan kayu-kayu dan gerobak kami. Ular itu keluar dari banjir yang membandang warung kami juga.
Besoknya, pagi-pagi Mak mengajak kami keluar lagi. Bertiga kami beli nasi bungkusan. Bertiga kami makan di bekas warung Mak. Masih sisa satu bangku, kami berdempet-dempetan di situ.
”Mak, nanti kita pulangnya naik kereta, ya?”
”Ya.”
”Buk, nanti aku dibelikan mainan baru, ya?”
”Hhh.”
Diam lagi. Semuanya serba kaku. Mungkin Mak dan Ibu sedang sakit perut sehabis sarapan ini tadi. Aku tidak tahan, mau lari tapi tanganku dicekal Mak.
”Jangan! Nanti kamu diculik orang.” Mata Mak sebesar telor ceplok. ”Hhh. Itu mereka datang.”
Aku takut setengah mati. Dari ujung jalan jauh di sana datang serombongan tukang culik itu. Ada yang jalan, ada yang naik truk. Ah, mereka pakai baju seragam. Seperti seragamku kalau hari Jum’at. Ada polisinya juga, ada tentaranya juga, ada apa ini? Aku ketakutan hampir mati.
Muka mereka lebih ngotot dari muka orang-orang warungan. Tetangga-tetangga warung berlarian ke sana-sini. Dari balik pohon di depan bekas warung aku lihat mereka mengacung-acungkan tongkat kayu. Memukuli dan merubuhkan gerobak-gerobak yang ketinggalan. Gerobak lama-baru yang sudah rubuh diinjak-injak, sampai kacanya berhamburan. Sisanya diangkut dalam truk. Ada juga yang marah-marahan dengan orang-orang.
Sampai di seberang jalan tempat Mak dan orang-orang lain menaruh gerobaknya kemarin, mereka itu otot-ototan lagi dengan Pak Her. Kepala keamanan sekolah di dalam itu tak kalah sengit ngototnya, sambil menuding-nuding ke dalam sana.
Tak lama mereka pun selesai otot-ototan. Semua bubar sendiri-sendiri. Orang-orang seragaman itu naik truk lagi. Orang-orang warungan berbisak-bisik tak karuan. Aku bingung dan ketakutan. Takut kalau warungnya Mak ikut diangkut. Takut kalau Mak tak bisa jualan lagi. Takut kalau aku tak dibelikan mainan lagi. Uang hasil tarikan becak Bapak tak pernah kulihat selembar pun. Aku bingung dan takut, dan lebih takut lagi kalau ingat tampang-tampang seram berseragam tadi itu.
Sore lewat, tanpa obrolan dan genjrengan. Pak Bo dan orang-orang sibuk berkasak-kusuk di belakang pagar sekolahan besar ini. Mak tidak datang, mungkin sudah mulai sakit gigi. Dalam diam mukanya ditekuk. Kalau sudah begitu leher keriputnya jadi hilang. Semuanya hilang malam ini. Ya Tuhan, aku pun tak berangkat mengaji sore tadi.
Dua hari sejak itu kami tunggui saja bekas warung ini. Mak, Ibu, dan aku saling diam-diaman. Jidat Mak berkerut-kerut lebih banyak lagi. Mata Ibu melihat ke depan, jauh sekali. Mereka mirip orang yang baru marahan. Aku terjepit di tengah-tengahnya. Aku tak berminat mengganggu mereka, atau melakukan apa pun. Tapi lucu juga, kami jadi seperti anak kecil semua. Sekalipun tetangga kanan-kiri mulai klesak-klesik mencari cara supaya bisa buka lagi, Mak dan Ibu seperti tak mau ambil perduli. Dua hari itu benar-benar kami diamkan hanya buat diam.
Hari ketiga, Mak mulai coba-coba jualan lagi. Warung dibuka kecil-kecilan. Satu meja, satu kursi empuk bekas punya tetangga, dua bangku dan seperangkat alat dapur. Beberapa tetangga juga begitu. Beberapa langganan mulai datang. Tapi langganan lain yang sibuk ngurusi soal buka lagi masih jarang duduk di sini. Apalagi Pak Bo yang jadi ketua rombongan kami, kata Mak, dia pasti lebih sibuk dari sibuk.
Aku bisa main-main lagi, lari-lari lagi. Bisa nyanyi juga, lagu kesukaanku juga. Tapi, tetap takut-takut. Nggak seberani kemarin-kemarin memang. Tapi syukurlah, Ya Gusti Allah, aku masih sempat bernyanyi. Soal Mak? Di sela-sela giginya yang masih tersisa Mak seperti sudah lupa buat menyanyi. Mak sudah biasa senyam-senyum lagi, biasa marah-marah lagi, dan bergunjing lagi. Seperti barisan gigi orang tua cerewet itu, semua sudah mulai plong lagi.
Seminggu lewat kami berdagang kecil-kecilan, sembunyi-sembunyi. Kata Mak, kalau sewaktu-waktu ada yang datang lagi kita semua mesti siap. Benar juga omongan Mak itu. Satu kali datang serombongan orang lagi. Mereka menanyai Mak, Ibu, dan orang-orang lain satu-satu. Sekarang bukan cuma soal warung yang harus pergi. Sekarang kami semua harus pergi dari sini.
”Kenapa mereka tidak tanya aku?”
”Belum waktunya. Kamu belum punya KTP.”
Aku bingung lagi. Bukan cuma mataku yang berkedip-kedip terus. Kepalaku pusing bukan kepalang. Pusing sepanjang jalan pulang. Kami pulang lagi. Mak sebenarnya sudah bilang kalau KTPnya ketinggalan di rumah, tapi orang-orang itu tak mau percaya. Mak minta tempo buat mengurusnya, mereka bilang Mak musti pulang. Kami musti pulang. Mak seperti mau bilang sesuatu waktu tangan salah seorang dari mereka mendorongnya. Dan kami pun pulang.
Mak nangis sepanjang jalan. Matanya yang sebesar telor ceplok itu tinggal sebengkol jengkol yang basah terus-terusan. Ibu ikut-ikutan nangis juga. Aku tidak tahu mau apa, ikut nangis saja. Bertiga kami pulang, bertangis-tangisan sepanjang jalan. Orang-orang lain juga marah-marah karena soal ini. Mereka juga pulang ke kontrakannya sendiri-sendiri. Semua pulang dengan mata merah yang sama. Hujan turun, langit pun menyambut dengan cara yang sama.
Sorenya, Mak bersiap-siap keluar rumah.
”Ke mana?”
”Warung. Ada yang ketinggalan.”
”Apa yang ketinggalan?”
Mak menjawab dengan meloncat ke tengah hujan lebat. Air di depan sudah hampir masuk bedeng ini. Kilat sambar bersambut petir sekeras petasan lebaran, Ibu teriak keras-keras, Mak tak perduli lagi.
”Sudah. Ini angkat dulu.” Bapak menunjuk kasur bolong-bolong dan barang-barang lain di lantai.
Ibu menggaruk kepalanya sebentar, dan berbalik ke arah kasur. Sampai malam Ibu sibuk membantu Bapak mengangkati barang-barang. Kertas-kertas lusuh dipindah ke tempat paling tinggi. Tapi air seperti terus mengejar kami. Semakin kami naik semakin dia tinggi. Kepalaku menekuk di bawah atap bilik bambu berkapur tak rata. Kakiku menekuk rapat-rapat, perut lengket pada punggung. Ibu meringkuk seperti ayam kedinginan, Bapak juga tak kalah bulatnya. Aku kedinginan semalaman.
Malam itu aku bermimpi lagi. Ular besar itu menggulung warung dan bangku-bangku kami. Habis satu meja dan dua bangku, dia seperti belum puas juga. Kursi bekas punya tetangga ditelannya juga. Ular itu jadi makin besar. Sepanjang jalan depan sekolahan besar itu sudah habis dipenuhi badan lembeknya. Gelambir-gelambir kulitnya makin mengkilat dan keras saja. Tambah panjang dan lama-lama memenuhi jalan-jalan lain juga. Melingkar-lingkar seperti mau menelan semuanya. Moncongnya terus menggerus bangunan-bangunan dan semua yang kelihatan di sekitarnya. Tingkah ular besar ini pun diikuti hujan deras yang tak mau berhenti. Dan, kulihat lagi Mak meringkuk di kursi empuk bekas punya tetangga. Kelihatannya Mak menikmati kehujanan semalaman. Mungkin, sampai kami tahu apa yang dilakukannya.
Ibu, aku dan Bapak bangun kesiangan. Turun pelan-pelan, satu-satu. Banjir belum surut benar, masih setinggi lutut. Hujan sudah jadi gerimis kecil. Ibu tak mau menunggu lebih lama lagi. Ibu, Bapak dan aku pergi mencari Mak.
Di jalan kami bertemu becak lain.
”Mak Menik mati kehujanan.” Celetuk tukang becak itu.
Ya, Mak sudah mati. Duduk meringkuk di atas kursi bekas punya tetangga. Bibirnya biru, badannya biru. Dan seperti kata Ibu, tangisan tak menghentikan apa-apa. Semua ini aku ceritakan kembali, Ya Tuhan. Semua kuocehkan saja lewat mulutku yang juga biru, demi ketakutan yang belum lagi selesai. Demi ziarah yang tak ada habis-habisnya, ya Tuhan.
Keterangan:
Nama tokoh dalam film kartun
Mbakyu, Mbakyu Tukang Jamu. Marilah ke mari saya mau beli
Naiki
Lagu
Nama tokoh kartun yang lain
2002
***