Thursday, August 28, 2003

tak semua memang

bisa ditanya untuk apa




ini dari sebuah puisi si gundul itu...padahal ini pun sudah merupakan sebuah reduksi; klo berniat bertanya tentang sang mengapa, aku rasa lebih baik gunakan mengapa. Mengapa tidak sesempit makna yang dipertanyakan oleh sebab/karena apa alias kena apa yg dipersingkat menjadi kenapa. Mengapa pun tidak sesempit untuk apa atau buat apa yang terlalu pragmatis bahkan cenderung mengarah pada utilitarianis, opportunis, dan bahkan hedonis...mari aku berkaca lagi dan mengapa aku bertanya-tanya; ah mungkin hanya ingin mengenali diri (gnoi seaton; bual plato menirukan gurunya di pintu-pintu kelas academosnya), mungkin hanya ingin berpatut-patut diri, barangkali sekadar mau katarsis meski tak selalu ekstasis (masturbasi batin seperti setiap saat aku sambat pada yg aku anggap kuasa pada segala doa dan dosa; sayang, aku mulai coba tinggalkan pikiran tentang reward and punishment yg kerap membuatku jadi penjilat atau paranoia), pun barangkali sekadar mewedar mimpi-mimpi yang tak pasti....barangkali seperti mimpi...soal apakah ruang ini bakal jadi ajang perdebatan diskusi karya atau apa ya terserah saja...sebab pada ruang yang terlanjur terbuka sebagaimana juga karya penulis/penyair telah mati di sana...ketika ia coba mengunjungi lagi ruang itu, ia pun tamu dan pembaca yang baru...toh tak ada kaki yang menyeberangi sungai dua kali...justru kalau aku menyayangkan adanya gejolak dan perbedaan yang berkembang atau kukuh memegang petak-petak sawah yang ada maka aku merasa seperti berada dalam penjara strukturalisme mesin-mesin, padahal cukup lama kudengar gaung perlawanan yang terbantun dalam maraknya gelegak Rage Against the Machine, padahal aku begitu gandrung dengan tarian masyuknya para penggembira di jalanan generasi bunga (the lost generations?), padahal aku sangat terpesona oleh pesona dialog pembunuh tua yang dibualkan sean connery dalam the rock (setelah ini aku berhenti dan memilih menjadi petani atau penyair...) sementara teriakan nelangsanya nicholas cage menyeruak ke udara pecah seperti balon-balon kalimat dalam komik...aku suka tekanan, aku suka tekanan, aku suka tekanan...aku bahkan jarang membayangkan hidup dalam kelimpahan benda-benda dari [B]puri rapuhku[/B] setelah sekian abad suntuk dalam menggoreskan darahku pada dinding-dindingnya karena kertas, korden, pakaian dan sprei telah habis bersama menguapnya dawat tinta dalam botol-botol jack daniels…toh, aku bukan nirdawat atau penulis kwartet tarian cangkir remuk yang nyatanya menyosor dari quatrine of an artist as a didderot man…aku pun rafilus aku juga bukan bekas pelukis yang tergila-gila pada mayat bekas istrinya…aku bukan kropos yg diselundupkan, dimangsa dan dicerabut dalam oleh dan dari zabaza….aku tak mungkin menjelma bekas calon rahib, bekas pejuang, bekas algojo pemenggal kepala para pengkhianat, dan gelandangan yang dihidupi maria dan hendak dihidupi vivi yang terbunuh itu….aku pun bukan lelaki yang sanggup menatap inti matahari hingga hanya tinggal satu dan satu-satunya masalah yang dihadapinya yakni bahwa sepanjang malam ia ada melihat matahari dalam tempurung kepalanya…meski aku bukan si dungu yang ketika digorok akan berbisik mesra pada cuaca….”seperti anjing…..” mustahil…..dan musykil aku menjadi seorang muda yang sedia membunuh nyonya rentenir tetangga hanya demi suara-suara tokoh besarnya sambil melunasi seluruh hutang hidupnya….pun tak ada niatan dalam benakku untuk sekali pun mengeja-wantah diri sebagai kecoa seperti metamorfosa yang gagal dan memuakkan…..aku tak berhasrat merengkuh segala kemuakkan dalam mata jejala mayapadha ini sebagaimana pernah dinyatakan oleh si penjual kata-kata, yang kerap merasa muak pada keterasingan….juga tak perlu aku menggerus rumusan-rumusan pretensi atas surga atau neraka di dasar pantatku hingga merusukkan tinju peradaban dalam buku bulukan tertajuk hajad absolut….kalo kerasa reseh atau bikin pusing…..lah apa ya setiap langkahku musti ga kesandung, ga pake jatuh….aku kok ga ngerasa itu perlu diperumit dengan segala perhitungan….terlalu banyak berhitung mending aku ga usah mencintai bunga-bunga….terlalu sedikit gunanya….mending aku milih jadi tukang intelek atawa dagang bualan di kelas-kelas…atau sekalian koar-koar jadi nabi penjaga gawang moralitas kaya juragan sekte di jepang yg bisa bikin orang sekampung bunuh diri massal…tanpa perlu jagal…wah kalo dah kayak gitu kayanya aku dah jadi teror yang lebih mengerikan ketimbang segala bentuk senjata balistik, bom plastik, bombasme…..sebab bombie ada di kepalaku….lha aku mau mleding, mau nungging, mau ngibing, mau apa juga siapa sebenarnya yang paling sah seabsah-absahnya memberikan tanda seru sampai…..kotaku penuh tanda seru….kecuali temenku yang kadang selera humornya rada kelewatan itu….dia yang kadang jadi penembak yang tak jitu…dia yang juga mencintai bunga-bunga…..

aku tak bicara

buah, daun dan pokok

anggur kebunmu

cuma kucinta

semai, semi, dan mekar

bunga-bungaku

proklamasi58 sby, 3:38

Tuesday, August 05, 2003

cerpen itu dibacok-bacok Parang



diremas-remas seperti daging segar. dibuka lagi, pelan-pelan, selembar-demi-selembar. dibuatkan pigura, dipajang dalam kamar. ternyata masih kurang sreg juga.

piguranya diusung ke kamar mandi. dipelototi ampe mata juling begasing-gasing, tapi itu cerpen masih bandel juga. gak ada bagus-bagusnya acan. lama ngendon di kamar mandi, digedor sama orang serumah dikira sudah mati di dalam. cerpen itu bikin tak bisa mandi. orang serumah protes keras lantaran bergidik liat kertas comel comang-comeng darah segar dari tangan terParang. cerpen itu menggigil keluar dari kamar mandi.

saking geregetan cerpen itu ditaruh sembarangan dalam wc. lagi-lagi cerpen yang gak sreg itu bikin ulah. orang-orang takut masuk wc. di bawah lampu wc yang remang cerpen itu mengeluarkan gambaran remang-remang dari seorang penulis cerpen yang mati penasaran. cerpen itu menghantui orang serumah. saking ketakutannya, mereka lari berhamburan keluar rumah. ruang tengah, kamar tidur, dapur, ruang tamu, tak lupa wc dan kamar mandi sudah tak lagi aman. orang-orang berlarian ke sana-sini nyari tempat sembunyi. tak sempat berpakaian, tak baju, tak celana, luar dalam mereka lupa. orang-orang terus berlarian keluar rumah. apalagi setelah cerpen itu ikut lari ketakutan. berkejaran mereka berlarian, tanpa busana, tanpa paksaan, tanpa pigura.

cerpen itu mencari teman menghambur ke orang-orang yang ketakutan. keliling kampung, keliling kota.

orang-orang kampung terpukau oleh pemandangan istimewa ini. mereka anggap serupa santapan mewah. mereka turut suka berlari-lari dalam histeria. orang serumah dihantui cerpen itu dan diturutsukai orang sekampung berlarian tak kunjung ujung. semua orang (termasuk si cerpen, sic!) lantas terlibat dalam karnaval panjang sambil berteriak, tertawa, mengacung-acungkan pakaian dan celana. kegembiraan tak terduga ini tentu saja disambut meriah oleh tiap orang sepanjang-jalan-mana mereka lintasi dengan lintasan-lintasan pikiran sepintas. orang-orang di jalan-jalan, gedung-gedung, warung-warung, kantor jawatan pemerintah dan partikelir sedikit tertegun oleh kenyataan bahwa di kota mereka masih ada yang tertawa. segera saja semua memburu ke arah yang sama. tak ketinggalan pula seorang pemburu-gembira-ria ini yang berlari sambil mengebor jalan.

yang lain tak mau kalah, cepat-tepat dilakukannya goyang ngecor. sebagian lagi menyusul dengan goyang ngedor. amboooooi, alamaaaaaak, alakazaaaaaaaam, abracadabrrrrrrrrra. seisi kota mencair riak ke dalam larutan kegembiraan ini. semua seperti kenabian (sebutan lain untuk kata kesetanan; hanya berlaku di kota itu, pen.) membentuk karnaval panjang yang lebih meriah dari pesta hari jadi kota, seluruhnya mengekoooooooooorrrrrrrrrr.

setengah terengah-engah, sampailah kepala keluarga pemilik cerpen itu pada ujung kota yang mewujud dalam bentuk tubir jurang teramat dalam.

pelahan kepala keluarga itu menengok ke arah orang-orang serumah dan orang-orang sekotanya. lalu matanya tertumbuk pada sebuah cerpen tanpa pigura. "ini semuuuuuaaaaaa garrraaa-garrrraaa kamuuuu!!!!

serta-merta kepala keluarga itu mencabik cerpen yang masih menggigil ketakutan dan nyaris kehabisan nafas itu. tak sanggup mengelak cerpen itu pun menurut saja dicabik-cabik oleh kepala keluarga. orang-orang serumah segera sadar akan keadaannya, orang-orang sekota begitu pula jadinya. si penulis cerpen yang tangannya terParang itu pun tak mau kalah rindu-dendam pada cerpennya. akhirnya setelah melalui pergulatan yang sangat dahsyat cerpen itu bisa dijinakkan dari kebanalannya. akhir kata, jadilah sebuah cerpen pendek seperti ini.2003

Sunday, August 03, 2003

Jalan gelap belakang SC











Debu. Dan puing-puing beterbangan memenuhi ruangan. Hampir seluruh sudut ruang di tepi pantai ini lebur jadi serpihan debu dan remah-remah sisa bangunan. Pantai ini jadi lebih luas dan ramai oleh potongan-potongan tubuh basah merah, ketimbang oleh hingar-bingar musik klab malam.



Ari terus merangkak, keluar. Mencari jalan paling mungkin di antara perih sekujur tubuhnya yang terbuka dan lepuh. Bertumpu pada lengan kanan, dilihatnya tubuh-tubuh lain di sekelilingnya pun cuma potongan tulang dan keratan daging hangus, dia mulai yakin kalau Devia telah habis riwayatnya. Sasaran yang seharusnya habis di tangannya itu rupanya sudah lebih dulu mati. Matanya terasa hangat dan basah, entah untuk siapa. Entah untuk apa, dia cuma ingat tak semua bisa ditanya untuk apa.



Lelaki legam ini mendengus, saat tangan kirinya menyikut tembok lapuk di luar bangunan rubuh itu. Nyeri yang menyebar dari sikunya hampir-hampir membuatnya berteriak sekeras geledek yang pernah didengarnya. Beruntung dia segera menahan kelojotan lidahnya begitu sadar beberapa orang mulai datang. Tak lama berselang orang-orang itu berbiak jadi puluhan sampai ratusan penduduk dan pelancong yang sibuk mencari sanak keluarganya. Ari selamat, mungkin juga bakal lebih selamat kalau segera dilarikan ke rumah sakit. Tapi Ari lebih memilih diam, menyelinap diam-diam.



Rumah sakit mungkin bisa menyelamatkannya dari luka-luka, tapi tidak dari kejaran orang-orang yang sedang memburunya. Dengan luka di mana-mana lelaki ramping kecil itu terus menuju kegelapan. Menembus malam, sampai ke sudut paling gelap di kolong kota pesisir selatan ini, tak ada lagi yang perlu ditakutkannya terhadap malam. Sebab Ari bahkan telah menembus batas perjanjiannya dengan You-As Inc. Intl.



Perjanjiannya adalah bahwa Ari harus menghabisi seorang pembelot bernama Devia. Entah, pembelotan macam apa yang telah dilakukan perempuan muda berdarah lokal dan Yunani itu. Buat Ari alasan bukanlah satu hal penting untuk pelaksanaan tugasnya, bisnisnya. Satu sasaran, satu penghabisan1 dan satu pembayaran, sudah cukup buat dijadikan satu alasan. Tugas adalah tugas, bisnis adalah bisnis.



Biasanya juga begitu. Mulai dari model penghabisan manual, penghabisan dengan mesiu, kecelakaan biasa, sampai kecelakaan tanpa jejak korban pun biasa dilakukannya. Begitu yakin dengan sasaran, maka sisanya tinggal menunggu saat yang tepat buat saat penghabisan. Itu pun tak perlu banyak makan waktu. Dan kalau harganya terlalu kecil, maka jebolan sekolah jalanan Jagir ini akan memakai cara lama yang sudah ketinggalan dan sederhana.



Dia jemput orang itu dari depan atau belakang. Renggut rambutnya, lalu gesekkan katana2 dari ujung ke ujung. Lalu pergi tanpa pernah menengok ke belakang lagi, hanya jeritan orang-orang di sekitar korban yang kadang terngiang. Begitulah semua sasaran Ari habis tanpa menyisakan perkara. Satu-satunya masalah adalah bahwa dia tak bisa cepat pulang. Dua tiga bulan ke depan dia harus pergi keliling negeri ini.



Satu kali sempat ibunya bertanya.



“Apa nggak bisa cari kerjaan lain?” tangan ibunya terus menggerus ramuan luka akibat terobek dalam sebuah bisnis besar untuk menghadapi seorang jawara tua dan memaksanya pulang sebentar.



“Buat apa?” meringis menahan rasa perih di iga kirinya.



“Apa nggak takut kuwalat?”



Sebenarnya jeri juga Ari pada pertanyaan itu. Tapi meninggalkan bisnis yang sudah dijalaninya sepuluh tahun lebih ini bukan pekerjaan mudah. Dan lagi lelaki berambut daun cemara ini, yang kalau dipotong pendek bakal kelihatan seperti mau menantang langit, sudah punya satu cara buat menghindari kata kuwalat itu. Satu hal, jangan pernah melihat mata korban3. Apa pun yang terjadi padanya. Satu lagi kunci di luar tugas, sehari-hari jangan pernah mencari atau mendekati masalah.



Pernah satu kali kampungnya diributkan oleh tawuran persahabatan, perebutan daerah kekuasaan, dengan pemuda kampung sebelah. Seorang pemuda kampungnya datang berlari-lari dari arah lokasi kejadian menuju rumahnya. Ari segera berdiri dari tempatnya berjongkok di depan pintu.



“Jangan. Cari tempat lain saja,” tangannya tetap ringan tanpa kesiagaan bertarung, tapi matanya sarat tekanan.



“Tolonglah, Ri,” pemuda itu mencekam lambungnya yang menangis merah.



“Kamu tahu bagaimana aku. Aku tahu siapa kamu,” sambil berbisik Ari melangkah satu-satu. “Kamu sudah maju, kenapa sekarang mundur?”



Pemuda itu tak mau lebih lama menunggu, segera terbungkuk-bungkuk lari lebih cepat dari saat dia datang. Dan hilang di gelap malam. Ari jongkok lagi, menyulut rokoknya. Beberapa saat kemudian seorang pemuda lain datang, pemuda yang tak dikenalnya. Pedang panjang karatan berlumuran basah di tangannya. Ari diam di tempat, hanya pandangannya nanap ke titik hitam mata pemuda itu. Diisapnya rokok ditangan dalam-dalam, matanya menatap lebih dalam dari luka yang bisa dibuat dengan pedang gemetar itu.



“Kalau pedangmu deg-degan lihat mataku, jangan datang ke rumah ini.” embusan tipis keluar dari lubang hitam di wajahnya.



Penenteng pedang itu pun mundur beberapa tindak dan menghilang lagi. Mungkin mulai sadar, siapa lelaki di depannya barusan. Lelaki yang tak boleh disebutkan namanya dengan tidak hormat dalam radius 500 rumah dari kampungnya. Nama yang juga dikenal baik oleh para cukong pendendam. Namanya tak jarang juga dijadikan jaminan buat keluar tahanan, asal dia tak tahu. Sebab begitu dia tahu, maka tak akan segan-segan menghabisi tukang catut nama itu. Apa pun pasalnya. Jadi hidup bersih sudah menjadi kesehariannya.



Bukan apa-apa. Dia berusaha selalu tetap bersih, bahkan alkohol pun tak lagi disentuhnya. Cukup susu putih setiap pagi dan sorenya. Bersih di rumah, bersih di luar rumah, bersih pula pikirannya dari mata yang ketakutan saat para korban sekarat menjemput maut. Begitulah biasanya dan seharusnya.



Tapi kali ini Ari dipaksa melakukan kerja tambahan. Ada pembayaran lebih memang, meski sebenarnya dia tak terlalu suka melakukannya. Ari diminta lebih dulu menemui seseorang di salah satu kafe di ibukota, dia biasanya lebih suka melakukan transaksi lewat layar monitor dan nomor rekening saja. Tapi sudahlah, dia sudah terlanjur masuk ke dalam ruangan ber-ac itu. Duduk di antara orang-orang rapi paling menyebalkan yang pernah dilihatnya. Minum ini, minum itu, lantas melantur tak kenal ujung pangkal. Dan cuma satu yang tak seperti itu.



“Jadi anda, orang yang dikirimkan You-As?” suara lembut itu kemudian mengenalkan diri sebagai Devia.



Ari tercekat beberapa saat. Pertama kali itu dia menghadapi perempuan sebagai sasarannya. Selebihnya dia pun tak tahu bagaimana harus bersikap pada sasaran yang sudah tahu keadaannya sebagai korban.



“Kalau anda tak bersedia duduk, bagaimana kita bisa bertransaksi?” masih lembut, masih mencekam pikiran Ari. “Baik. Mana bagian saya? Saya sedang buru-buru.”



Bagian? Uang? Ini lagi, Ari tak pernah soal transaksi dan pembagian uang apa pun.



“Tidak, saya cuma diminta mengantar sampai Pelabuhan Ratu,” tukas pemuda itu tanpa arah.



“Kenapa mereka selalu mempersulit keadaan?” kepalanya menggeleng beberapa kali. “Kecil-kecil tapi menjengkelkan. Ah, kalau saja anda pernah melakukan tugas yang lebih berat dari ini. Hal-hal kecil seperti ini pasti akan sangat menjengkelkan. Saya sudah menunggu lebih dari enam bulan untuk pembayaran yang seharusnya saya terima segera setelah tugas saya selesai. Pernah menghabisi orang-orang tak dikenal?”



Pertanyaan itu. Pertanyaan itulah yang menghentakkan Ari dari arah jalannya. Dia sedang dalam tugas, menghabisi orang yang harusnya mendapat bayaran sebagai hasil jerih payahnya. Orang yang seharusnya bisa menjadi teman senasib. Senasib, pikiran itu juga yang menjerumuskannya dalam kubangan yang lebih jauh. Aku pun bisa mengalami nasib serupa kalau sudah tak dibutuhkan lagi atau dianggap seperti itu, pikiran Ari mulai limbung.



Sampai di kamar hotel dekat Pelabuhan Ratu, Ari juga tak menemukan pengantar pembayarannya yang dijanjikan akan menemuinya di sana. Ari lebih keras lagi berpikir, jangan-jangan aku pun menjadi sasaran. Diperiksanya beberapa barang bawaan Devia. Tak ada yang berbahaya, tak ada benda tajam, tak ada peledak yang bisa membuatnya sekarat, tak ada mesin penghancur kaliber berat. Hanya sebuah magnum yang bisa diamankannya.



“Kenapa kau bongkar barang-barangku?!” masih dengan handuk di badan, keluar dari kamar mandi, kelembutan itu pun berubah berang. Ari sedikit terusik oleh tingkah berang-berang betina ini.



“Kita harus pergi.”



“Kemana lagi?!”



“Entahlah, aku merasa tidak nyaman di sini.”



“Kenapa? Ini kan yang kalian inginkan? Kita berlarat-larat dengan perjalanan celaka ini?!” G-string, bee-dee’s dan seragam hitam dari You-As sudah lengkap di tubuh padat-rampingnya.



“Rasanya....tak lama lagi aku pun bakal mengalami perjalanan sepertimu.”



“Baik. Lelaki penuh perasaan, jelaskan maksudmu,” resleting panjang seragam itu hampir mencapai leher jenjangnya.



“Aku diminta menghabisi seseorang,” suaranya lemah.



“Aku?” melompat gesit dan digerayanginya tas hitam di bawah meja sudut sana. Lalu segera lemas setelah sadar kalau perbuatan itu pun sia-sia belaka. “Baik. Lakukan sekarang. Cepat!!”



Ari bergeming. Suara di depannya terngiang antara kemarahan dan keputus-asaan. Tangan kanan lelaki legam ini menjulur lemah, matanya menyapu lantai di bawah. Tenggoroknya naik turun saat magnum itu lepas berpindah tangan dengan cepat.



“Kenapa?” pertanyaan anak-anak sekolahan yang paling dibencinya.



“Kita harus cepat pergi dari sini.”



Devia tak bersuara lagi. Semua tas hitamnya sudah tertutup rapi. Beberapa saat mengintip keluar lewat tirai kamar mereka. “Berapa hargaku?”



“Tiga ribu dollar.”



“Murah sekali! Hh! Mereka benar-benar anjing,” Devia mengikat rambut sebahunya dan mundur bebarapa langkah, menjauhi jendela kamar itu pelahan. “Berapa per diem4mu sekarang.”



“Sekitar 250. Tapi rekeningku sudah cukup buat beli tanah peternakan di pedalaman timur sana,” mencoba melucu.



“Berapa banyak rekeningmu yang bisa kau selamatkan dari mereka?” mengintip tirai itu lagi. “Kita jawab nanti saja.”



Devia menggelandang tangan jagal yang baru pertama kali gagal ini. Ari kaget bukan kepalang, tapi Devia sudah menghambur tungang langgang, mendobrak pintu, dan terus berlari. Beberapa saat kemudian terdengar hingar bingar salvo melubangi jendela dan kamar yang baru lima langkah mereka tinggalkan.



Dan keduanya terus berlari. Lewat gang-gang kelinci dan lubang-lubang tikus yang mereka kenali. Sampailah keduanya di kota pesisir pantai selatan tempat sandaran para pelancong ini. Surga dunia di negeri para dewa ini, satu-satunya pilihan yang bisa mereka sepakati. Ari tak mau pulang dan menghancurkan hidup ibunya, keluarga satu-satunya. Devia tak tahu lagi harus ke mana. Angin kematian mereka sama, tapi mereka punya selera yang jelas berbeda. Ari tak suka keriuhan. Devia sebaliknya, lebih suka sembunyi di tengah keramaian.



“Aku tak mau mati berkumpul kebo dan sapi di ladang peternakan dalam otak konyolmu itu.”



“Aku juga tak mau mati di antara orang-orang bodoh yang suka berpura-pura menggelandang itu.”



“Terserah, kalau aku mati lebih dulu. Kau toh bakal punya pilihan buat menarik bayaranmu.”



Ari masih akan membantah kemungkinan itu, tapi Devia sudah tak bisa diajak bicara lagi. Berang-berang betina ini sudah menghambur di tengah keramaian pelabuhan. Melompat ringan di antara para penumpang bercampur ayam, kambing, dan sapi kiriman. Ari mengikut saja, tak tahu kenapa.



“Mau berapa lama kau bertahan dengan pekerjaan ini?” bisikan itu menyemburkan aroma tajam yang tak disuka Ari.



“Sampai aku bisa berhenti,” masih dengan susu putih hangat yang bisa bikin perut Devia mual-mual.



Sore itu keduanya keluar dari motel pinggir jalan milik kenalan Ari. Duduk berhadapan di salah satu sudut klab malam ini. Dekat pintu masuk, seorang lelaki berbadan tegap meninggalkan tas hitam. Lelaki itu sendiri menuju toilet seperti ditunjukkan oleh portir. Ari mendenguskan ketakutannya. Apakah orang tegap itu juga anggota You-As? Kenapa dia pergi lagi? Haruskah orang lain yang akan membuka tas hitam itu dan melakukan eksekusi atas mereka? Haruskah dia memastikan isi tas hitam itu? Haruskah dia digantung oleh pertanyaan-pertanyaan itu?



“Dev...?”



“Ri!” perempuan cantik itu sudah menyelinap jauh di antara para pesakitan di lantai dansa. Menari-nari di sana, sambil menunjuk-nunjuk ke arah pintu belakang. Dua orang berseragam You-As menunggu di bibir pintu itu. Devia hilang lagi, Ari memburunya tak tentu arah. Dalam hitungan 25 detik kemudian, Ari merasakan tubuhnya melambung tinggi, melayang keras dan akhirnya terhempas tumpas.



***



Ari terus merayap pelahan seperti kadal. Pelahan tapi pasti dia pun hilang di antara mayat-mayat. Di antara semak dan sisa bangunan. Radius seratus meter atau lebih telah rata dengan tanah. Tak lama berselang terdengar lagi ledakan yang tak kalah kerasnya. Tapi sepertinya bukan dari dalam kota, mungkin jauh di luar kota. Ari tak mau peduli lagi. Ari benar-benar tak mau melihat ke belakang lagi. Terus merayap dan mengumpat.



“Devia...” terus digumamkannya nama itu. Demamnya tak kunjung turun. Saat dia mulai sadar, tiba-tiba saja sudah banyak orang di sekitarnya. Sebagian kasihan, sebagian bertanya-tanya.



“Ah mungkin istrinya hilang di sana.”



“Ya, benar. Siapa tahu.”



“Nama bapak siapa?” seorang pemuda berpakaian serba putih menanyainya dengan sopan. Ari sendiri mencoba hentikan gigil demamnya



“Abim. Abimanyu lengkapnya,” diliriknya tangan pemuda itu mencatat namanya di secarik kertas berbantal kayu lapis, seperti ingin menjadi malaikat penjaga makamnya. Ari tak mau kalah dengan aksi penyamaran pemuda itu. Semua data yang diberikannya hanya pemanis bibir belaka. Genap seperempat jam pemuda itu selesai dengan daftar pertanyaannya. Ari, sebagai pengusaha seperti yang barusan diakunya, mendapat perawatan lebih intensif dan khusus. No. Registrasi kartu kredit atas nama Abimanyu ternyata bisa menjadi jaminan yang berharga. Beberapa lama kemudian didapatinya balutan disekujur tubuh dan wajahnya.



Tiga hari kemudian, Ari keluar dari kamp penampungan korban setelah menyelesaikan urusan administrasi. Tapi dia sendiri pun sulit mengenali wajahnya. Dia merasa harus menemui kenalannya pemilik motel pinggir jalan itu.



Tinggal puing-puing motelnya. Tapi pemiliknya masih selamat dan mengadakan semacam selamatan ruwat bumi di bekas bangunan motelnya. Lelaki paruh baya bersila di sana dengan seluruha sanak keluarganya, tak kurang seorang pun.



“Aku Ari, Bli.”



“Ah, saya kira sudah hilang juga kamu,” mata pensiunan jagal ini pun bertanya-tanya.



“Kupakai nama lain. Wajah dan badanku habis diberangus. Gila benar mereka.”



“Kudengar, urusanamu bukan masalah kecil. Devia tahu urusan di kota ini, kemarin dia datang, tapi dia tak mau bilang.”



“Jadi dia sengaja membawaku kemari.”



“Bukan. Dia tahu lokasi ini bakal lebur. Karena itu dia diburu. Sintingnya dia justru sengaja datang kemari, mungkin mencari teman mati sebanyak-banyaknya dari pihak mereka. Sudah taruh kemenyannya dan pergi.”



“Tolong urus surat-suratku.”



“Di kamar belakang rumah Tanah Lot,” lelaki itu terus memanjatkan doa bersama bubungan kemenyannya. Semoga dewa-dewa mendengarkan doa orang-orang yang tulus kepadanya. Ari menghilang di kerumunan orang-orang.



Sampai di kamar itu, Ari segera mencari kotak besi pipih hitamnya. Menemukan surat-suratnya masih lengkap.



“Mungkin aku memang harus mati berkumpul kebo dan sapimu.” Bisikan itu masih secantik orangnya. Luwak5 keparat, Ari mengumpat dalam hatinya kaget tak keruan, bagaimana berang-berang ini bisa menyelamatkan diri dan kecantikannya. Keduanya pun pergi lebih ke timur. Dari sana mereka tak mau lagi mendengar berita tentang ledakan yang makin simpang siur dan tak jelas jluntrungannya itu.



Ari lebih suka beternak dan berkebun, Devia sibuk dibelakang layar monitornya.



2003







1 Ari tak pernah punya kata bunuh dalam kamusnya, tapi tiap korbannya selalu sadar apa yang dialaminya setelah badannya terpisah dari roh yang memberinya tenaga. Sedang yang namanya roh itu sendiri sudah pergi entah kemana. Mungkin pergi bersama angin. Entah.



2 pedang ukuran sedang; warisan Mbah Karso yang sempat selamat dari jaman PETA Jepang. Lebih ringan dari samurai klasik dan lebih mumpuni buat membikin goresan tajam dari pedang pendek.



3 cara ini pun diturunkan oleh Mbah Karso yang telah berpuluh tahun sebelum akhirnya mereka bertemu waktu Ari kanak-kanak. Mbah Karso banyak cerita soal perjalanannya setelah meninggalkan keluarga mereka. Mbah Karso bukan raja tega atau rampok. Tapi kalau sewaktu-waktu terpaksa melakukan itu karena merasa direndahkan harga dirinya oleh orang lain, maka dia bakal menghabisi orang itu dengan cara sederhana.



Pertama kali tentu sulit melakukannya. Tapi pengalaman selalu mengajarkan lebih banyak hal daripada pengetahuan. Pengalaman kedua, ketiga dan seterusnya akhirnya mulai menjadi tabiat biasa. Tabiat hidup di luar rumah. Kadang buat sekadar bertahan hidup pun kita harus menghentikan hidup orang lain, begitu kata Mbah Karso berkali-kali. Dan jangan pernah melihat mata mereka setiap kau lakukan itu, ujar Mbah Karso mewanti-wanti waktu Ari muda terpaksa menohok ulu hati teman minumnya, tembus punggung. Sejak itu Ari mulai terbiasa dengan kebiasaan Mbah Karso. Sayang bahwa kebiasaan ini tidak bertahan lama, karena Ari terlibat masalah yang lebih besar. Dia lari keluar pulau beberapa bulan. Balik ke rumah setelah dirasanya aman. Seterusnya hidup menggiringnya ke arah yang lebih pasti dan berbau uang, bisnis barunya.



Tak hanya cerita dan katana, Mbah Karso juga mewariskan lembu sekilan. Rapalan milik Gajah Mada dan Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya seperti tertulis dalam riwayat pejuang Mahesa Jenar ini mampu melindungi pemiliknya dari kecelakaan berjarak antara 25 cm dan 1 meter dari badan.



4 biaya transportasi dan akomodasi.



5 berang-berang (Jw.)
Paranoia





Orang kadang menjamu untuk dirinya sendiri……



Tapi siapa mau peduli, kecuali Joko. Dan dokter muda itu dengan nalarnya sendiri pasti bisa menerima keputusan Abim kali ini. Beberapa waktu terakhir, Joko sudah menyarankan supaya Abim lekas cari kerja. Apa saja, asal cukup buat hidup.



Demi mengikuti saran teman kostnya itu Abim kini rela duduk tepekur berlama-lama di teras depan pondokannya, menunggu datang Pak Tua si tukang pijat keliling yang bakal mengajarinya banyak hal soal pijat-memijat. Abim sudah memutuskan buat mencari hidup dari kelihaian tangannya memijat. Bukan dari rumah ke rumah, tentu, melainkan dari hotel ke hotel. Begitulah sore ini, seperti sore-sore lain dalam dua minggu ini Abim tekun belajar memijat demi menyambung hidup dan sekolahnya di kota.



***



Tapi sore ini gerimis datang terlalu rapat. Padahal, kalau sore datang dan tak sedang hujan, biasanya bakal lewat bayangan panjang Pak Tua dengan langkah terseret dari ujung barat jalan depan rumah kost Abim, dengan bumbu suara seraknya.



“Pijat refleksi, hernia, sakit kepala, darah tinggi….” Dengan cara tersendiri orang tua itu olengkan kepala sedikit ke kiri. Agak diputarnya lagi ke kanan dan, “pijat refleksi….”



“Pijat, Pak.”



“….hernia, sakit kepala, darah tinggi…..”



“Sakit kepala, Pak.” Kali pertama menyebut kata itu Abim merasa agak ragu. Tapi, Pak Tua itu tetap mengikuti langkah Abim. Begitulah, tiap-tiap sorenya. Abim sendiri seperti sudah tak mau mengubah cara-cara Pak Tua ini, dari hari ke hari. Menerima begitu saja tiap bagian dari akad sewa jasa ini layaknya sebuah kebiasaan baru buatnya.



Lalu mereka mulai melakukannya semuanya, satu-satu. Tutup pintu, buka baju, pijat ini, pijat itu.



“Kalau ini, titik pusat pijat buat migrain Mas.” Ada saja selingan macam itu dari mulut keriput Pak Tua. “Tapi andak boleh dikerjakan orangnya sendiri. Bisa mindah letak titiknya nanti. Jadi mesti dibantu orang lain.”



“Kalau buat jantung, paru-paru, hepar, ginjel gitu, ada juga di tangan, Pak?”



“Ada Mas, ada. Tapi, ya….nanti dulu, Mas. Satu-satu….” Entah sabar atau kikir, Pak Tua selalu terlalu sedikit cerita tiap harinya. Itu pun tidak semua cerita, mungkin belum. Seperti sore itu.



Abim yakin, Pak Tua mestinya seorang sin-she piawai. Tapi kenapa hidupnya tetap di jalanan, sergah pikiran Abim yang lain, pakaiannya saja seperti tak pernah ada yang kelihatan masih layak pakai. Tapi, lelaki tua agak botak itu seperti jarang mau peduli pada soal-soal semacam itu. Juga waktu pemuda tanggung ini mengaku mau jadi ahli pijat ulung, Pak Tua diam saja hanya tangan keriputnya yang terus bekerja. Semacam dukungan atau sekadar komentar pun tak keluar dari bibirnya yang membentuk garis lengkung berkerut itu. Terpaksa, waktu dan simpanan terakhir mahasiswa yang sudah tak mendapat pesangon dari orang tuanya itu pun musti hangus satu-satu.



“Saya sendiri kalau ndak yakin masih suka buka-buka buku ini kok Mas,” ujarnya kemarin sore. “Haa, ini dia….Ini titik-titik kunci pijat buat bikin betul letaknya ginjel sama mulihkan tali pengiketnya. Haa….ketahuan sekarang….”



“Ya, Pak.” Abim menelan ludah saja, mendengar suara Pak Tua sibuk sendiri dengan buku suci pijat-memijatnya. Semangat sudah nyaris habis.



“Yaa, kadang-kadang ada yang sakitnya macam-macam Mas.”



“Ya.”



“Ada juga yang maunya macam-macam.” Celoteh Pak Tua kali ini membuat Abim tertegun, seperti bocah yang tertangkap basah mencuri harta warisan milik tetangganya. “Yang kepingin gemuklah, kuruslah. Ada juga yang pingin cepat kaya, cepat dapat jodoh. Mau dapat jodoh kok omong sama tukang pijet. Sinting, dikiranya kita ini praktek dukun, apa?”



“Sebentar Pak.” Abim mulai tak tahan. “Saya bikin teh dulu.”



“Yaa. Pakai ini saja, Mas. Teh item baik buat tekanan darah yang baru naik.” ujar Pak Tua seperti mau mengingatkan Abim soal pelajaran saji teh yang diberikan sebelumnya.



“Ya, Pak.”



“Orang kadang menjamu untuk dirinya sendiri.....”



“Ya.” Bayangan kurusnya sudah hilang ditelan lorong ke arah dapur. Bersiap mendengar bisik-bisik dari beberapa teman kostnya, tetang Suhu barunya itu. Mereka juga suka menirukan cara menyeret jalannya. Atau, tangannya yang selalu gerak-gerik sendiri.



***



Tapi siapa mau peduli. Abim pun tidak. Dia mendengar, sekadar mendengar. Mereka yang suka kasak-kusuk biasanya tak cukup kenal keadaan, pikir Abim sambil mengaduk gelas tehnya. Selama ini Joko saja yang dipercayainya. Tapi keadaan jadi makin sulit saja akhir-akhir ini. Joko makin sibuk bepergian, larut dalam kesibukan biasa setelah wisuda, mencari kerja.



Petang di teras ini, matahari sudah lama lindap. Dan bau sedap Pak Tua belum juga tercium oleh hidung Abim. Mungkin gerimis kecil barusan membuat Pak Tua malas keluar. Jaga kesehatan, seperti yang biasa dia katakan pada murid barunya ini. Dan Abim masih setia menunggu, duduk di bangku panjang dari kayu meranti bercat hitam di teras depan kostnya itu. Selain menunggu Pak Tua, dia juga mau ketemu Joko. Sudah lama dia mau bilang pada Joko, soal rencananya jadi ahli pijat refleksi itu, tapi akhir-akhir ini dokter ikal berkulit legam itu seperti hilang ditelan arus kehidupan kota.



“Nunggu wangsit dari eyang guru, Bim?” Yudi, mahasiswa ekonomi itu memang salah satu teman kostnya yang paling getol menggoda tabiat pijat-memijat Abim.



“Nggak usah ikut-ikutan sinis, Mas Yudi.”



“Enggaaaak. Aku malah ikut senang sama rencanamu itu.” Pemuda berambut tipis itu mengambil tempat dekat Abim. “Aku sendiri, belum tentu bisa begitu.”



***



Di balik senyum kecut Yudi terbuka tiap lembar jatuh bangun yang dirasakan Abim. Akhir Agustus, karena kemarahan yang menggila, Abim menabrak mati seorang ibu muda yang sedang senang-senangnya menjemput kesembuhan suaminya di rumah sakit. Berurusan dengan polisi dan menguras simpanan Bapak yang sudah setahun tak disentuhnya. Waktu itu, Bapak sampai harus merelakan mobil tuanya. Sejak itu kemana pun orang separuh umur itu musti naik motor yang baru ditebus dari polisi.



Akhir November, mungkin karena terlalu capek, Bapak kambuh penyakit lambung dan darah tingginya. Sedikit demam, Bapak berjalan ke kamar mandi. Terpeleset di dekat sumur Bapak jatuh terduduk. Demam meninggi, rawat inap dua hari dan tak tertolong lagi. Bapak meninggal sebelum Abim sempat membesuk, bahkan selama rawat inap orang tua itu sudah menolak tawaran Ibu untuk menjemput Abim. Kejadian ini membuat Abim merasa hampir gila, rasa bersalah karena menjadi sebab dari kematian Bapak dan Ibu itu tak tertebus dengan tangisan yang melolong dalam batinnya.



Akhir tahun lalu, tampaknya bakal menjadi akhir dari bagian hidup normalnya yang paling mungkin. Calon isteri yang pernah melahirkan dua janin mati untuknya itu tiba-tiba pergi begitu saja. Maka bagian akhir ini benar-benar membuatnya gila. Enam bulan berikutnya, Abim menjalani perawatan intensif dari seorang dokter, seorang guru besar ahli jiwa. Dari dokter jiwa itu Abim mendapat beberapa butir pereda rasa sakit dosis tinggi. Selebihnya cuma daftar pertanyaan dan jawaban-jawaban bodoh, pikir Abim sebelum pada akhirnya dia memutuskan buat meninggalkan ruang konsultasi ahli jiwa itu.



***



“Mas Joko kemana, Mas?”



“Lho, ada kok. Tidur dari siang. Bangunkan saja, sudah maghrib juga.”



“Iyalah,” turunkan kaki dan berdiri. “Lha, itu orangnya. Mas! Mas Joko! Sebentar Mas!”



“Sebentar Bim,” lelaki rambut ikal itu menghentikan motornya di luar pagar. “Aku musti ke kedokteran. Katanya mau ada transaksi. Maklum pemuda panggilan....sebentar ya, semuanya....”



“Yaa, ya.” Abim dan Yudi hampir bersamaan menjawab seruan Joko yang sudah jauh di ujung gang. Abim duduk lagi, lebih lemas lagi.



“Untung ada orang macam Mas Joko, Bim,” celetuk Yudi.



“Ah, Mas Yudi juga sering bantu saya, kan?” suara itu sedatar matanya menatap gang depan kostnya. “Seperti sekarang ini.”



“Eh, apa kabarnya Pak Gurumu? Dari suara dalam kamarmu, kedengarannya kalian mulai akrab.”



“Yaa. Tapi orangnya susah, Mas,” matanya ke kanan-kiri sepanjang gang di batas pagar. “Setiap tanya nggak pernah di jawab langsung.”



“Itu yang namanya akrab, Bim. Jangan buruk sangka dulu.”



“Wah. Saking akrabnya sampai-sampai pulang pun nggak pakai pamitan,” alis Abim mengkerut tajam. “Padahal baru aku tinggal sebentar, bikin teh. Buat dia juga. Kemarin itu, malahan teh yang aku seduh karena menuruti kemuannya ditinggal begitu saja. Sebungkus-bungkusnya. Bukunya juga ketinggalan, tahu rasa dia, kehilangan kitab sucinya. Itu Mas, buku pijatnya itu.”



“Ya, kalau bisa dikembalikan Bim,” mengisap dan mengembus asap rokoknya lagi. “Mungkin kemarin dia agak buru-buru. Siapa tahu ada janji sama pelanggan lain yang lebih galak, iya kan?”



“Yaa, siapa tahu Mas. Orang sekarang saja dia nggak lewat.”



“Sudahlah, sabar dulu.” Yudi berdiri dan meregangkan pinggang ke kanan-kiri. “Nonton tivi saja, yuk.”



Yudi tak menunggu jawaban lagi. Ikut bergerombol di antara anak-anak kost lain di depan televisi ruang tengah. Sementara Abim belum bisa melepaskan matanya dari gang depan pagar ini. Pikirannya berloncatan antara Pak Tua, Joko dan simpanannya yang tinggal cukup buat sekali pijat dan sekali makan malam ini. Kalau Pak Tua tak jadi datang berarti masih ada sisa buat besok. Sehabis itu Abim masih belum tahu, mungkin dia musti benar-benar bertaruh dengan tangan dan jari-jarinya, dengan suara seraknya. Mengorek kuping orang-orang, dari kampung ke kampung.



“Bim!” Joko sudah di depan pagar lagi. “Tolong kamu ikut aku sekarang. Aku ada perlu.”



“Ya, Mas.” Abim berlari kecil. “Kenapa, Mas, kok gugup sekali?”



Joko tak memberi waktu buat duduk dengan enak. Motornya melesat kesetanan. Menari-nari di antara puluhan kendaraan lain dan merkuri pembatas jalan. Joko hampir menabrak portal gerbang gedung Fakultas Kedokteran dan membuka dengan kasar pintu ruang bedah.



“Ini, Dok.” Nafasnya sengal. “Teman saya ini kenal baik dengan subyek.”



Orang-orang berjas putih, para dokter, menatap tajam ke arah Joko dari kursi masing-masing di seputar sebuah meja.



“Kamu kenal Pak Tua, kan Bim.” Joko menuntun langkah Abim sambil berbisik lirih, nyaris tak terdengar. “Kalau enggak, dia bisa jadi mister-X dan dijadikan praktek anatomi.”



“Ya, Mas.”



“Kamu kenal keluarganya, kan? Tahu rumahnya?”



Beberapa waktu Abim tercenung. Matanya berloncatan lagi seperti garis-garis sinar pada layar mesin penghitung denyut nadi. Matanya berdenyutan antara Pak Tua yang tak lagi bersuara, tampak payah, dan buku sucinya. Antara Joko dan nafas sengalnya. Antara para dokter dan kekerabatannya yang kebal hukum. Satu untuk semua, sum-per-ply.



Antara perutnya dan lampu pijar di atas kepala Pak Tua yang mulai menggandakan diri. Berpijar terus dan berputar-putar persis mitraliur bintang musim hujan.



“Pak Tua ditemukan telentang di jalan, tadi waktu hujan. Keteranganmu sangat dibutuhkan sekarang.” Suara Joko berdenyaran antara gelap dan terang. Antara keheningan yang samun dan denyut nadi yang makin lemah.



“Maaf, Mas. Aku nggak bisa bantu. Aku nggak tahu...” Gelap. Matanya terkatup rapat.



“Saudara Joko, harap ikut saya sebentar.”



“Tidak, Dok. Terima-kasih. Kami pulang. Permisi.” Joko mengangkat tubuh kecil Abim yang melemah terkuras perutnya sendiri. Mata Abim makin pekat dan hitam, justru saat ingat jari-jari kanan Pak Tua yang biasanya lumpuh itu sedikit tergerak tadi. Justru saat mesin penghitung nadi itu berdenging panjang sekarang.



Untuk sinshe jalanan

sepanjang Karangmenjangan akhir ‘94




Surabaya, 032000
Sakrilegi





Setan. Keretaapi itu kesetanan. Menembus kota-kota dan hutan tanpa permisi. Begitu keluar Gambir seperti tak mau menambah penumpang. Sekali berhenti di Balapan, itu pun cuma menurunkan penumpang.

“Dari Surabaya Gubeng terus mau kemana, Mbak?” lelaki muda di sebelah Lina ini bertingkah lagi.

“Ooo, mungkin saya nggak turun Surabaya.”

“Lho, nggak jadi?”

“Memang nggak turun sana,” senyum kirinya tipis saja. “Tapi Kertosono, cukup? Saya perlu istirahat, maaf.”

“Sudah Saradan, sebentar lagi...”

Lina tak mau menanggapi lelaki itu lagi. Ia tahu, mungkin lelaki ini seumur dengannya dan dia cukup hafal tingkah lelaki macam ini. Selalu jadi kelihatan kekanakan, cetus pikiran Lina sendiri.

Jelas beda dari Mas Imam, pikir Lina. Suaminya itu benar-benar sabar menghadapinya. Kesabaran yang datang bukan karena mau sok tebar pesona atau karena menahan diri. Mas Imam sabar karena memang sabar dan tahu benar masalah yang dihadapinya, batin Lina membanggakan suaminya. Pernikahan kami pun bisa menjadi contoh, kalau mau disebutkan bisik Lina dalam mimpinya, dalam keadaan serba tak menentu Mas Imam melamarku. Waktu itu Lina sendiri sedang bingung, saat melamar pekerjaan baru sebagai teman ngobrol tamu-tamu. Keadaan makin menjepit, pekerjaan baru belum didapat, masih pula harus menghidupi anaknya yang berdarah campuran. Belum lagi soal beda agama antara ia dengan anak perempuannya dan Mas Imamnya itu.

“Kalau Mbak Lina belum siap pakai cara saya, soal itu bisa kita pikirkan sama-sama nanti. Sementara kita jalani cara kita sendiri-sendiri. Itu lebih baik daripada terpaksa....” Lina cuma senyum-senyum sendiri menanggap lamaran Imam waktu itu. Tak mungkin juga menampik lamaran itu dengan kasar di meja tempat hiburan begitu, bisa-bisa ia terkena kartu merah dari bosnya yang mulai bangkrut dan banyak mengurangi karyawan itu. Tapi kata orang berkahnya makanan itu memang datang dari suapan terakhir, dan Lina mendapatkannya waktu itu. Berkat yang sering membuat Lina bisa senyum-senyum sendiri. Seperti kali ini, saat Lina ingat kesabaran lain suaminya itu.

“Kenapa mendadak begini? Telpon ke kantor cuma mau bilang soal mingat. Itu kan bikin panik, Bu...” ujar Imam di depan pintu kamar, setelah tergopoh-gopoh pulang dari kantor.

“Biar. Biar Mas tahu kalau aku nggak suka digombali. Obral janji terus soal pulang kampung. Tapi mana buktinya?”

“Ya, sabar sedikit laah. Kita kan belum punya cukup bekal buat pulang. Apalagi katamu, Bapak orangnya galak. Ya kan?”

“Nggak pakai nggoda-nggoda. Nggak pakai senyam-senyum. Pokoknya aku mau pulang. Masak lima tahun di kota nggak pernah pulang sekali pun. Bekal kita sudah cukup, hidup kita di sini jauh lebih bagus dari orang rumahku,” tangannya terus memasukkan beberapa potong pakaian dalam kopor.

“Bekal kan bukan cuma uang dan barang, Buu...” Imam duduk lemas di bibir ranjang. Wajahnya tertunduk dalam-dalam. “Ya, sudah. Kalau mau nekat berangkat, kita tunggu Mei dulu. Sudah bawa uang belum. Kalau kurang bilang, lho. Aku belum bisa ikut pulang, pekerjaan numpuk di kantor menjelang tutup tahun begini, maaf ya?”

“Sudah, sudah. Uangku sudah cukup buat pulang balik, sekalian buat orang rumah nanti. Dan Mei, dia musti ikut pulang nengok Eyangnya. Dia juga pasti sudah kangen sama mereka,” ambil tas jinjing, tempat untuk menaruh macam-macam perhiasan dagangannya.

“Kalau bisa jangan semuanya ditaruh situ, Bu...”

“Aku ya nggak sebodo itu, ya. Semuanya sudah aku bagi-bagi tempatnya. Memangnya, cuma kamu saja yang pinter mbagi-mbagi duit,” mondar-mandir sambil sesekali melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.

Gertakan minggat itu ternyata tidak membuat Mas Imam marah atau terpancing ikut mengantar pulang, Lina tersenyum lagi memikirkannya. Sekilas juga sempat terpikir buat membatalkan saja rencana konyolnya itu. Tapi....

“Itu Mei pulang.”

“Bapaaak, lho, kok sudah pulang. Mbolos, ya?” Lina tersenyum masygul melihat anaknya begitu akrab dengan bapak tirinya.

“Mei, ganti baju! Ikut Ibu’, pulang ke rumah Eyang.”

“Lhoh, Ibu kok nggak bilang-bilng dulu? Mei kan belum libur...”

“Kamu nggak kangen sama Yang Ti, Yang Kung, Mas Andre?!”

“Ya kangen. Tapi...”

“Nggak pakek tapi-tapian. Cepet ganti baju!”

“Buu, kita kan belum tanya gimana maunya Mei. Sekarang, biar aku yang tanya....” Menyorongkan badan bertumpu pada lututnya. “Mei...Mei mau ikut Ibu’ atau tinggal di rumah dulu sampai liburan depan. Bapak janji nanti pulang bareng-bareng.”

“Eee, nggak usah ngibuli anak kecil. Pakek ngrayu-ngrayu segala.”

“Sss....” masih sempat senyum ke arah Lina. “Gimana Mei?”

“Mei maunya ikut Ibu’. Tapi sekolahan kan belum libur....”

“Apa susahnya ambil libur sendiri barang seminggu. Bapakmu bisa mintakan ijin nanti,” Lina mulai gusar.

“Nggak. Mei ngak mau ketingalan pelajaran.”

“Eee, dasar anak-bapak sama saja. Kalian sudah sekongkol, ya?! Ya, sudah. Aku berangkat sendiri. Huh!” Lina memburu langkahnya balik ke kamar.

“Gimana Pak?”

“Tenang, Mei. Ibumu selalu begitu kan, kalau lagi marah-marah?”

Lina cuma mendengarkan sekilas sambil menyeret roda kopornya. Sampai di ruang tengah Lina melirik sepintas pada mereka.

“Sebentar, Bu’. Kita antar sampai Gambir.”

“Gak usah! Aku bisa sendiri!” Lina merasa harus menahan harga dirinya di depan persekongkolan anak dan bapak itu.

Dan, sekarang Lina cuma bisa tersenyum kecut dalam mimpinya di atas kereta ini. Mustinya pagi ini dia bisa tidur tenang, di balik selimutnya yang hangat.

“Mbak....Mbak....Maaf sudah sampai Kertosono itu.”

“Oh-eh, ya.” Lina terbangun. “Mereka kan sudah tahu ada yang turun sini.”

“Ya, ya....” masih menebar pesona lewat senyumnya. “Ada yang bisa saya bantu....”

“Oh, nggak. Ma-kasih. Nggak berat, kok.”

“Itu, kopernya?”

“Oya,” Lina segera menyeret kopornya dan menarik perhatian lelaki murah senyum.

“Turunnya?”

Lina menghela nafas lagi. Genit sekali anak ini, pikir Lina. “Saya bisa panggil kuli stasiun, sebenarnya, tapi kalau mau ya sudahlah...silakan saja.”

Musti dijelaskan, musti diluruskan otakanya, gerutu Lina pada diri sendiri. Lelaki itu pun menguntit Lina sampai pintu gerbong, membantunya menurunkan tas besar itu dan menjulurkan tangannya.

“Roy....” cara yang manis dan jorok sekaligus.

“Lina. Anak saya dua. Satu ikut suami pertama. Sulungnya ikut saya dan suami kedua. Terima-kasih bantuannya.”

“Terima-kasih kenalannya. Moga-moga kita masih bisa ketemu lagi di kereta....”

Lina tak suka bualan murahan. Menyeret kopornya dekat pintu keluar. Hari mulai terang, postir tak kesulitan memeriksa tiket Lina sekalipun tanpa lampu menyala.

“Tidak ada yang ketingalan, Bu?” keramahan standar kota kecil. “Terima-kasih.”

Lina menarik nafas dalam-dalam sambil terpejam. Segarnya udara kota-kota kecil. Sebentar lagi mesti naik becak. Sampai terminal ganti naik bis.

“E, dayohe teka. E, beberna klasa. E, kopere bedhah. E....”1

“Kopere apa kemebene...?”2

Celoteh dan kelakar tukang-tukang becak itu membuat Lina ingat kopornya yang sedikit terbuka. Gara-gara Mas Imam sampai lupa muter kuncinya kemarin, keluh Lina sambil merapatkannya lagi.

“Becak, Mbak?”

“Terminal, Pak.” Lina sudah meloncat. Senyumnya mengembang, seperti mau bersalaman dengan ufuk dan cakrawala.

Tak ada dunia seramah ini, pikirannya bermain-main sendiri. Juga waktu dia sudah duduk di bangku bis antarkota yang apek. Terlalu lama kalau mau menunggu patas ke arah sana, Bu. Jawaban yang menjengkelkan Lina itu meluncur ringan dari mulut tak acuh petugas jaga terminal. Terpaksa begini. Berdesakan dengan bau kecoa dan keringat. Tapi Lina tak mau menyia-nyiakan senyumnya. Senyum terus sekalipun jantungnya berdenyaran keras.

Bapak, ya Bapak. Wajahnya yang angker seperti apa sekarang. Setelah hampir lima belas tahun kepergiannya Lina hanya berani mengirim kabar lewat surat, wessel dan kartu ucapan. Lina hanya sesekali pulang dulu, waktu pernikahan pertamanya memberikan sedikit keberanian. Sampai sekarang Lina masih serba ewuh-pakewuh3 kalau musti pulang dan berhadapan dengan Bapak. Sekali pun Bapak sudah mau menerima anaknya, tapi tetap mencibiri pekerjaannya sebagai teman para tamu di klab malam. Masih saja terngiang ledakan kemarahan Bapak begitu mendengar kabar kalau Lina yang masih SMA waktu itu suka mencari tambahan uang saku di sekitar Jl. Daha.

“Lina. Kamu ingat nama lengkapmu?” Bapak duduk di kursi kebesarannya yang terbuat dari bonggol kayu jati. Bertelekan tongkat kayu berukir naga setianya. “Paulina Arumanda Sukmaningtyas.....kamu tahu artinya, kan? Kok sekarang malah kamu bikin malu nama keluarga besarmu ini. Kamu dibesarkan Ibumu yang tekun berdo’a. Bapakmu ini bisa dibilang ndak kenal agama, kafir, tapi ndak pakek cara hina buat cari uang. Dengar?!”

Lina cuma bisa diam, sekalipun bisa saja ia menjawab kalau waktu itu hanya membantu menjual handycraft buatan temannya. Menurutnya Bapak bukan orang yang suka dibantah, jadi ia lebih suka memilih diam. Ia ingat betul wajah setiap teman lelakinya yang kena semprot Bapak saat menjemputnya dari rumah.

“...Karena Bapak menganggap kamu sudah berbuat di luar batas, maka lebih baik kamu tidak tinggal di rumah ini lagi,” Bapak dengan tongkat kebanggannya masih tegak di kursi kayu jati itu. “Dengan begitu mungkin kamu bisa mencari jalan sesukamu.”

Mendengar keputusan Bapak, tak seorang pun berani membantah. Bahkan waktu Ibu mau mengajukan pendapatnya sudah lebih dulu terkena hardikan Bapak dan terpaksa undur sambil mengelus dada. Menangis sekeras-kerasnya, biar cuma dalam hatinya. Tapi Lina tahu. Ino dan Ion, dua adik Lina, juga tahu. Andre si bungsu mungkin juga menangis dengan wajahnya yang tetap tak mengerti dalam gendongan Ibu.

Keluarga dalam rumah separuh dinding bambu itu tetap bertahan di tempat masing-masing, demi nama baik yang selalu diunggul-unggulkan oleh Bapak. Mereka diam dalam bisu saat Lina pergi tanpa permisi.

Lina lari dan tak pernah kembali. Lari ke jalan-jalan. Pub dan restoran, Hotel dan penginapan, jadi medan jajahannya dari hari ke hari. Lina tak lagi menjajakan handycraft temannya. Lina sudah punya dagangan sendiri, dirinya sendiri. Total jenderal hampir sepuluh tahun malang melintang di dunia barunya itu. Sempat terputus saat menikahi Papanya Mei. Tapi pemuda keturunan itu pun tak bertahan di sisinya. Pernikahan itu tak bertahan. Hancur dengan ketetapan yang jelas buat Lina. Tak ada jalan lain kecuali menjadi penerima tamu. Sampai kemudian Imam datang dengan senyumnya yang rawan.

“Ngadisimo. Simo?” Teriakan dari pintu belakang menyadarkan Lina. Buru-buru bangun dan bergegas.

“Simo, Pak! Kiri, kiri!”

“Simo, kiri, kiri!”

Matahari belum bulat benar, tapi jalanan sudah ramai. Tukang becak, kenek-kenek angkutan pedesaan, pedagang sayur, warung-warung, dan pegawai Gudang Garam pulang atau berangkat kerja tumpah di Jl. Imam Bonjol ini. Lina naik becak lagi. Sedikit ke timur, selewat jembatan kecil itu becaknya berbelok ke kiri. Terus ke utara dan berhenti dekat tikungan berikutnya.

Di tikungan itu Lina tercenung. Barusan ia berpikir-pikir soal Bapak, Ibu, dan adik-adiknya. Soal Mbak Mayang, setahu Lina, terakhir kabarnya sudah menikah dengan seorang guru agama sekaligus katekis. Mengenai adik-adiknya, Lina masih pikir-pikir, apakah mereka masih tekun berdoa. Atau mungkin mengambil jalan seperti Lina, larut dan kalah di jalanan.

Sekarang Lina sendirian memperhatikan tempat angker di seberang jalannya itu. Jembatan kecil tempat dimana Bapak dulu biasa duduk, kini sudah tak ada lagi. Jembatan di atas got depan rumahnya itu kini sudah teruruk tanah bergunduk. Juga pagar bambu halaman rumah itu, sudah rata dengan tanah. Juga dinding rumahnya. Pohon mangga tempat sembunyi Lina sewaktu kecil itu pun tak tersisa selembar daun pun. Cuma sumur, bekas sumur, yang meranggas di tengah reruntuhan. Mata Lina makin lindap menatap sebuah papan bertuliskan, TANAH MILIK YAYASAN AL......

Lina bingung, apakah masih ada keluarga yang bisa ditanyai. Lina tahu kalau Mayang, kakaknya sudah menikah, tapi sekedar tahu. Dan tak pernah mencari tahu soal tempat tinggalnya. Bapak juga, tak pernah mau berkumpul dengan keluarga besarnya yang kini entah dimana, entah kenapa. Lina tiba-tiba ingat buku alamat lama dalam kotak besinya.

“Boxnya dimana.....” Lina terus membongkar kopornya. Tak peduli pada mata-mata dari tiap orang yang lewat. Agak lama, Lina hanya menemukan beberapa lembar pakaian yang masih seperti kemarin dan secarik kertas maaf yang dibubuhi nama Roy.

Lina berdiri lagi. Nanap pada rumahnya, sisa-sisa nama bapaknya, itu sekali lagi. Nanap melihat orang-orang berlalu-lalang. Memperhatikan seorang pemuda mengayuh sepedanya dari arah timur, menikung, melintasi Lina. Meludah begitu saja, semburannya hanya beberapa jengkal dari Lina, mengayuh lagi dan hilang di ujung selatan. Bagian terbesar semburan ludah itu jatuh tepat di tempat yang mustinya dulu adalah panepen4, Lina bergumam, “In the name.....”

090300-280103

1. Lagu dolanan anak-anak Jawa. Mustinya berbunyi E, dayohe teka. E, beberna klasa. E, klasane bedhah., dan seterusnya yang artinya E, tamunya datang. E, gelarkan tikar. E, tikarnya jebol. E.....

2. Kemben (bhs. Jw.) artinya kain panjang perempuan Jawa.

3. Perasaan antara takut dan segan.

4. Tempat bersamadi bagi rumah-rumah Jawa.





Doa Dev





Empat sore tepat. Sebagian kaki berhak sepatu tinggi terjulur di atas tangga teras kiri kantor sebuah harian. Sebagian tegak bersandar pada bangku kayu seadanya. Sepasang sepatu kulit biasa bergerak-gerak resah di antara mereka. Sepasang sepatu kulit lain yang lebih mengkilat terinjak keras di ujung lain.

"Nunggu siapa ?" Sepatu hitam bersol rendah mengorek nada acuh-tak-acuh.

"Nggak. Nggak ada." Sepatu kulit depan bangku kayu jadi lebih resah, rokok di sela dua kakinya berputar-putar sendiri.

"Cari hiburan…..?" Sedikit merentang dan menutup lagi dalam tempo allegro.

"Eh. Emm. Bukan. Bukan." Pikirannya larut dengan ocehan editornya pagi ini.

"Lho, mau apa?"

"Istirahat…." Bersandar pada rolling door kantor itu.

"Kerja di sini?" Acuh-tak-acuh lagi. "Bagian apa?"

Harusnya aku yang banyak bertanya, pikir pemilik sepatu kulit itu. Tapi mungkin semuanya memang sedang terbalik. Dia juga merasa harusnya lebih banyak tahu soal-soal di lapangan, tapi editornya merasa sebaliknya. Orang tua itu ngoceh nggak karuan pagi ini. Harus begini, harus begitu. Tidak boleh ini, jangan itu. Hampir tiga jam penuh dihabiskannya cuma buat berceramah soal kerja di lapangan, padahal pemilik sepatu kulit itu tahu benar orang tua itu tak pernah terlihat ada di lapangan. Jangankan di lapangan, jalan saja susah.

"Hei, bengong…"

"Eh, ya-ya. Agama."

"Oo…wartawan agama?"

Cuma anggukan lesu yang menjawab. Suaranya sendiri sudah jauh tertelan pikirannya yang jengkel campur kesal, campur geli. Reporter macam apa yang kerjanya cuma ditanyai orang lain. Mustinya aku yang bertanya, pikirnya keras-keras, mustinya aku yang mencari tahu soal kamu. Tapi, apa menariknya agama buat orang macam kamu, yang tiap hari duduk-duduk di sini menunggu tamu. Tamu?! Hah, orang mana mau bertamu di pinggiran kantor macam ini. Mungkin lebih baik bukan tamu. Tapi, apa ya? Sebutan apa yang pas buat mereka. Aaa, mungkin…

"Suka ngelamun?"

"Nggak juga."

"Lha barusan." Selembar tissue menggosok jatuh.

"Capek."

"Kebanyakan lembur, ya?" Mengingatkan reporter itu pada suara ibunya."Apa….?"

"Dev…..!" Sepatu berkulit licin di ujung memberi tanda.

Sedan biru legam berhenti pelahan. Kaca-hitamnya melorot pelan.

"Ya!" Dev sepatu merah jambu cepat maju. Sebentar menengok pada sepatu kulit sebelahnya. "Sebentar."

Sepatu licin di sana mulai tak sabar, tapi mungkin si Dev itu terlalu berharga buat dibentak keras. Jadi mulut sepatunya saja yang naik turun. Si Dev mengajukan kakinya satu-satu. Membungkuk lembut, kepalanya sedikit masuk jendela sedan itu, mirip lidah panjang yang terjulur dari dalam. Panjang dan berkilat oleh matahari sore. Betisnya padat berisi, sedikit takikan di tengkuk mata kakinya.

Sepatu kulit di bangku tahu ada kecemburuan dari sorot mata banyak sepatu hak tinggi yang lain. Tapi satu yang bersepatu sol tinggi keperakan kelihatan tak acuh saja. Memainkan permen karetnya. Kaki jenjangnya tak tertutup oleh rok mini satin itu. Atau malah sengaja dibiarkannya terbuka. Reporter itu tidak terlalu suka memikirkan mereka. Kepalanya masih ngilu dengan makian atasannya. Sudah bulan ketiga masih belum ada perkembangan juga, seruan serak itu terdengar lagi. Kapan anda bisa maju, kalau begini terus. Bikin berita yang sederhana saja asal pembaca ngerti, ndak usah susah-susah bikin isu sendiri. Ndak usah menggurui pembaca, mereka itu lebih tahu dari anda. Kalau mereka lebih tahu, buat apa baca berita, bantah pikirannya sendiri.

Sudah tiga bulan dia tahu. Soal ada peningkatan atau tidak harusnya orang kantor lebih tahu, protesnya lagi, kenapa musti tanya. Kenapa nggak sekalian tanya gimana hidupku, gimana keluargaku, gimana isteriku. Abu rokoknya menimpa celana. Angin nakal meraupkan abu itu ke mukanya. Berdecak sedikit, lalu matanya ikut-ikutan nakal menguliti rok mini satin yang digoda angin barusan.

"Ee. Cari gratisan, ya?" Si kecil rok satin itu melempar permen karetnya.

Reporter itu mengelak kecil. Senyum sedikit dan menekuri diri lagi. Sebentar matanya menangkap bayangan Dev terlihat alot di samping sedan itu. Tak lama Dev pun menggeleng dan berlalu. Antrian di belakang yang sudah lama menunggu saling berebutan mencapai pintu birunya. Dev melirik arah rok mini sekilas, mengambil sebatang rokok, dan menyulutnya.

"Kenapa?" Reporter itu menyambung rokoknya juga.

Dev menggeleng sambil mengisap kuat-kuat. Meniupkan asapnya lagi dengan hembusan mahal.

"Agama, ya?" Pertanyaan mendadak itu tak sempat terjawab. "Apa menariknya?"

"Kamu sendiri gimana?" Nada desahnya agak tinggi. "Masih percaya?"

"Tanya? Ngejek?" Tarik lagi embus lagi. "Jangan-jangan kamu sendiri nggak percaya."

"Heh."

Mata reporter itu kosong lagi. Pikirannya mengalir ke sekian jalan yang sudah ditempuhnya. Ada senang ada susah. Tak satu pun bikin dia bertanya soal keyakinan macam itu. Tiga bulan ini jadi reporter halaman ini pun tak pernah bertanya buat apa. Tak semua bisa ditanya untuk apa, kata sebuah tulisan. Tapi katanya sendiri kenapa bukan cuma soal untuk apa. Mungkin ada yang salah di otak penulisnya, mungkin juga tidak. Mungkin cuma satu yang bisa menjawabnya, mungkin juga tidak. Dia tidak tahu kenapa mesti kerja di tempat ini. Bertemu perempuan ini. Bertemu orang-orang lain. Bertemu perempuan-perempuan lain. Bertemu isterinya yang mulai melepasnya akhir-akhir ini. Mungkin isterinya jengkel dengan kebebalannya mencari kerja. Mungkin isterinya mau dia berusaha lebih keras lagi. Mungkin juga isterinya memang sudah tidak menginginkannya lagi.

"Nglamun lagi?" Asap itu disemburkan ke teman barunya.

"Bukan." Setelah beberapa kali mengangguk-angguk.

"Lantas apa namanya?" Ditiupkannya lagi asap itu. "Merenungi takdir Ilahi? Apa bedanya? Kamu bisa hidup cuma dengan merenung-renung begitu? Kenyang? Kecukupan?"

Lelaki muda di samping cuma menggeleng lemah. Mungkin karena tak ada jawaban buatnya. Mungkin juga karena reporter ini bosan dengan pertanyaan-pertanyaan macam itu. Isterinya sudah terlalu sering bertanya seperti itu. Bahkan dengan sedikit keras. Dan yang paling menjengkelkan dari mengingat pertanyaan isterinya adalah ingatan soal tabiat isterinya yang mulai berubah. Enam bulan terakhir ini isterinya mulai tak banyak menanyainya lagi. Isterinya membiarkannya saja melakukan apa pun yang dia mau. Mau kerja silakan, mau luntang-luntung juga nggak masalah. Isterinya tak lagi protes ini atau menuntut itu. Harusnya dia senang, tapi tidak.

Reporter ini mulai bingung dengan kelakuan isterinya. Isterinya yang dikenal taat beragama, setidaknya menurut pandangan orang, mulai bergeser sedikit demi sedikit. Membiarkannya bukan karena ingin membebaskannya, tapi karena ingin membebaskan dirinya sendiri.

"Aku pulang dulu." Sepatu kulitnya mulai kurang jelas oleh sisa matahari dan sedikit lampu jalan."Wawancaranya lain kali saja."

Jalan mulai lengang. Selewat hari menjadi saat-saat paling mendebarkan. Dulu isterinya paling suka menegurnya soal sembahyang, sekarang tidak lagi. Dulu isterinya paling rajin membuatkan kopi, sekarang jangan mimpi. Tapi saat begini tetap saja menyisakan rasa kurang nyaman di kepala reporter ini. Sebagian orang di gangnya malah suka cemas pada jam-jam ini kalau-kalau jadi langganan pencuri motor.

"Hei?! Hei?!" Teriakannya mengejutkan seorang perempuan muda yang nyaris masuk sebuah sedan metalik di depan rumahnya.

Buru-buru dia berlari. Memburu nafasnya dan gerung sedan itu, jangan sampai kalah cepat. Ditendangnya pintu kanan sedan itu. Lelaki dalam mobil itu dia tarik keras-keras. Begitu lelaki itu keluar langsung dipukulnya sekerasnya.

"Anjing bau kencur. Suka bawa isteri orang, ya?!" Sengaja dikeraskan buat mengundang orang kampung. "Nggak ada perempuan lain, ha? Nggak bisa cari yang lebih muda, yang belum kawin?"

Pukulannya makin keras bersamaan datangnya banyak tetangga. Pemuda dari dalam mobil itu gelagapan melihat kemarahan di sekitarnya. Benar, yang dia takutkan bukan suami kekasihnya ini melainkan kemarahan massal yang sewaktu-waktu bisa meledak saat itu.

"Masuk. Masuk ke mobil mesummu ini dan jangan datang lagi."

Pemuda itu menurut. Isteri reporter mendatangi suaminya dengan lembut. Tegak di sana dan melayangkan tamparannya kuat-kuat.

"Bikin malu." Lalu masuk sedan itu lagi tanpa ragu, sementara suaminya masih terlongong sendiri.

Orang-orang bubar satu-satu. Lelaki reporter itu sebentar mengawasi sisa debu yang disemburkan knalpot sedan di ujung gang. Lelaki ini masih tak percaya dengan penglihatannya. Tak percaya dengan tingkah isterinya, dengan ketaatannya.

Jalan mulai lengang. Benar-benar lengang. Kantornya sudah lama sepi. Tinggal para penjaga malam bermain kartu, sekadar pengisi waktu. Teras samping kiri juga sepi. Mungkin sepatu-sepatu cantik itu sudah dapat peminatnya sendiri-sendiri.

Dia, reporter itu, cuma duduk saja menunggu angin meniup habis batang rokoknya.

"Nglamun lagi, kan?" Suara itu terdengar capek di telinganya.

"Ya."

"Tumben?" Sebentar menunggu angin kosong. "Tumben ngaku?"

"Ya."

"Kenapa? Capek lagi?"

"Apa katamu soal agama?" Mengisap rokoknya yang buntung separuh. "Kamu percaya?"

Dev menghela nafasnya pelan. Merapikan duduk dan menutup kakinya dengan selembar kain warna-warni. Menyulut sebatang rokok lagi. Mengembuskan asapnya pelan-pelan dan tipis sekali.

"Kerja lembur hari ini?"

"Bukan, yang ini pribadi."

"Oya?! Tak ada recorder?" Tertawa kecil, renyah tapi punya harga. "Wah, nggak terkenal dong?!"

"Aku bisa menulisnya nanti kalau kamu mau."

"Oke. Apa masalahmu? Ada apa di rumah?" Menunggu jawaban dari batu bungkam itu lagi. "Soal isterimu?"

"Apa kita pernah kenal?" Matanya mengawasi lebih tajam tiap lekuk kecantikan di depannya. "Darimana kamu dapat kamus teka-teki-silangmu?"

"Kita sudah pernah kenal." Kali ini benar-benar ada kebingungan dari teman barunya. "Tadi siang……dan aku pikir nggak ada kamus seperti itu. Tapi keluarga muda tanpa anak, biasanya memang masih suka pakai cincin kawinnya. Ini kota besar dan kamu lelaki muda, banyak yang pingin cari selingan toh. Tapi kamu…"

"Oke, oke. Makasih ceramahnya. Kita balik ke soal agama." Kali ini dia yang menunggu. "Gimana komentarmu?"

"Ada kaitan apa dengan masalah di rumah barusan."

Reporter itu mengeluarkan botol kecil dari kantong celananya.

"Sorry." Menenggaknya sedikit dan menawari Dev yang menyambutnya pelan. "Isteriku….."

Dev menutup mulut reporter itu dengan telunjuknya.

"Lebih baik, kita sambil jalan-jalan."

"Kemana?" Reporter itu mulai bingung.

"Kemana saja." Menjulurkan tangannya. "Devi."

"Bram."

Berdua mereka melenggang sepanjang jalan samping kantornya. Sepanjang jalan pusat penjual bunga dan warung-warung makan. Sepanjang jalan-jalan di kota mereka. Sepanjang perjalanan mereka masing-masing. Sepanjang malam. Malam itu Bram tahu bedanya menjual tubuh dan menjual perasaan. Malam itu Bram tahu arti menjual cinta dan menjual kenikmatan. Malam itu Bram tahu Devi menjual tubuhnya hanya demi menutup rasa sakit ditinggal mati kekasihnya yang tertembak polisi karena buron setelah membunuh seorang mucikari yang lama memerasnya.

Besoknya, siang datang begitu cepat. Sore Bram datang ke teras itu lagi. Dia mau ngobrol lagi dengan Devi. Mau memberitahu Devi kalau cerita perjalanan perempuan itu dan pandangan agamanya menarik perhatian editor tuanya. Dia juga mau mengatakan rencananya merangkainya jadi skenario film.

"Dari kemarin dia nggak pulang mungkin sudah mati. Itu juga lebih baik, utangnya pada orang-orang sudah terlalu banyak." Lelaki bersepatu licin itu menjawab ringan sambil mulutnya terus mengunyah permen karet.

Reporter itu melihat yang diam menunduk. Cuma si kecil berok-mini kemarin yang tetap tegak ke jalan sambil senyum-senyum.

2002