Untuk Riyono dan W. Haryanto yang kesrakat
Setelah habis sekira 4 cerita membaca dari buku kumpulan cerita pendek Riyono, segera kutaruh buku itu di lantai dekat ranjang. Sambil memandangi buku bergambar goresan tangan biola bengkok, aku terus saja mngumpat dalam hati. Bangsat benar pengarang satu ini, pikirku, orang disuruh larut dalam permainan kisah-kisah seremnya yang teramat liar.
Aku pun lantas ingat pada salah satu cerpennya yang berjudul Kepanjangan, yang mana telah pula mengingatkanku pada Bapak. Dikisahkan, dalam cerpen itu, ada sepasang suami-isteri yang telah menghadapi kesedihan mendalam begitu si isteri mengalami suatu peristiwa keguguran atas kandungan pertamanya yang telah berumur sekira tujuh bulanan. Begitu halnya dengan Bapak.
“Bapak ini ada memiliki riwayat kelahiran yang serem punya.” Ujar Bapak suatu siang, waktu aku masih kerap mendengar dongeng-dongengnya. “Waktu Nenek mengandung bayinya Bapak, genap usia tujuh bulan Kakekmu mengajak Nenek berpindah rumah. Padahal, menurut kepercayaan, orang tak boleh bepergian jauh atau berpindah rumah apalagi sampai ke luar kota selama masih mengandung seorang bakal bayi. Malahan sebelum bayi yang kemudian terlahir itu genap berumur satu tahun, menurut kepercayaan juga, tak baik di bawa bepergian kelewat jauh.
Tapi karena Kakek sudah terlanjur berjanji pada stasiun tempatnya bekerja sebagai opas polisi istimewa maka berangkatlah Kakek Nenek sekeluarga berpindah ke kota yang jadi tempat dinas barunya Kakek. Sekalipun dengan sedikit kecemasan, untuk menghindari apa-apa yang tidak diinginkan Nenek sudah membawa sebongkahan tanah dari halaman rumah lama, begitu seperti yang dinasehatkan oleh Buyut. Semua berjalan lancar.
Sampai pada satu sore, sepulang dari kerja di stasiun kota, Kakek teramat terkejutnya mendapati laporan dari Nenek. Siang tadi perut Nenek tiba-tiba mengempis. Tak ada tanda-tanda perdarahan seperti layaknya perempuan yang mengalami keguguran.
‘Jadi apa yang kaualami ini?’ Kakek masih ada menyimpan keheranan atas pengalaman Nenek. Kakek seperti merasa kalau Nenek membohonginya, entah dengan tujuan apa. Kakek merasa kalau bayi (bakal bayi tepatnya) Bapak masih ada tersimpan dalam perut Nenek, entah di bagian mana.
Nenek pun merasa tak tahu harus berbuat apa, mendapati keheranan Kakek itu. Nenek cuma menunduk saja. Menganggap kalau semuanya bakal selesai bersamaan berlalunya waktu. Sebaliknya sebagai opas polisi istimewa, yang sekalipun sehari-harinya bertugas di stasiun, Kakek merasa ada sesuatu yang harus diluruskan. Dengan naluri kepolisiannya Kakek segera mau mengajukan serentetan pertanyaan pada Nenek. Tapi melihat tanda-tanda ketakutan pada air muka Nenek, ditambah sedikit keyakinan kalau Nenek masih mengandung bakal bayi Bapak, maka sore itu waktu berlalu seperti aliran kali kecil di belakang rumah mereka.
Kakek kepikiran terus dengan dugaan-dugaannya, dan menganggap lebih baik mendiamkan keadaannya sementara waktu. Di pihak Nenek yang merasa sedang dipersalahkan oleh kelalaiannya menjaga amanah suami, seperti seorang tertuduh pada umumnya, juga merasa lebih baik mendiamkan saja keadaannya untuk sementara waktu. Sepanjang sore sampai malam harinya, kedua penanda rumah-tangga itu sedang asyik mengunci mulutnya rapat-rapat. Alhasil, layaknya sebuah kapal tanpa nahkoda, rumah mereka pun jadi kehilangan kendali.
Tak seperti biasanya sore itu, rumah pun jadi lebih ramai. Anak-anak pulang bermain, mandi sore, makan, mengaji, dan berangkat tidur tanpa ada yang menyuruh, mengatur ini dan itu atau memarahi. Mulanya, sore-sore mereka sudah berkumpul ramai berebut mandi. Air mandi yang tinggal separoh kolah jadi rebutan. Tentu saja yang paling kecil jadi kalah-kalahan. Mak Yat, kakak perempuan Bapak (atau bakal bayi Bapak?) yang masih paling bontot, jadi korban rumah tangga tanpa aturan itu. Mak Yat hampir menangis waktu itu, tapi dasar orangnya pendiam dan perasa sejak kecil dia pun memilih diam mengisak di pojok kamar mandi dekat sumur. Beruntung Pak De Jani, yang kemudian hari kukenal sebagai keranjingan besar (penjahat ulung?), mau mengambil air wudhlu menjelang maghrib.
‘Kenapa kamu ndepipis (jongkok menyudut di satu pojok) di situ?’ Tanya Pak De Jani setelah melihat adiknya teronggok di sudut sumur itu. ‘Belum mandi, ya?’
Tak mendapat sahutan, Pak De Jani segera melihat isi kolah dan tersadarlah dia akan nasib adik perempuannya yang sengaja terlambat sekolah sebab orang-tuanya belum ada uang itu. Tanpa banyak kata lagi Pak De Jani segera menimbakan beberapa ember air buat mengisi kolah. Sedikit susah payah, karena ukuran tubuhnya yang terlalu kecil untuk ukuran ember yang kelewat besar itu, akhirnya terisi juga kolah itu sampai separohnya.
‘Sudah kau mandi sana, biar aku tunggui di sini.’ Pak De Jani mengangkat bahu adiknya supaya berdiri dan pergi mandi. Setelah itu dia sendiri duduk berjongkok dekat sumur, menunggui adiknya mandi di balik bilik bambu yang mulai berlubang di sana-sini itu.
Tak berapa lama, rupanya Pak De Jani sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia pun segera menanyai adiknya yang di dalam bilik mandi itu. ‘Sudah Yat? Kalau sudah aku mau wudu.’ Tak ada sahutan dari dalam, hanya suara gayung masih berdeburan membuat jantung Pak De Jani berdebar keras. Bukan apa-apa, pikirnya waktu itu, sebentar lagi maghribnya habis, bisa-bisa aku kehilangan kesempatan ini.
Hari-hari itu Pak De Jani memang sedang tekun-tekunnya sembahyang. Itu pun bukan apa-apa, melainkan karena dia sedang nglakoni suatu lelaku. Jadi tak boleh putus sembahyangnya itu. Ini sudah hari keenam, rusuh batinnya lagi, tinggal sehari lagi, jangan sampai sia-sia usahaku hanya karena kelewatan maghrib sekali ini. Tak jelas lelaku apa yang sedang dijalaninya, yang jelas dia dikenal semua saudaranya sebagai bocah yang gemar lelaku. Perbuatan seperti itu sudah sering dilakukannya sejak masih di rumah lama, di bawah bimbingan Buyut dari pihak Nenek. Sebab keluarga dari pihak Kakek tinggal jauh di kota lain lagi. Tentu saja, pikiran bocah Pak De Jani tak mau dikalahkan oleh keadaan apa pun demi mendapatkan kemauannya.
Baru dia memutuskan mau menyuruh adiknya segera selesaikan mandi. Tahu-tahu dari arah belakang tengkuknya dia ada merasakan selembar angin yang lain dari yang lain. Belum sempat dia menengok ke belakang dia sudah mendapat sebuah teguran. Pak De Jani tidak yakin apakah lelaki tua berjenggot putih itu tetangganya atau bukan, karena dia merasa sebagai penduduk yang masih baru di situ. Hanya sebagai jaga-jaga dalam hatinya dia membatin; nuwun sewu, tunggal guru ojo ngganggu, tunggal ilmu ojo nyatru.
‘Apa yang kamu tunggui di sumur ini, Bocah?’ Tanya lelaki tua itu. Samar-samar Pak De Jani pun mulai bisa menangkap bayangan utuhnya. Lelaki tua itu tak hanya berjenggot putih, melainkan sekujur tubuhnya dibalut pakaian serba putih, rambutnya pun putih seluruhnya.
‘Kulo nungui adik Kulo yang sedang mandi.’
‘Mana adikmu yang mandi itu? Tak ada adikmu yang sedang mandi di situ.’
Tersadar oleh teguran itu, Pak De Jani sudah tidak lagi mendengar suara gayung berjeburan. Pak De Jani segera menengok ke arah kolah, memastikan kalau pendengarannya benar adanya. Terkesiap oleh kenyataan kalau sudah tidak terdengar suara jeburan gayung, Pak De Jani segera pula mau bertanya pada orang tua berjenggot putih itu. Tapi, si penegur sudah tidah ada di tempatnya tadi berdiri. Pak De Jani menengok ke kanan dan kiri. Tidak ada sesiapa pun di sekitarnya. Bayangan orang tak ada, angin yang meremangkan tengkuknya pun tak ada. Dalam keremangan matanya hanya menangkap bayangan pohon-pohon saja.
Tak mau larut dalam kebingungan pikirannya sendiri, Pak De Jani segera pergi mengambil air wudhlu, sambil beristighfar terus sepanjang waktu. Dan saat tangannya membasuhkan air ke kedua daun telinganya lamat-lamat di dengarnya lagi sebuah teguran. ‘Bocah, jangan dikira tempat ini tak ada yang punya. Kau hanya menumpang lewat saja di sini. Oleh sebab itu jangan memamerkan ilmu di depan kami….’
Pak De Jani tak mau banyak mendengar lagi. Begitu wudhlunya selesai dia segera beranjak masuk ke dalam rumahnya. Dia juga mau secepatnya memastikan kalau-kalau adiknya, Mak Yat, sudah selesai mandi dan selamat sampai di rumah.
Begitu menginjakkan kakinya ke undakan batu belakang rumah, Pak De Jani sudah pula mendapat teguran keras dari Kakek yang dikenal galak oleh anak-anaknya itu. ‘Jani, kamu kemana saja?! Tiga hari tidak pulang, kamu pikir rumahmu ini gardu (waktu itu orang-orang tua dan para pemuda suka menghabiskan waktu sorenya dengan duduk-duduk di gardu penjagaan), cuma dibuat mampir lewat saja?!!’
Pak De Jani, sekali lagi, terkesiap oleh kenyataan dirinya. Air wudhlu di wajah, ubun-ubun, telinga, tangan dan kakinya belum lagi kering. Tapi Kakek sudah menuduhnya meninggalkan rumah selama tiga hari. Ingatan Pak De Jani segera berlari ke arah bayangan orang tua berjenggot putih itu, dan merasa benar-benar telah dicobai olehnya. ‘Nggih…’ Pak De Jani tak punya jawaban lain pada bapaknya.
‘Sudah, bantu Makmu sana!’ Sahut Kakek waktu itu. ‘Kita harus cepat meninggalkan rumah kesrakat ini.’
Belakangan Pak De Jani mendengar selentingan, kalau Mak Yat mengalami demam, badannya panas dingin tak keruan, selama dua hari ini. Dan Nenek selalu mimpi hal-hal menakutkan. Belum lagi Kakek dibingungkan oleh kepergiannya yang tanpa kabar itu.
Tak sempat sembahyang maghrib, Pak De Jani membantu Nenek selekasnya mengemasi barang-barang mereka, utamanya yang paling dibutuhkan saja. Perkakas yang besar-besar bakal menyusul kemudian. Kakek-Nenek sekeluarga boyongan lagi, tapi sekali ini untuk kembali ke rumah lama yang untungnya belum sampai dijual oleh Buyut.”
Berhenti sebentar Bapak menarik nafas agak berat, sebelum meneruskan ceritanya. “Beberapa bulan kemudian perut Nenek membesar lagi seperti umumnya orang hamil sembilan bulan lebih. Tapi sampai sebesar itu kandungan tak juga terlahirkan. Genap enam bulan kandungan yang kedua ini, tepat pada Bakda Mulud lahirlah seorang bayi.
Waktu itu Pak De Jani yang tak merasa putus asa dengan kegagalannya nglakoni sebelumnya, sudah menyelesaikan tirakatannya semula. Dan sore selepas selamatan Muludan dan bersih desa, Pak De Jani bertemu dengan orang tua berjenggot putih tempo hari. ‘Ngger.’ Sapa orang tua itu di tikungan pekuburan desa. ‘Adikmu yang baru lahir ini, bakal minta korban. Sesiapa saudaranya yang punya hari dan neptu sama dengan kelahirannya harus mengalah. Kalau tidak, ya bayi itu yang kalah.’
Pak De Jani tak sanggup menjawab apa pun lagi, kecuali melepas kepergian orang tua itu berjalan seperti angin dan hilang di ujung barat jalan.”
Memang kemudian salah seorang Bu Dhe kami meninggal tak berapa lama sejak Bapak lahir. Aku sendiri masih setengah percaya pada cerita Bapak kali ini. Tapi perihal kejengkelanku pada cerpen-cerpen Riyono itu tak bisa kuelakkan.
Kalau memang ada anjing yang bisa berubah jadi gadis cantik seperti digambarkan dalam cerpen Kepanjangannya Riyono itu, maka aku mau memeluknya kuat-kuat. Kalau perlu dikuburkan satu liang dengannya.
Susilo, 191003