Scriptwritter
Oleh: Susilo
Sekumpulan merpati liar di taman kota berlonjakan mengikuti arah angin. Berebut makanan yang dilemparkan para pengunjung taman. Tiap kepakannya melahirkan anak-anak angin baru. Angin mengndus samar menebarkan semburat senja ke tiap sudut ruang yang sisa. Menanting aroma gunung yang mulai menggigit. Tapi ada yang selalu perkecualian dan tak tergigit.
"Jadi dimana posisimu sekarang?" Perempuan bersyal biru menyoroti mata di depannya.
"Sementara............" Sebatang rokok menyusup mulut si lelaki kaca-mata kecil. "Aku pikir, jangan dululah."
"Lantas buat apa kau cari aku?"
"Aku perlu sedikit dukungan........."
"Berapa?"
"Bukan. Bukan berapa, tapi apa." Menunggu jawaban yang masih menganggapnya sepi. "Baiklah, aku sedang menyelesaikan sebuah naskah...."
"Film? Opera? Teater? Apa?" Suara lembut itu mulai tajam.
"Naskah kita."
"Naskah kita........?"
Sepi. Pelayan datang menanyakan pesanan. Tapi mereka sedang tak suka makan rupanya. Hanya dua gelas penghangat pikiran mereka minta. Tak kurang tak lebih, sepasang gelas, semangkuk es dan sebotol anggun minuman yang berdesis. Berdesis, pikir si lelaki kecil itu, persis ular para fakir yang kehilangan seruling. Meliuk dalam jambangan terbuka. Kata orang, gelitik pikiran kecilnya lagi, gelas kristal membawa kesehatan. Tapi tidak untuk sore ini. Tidak, dengan desis di dalamnya.
Biasanya, setidakanya tiga tahun lalu, mereka bakal segera membukagabus penutup botolnya. Menuang jadi dua, menghirup aromanya, dan mencecapnya pelan-pelan seperti dari tadahan cawan. Sedikit tengadah lantas saling kerling dan gelak-gelak kecil. Memainkan sedikit tangan, sedikit kaki, sedikit sudut, dan sedikit malam yang mungkin untuk mereka bagi berdua. Tapi memang, tak setiap malam jadi yang sedikit itu. Kebanyakan malam mereka habiskan di tempat masing-masing. Lelaki kecil itu selalu sibuk dengan isteri yang tak pernah bisa memahami tingkah aneh suaminya pada tiap malam tertentu itu. Sedang perempuan ini cuma bisa menunggu sampai hampir lewat tiga tahun berlalu.
"Aji......." Cairan berdesis itu tak melicinkan leher jenjangnya. "Aku tak tahan lagi."
"Aku juga." Matanya menekuni asbak dan gelas kristal di tangan. "Apalagi menjelang musim dingin begini."
"Matamu...." Menuangi isi perutnya dan mengetukkan kaki gelas sedikit keras. "Terlalu suka gelas dan minuman. Lama-lama dia merasa Cuma jadi asbak rokokmu saja."
"Oh, maaf, maaf..........maksudku......"
"Sudahlah. Aku tak mau dibodohi terus, seperti isterimu. Nama boleh sama tapi soal cara tidak harus serupa, kan?" Bangkit dari duduknya. Tegak di atas kakinya yang menjulang
"Eh...Anna sebentar. Aku belum selesai."
"Siapa yang belum selesai? Apakah Anna juga mau datang ke sini?" Mengemasi tas kecilnya. "Kamu belum selesai, aku sudah."
"Baik, baik. Aku minta maaf lagi. Sekali lagi. Ayolah....Duduk dulu...." Lirih tapi ajakan itu penuh tekanan dan memaksa perempuan itu duduk lagi.
"Baik....Aku tadi terlalu buru-buru menebak maksud tak tahanmu. Maaf. Aku minta maaf.....Bagaimana?"
Tiga tahun hampir-hampir lewat begitu saja. Persis seperti Yulianna, isterinya yang tak pernah tahu tingkah anehnya, perempuan ini pun sama meledak-ledaknya. Suka menggoda, suka melabrak juga. Tourisiana hampir tak berbeda dari Yuliana yang suka di rumah saja. Perbedaannya mungkin cuma soal ukuran. Medium dan large siapa bilang sama, sekalipun tak selalu menunjukkan kemampuan dan kekuatan. Tapi orang memang tak harus mencari yang lain sama sekali dari rumput depan rumahnya. Orang, dalih lelaki kecil kita, bisa mengendus rumput dari jenis yang sama, toh tak setiap hujan sore datangkan pelangi senja.
"Kamu persis....."
"Isterimu?!"
"Bukan. Ibuku." Mengorek rokok lagi. "Selalu marah, teriak, tertawa, dan menangisnya dulu sebelum tahu. Sebelum mendengarkan omongan orang."
"Kamu pikir aku tuli?"
"Kamu mendengar tapi tidak mendengarkan. Kamu terlalu jarang mendengarkan omongan orang."
"Hh, kamu bukan Ibuku."
"Ah, bahkan Ibumu tak kamu dengarkan."
"Bahkan Ibuku?"
"Bahkan Bapakmu?"
"Bahkan Bapakku?! Cukup! Kamu mulai suka jadi petugas sensus."
"Bukannya kamu yang mau supaya suatu hari ada yang menyensusmu? Bukannya kamu yang mau menikahi petugas sensus bernama Mas Aji itu? Kamu berhak bosan pada semua ini. Kamu berhak bosan padaku. Ah, siapa juga aku ini toh. Tapi jangan pernah kamu bosani harapan-harapanmu, mimpi-mimpimu. Jangan, jangan pernah. Sebab, itu berarti kamu sudah siap mati. Dan petugas sesusmu ini belum siap melepasmu pergi, sendiri. Belum siap. Belum."
Tourisiana, perempuan itu, menyilangkan kakinya. Menepukkan tangan satu sama lain, sehingga beberapa orang mengira mereka sedang melatih salah satu adegan dari sebuah melodrama.
"Nana, tolong........dengarkan aku."
Perempuan itu masih berdiri dan memperhatikan saja aktor kecilnya ini mengoceh tak keruan. Tanpa berkedip. Tersenyum terus dan mengatupkan rahangnya pelahan.
"Baik. Nana, sekarang terserah kamu." Melepaskan kaca-mata kecilnya. "Orang-orang ini mau mengontrak kita buat film mereka rupanya. Hmmm, kamu lihatkan? Tapi, baiklah terserah kamu. Aku cuma minta sedikit waktumu. Sedikit saja lagi."
Senyum Nana sedikit mengembang dengan mata menari-nari membalas tiap mata di lain meja. Dan meneruskan senja di pertemuan jahanamnya. Dengan seorang seniman, aktor, penulis dan apalah yang serba amatiran.
"Aku cuma mau menyerahkan ini." Tangannya bergerak gesit, menyentuh ringan telinga Tourisiana dan tiba-tiba sebuah kotak beludu ada dalam genggamannya yang terbuka. "Bukalah, kalau kamu suka."
Sebentar Nana ragu-ragu pada perasaannya, pada harapannya sendiri. Seperti bakal ada ulat kecil yang melenting dari dalam kotak mungil itu. Ulat kecil yang bisa merambat ke tangan dan meremah hatinya.
"Apa itu?"
"Dukunganmu..."
"Dukunganku?"
"Ya, dukunganmu. Seperti yang aku minta tadi." Tangannya menuntun jari-jari Nana. "Bukalah. Biar aku cerita sedikit soal mobil, rumah dan seisinya yang sekarang sudah jadi punya isteriku sepenuhnya. Mantan maksudku, mantan isteriku."
"Apa?!" Emas putih itu hampir jatuh dari genggamannya. Dia memang pernah berharap, bahkan sangat berharap, segera datangnya peristiwa ini. Tapi tidak secepat ini. Sebelum dia mampu meredakan gelenyar-gelenyar dalam dadanya.
"Yah, aku sekarang tinggal sendiri menunggumu meminangku." Mengaduk es dalam gelasnya pelan. "Aku tinggal di penginapan kelas kambing. Moga-moga kamu nggak kecewa. Oya, ada tawaran menyelesaikan naskah komunikasi spiritual. Dan aku juga mau menyelesaikan naskah kita....."
"Mas Aji..." Nana duduk lagi. Tunduk, tengadah, senyum dan menangis kecil. "Aku belum ada krenteg......."
Begitulah naskah itu, kenang Aji sepanjang waktu yang lewat kemudian, Nana moga-moga kado ini bisa mengingatkan kamu terus pada senja hangat kita. Mas Aji meninggalkan ziarahnya pada pesta pernikahan Tourisiana, dua tahun kemudian. Ziarah pada naskahnya yang tak akan pernah selesai.
121100-051003