Maria, Julia dan Aku
Cerpen Susilo
Masih pagi yang sama dan Julia telah kehilangan dua orang buruannya. Pertama seorang lelaki yang setengah asing baginya. Kedua, perempuan matang, yang kemudian dikenalnya bernama Maria, penunjuk jalannya menuju lelaki setengah asing itu, yang lebih asing lagi darinya. Jejak yang tersisa hanyalah sebuah rumah dinas yang menggigil dan bersegel kuning barang sah milik dinas kepolisian. Dan, ia sendiri yang masih juga tak percaya.
?Begitulah dia,? Ujar Maria memulai ceritanya tentang lelaki setengah asing, yang selalu membuatnya penasaran itu. ?Sebenarnya dia hanya akan menunggu setiap yang datang, memberikan sedikit tempat buat menyambung nafas.?
Pagi kemarin, dengan seluruh nafas yang berdenyutan Julia mengadu untung menemui Maria di rumah dinasnya. Sedikit keberanian yang dipaksakan ada pada dirinya sendiri itu telah menghasilkan kalimat panjang lebar dari perempuan berkaca-mata minus itu. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Maria tentang dirinya yang telah begitu berhasrat mencari lelaki carut-marut itu. Satu hal yang pasti mulut perempuan matang itu terus saja berkomat-kamit, seperti membaca mantra atau rapalan tertentu yang dihapalnya di luar kepala. Dari cara bicaranya pun segera tertangkap kesan kalau mereka memiliki carut-marut perasaan yang bermuara pada lelaki setengah asing itu.
?Setelah dua atau tiga hari mendudukan dirinya di taman kota itu maka dia segera tahu kalau aku punya sedikit perhatian padanya. Sebenarnya perhatianku bukan pada tampangnya yang cenderung cantik atau perawakannya yang matang itu, melainkan lebih pada kebiasaannya itu sendiri. Kebiasaan duduk berlama-lama, di satu tempat, pada tiap jam yang sama. Ini membuatku tertarik lebih dari sekadar kegemaran naif pada permainan liar dan cermatnya di atas ranjang. Bukan, sekali-kali bukan karena itu, sekalipun itu bisa jadi catatan tersendiri secara panjang lebar. Sekali lagi, kebiasaan itulah kuncinya. Tolong catat itu lebih dari yang lain.
Aku sendiri baru satu minggu sejak dimutasikan pada Bank di belakang areal taman itu, saat melihatnya untuk kali pertama. Mula-mula aku menganggapnya sebagai orang yang sedikit kelebihan waktu sebelum berangkat kerja. Sambil menunggu bis kota atau apa, dia habiskan waktunya dengan memajang diri begitu rupa. Selebihnya, sentuhan matahari pagi pun cukup menjadikannya punya alasan untuk mendapat sedikit kehangatan dan kesehatan. Tapi, pikirku kemudian, penampilannya kurang lazim untuk seorang pekerja. Pakaiannya tidak cukup mendukung anggapan pertamaku itu. Kamu sendiri di ruangan kantormu tentu kesulitan mencari partner yang bisa bebas dengan ketsnya. Ah, coba dulu minumannya sebelum leher jenjangmu kekeringan.....?
Hati-hati Julia meneguk minuman itu karena tak ingin merusak suasananya. Sejak titik ini, Maria mulai lebih lancar dari setengah jam sebelumnya.
?Bahkan sebagai pekerja kerah biru pun jelas sekali dia tak punya potongan.? Lanjut bibir senja yang merona ditimpa fajar itu. ?Memasuki minggu kedua sejak kali pertama melihat tingkahnya itu aku mulai menyadari kalau dia tengah menunggu sesuatu atau seseorang tepatnya. Hari ketiga minggu kedua itu juga matanya mulai bisa memaksaku bertukar senyum dengannya. Senyumku mungkin berarti tegur sapa calon tetangga, sedang miliknya ? seperti yang kau lihat juga, kusadari kemudian ? mengandung dorongan yang lebih dalam dari sebuah ketekunan. Menurutku, seperti retakan ice cream saat gigitan pertama. Beberapa kali aku berusaha mencari tahu sampai berapa lama dia bertahan duduk di situ setelah setiap pagi biasanya. Setahuku, setiap aku pulang kerja dia sudah tak ada di taman itu. Maka, aku coba luangkan waktu saat jam istirahat buat sekadar memeriksa batang hidungnya, juga tak ada.
Jum?at minggu kedua sengaja aku berangkat dua jam lebih siang dari biasanya dan dia ternyata masih duduk di tempatnya. Sabtu pagi, agak malas aku bangun dan setelah berbenah aku keluar cari sarapan. Tepat tiga jam dari kebiasaanku berangkat kerja, taman itu sudah dipenuhi banyak orang, terutama kaum tua, dan dia sudah tak ada lagi di sana.
Segera kusimpulkan kalau dia memang menunggu sesuatu setiap pagi selama tiga jam lebih, satu jam sebelum dan dua jam sesudah jam masuk kerjaku. Tapi, aku tak pernah tahu apa dan siapa yang ditunggunya. Dia memang mengambil waktu sekitar jam berangkatku, tapi itu saja tidak cukup membuatku merasa sebagai orang yang ditunggu-tunggu itu. Jadi aku memang digariskan untuk tak pernah tahu sasaran yang ditunggunya sampai aku memberanikan diri bertanya waktu itu. Memberanikan diri terhadap pandangan orang di sana atau teman kerjaku yang kebetulan lewat. Aku menguatkan diri pada celaan yang muncul dari kepalaku sendiri. Bisa kau bayangkan, aku seorang staf akuntan sebuah bank terkemuka milik pemerintah disibukkan dengan perhatianku pada seorang lelaki asing yang terbiasa duduk-duduk di salah satu sudut taman kota. Hahahahahaha.....
Toh, akhirnya aku berhenti juga. Menyapanya sekilas dan segera semuanya berubah, seperti tengah malam paling hening saat terjadinya pergeseran hari menjelang esok. Lalu kami berjalan menyusuri pinggang taman itu, bercerita tentang beberapa hal di sela senyum dan sorot matanya. Selebihnya, dia menjadi penghuni baru di rumah ini. Tapi, maaf aku tak bisa memberikan satu nama pun padamu untuk menyebut atau memburunya. Sebab, buatku nama tak menjadi soal dan sikap selalu lebih penting dari sekadar kartu pengenal apa pun, kau tahu maksudku.
Terus terang aku merasa pernah berhubungan dengan orang macam ini, jauh sebelum ini. Berhubungan dengan orang yang bisa mencukupi nyaris semua kebutuhhanku. Uang, kehormatan, dan....seks, tentu saja, seperti yang kau harapkan bakal keluar dari mulutku. Perhatiannya yang besar membuat setiap yang dekat dengannya akan merasa nyaman dengan sendirinya. Bisa jadi itu wajar, mengingat dia adalah site manajer sebuah grup supermarket di tempatku kerja waktu itu. Satu hal yang sedikit menarik mungkin karena aku harus rela melepaskan posisi bagusku di sana hanya karena kami berencana menikah. Sekalipun baru sebatas rencana. Padahal kau tahu, untuk mendapatkan,? Maria berhenti sejenak meneguk minumannya, ?site manajer itu aku musti siap pula meninggalkan pasanganku yang lain, seorang analis komputer jempolan.
Tentang yang terakhir, analis komputer itu, dia benar-benar jembatan emas buatku. Dari semula aku hanya berencana menggunakan statusnya sebagai dosen bantu pada lab komputasi di Fakultasku untuk menghacurkan nilai setiap orang yang telah merusak jalanku. Salah satunya adalah seorang teman sekelas yang sama sekali tak tahu diri, seorang mahasiswi bermoral yang kehabisan tempat. Hmm, setelah kubantu pindah tempat tinggal ke tempat kosku, perlahan-lahan ia mulai menelikungku dari balik selimut. Mengaduku dengan ibu kos yang rupanya lebih mempercayai orang baru ini dan mengusirku hanya karena adegan kecil suatu petang di teras rumah. Ah, aku benar-benar tak ingin melihat wajahnya lagi sejak itu. Biar dia hadapi kehancuran berulang-ulang di bangku yang sama dengan moralitasnya. Juga yang lain, semua yang telah seenaknya mempermainkan aku menjadi mangsa empuk analis komputerku itu. Begitulah, sementara waktu berjalan dan kelulusanku menjadi dentang bel berakhirnya menikmati waktu di atas jembatanku. Maaf, mungkin aku bukan perempuan lembut yang cukup pantas kau jadikan sosok ibu yang kau cari-cari. Tak pernah terbayang sekilas pun dalam benakku gambaran menjadi seorang ibu. Menjijikkan sekali bahwa perempuan dipaksa melahirkan dan membesarkan anak-anak, sementara lelakinya asyik bermain-main di luaran.
Dia, maksudku partnerku yang site manajer dulu itu, datang tepat waktu. Begitu bel akhir itu berdentang teramat keras, begitu saja dia menyelinapkan dirinya lembut-lembut ke balik selimutku. Dan, jembatan emas itu pun hancur berkeping-keping. Kudengar sebentar kemudia dia nikahi adik kelasku yang cantik, beranak, lalu diceraikannya lagi. Beberapa kali dia menelponku di antara sekian dering yang lain. Tapi, telpon di tempatku rupanya sudah terlanjur mengikat diri pada basement pusat perbelanjaan baru itu. Malahan waktu telponnya membisik-bisikkan gesekkan lembut selimut dan ranjang merah jambu, hahahahaha...anggrekku cuma senyum tipis dengan desahan lirih setengah merintih, yang aku yakin akan membuat analis komputer itu makin terguncang-guncang di atas cadiknya yang rapuh. Kubilang satu kali menjawabnya.....
?Sudahlah, belajarlah dari sedikit, buanglah sampah pada tempatnya. Dan menuai benih dari yang kautaburkan.? Lalu terdengar kertak gigi di seberang, suara gagang telpon terbanting keras dan ngiiiiing. Baik, akan kuteruskan sendiri, semuanya. Kalau kau sendiri sudah terserang penyakit gagu dan gagap dalam mengiblatkan jalanmu sampai kau datang ke rumah dinas ini. Sedikit banyak kau pasti tahu, apa itu monolog. Dulu aku suka juga melihat pertunjukkan biarpun sedikit.
Benar, bukan cuma perhatian dan kehormatan yang aku dapatkan dari site manajerku itu. Lebih dari itu, kehangatan bisa aku nikmati setiap saat, di tempat paling dingin sekali pun. Justru dari karena site manajerku itu datang dari kota dingin. Di atas kotanya dia benar-benar kuda liar, baik di jalanan maupun di tengah ranjang. Serangan gencarnya membuatku berkali-kali kewalahan. Sekali putaran aku bisa mencapai tiga sampai lima puncak dengan resiko seluruh tulang serasa berlepasan. Dan anggrekku, ah anggrekku seperti dirajam pisau bermata seribu. Darahnya sulit berhenti, tapi sungguh ngilu yang kunikmati. Biasanya setelah saat-saat yang dahsyat itu kami menghabiskan waktu dalam buaian mimpi indah sebuah puri di gigir telaga yang seluruhnya diliputi cahaya remang. Sepasang angsa menggiring angin di wajah telaga yang pias oleh cahaya bulan setengah telanjang. Hahahahaha....
Saat-saat indah dalam hidupku. Setelah sekian kerikil tajam menisik dan mengantuk kakiku. Mungkin hanya satu orang yang bisa mengalahkan kegilaan macam ini. Kegilaan dan kenikmatan yang pekat. Ya, mungkin hanya satu orang yang sanggup mengalahkan rekor site manajerku. Sekali pernah kudaki tujuh puncak sekaligus, lalu aku benar-benar jadi sejenis lolita di sana. Di sisi novel pertamaku, lelaki kecil dan naif yang aku yakin masih menunggu sampai saat ini, setelah sekian penerbangan bersama analis komputer dan site manajerku. Lelaki kecil dan naif.....lebih tepatnya seorang bocah gembala yang selalu kekanakan. Entah sampai kapan, sebab kami dipertemukan dalam musim kawin pertama tahun kedua kuliahku. Selayaknya setiap musim kawin pertama, si kecil ini pun terlanjur melingkarkan cincin akar rumput di jari manis batinku.
Tak cuma soal tujuh puncak itu reputasinya, selalu dia mengakhiri perjalanan kami dengan basuhan-basuhan lembut di tubuhku yang basah dan membawaku terentang antara kaki langit gumpalan awan putih. Ah, sudahlah biarkan dia menghuni albumku yang berdebu dan lapuk sendiri suatu hari nanti.? Maria seperti mengalami kesulitan untuk keluar dari labirin masa lalunya. Kernyit kecil mempertajam bola matanya yang menjauh.
?Lalu, bagaimana tentang basementmu....?? Julia berusaha memperbaiki keadaan.
?Oya, kami berencana menikah. Baiknya langsung saja dari situ. Tapi, selalu aku harus berhadapan dengan masalah keluarga. Dia punya seorang ibu dari sejenis ular aristokrat sejati. Bermulut tajam, memandang orang lain dengan mata yang selalu mengantuk, penuh gairah dan sedikit culas. Bapaknya tak jauh beda. Macan kampung, tuan tanah puluhan hektarare, berkulit dan hidung belang-belang. Pada kekasih anaknya pun sempat mendenguskan nafas mesumnya. Semua ini yang membuat kami bertahan hanya lewat jalan belakang. Sampai, entah bagaimana, keluargaku mencium hubungan kami yang aga kelewatan itu. Papi memintaku pulang kampung secara mendadak. Sampai di sana aku dihadapkan pada sidang keluarga. Keluarga besar Mami datang semua. Tak ketinggalan seluruh warga dari garis Papi datang bertandang. Lalu sidang dibuka oleh Eyang Sepuh ? kakak tertua Eyang Kakung dari Mami.
?Aapa yang sudah kamu lakukan, Nduk? Mamimu nangis ndak habis-habis.? Eyang Sepuh mulai mendesakku.
Aku bergeming dan terus saja berusaha sekerasnya memperjuangkan pertahananku. Tapi sidang kemudian memutuskan agar aku memeriksakan diri ke dokter. Mami diutus sebagai pengantar pemeriksaan diriku. Dari sanalah bermulanya pergeseran hari. Semua mulai membaca dan mengulitiku habis-habisan. Untung mereka tahu hanya sebatas itu. Lalu tuntutan diajukan pada site manajerku beserta keluarga. Sampai di situ, habislah semuanya. Ibunya marah besar, mulutnya menyemburkan bisa. Bapaknya mengamuk sejadi-jadinya, menggeram dan mencabik-cabik hargaku dengan kuku di tiap ujung lidahnya. Dan makin tertampar aku waktu site manajer itu cuma diam, tertunduk kelu dan sekali bersuara.
?Buka aku yang pertama...?
Bagus, tampaknya semua batu harus diangkat oleh sisiphus yang sama. Sejak itu kuputuskan untuk menjalani hidup selibat tanpa sakramen, lepas dari keluarga dan siapa pun yang selama ini mengikatku. Menerbitkan dan menggelamkan sendiri matahariku. Sampai suatu pagi, aku lihat lelaki asing kita di sudut taman itu.
Dari semula aku tak berharap banyak darinya. Aku hanya tertarik pada kemauannya menunggui patung-patung batu di taman itu. Sekali tempo, sempat terpikir olehku, kalau dia tak hanya menunggu melainkan membasuh tubuh dewa-dewi di sekitar kolamnya juga. Tapi, pikiran-pikiran cengeng itu segera kuempaskan lagi dan terjadilah yang musti terjadi. Sejak dia menghuni rumah ini, tak sekali pun kutanyakan pekejaannya atau mengungkit-ungkit kebiasaannya memandang jauh keluar pagar taman setiap pagi sebelumnya.
Pagi-paginya kemudian diisi dengan membangunkan aku dengan ciuman lembut. Menyiapkan sarapan dan secangkir kopi dengan cream. Melepaskan aku pergi dan menutup pintu pagar lagi. Selebihnya aku tak tahu. Yang pasti aku melihatnya adalah sambutan hangatnya ketika aku pulang kerja. Membantuku melepaskan perlengkapan kerja satu per satu. Menyeka tengkuk, punggung dan beberapa bagian lain dengan handuk hangat. Sementara makanan kecil dan lemon tea sudah tersedia. Tiap malam kami isi dengan acara televisi atau permainan atau obrolan ringan seputar masalah umum. Selain menyiapkan makan malam, kalau kebetulan badanku terlalu capek untuk keluar rumah, tak lupa dia menyuguhiku santapan utama pengantar tidur.
Pernah sekali waktu, aku mencuri tahu kebiasaannya setelah larut malam. Kulihat pintu kamar kerja sedikit terbuka dan ada cahaya biru remang keluar dari mulut pintu. Kuperhatikan dia tercenung di depan layar monitor di sana. Entah sedang menulis apa, aku tak terlalu yakin dengan mata telanjangku pada jarak lebih dari lima meter. Kegugupan segera menyerang waktu dia menyadari kedatanganku, dia menengok ke arahku dengan pandangan tajam. Dia menghampiri dan aku menggigil dalam gelap, matanya seperti srigala lapar.
?Tidak baik membiasakan diri dengan pencurian...? Senyumnya masih bisa kubaca lewat berkas cahaya tipis dari monitor. Aku tertunduk lemas. Dia menuntunku kembali ke kamar dan menina-bobokanku dengan usapan lembut di kepala. Lamat-lamat Schubert merintih lewat Ave Maria.
Baik, semuanya telah kubeberkan, hanya karena aku perlu seorang teman bicara yang bisa dipercaya. Semuanya, sampai dia mendadak hilang sekarang. Sampai kau datang hari ini. Sekarang, mungkin giliranmu....? Perempuan matang berkaca-mata kecil itu seperti sedang melepaskan pukat ke depannya.
?Maksudku, sekarang mungkin giliranmu untuk bercerita. Barangkali kau sendiri punya sesuatu yang menarik untuk kita dengarkan siang ini.?
?Ee, begini. Ini tak lebih dari sekedar...?
Julia memulai tentang perjalanan kariernya sebagai reporter muda pada sebuah tabloid wanita. Juga tentang perasaannya pada lelaki setengah asing itu. Bahwa ia seperti pernah akrab dengan lelaki itu. Bahwa ia seperti bisa membayangkan apa yang dilakukan lelaki itu saat ini. Semua diketahuinya berdasarkan pengamatannya pada beberapa kasus serupa yang pernah dikejarnya. Tapi, satu hal yang tak pernah dibukanya pada Maria adalah bahwa lelaki jenis ini lebih berbahaya dari ular maupun srigala lapar. Dia dilahirkan sebagai jenis kegilaan yang melebihi guru besar kegilaan dari RS. John Hopkins, Hannibal Lector.
Bayangan yang dulu masih disimpannya itu kini telah terbukti, mungkin. Selain pita kuning tand panyegelan, kepolisian wilayah kota juga memberikan informasi.
?Kasusnya bunuh diri. Motifnya belum pasti. Masih dalam proses.?
Rumah dinas itu masih menggigil pagi ini, ketika Julia hendak beranjak pergi dan melepaskan sisa pandangan terakhir pada bangunan ngungun itu. Ia sadar benar, banyak kasus bunuh diri yang hanya bersaksi dinding bangunan itu sendiri. Julia sudah akan beranjak pergi waktu seseorang berbisik lembut dari belakang telinga kirinya, waktunya sudah habis, mari.....
medio1999-2003
________________________
Susilo, penulis lepas tinggal Jl. Karangmenjangan 68A, Surabaya, karya-karyanya pernah dimuat dalam; Antologi Puisi I Puska 1992, Jurnal Sastra Jejak ? Gapus Unair 1998, Majalah Aksara, Majalah Jayabaya, Majalah Liberty, Harian Surabaya News, Harian Sinar Harapan, Harian Berita Sore, Tabloid Mitra Rakyat, Tabloid The Smile File, www.cybersastra.net, www.puisi.crimsonzine.net, dan www.pintunet.com