Bila Senja Membuka Hari
Mataku seperti pagi yang tak pernah sepi dari embun dan matahari. Ada cahaya keperakan yang tak sanggup terhapuskan dari sudut-sudutnya. Titik-titik cahaya yang akan terus terserap dan tersimpan di kedalamannya. Sampai nanti, sampai saat kereta ekonomi ini menyeret kami keluar lintas batas Jakarta. Ketika itu titik-titik keperakan ini akan meruap, tidak cepat tapi perlahan-lahan seperti uap air di jendela kaca kereta yang mulai dipanasi ufuk pagi. Berguliran saling-silang untuk kemudian hilang kembali ke udara busuk kota besar ini bersama angin tipis yang ditepis laju kereta.
“Selamat tinggal Ibukota........” Begitu gumamku di tengah sesak gerah para penumpang. Dan, seorang dari orang asing yang rupanya agak lama memperhatikan kami pun menyela.
“Mau kemana, Pak?” Pertanyaan basi yang menjadi luar biasa buat telingaku sebagai ajakan untuk bersama-sama meninggalkan tempat keberangkatan kami, cuaca keras Ibukota. Sejak itu aku sadar kalau di setiap tempat seperti itu orang selalu berkumpul dan bertanya menurut arah tujuan, dan bukan sebaliknya. Lupakan hari kemarin, yang lalu biarlah berlalu...
Sejak itu pula aku lupa atau berusaha melupakan untuk memberi tahu Bapak tentang semua yang kualami sebelum ini. Lupa pada pengalaman pertama berpuasa. Pada tugas sehari-hariku berbelanja ke pasar untuk berbuka dan makan sahur bagi keluarga semangku. Pada pukulan anak-anak mereka ketika bercanda dengan ukuran yang bukan lagi bercanda. Pada kesibukan pagi dan sore membersihkan saluran air, kamar mandi, dan wc dari kotoran yang tak pernah boleh kuperbuat di sana.
“Eh, kalau mau mandi atau apa, sana di belakang sana.” Kalimat panjang pertama yang pernah diberikan Pak Haji kepadaku. Pertama dan terakhir, selebihnya adalah perintah-perintah pendek yang butuh cepat dilaksanakan. Pertama, ya semuanya memang baru kali pertama kualami bersama tergusurnya keluargaku dan terpisah jarak dan waktu yang begitu panjang.
Sejak kecelakaan itu keadaan seperti tak pernah lelah memberikan ujian, atau tepatnya hukuman, pada keluargaku. Sekeluar dari Rumah Sakit Umum Serang kami tak punya waktu santai lagi di rumah kontrakan itu. Bapak tak bisa meraih pekerjaannya lagi. Pekerjaan yang baru lepas dari tangan Bapak adalah usaha patungan dengan rekanannya. Dan, PHK yang dialami Bapak kali ini benar-benar pemutusan hubungan kerja secara sepihak oleh rekanannya dengan alasan Bapak terlalu lama mangkir selama sakit. Bapak sudah berusaha menjelaskan masalahnya tapi Pak Hardian, rekanannya itu, tetap tak bisa menerima. Beberapa hari tekanan darah Bapak naik pesat tersandung masalah ini. Puncak penjelasan Bapak adalah melemparkan kursi lipat ke arah Pak Hardian dan meninggalkan kantor dengan sumpah serapah. Sementara seluruh tabungan keluarga sudah hampir terkuras untuk biaya pengobatan dan hidup sehari-hari.
Sudah tak kurang-kurang usaha Bapak buat mengembalikan keadaan. Bapak juga orangnya bisa tahan dan mau mencari pekerjaan lain. Juragan alat-alat peraga sekolah itu sempat menjadi sopir pribadi pada sebuah keluarga yang tak kuketahui. Sekalipun cuma bertahan tiga hari.
Waktu itu Bapak keluar tanpa permisi minta berhenti.
“Sopir kok disuruh nyuci mobil.” Omelan Bapak menandaskan kejengkelannya sore itu sepulang kerja pada Ibu. Ya, Ibu memang sering jadi tumpuan kemarahan Bapak, tak perduli pada siapa Bapak Marah. Dan rupanya kerelaan Ibu ini yang membuat perkawinan mereka bertahan sampai dua puluh lima tahun. Seperempat abad mereka hidup di atas pasang surut keadaan dan Ibu menjadi pendengar setia umpatan-umpatan Bapak sambil melahirkan sepuluh orang anak serta membesarkan mereka.
Sekolahku sudah mulai libur. Buku rapot hasil belajar sudah dibagikan tapi belum bisa diambil, karena itu berarti Bapak harus keluar biaya ekstra buat SPP yang mestinya cukup buat makan sekeluarga selama dua atau tiga hari. Jadi, aku dipaksa bisa terima oleh keadaan.
Juga aku masih bisa terima, waktu Bapak pada akhirnya tak mampu lagi melihat anak-anaknya kelaparan, sementara dia sendiri masih perlu makan buat tenaga mencari kerja. Sore itu semua anak dikumpulkan di ruang tamu sekaligus ruang tivi yang tak jarang jadi ruang makan. Sekilas kulihat mata Ibu yang sembab merah tembaga tapi tak bicara.
“Begini....” Sebentar Bapak berusaha menelan ludah. Ibu menyelinap ke belakang, mungkin mengambil air hangat buat Bapak. “Begini...Bapak, Bapak minta maaf sebab sudah ndak bisa menanggung hidup kalian lagi. Bapak benar-benar menyesalkan semua ini. Mungkin nanti kamu dan mbakmu akan Bapak titipkan pada satu atau dua keluarga.”
Mata Bapak sekilas mengalih pandangan dari tatapanku. Sementara aku sudah menyiapkan anggukan kepala yang mantap meski lemah, Mbakku sudah lebih dulu histeris. Keras, cukup keras, sambil matanya terus mencari-cari nada kebohongan dari suara Bapak dan mencari perlindungan dari kasih Ibu, semua ibu.
“Bagaimana, kamu siap?” Bapak minta penegasan.
“Ya, Pak.” Jawaban yang tak perlu diulur-ulur lagi. Tangis Mbakku meledakkan seisi rumah. Aku tertegun, tak yakin kalau semua ini bukan salah satu adegan dalam episode sepekan drama yang sedang diputar oleh TVRI.
“Nanti,” suara itu makin berat dan serak, “kalau Bapak sudah cukupan, kalian pasti Bapak ambil. Bapak tidak akan membiarkan kalian terpisah dari keluarga lagi.” Mata Bapak mulai merah seperti tempayan di atas tungku pembakaran. Mungkin juga ada tungku menyala-nyala dalam badan Bapak, pikirku menghibur diri. Kepalaku terangguk-angguk kecil sambil tersenyum tipis semanis senyum Presiden waktu itu.
Hasil keputusan keluarga itu memang tak terjadi. Bapak kemudian menjadi pelopor kepulangan keluarga ke kampung halaman, entah di kampung mana. Beberapa minggu keluarga kami hidup dari hasil penjualan segala barang dan perabot rumah tangga. Makanan seadanya menjadi benar-benar seadanya. Kadang tetangga yang berjualan nasi uduk memberi porsi yang jauh lebih banyak dari yang kami beli. Tak jarang tetangga belakang rumah – keluarga China yang punya depot, entah dimana – memberikan beberapa iris daging sejak tetangga itu mendengar tiupan recorderku seperti alunan lagu latar film silat mandarin berseri yang sedang mereka nikmati. Selama itu hubungan dalam keluarga jadi begitu peka. Semua merasa sebagai satu-satunya orang paling menderita di dunia. Pertengkaran bisa meledak dari soal-soal kecil saja. Kemarahan bisa berlangsung cepat, bisa juga sampai berhari-hari lamanya. Sampai di situ aku masih bisa tahan.
Baru ketika semua isi rumah terjual habis dan merasa cudah ada cukup bekal perjalanannya, maka Ibu minta semua anak membantunya mengemas barang yang perlu dibawa pulang. Semuanya pulang, kecuali aku yang sekali lagi diminta bisa menerima buat tinggal sementara di rumah Pak Haji pemilik rumah kontrakan kami. Aku sangat bisa menerima, sebab aku tahu Bapak belum lagi membayar sewa selama tiga bulan. Jadilah aku sebagai jaminan dan sebuah kebetulan akulah satu-satunya anak lelaki, selain si bungsu yang masih terlalu kecil, yang sudah cukup besar untuk bisa mengerti. Baru ketika itulah masalah sebenarnya datang mengendap-endap seperti wajah malaikat pencabut nyawa di malam buta.
Sebenarnya menjadi barang jaminan itu bukan masalah buat aku yang punya kepala dan tubuh lebih kecil dari ukuran anak-anak seumuran ini. Bukan soal bantu-membantu itu yang membuatku terguncang keras seperti terbanting ke batu cadas. Bukan, sekali-kali bukan karena saluran air, jalan-jalan sore ke pasar, atau anak-anak Pak Haji yang suka berlaku kasar itu.
Sejujurnya aku masih bersyukur bahwa permintaan Bapak pada pengertianku kali ini tidak terlalu parah. Aku pun merasa bersyukur masih ada sedikitnya dua orang dalam rumah itu yang cukup ramah dan bersikap melindungiku. Seorang yang pertama ialah Sida, gadis muda seumurku yang menetap di situ lebih sebagai pembantu daripada sebagai keponakan Bu Haji. Seorang gadis yang sewaktu keluargaku masih ada tak pernah kuperhatikan. Anak perempuan yang dulunya kadang terlalu berani kalau ketemu aku di jalan ini, pada hari-hari itu sering memberiku porsi tersendiri untuk makan. Satu-satunya masalah yang kerap diperbuatnya adalah memanas-panasi darah perjakaku sampai tersirap tiap kali baju tidurnya tersingkap, sebab kami menempati satu kamar bersama yang lain-lain juga. Dan, masalah seperti itu acap kali datang ketika jam tidur tiba.
Seorang lagi adalah anak sulung keluarga ini. Kakak kelas dua tingkat di SMP 45 ini selalu melindungiku dari ancaman adik-adiknya atau pun orang lain. Aku merasa benar-benar terlindungi sampai aku sadar kalau sikap Deden itu tak lebih dari usaha untuk menembakku, seperti pagi itu waktu dengan terpaksa mandi bersama di kamar mandi belakang rumah.
“Jangan bilang siapa-siapa. Kalau nyanyi gue bunuh lu...”
“Kenapa?” Kurutuki laknat ini. “Kenapa gak pakai Sida?”
“Hhh, ngeliatnya aja gue udah enegh.” Sambil terus menyampaikan hajadnya. Sementara aku tetap tak habis pikir, ujung-ujung alisku mengkerut dan bertemu di hidung. Sejak itu juga aku tak mudah percaya pada segala niat baik sebuah perlindungan.
Tapi, masih bukan itu yang membuatku merasa perlu mengorek keruh air mata dalam bening mata airnya. Bukan tembakan pagi hari yang mengalirkan benang-benang keperakan itu di atas pipi cekung ini. Soal macam itu buatku sudah bukan barang baru. Sebelumnya, tiga tahun lalu, saat masih di Blitar kegembiraan kelas IV SD-ku telah dikotori oleh tangan putih seorang Imam Belanda di balik bilik rumah pastori. Jadi sekali pun kusumpahi setengah mati, bukan semua itu yang mengalirkan sungai kecil di pipi.
Lebih dari semua ini. Lebih dari penghinaan dan ancaman pagi tadi aku telah ditampar kenyataan sore itu. Pulang belanja dari Pasar Cengkareng juga tidak membuatku terlalu payah, sebab jarak itu cuma setengah jarak dari rumah ke sekolah. Sepulang belanja macam-macam kebutuhan, saat senja membuka hari di Bulan Suci Tahun Rembulan ini, kulihat Bu Haji mendampingi Pak Haji istirahat di serambi muka. Waktu aku lewat dengan suara ringan Bu Haji menegur.
“Wo’, ‘tar kalau sampai lebaran bapak kamu nggak ke sini, kamu Ibu’ jual ya?” Sekilas Pak Haji melirik Bu Haji. Aku terpaku pada ubin licin di kakiku.
“Ya, Bu.” Aku tak punya pilihan. Ujung lidahku seperti cacing di ujung mata pancing. Seperti cacing kepanasan yang bergerak lamban mencari perlindungan, kuseret langkah menuju dapur tempat belanjaan harus diletakkan. Kepalaku berkunang-kunang mencari tempat menumpang dan menampung malam. Seribu berkunang-kunang di kepalaku begitu dihadang sekeping pertanyaan yang tersisa. Kapan Bapak datang menjemputku pulang? Pulang ke kampung halaman. Entah, kampung mana dan halaman siapa.
110204