Friday, April 09, 2004

Mimpi Buruk







Tiba-tiba dia datang, membawa tas punggung besar dan seonggok kelelahan dari lorong gelap pondokanku. Salam pertemuan menampar kesadaranku dan mengantar kami ke jalan depan. Lalu menikung ke meja penerimaan wisma tamu BKKBN.

Aku tak terlalu ambil perduli pada beberapa mata yang melempar prasangka. Waktu penerima tamu itu mengambilkan kunci kamar, dia mulai angkat bicara.

“Harusnya aku dapat layanan gratis di sini.” Matanya menatapku lekat, aku tak bereaksi. “Aku ‘kan, Pengda PKBI.” Sahutnya pada kelambananku.

“Apa itu?”

“Pengurus daerah.”

“Apa itu PKBI?”

“Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia.”

Kusadari, otakku ternyata lamban. Semula kukira itu semacam perkumpulan para peminat bahasa. Bodoh memang. Kamar no. 20 ada di lantai dua. Tanpa tivi dan ac. Sebuah kipas angin duduk digantung terjungkir pada dinding di atas salah satu ranjang. Dia mulai melolosi diri dan kuikuti iramanya. Dengan caranya sendiri, dia minta kipas diputar sedang saja dan mengarah penuh kepadanya. Dia masih hapal kalau aku alergi kipas angin, membuatku sulit tidur. Kecuali mungkin beberapa yang lekat dengan tubuhku.

“Aku sampai lupa wajahmu.” Matanya terus saja seperti mencari-cari sesuatu di mukaku. Sesaat kemudian kamar mulai meriah dengan cerita-cerita dan kejengkelannya. Terutama kejengkelannya pada sikapku yang selalu tak acuh. Ditunjukkannya hampir semua hal yang dirasa bisa membuatku kaget atau terkesima untuk kembali kecewa sendiri. Sebab pikiranku masih dipenuhi kebingungan dengan kedatangannya ini. Aku tidak sedang memegang uang, sepeser pun tidak. Aku berpikir keras mencari cara untuk bisa menelponmu. Tapi kemudian pikiranku larut dalam permainan kami.

Betapa pun aku masih seorang suami yang cukup normal dan ingin membuatnya senang, setidaknya dalam permainan ini dengan sepenuh rasa. Aku jeri memikirkannya, kalau-kalau kami melakukan ini sebatas karena hubungan suami-isteri. Aku mau melakukannya dengan jujur. Dan aku mau, dia menangkap dengan jelas kejujuran itu.

“Aku akan keluar.” Cetusku akhirnya, setelah dia mulai disapu kantuk berat. “Mau cari makan dan telpon Ary.”

“Tak perlu telpon Ary. Besok saja, aku terlalu capek buat ketemu teman-teman.” Katanya lemah.

“Tadi katanya mau ketemu Ary. Bagaimana nanti kauceritakan pertemuan kalian pada Esti?” Kusebut nama teman barunya yang katanya sangat tergila-gila kepadamu itu, biar aku ada alasan yang pantas kalau misalkan nanti kau datang. “Ya sudahlah. Kalau begitu aku beli makan saja.”

Kubiarkan dia pulas dengan polosnya. Apakah setiap orang tidur selalu polos mirp bayi? Entahlah, tapi menurutku begitulah dia. Sedang mereka yang hidup melangkah tanpa kejujuran seperti yang sudah dijanjikan. Di wartel depan wisma aku sudah menelponmu. Sedang sibuk rupanya, maaf mengganggu.

Di warung kopi Pak Sodik ada beberap teman, sebagian yang sudah tahu segera main mata dan kata. Aku tanggapi ringan-ringan saja. Sepulang beli rokok dan shampoo aku jalan ke pondokan mengambil beberapa barang yang kami perlukan. Cari makan dan balik ke wisma tamu. Aku balik ke kamar dengan keyakinan bahwa kau akan datang malam ini di sini.

Tergopoh-gopoh dari mimpi dia bukakan pintu. Sambil tiduran diawasinya segala gerak-gerikku. Seperti mau meyakinkan ingatannya padaku. Melihat aku khusyuk dengan makananku – mungkin kelihatan seperti orang kelaparan – dia geleng kepala pelahan lalu minta disuapi. Minum sedikit kopi dan bersandar pada bantal lagi.

Sekarang semuanya rapi, aku tinggal mengisap sebatang rokok dan menunggu kau datang. Biasanya deadline antara jam satu sampai jam dua, bukan? Dia sudah pulas lagi, setelah lelah menceritakan pengalaman dan teman-temannya di Korea dan Jepang sambil kupijati. Tinggal aku sekarang yang gelisah menunggu-nunggu.

Setiap kudengar suara motor dengan gema tertentu aku jadi berharap-harap cemas. Beberapa lama aku cuma termangu-mangu. Tapi kau belum datang juga. Lemas oleh irama yang hampir setahun lewat tak kami rasakan itu dan oleh kecemasanku sendiri, kubawa langkah-langkah kecil menuju ruang tivi. Dari salah satu saluran yang ada, kunikmati suguhan Dangerous Beauty. Kuikuti dua pertiga film itu sampai muncul teks Warner Bros. Tanda-tanda kedatanganmu masih tak tercium. Aku pun masuk kamar. Lalu kuembus-embuskan permainan baru, sekali lagi, lebih bersemangat lagi. Malam ini benar-benar penuh kejutan melelahkan.

Karena jendela menghadap ke timur, maka pagi kami pun terasa sangat cerah. Biar pun mendung, tapi siraman cahayanya bisa membuat mataku perih. Semalaman aku sulit tidur, karena tidur tanpa selimut di bawah kipas angin keparat itu. Demi setan atau jembalang, sarungku dipakainya menguasai ranjang sebelah semalaman.

Aku segera bangkit dan pergi mandi, seperti disengat ingatan yang tajam bahwa aku harus menukar 20 dollarnya ke money changer. Keliling di beberapa tempat, dua lembar puluhan dollar itu baru bisa tertukar. Waktu kembali dia sudah keluar dari wisma dan sibuk meladeni pertanyaan beberapa teman soal kesibukannya selama ini. Selesai makan dia minta waktu buat bicara. Kali ini pasti masalah lama kami.

Benar juga, dia minta kejelasan rencana kami. Tapi mau bicara dimana? Bahkan di kamar pondokanku pun tak ada privasi. Kami cari-cari tempat, akhirnya malah ke warnet perpustakaan kampus.

“Kita ini sudah gila rupanya.” Suaraku seperti angin lalu, seperti mau bicara sendiri. Kami main di meja masing-masing.

“Kenapa cemberut?” aku sudah selesai dan duduk di sebelah kursinya.

“Kamu ini keterlaluan.” Dia mulai menahan sesuatu di matanya. “Aku jauh-jauh datang ke sini, dan kita cuma nge-net.” Aku tak bisa menjawab lagi.

Keluar dari warnet, kami putuskan buat cari makan. Biasanya, kalau sambil makan obrolan kami jadi bisa santai, tanpa emosi berlebihan. Tapi aku memang keparat, bahkan tempat makan pun aku sudah tak mengenalnya. Akhirnya kami cuma melahap tahu-telor si gondrong di pojok jalan depan gerbang barat kampus kita.

“Jadi, kamu nggak bisa bantu kiriman buatku sampai lulus nanti?” Matanya mengamat-amati tahu-telor di piringku.

“Ya...” Ini suapan yang tersisa dan leherku hampir tercekik tahu. “Kamu tahu soal itu.” Bukankah, harusnya dia lebih tahu soal mengatur keluarga dari pengalaman workcampnya.

Kami masih harus menelpon Ibu di kampung dan Eyang jauh dari garis Ibu, yang selama ini menampung dia di kotanya sekolah. Dari percakapan dengan Ibu dan Eyang, dia merasa dipersalahkan karena sering pergi tanpa pamit. Baik Eyang maupun Ibu mengeluhkannya juga kepadaku.

Ini jadi batu sandungan buatnya. Dia sudah terlalu sering, bahkan bisa dikata sejak kanak-kanak, berseberangan dengan pendapat dan sikap Ibu. Dan ini juga menjadi tekanan tambahan buatku.

Aku berusaha mendukungnya, sambil terus meyakinkan bahwa aku harus tetap berjalan di jalurku. Artinya, untuk sementara waktu, kami memang harus tahan hidup terpisah. “Aku berharap kita bisa bertahan sampai nanti.” Leherku mulai tercekat sesuatu yang pekat dan jarang kurasai. “Tapi kalau dalam perjalanannya nanti, kamu tidak tahan lagi, entah karena punya sandaran baru atau apa, aku tidak akan menghalangi jalanmu.”

Dia hanya mengalihkan pandangan pada dua bocah yang asyik main bola di rumputan sekitar tiang bendera depan bekas gedung rektorat.

“Setelah ini yang penting kamu jaga hubungan baik dengan keluarga, soal aku jangan terlalu dipikir dulu. Perihal Eyang Tyas dan Ibu, jangan terlalu dipikirkan lagi. Toh, kamu sudah sering beda pendapat dengan Ibu.” Suaraku putus-putus. “Kamu masih harus jalan jauh, hati-hati saja di jalan.”

Dia tetap bergeming. Ada benarnya juga. Toh, aku pun tak bisa berbuat lain, kecuali memberikan omongan. Didengar syukur, tak didengar pun sudah biasa.

Aku jengah. Bukan karena marah pada sikapnya, tapi aku benar-benar merasa tak tahu harus bagaimana lagi. Sulit juga menghadapi rasa salah laknatku, serumit jalinan rasa kami yang terkutuk ini.

“Kamu mau lihat aku nangis...” Putus lagi di leher, anjing!

“Nggak, kenapa?”

“Menurutku, lebih baik kamu berangkat sekarang.”

“Ya.” Dia pun bersiap.

Beberapa kali angkutan yang musti ditumpanginya lewat begitu saja di tengah kebisuan kami. Sampai akhirnya dia hentikan salah satunya. Dia cium tanganku sebagai tanda pamit dan kepatuhan. Sampai ketemu lagi, aku berjanji pada diri-sendiri.

Sekilas matanya leleh, jadi senja yang makin merah saga. Leher dan rahangku mengertap. Betapa aku telah membakar senja dan kilau keemasannya. Betapa kesrakat jalinan rasa ini. Betapa sempurna kebinatanganku lata. Berjalan memunggungi matahari aku adalah ular tak berjiwa. Datanglah, aku menunggumu.

Sebelum lebur rasa gelisah pekatku, sebuah motor datang. Bukan kau, melainkan seorang dosen yang dulu sangat akrab dengannya membonceng adiknya yang juga teman akrab dia. “Lho, gimana kabarnya adik saya?” Ah, ternyata berhenti juga. Padahal semula kukira mau sekedar menyalami saja.

“Oh, baru saja dia berangkat. Mungkin masih di pangkalan angkutan.” Gamang, tapi mau apa lagi.

“O, ya sudah. Coba saya kejar dulu, tapi jangan lupa salamnya juga ya?”

“Ya, Mbak.” Lebih lemah dari angin lewat.

Sampai sore aku masih anjing yang melolong ngilu dengan lidah terpotong. Kau pasti ingat Silent Tongue. Begitu lepas Maghrib barulah aku bisa mengambil waktu buat menulis surat buatmu. Siapa tahu ingatanku tak cukup lengkap buat menceritakan semuanya padamu.

Hampir jam sepuluh suratku baru kelar. Kutunggu kau di pojok jalan itu. Kau datang juga akhirnya, sebelum gelas teh pertamaku tandas. Selebihnya kau tahu sendiri. Pulangnya, mungkin karena masih terpengaruh oleh gelibat rasa itu aku sempat lupa membawa motor pinjaman itu.

Siang ini setelah segelas kopi di warung Mak Mursinah, aku sempatkan diri ke warnet lagi. Mencari kabar dari semua lamaran kerja yang aku kirimkan, sambil mengirimkan beberapa tulisan. Kubaca pesan messenger darinya, minta dicarikan disketnya yang kemarin ketinggalan. Dia berjanji akan datang lagi tanggal 26. Lalu kukirimkan isi disketnya lewat e-mail. Biar dia bisa lebih cepat bekerja, pikirku.

Salah satu isi disket itu sebuah file.foto kiriman dari seorang lelaki bule yang terlihat sedang dipeluknya dari belakang. Dia sendiri tersenyum bangga dengan topi bagus workcampnya, tanpa pakaian lengkapnya. Tak ada kerudung senja di sana. Betapa sempurna mimpi burukku. 080204

Kabut Ketakutan







Lapar. Itu saja yang kugelisahkan. Sepertinya tak ada soal lain lagi. Tiap kali perutku mulai berkeriut, bayangan-bayangan mengerikan mulai mengorek-korek ketakutanku yang lembab. Seperti bakal ada sosok paling menyeramkan yang siap menyergap belakang tengkukku. Sesudah bayangan-bayangan itu berkelebatan tak ada lagi yang bisa kuperbuat. Tiba-tiba tubuh kecilku yang biasanya lincah pun jadi lumpuh. Hanya diam, pasrah menunggu waktu.

Lamat-lamat kudengar detik jam bertingkah satu-satu. Jam beker milik Deny bertengger di atas meja yang penuh dengan perlengkapan militer kegemarannya. Deny memang bisa dibilang sebagai army-mania, maka wajar kalau tongkrongannya terlihat sangat army-look. Semula aku menganggapnya hanya seperti kebanyakan orang muda seumurnya. Tapi setelah menumpang tinggal di rumah petak kontrakannya, yang persis kandang ayam ini, barulah aku tahu benar kalau Deny bukan sekadar mau kelihatan jantan dengan dandanan ala tentara itu.

Deny memang gila, tergila-gila tepatnya, pada segala yang berbau tentara. Deny pernah mendaftarkan diri sebagai perwira, tapi gagal karena ada lubang di gerahamnya. Tak cuma pakaian seragam, kaos oblong dan sepatu lars yang dia punya. Perlengkapan lain dia punya, termasuk sebuah teropong dari jaman perang pun disimpannya. Dan semuanya kini mengurungku di ruang tengah yang mirip kamp konsentrasi ini. Di atas kasur busaku tergelar jala hijau tua yang seperti mau menjerat kelaparanku.

Kulirik pullbed hijaunya buat mengalihkan mata dari jam beker sialan itu. Jarum-jarum jam doreng itu makin lama makin bertingkah layaknya bayonet menyudet-sudet perutku. Kulirik terus sambil merutuki kebodohan arti sebuah harga diri berlebihan.

“Kenapa tadi tak pinjam saja padanya?” Bayangan Addek, perempuan berwajah mungil yang kini lengket denganku, berkelebat dan tersenyum lucu seperti tarian kupu-kupu liar di antara kelopak-kelopak mawar yang sedang mekar dan duri-duri segarnya mencakar perutku.

Tapi, aku belum pernah sekali pun meminjam uang pada perempuan. Sekalipun sudah melewati banyak hal bersama dalam enam bulan terakhir ini, dari satu tahun perkenalan kami, bukan berarti aku bisa dengan gampang bilang kalau mau pinjam uang kepadanya. Sekalipun aku tahu benar kalau jatah bulananku tandas setelah menemaninya jalan-jalan seharian. Jadilah aku tertidur di bawah kabut ketakutan pada para agen-agen perut yang dalam bayangan tampak begitu beringas buat merenggut nyawaku, meski tidak sesadis gambaran yang pernah kudengar dari rintihan panjang Kenyut Plekenyun.

Lelap. Bersama bayonet jam beker keparat dan ingatan lamur pada kisah seorang penulis Jepun. Pada bagian akhir kisahnya tertulis bahwa...

Akuranggawa dipandang sebagai seorang sastrawan terkemuka di Jepun. Banyak yang menganggapnya sebanding dengan Gus tf. Faustnerd, penulis Galia yang terkenal dengan novelnya Mama Bonary. Karya Akuranggawa yang terkenal antara lain:.....

Ia meninggal pada tanggal 24 Juli 1927 karena bunuh diri. Sebab-sebabnya tak dapat diketahui, walaupun ia sendiri pernah mengatakan –seandaianya ia bunuh diri– adalah karena kabut ketakutan.

......Aku takut bahwa malam akan membinasakan diriku yang sekarang dan mengubahka menjadi seorang pembunuh celaka. Membayangkan saat tangan ini menjadi merah tua oleh darah! Kutukan macam apa yang nanti bakal menimpa diriku! Dadaku takkan begitu teriris nyeri andai saja aku membunuh seorang musuh yang kubenci. Tapi, malam ini aku harus membunuh seorang lelaki yang tak kubenci........



Orang boleh tak tahu sebab Akuranggawa membunuh dirinya sendiri pada hari ke-23 bulan ke-4 dan tahun ke-35 masa hidupnya, tapi sedikitnya aku yakin bahwa ini bukannya sebuah kebetulan. Sebab 45 tahun sesudahnya, jiwa ketakutan itu menghidupi janin kel-5 dalam perut Ibu, tanggal 22 Juli 1972. Mungkin, sebab aku sendiri tak terlalu yakin dengan tanggal lahirku.

Perihal penggalan tulisan Akuranggawa itu mungkin semacam pernyataan pribadi. Tapi, malam telah mengubahnya jadi bisikan-bisikan tajam di telingaku yang mendadak diserang demam. Dan setiap kali demam begini, aku selalu dilimpahi mimpi-mimpi yang tak kumengerti.

Serombongan tentara musuh memburuku seperti binatang. Teriakan-teriakan keras, derap sepatu lars, dan ancaman kematian benar-benar membidikku sebagai binatang. Sampai menyelami sungai-sungai yang mengalir deras. Dalam arus hijau lumut yang menghimpit aku masih binatang buruan, binatang malam. Di belakang, tentara kuning terus merangsek. Mengejar tanpa ampun.

Malam juga yang selalu menyambung hidupku. Di tengah perburuan itu mataku lemah menyala dengan nafas terengah-engah. Di antara seperangkat alat perangnya Deny pada meja, masih bertengger jam beker dengan jarum-jarum bayonet itu. Dua seperempat, belum setengah jam sejak aku terlelap kengerian mimpi sendiri. Kasur busa ini menyerap hampir seluruh tubuhku. Basah keringat membentuk garis tubuh yang terbenam dalam-dalam. Leherku tercekat hawa panas yang sangat mencekik.

Di sudut meja perkakas Deny, dekat lubang keluar tanpa daun pintu itu, berjejer jerigen-jerigen air. Aku tak yakin apakah air itu sudah dimasak di atas kompor serba-gunanya atau belum. Seharian Deny tak di rumah dan kompor batu-bata yang sekaligus tempat pembakaran sampah, pengering jemuran di lorong rumah, dan pengusir nyamuk itu sama sekali belum kugunakan. Aku malas menyalakan kompor dan memilih menyerahkan masalah gorong-gorong tenggorokku ini pada air ledeng dalam jerigen yang biasa dibawa Deny dari kamar mandi kampus. Siapa tahu juga dengan begini agen-agen perubahan dalam perutku bisa diredam.

Seekor ayam jago berkoar-koar di kejauhan, disahuti ayam-ayam jago lainnya. Seorang anak tetangga merengek, mungkin terbangun dari mimpi buruk sepertiku. Setengah jerigen air memasuki lambungku yang masih teriris-iris. Lemas oleh dehidrasi berlebihan kucoba meringkuk lagi.

Tapi, pikiranku sama sekali tak berperasaan. Dalam keadaan begini malah mengajak jalan-jalan mencari asalnya mimpi-mimpi bejat yang datang setiap kali demam menyerang. Ingatanku membawakan adegan-adegan demam waktu kecil dulu. Waktu menu makanku berubah jadi bubur gurih atau nasi pecel dari sekadar nasi bergaram atau berkecap saja. Juga pada waktu-waktu demam yang lain ketika tidurku disatroni makhluk-makhluk kuning berseragam perang. Memburu dalam hutan, sawah, dan sungai-sungai yang dalam.

Menyelami sungai itu lagi di antara lumut, batu, dan ikan, mengantarku ke sebuah telaga anakan. Menyembulkan kepala, segera kuambil nafas sebanyak-banyaknya. Kusadari benar sekelilingku. Ini bukan telaga anakan, lebih tepatnya sebuah kolam yang mengurai diri lewat celah bawah tanah yang semula kukira sebatang sungai yang teramat dalam. Entah dimana mata airnya, yang kutahu di depan sana terdapat jembatan yang melengkungkan punggung ke arah sebuah paseban. Lalu sebuah rumah kayu jauh di belakangnya. Di atas, langit tampak biru di sela daun-daun sakura dengan rerumpun bunga yang sedang mekar. Batang pohonnya nampak tua dan kokoh di belakang rumah kayu itu.

“Keindahan.” Pikiranku nganga. “Dan aku ada di dalamnya.”

Aku segera melompat ke jembatan dan hampir mencapai lidah tangga paseban waktu para pemburu itu sigap mengurungku. Semua membawa pedang panjang bermata satu. Seorang dari mereka menatapku dengan pandangan mata srigala.

“Boleh saja kau memilih lari ke rumah ibumu.” Seringai tajamnya mengeluarkan desis yang tak kupahami. “Tapi kau tetap harus mati.”

Kuawasi sekelilingku, gerakan mereka satu per satu. Kuperhatikan mata pedang mereka berkilatan ditimpa selarat cahaya matahari yang sempat menembus daun-daun, bunga, dan rerantingan di atas sana. Kilatan tajam mata pedang dan kilau cahaya pada kolam, menyadarkan mata pada tubuhku. Jubah berlengan panjang warna gading membungkusku. Dan waktu sekilas kulihat bayangannya di atas kolam, tampaklah peci menjulang berpangku pada helai-helai rambutku yang terurai sampai ke pinggang. Saat itu aku mengira kalau parasku lebih cantik dari tampan.

“Seppuku!” Seringai itu melemparkan sebuah pedang sepanjang lengan ke lantai kayu jembatan. “Sebagai lelaki kau harus menerima ini.”

Sekalipun tak mengerti bahasa kuningnya, dengan melemparkan pedang ini pun aku bisa tahu kalau dia menyuruhku mati. Kematian di tengah keindahan, bagus juga. Tapi, tanpa perduli pada siapa pun yang telah meminjamkan takdir dengan tubuh cantiknya ini aku tak mau terima begitu saja kematianku.

“Tidak.” Kuawasi lagi sekelilingku, setelah melemparkan kata yang tak kupahami sendiri maksudnya. “Aku tak akan mati....”

Tiba-tiba mereka merangsek ke arahku. Seketika kusapukan barang yang sedari tadi cuma kurasai saja gagang kayunya. Rupanya cuma selembar kipas besar bersepuh warna biru dan sebaris aksara yang tak kumengerti tertera di dadanya. Lalu angin menderu. Daun-daun dan rerumpun bunga bergoyang dari keagungannya dan menebar diri ke sini seperti mau mengubur sebuah mimpi.



Waktu berjalan dalam kerjapan mata tanpa cahaya. Waktu kubuka mata terasa sekali tubuhku tinggal remah-remah dan seperti sedang berayun-ayun di antara ombak-ombak besar. Jerit ketakutan dan decak beberapa mulut terdengar samar. Tanpa sisa, tubuh kecilku sekarang terhampar di atas papan kayu berbalut selembar pakaian usang. Sebuah kamar kayu aku tahu dan aku pun sadar ini di atas lautan, cukup dengan menandai rasa mualnya yang khas ini.

“Minggir! Minggir....” Seorang lelaki setengah baya menyeruak kerumunan. “Pergi! Pergi!!! Aku akan melindunginya dengan nyawaku. Dia sakit, belum lagi mati. Kalian jangan harap bisa memangsanya.”

“Dia cuma penumpang gelap...” Seorang lelaki lain berdecak dengan suara parau dalam bahasa orang-orang perahu.

“Tidak! Tidakkah kalian sadar kalau kita juga penumpang gelap di laut ini?”

“Tapi, dia ini lain dari kita...”

“Tidak. Kita semua sama. Aku tahu, kalian bisa gila karena lapar dan haus ini. Tapi tidak begini caranya....tidak....” Tiba-tiba suara lelaki paruh baya itu melemah. Aku cuma bisa mendengarkan dari kegelapan, tubuhku sudah terlalu lemah buat semua ini. Terlalu lemah, juga buat mencari jawab atas perpindahanku dari tentara kuning ke perahu ini. Terlalu lemah buat menyadari kepergian kerumunan itu satu per satu.

“Air.” Bahkan terlalu lemah buat mengenali kata-kataku sendiri.

Lelaki paruh baya itu terhenyak dari kelemahannya sendiri. Mengangkat kepalanya dari papan kayu tempat tubuhku tergelar ini. Sejenak menatapku dengan pandangan kosong, lalu mengerjap kaku.

“Kau sudah sadar? Kau bilang air?” Mata itu makin tak bisa dipercaya. “Kau ini, sebangsa kami juga rupanya.....”

Mata cerah itu mulai menengok ke bawah, pada botol di genggamannya. Beberapa saat dia ragu, tapi kemudian menyodorkannya juga.

“Sudah beberapa hari ini kami kehabisan bekal. Air terakhir sudah habis kemarin.” Mata cerah itu menerawang di tengah ayunan gelombang. “Ini mau kuberikan pada anak-anakku. Tapi kalau kau mau, minumlah sedikit...”

Lalu dia ceritakan dua anaknya. Kematian isterinya di laut ini, akibat wabah malaria. Kematian beberapa awak lain. Peristiwa pembakaran daging teman yang sakit keras saat mereka terdampar di sebuah pulau liar, karena lapar tak tertahankan. Dia sendiri seorang dokter yang ikut melarikan diri dari negerinya. Di dera wabah penyakit, kelaparan dan rasa haus yang mencekam lelaki ini mencoba bertahan. Barusan anak-anaknya mengeluh kehausan. Sebagian temannya nekad minum air laut dan mati tercekik sendiri. Diam-diam di ujung buritan, jauh dari jangkauan mata anak-anaknya, dia paksakan diri mengeluarkan urine yang tersisa.

“Minumlah.” Bisiknya seperti angin laut yang mengambang di udara berkabut. “Jangan mati karena lapar dan haus....”

Kukuatkan diri meneguknya sambil menutup jalan udara di tenggorokan. Aromanya mungkin mengganggu, tapi sebagian orang percaya pada adanya terapi air seni. Tapi tetap harus menyisakannya buat kedua orang anak dokter ini.

Kupejamkan mata lagi setelah lelaki itu keluar dari kamar. Aku mau secepatnya keluar dari kamar ini. Aku mau segera meninggalkan ayunan ombak memabukkan ini. Aku mau melompat dari bau tajam yang mengambang dalam mulutku. Aku mau meninggalkan kabut ketakutan ini. Aku masih terapung-apung waktu terdengar suara gedoran-gedoran keras pada pintu. Semakin keras, makin mendorong tubuh lemasku ke arahnya.

“Tidak kuliah?” Suara perempuan berkaca-mata kecil itu masih dengan nada tinggi setelah berteriak-teriak barusan. Kali di depan kontrakan Deny menyebarkan aroma yang khas. “Kau sakit?”

Ampun, jangan bawa aku kemana pun hari ini.

100204
Bila Senja Membuka Hari





Mataku seperti pagi yang tak pernah sepi dari embun dan matahari. Ada cahaya keperakan yang tak sanggup terhapuskan dari sudut-sudutnya. Titik-titik cahaya yang akan terus terserap dan tersimpan di kedalamannya. Sampai nanti, sampai saat kereta ekonomi ini menyeret kami keluar lintas batas Jakarta. Ketika itu titik-titik keperakan ini akan meruap, tidak cepat tapi perlahan-lahan seperti uap air di jendela kaca kereta yang mulai dipanasi ufuk pagi. Berguliran saling-silang untuk kemudian hilang kembali ke udara busuk kota besar ini bersama angin tipis yang ditepis laju kereta.

“Selamat tinggal Ibukota........” Begitu gumamku di tengah sesak gerah para penumpang. Dan, seorang dari orang asing yang rupanya agak lama memperhatikan kami pun menyela.

“Mau kemana, Pak?” Pertanyaan basi yang menjadi luar biasa buat telingaku sebagai ajakan untuk bersama-sama meninggalkan tempat keberangkatan kami, cuaca keras Ibukota. Sejak itu aku sadar kalau di setiap tempat seperti itu orang selalu berkumpul dan bertanya menurut arah tujuan, dan bukan sebaliknya. Lupakan hari kemarin, yang lalu biarlah berlalu...

Sejak itu pula aku lupa atau berusaha melupakan untuk memberi tahu Bapak tentang semua yang kualami sebelum ini. Lupa pada pengalaman pertama berpuasa. Pada tugas sehari-hariku berbelanja ke pasar untuk berbuka dan makan sahur bagi keluarga semangku. Pada pukulan anak-anak mereka ketika bercanda dengan ukuran yang bukan lagi bercanda. Pada kesibukan pagi dan sore membersihkan saluran air, kamar mandi, dan wc dari kotoran yang tak pernah boleh kuperbuat di sana.

“Eh, kalau mau mandi atau apa, sana di belakang sana.” Kalimat panjang pertama yang pernah diberikan Pak Haji kepadaku. Pertama dan terakhir, selebihnya adalah perintah-perintah pendek yang butuh cepat dilaksanakan. Pertama, ya semuanya memang baru kali pertama kualami bersama tergusurnya keluargaku dan terpisah jarak dan waktu yang begitu panjang.



Sejak kecelakaan itu keadaan seperti tak pernah lelah memberikan ujian, atau tepatnya hukuman, pada keluargaku. Sekeluar dari Rumah Sakit Umum Serang kami tak punya waktu santai lagi di rumah kontrakan itu. Bapak tak bisa meraih pekerjaannya lagi. Pekerjaan yang baru lepas dari tangan Bapak adalah usaha patungan dengan rekanannya. Dan, PHK yang dialami Bapak kali ini benar-benar pemutusan hubungan kerja secara sepihak oleh rekanannya dengan alasan Bapak terlalu lama mangkir selama sakit. Bapak sudah berusaha menjelaskan masalahnya tapi Pak Hardian, rekanannya itu, tetap tak bisa menerima. Beberapa hari tekanan darah Bapak naik pesat tersandung masalah ini. Puncak penjelasan Bapak adalah melemparkan kursi lipat ke arah Pak Hardian dan meninggalkan kantor dengan sumpah serapah. Sementara seluruh tabungan keluarga sudah hampir terkuras untuk biaya pengobatan dan hidup sehari-hari.

Sudah tak kurang-kurang usaha Bapak buat mengembalikan keadaan. Bapak juga orangnya bisa tahan dan mau mencari pekerjaan lain. Juragan alat-alat peraga sekolah itu sempat menjadi sopir pribadi pada sebuah keluarga yang tak kuketahui. Sekalipun cuma bertahan tiga hari.

Waktu itu Bapak keluar tanpa permisi minta berhenti.

“Sopir kok disuruh nyuci mobil.” Omelan Bapak menandaskan kejengkelannya sore itu sepulang kerja pada Ibu. Ya, Ibu memang sering jadi tumpuan kemarahan Bapak, tak perduli pada siapa Bapak Marah. Dan rupanya kerelaan Ibu ini yang membuat perkawinan mereka bertahan sampai dua puluh lima tahun. Seperempat abad mereka hidup di atas pasang surut keadaan dan Ibu menjadi pendengar setia umpatan-umpatan Bapak sambil melahirkan sepuluh orang anak serta membesarkan mereka.

Sekolahku sudah mulai libur. Buku rapot hasil belajar sudah dibagikan tapi belum bisa diambil, karena itu berarti Bapak harus keluar biaya ekstra buat SPP yang mestinya cukup buat makan sekeluarga selama dua atau tiga hari. Jadi, aku dipaksa bisa terima oleh keadaan.

Juga aku masih bisa terima, waktu Bapak pada akhirnya tak mampu lagi melihat anak-anaknya kelaparan, sementara dia sendiri masih perlu makan buat tenaga mencari kerja. Sore itu semua anak dikumpulkan di ruang tamu sekaligus ruang tivi yang tak jarang jadi ruang makan. Sekilas kulihat mata Ibu yang sembab merah tembaga tapi tak bicara.

“Begini....” Sebentar Bapak berusaha menelan ludah. Ibu menyelinap ke belakang, mungkin mengambil air hangat buat Bapak. “Begini...Bapak, Bapak minta maaf sebab sudah ndak bisa menanggung hidup kalian lagi. Bapak benar-benar menyesalkan semua ini. Mungkin nanti kamu dan mbakmu akan Bapak titipkan pada satu atau dua keluarga.”

Mata Bapak sekilas mengalih pandangan dari tatapanku. Sementara aku sudah menyiapkan anggukan kepala yang mantap meski lemah, Mbakku sudah lebih dulu histeris. Keras, cukup keras, sambil matanya terus mencari-cari nada kebohongan dari suara Bapak dan mencari perlindungan dari kasih Ibu, semua ibu.

“Bagaimana, kamu siap?” Bapak minta penegasan.

“Ya, Pak.” Jawaban yang tak perlu diulur-ulur lagi. Tangis Mbakku meledakkan seisi rumah. Aku tertegun, tak yakin kalau semua ini bukan salah satu adegan dalam episode sepekan drama yang sedang diputar oleh TVRI.

“Nanti,” suara itu makin berat dan serak, “kalau Bapak sudah cukupan, kalian pasti Bapak ambil. Bapak tidak akan membiarkan kalian terpisah dari keluarga lagi.” Mata Bapak mulai merah seperti tempayan di atas tungku pembakaran. Mungkin juga ada tungku menyala-nyala dalam badan Bapak, pikirku menghibur diri. Kepalaku terangguk-angguk kecil sambil tersenyum tipis semanis senyum Presiden waktu itu.



Hasil keputusan keluarga itu memang tak terjadi. Bapak kemudian menjadi pelopor kepulangan keluarga ke kampung halaman, entah di kampung mana. Beberapa minggu keluarga kami hidup dari hasil penjualan segala barang dan perabot rumah tangga. Makanan seadanya menjadi benar-benar seadanya. Kadang tetangga yang berjualan nasi uduk memberi porsi yang jauh lebih banyak dari yang kami beli. Tak jarang tetangga belakang rumah – keluarga China yang punya depot, entah dimana – memberikan beberapa iris daging sejak tetangga itu mendengar tiupan recorderku seperti alunan lagu latar film silat mandarin berseri yang sedang mereka nikmati. Selama itu hubungan dalam keluarga jadi begitu peka. Semua merasa sebagai satu-satunya orang paling menderita di dunia. Pertengkaran bisa meledak dari soal-soal kecil saja. Kemarahan bisa berlangsung cepat, bisa juga sampai berhari-hari lamanya. Sampai di situ aku masih bisa tahan.

Baru ketika semua isi rumah terjual habis dan merasa cudah ada cukup bekal perjalanannya, maka Ibu minta semua anak membantunya mengemas barang yang perlu dibawa pulang. Semuanya pulang, kecuali aku yang sekali lagi diminta bisa menerima buat tinggal sementara di rumah Pak Haji pemilik rumah kontrakan kami. Aku sangat bisa menerima, sebab aku tahu Bapak belum lagi membayar sewa selama tiga bulan. Jadilah aku sebagai jaminan dan sebuah kebetulan akulah satu-satunya anak lelaki, selain si bungsu yang masih terlalu kecil, yang sudah cukup besar untuk bisa mengerti. Baru ketika itulah masalah sebenarnya datang mengendap-endap seperti wajah malaikat pencabut nyawa di malam buta.

Sebenarnya menjadi barang jaminan itu bukan masalah buat aku yang punya kepala dan tubuh lebih kecil dari ukuran anak-anak seumuran ini. Bukan soal bantu-membantu itu yang membuatku terguncang keras seperti terbanting ke batu cadas. Bukan, sekali-kali bukan karena saluran air, jalan-jalan sore ke pasar, atau anak-anak Pak Haji yang suka berlaku kasar itu.

Sejujurnya aku masih bersyukur bahwa permintaan Bapak pada pengertianku kali ini tidak terlalu parah. Aku pun merasa bersyukur masih ada sedikitnya dua orang dalam rumah itu yang cukup ramah dan bersikap melindungiku. Seorang yang pertama ialah Sida, gadis muda seumurku yang menetap di situ lebih sebagai pembantu daripada sebagai keponakan Bu Haji. Seorang gadis yang sewaktu keluargaku masih ada tak pernah kuperhatikan. Anak perempuan yang dulunya kadang terlalu berani kalau ketemu aku di jalan ini, pada hari-hari itu sering memberiku porsi tersendiri untuk makan. Satu-satunya masalah yang kerap diperbuatnya adalah memanas-panasi darah perjakaku sampai tersirap tiap kali baju tidurnya tersingkap, sebab kami menempati satu kamar bersama yang lain-lain juga. Dan, masalah seperti itu acap kali datang ketika jam tidur tiba.

Seorang lagi adalah anak sulung keluarga ini. Kakak kelas dua tingkat di SMP 45 ini selalu melindungiku dari ancaman adik-adiknya atau pun orang lain. Aku merasa benar-benar terlindungi sampai aku sadar kalau sikap Deden itu tak lebih dari usaha untuk menembakku, seperti pagi itu waktu dengan terpaksa mandi bersama di kamar mandi belakang rumah.

“Jangan bilang siapa-siapa. Kalau nyanyi gue bunuh lu...”

“Kenapa?” Kurutuki laknat ini. “Kenapa gak pakai Sida?”

“Hhh, ngeliatnya aja gue udah enegh.” Sambil terus menyampaikan hajadnya. Sementara aku tetap tak habis pikir, ujung-ujung alisku mengkerut dan bertemu di hidung. Sejak itu juga aku tak mudah percaya pada segala niat baik sebuah perlindungan.

Tapi, masih bukan itu yang membuatku merasa perlu mengorek keruh air mata dalam bening mata airnya. Bukan tembakan pagi hari yang mengalirkan benang-benang keperakan itu di atas pipi cekung ini. Soal macam itu buatku sudah bukan barang baru. Sebelumnya, tiga tahun lalu, saat masih di Blitar kegembiraan kelas IV SD-ku telah dikotori oleh tangan putih seorang Imam Belanda di balik bilik rumah pastori. Jadi sekali pun kusumpahi setengah mati, bukan semua itu yang mengalirkan sungai kecil di pipi.

Lebih dari semua ini. Lebih dari penghinaan dan ancaman pagi tadi aku telah ditampar kenyataan sore itu. Pulang belanja dari Pasar Cengkareng juga tidak membuatku terlalu payah, sebab jarak itu cuma setengah jarak dari rumah ke sekolah. Sepulang belanja macam-macam kebutuhan, saat senja membuka hari di Bulan Suci Tahun Rembulan ini, kulihat Bu Haji mendampingi Pak Haji istirahat di serambi muka. Waktu aku lewat dengan suara ringan Bu Haji menegur.

“Wo’, ‘tar kalau sampai lebaran bapak kamu nggak ke sini, kamu Ibu’ jual ya?” Sekilas Pak Haji melirik Bu Haji. Aku terpaku pada ubin licin di kakiku.

“Ya, Bu.” Aku tak punya pilihan. Ujung lidahku seperti cacing di ujung mata pancing. Seperti cacing kepanasan yang bergerak lamban mencari perlindungan, kuseret langkah menuju dapur tempat belanjaan harus diletakkan. Kepalaku berkunang-kunang mencari tempat menumpang dan menampung malam. Seribu berkunang-kunang di kepalaku begitu dihadang sekeping pertanyaan yang tersisa. Kapan Bapak datang menjemputku pulang? Pulang ke kampung halaman. Entah, kampung mana dan halaman siapa.

110204