Friday, April 09, 2004

Mimpi Buruk







Tiba-tiba dia datang, membawa tas punggung besar dan seonggok kelelahan dari lorong gelap pondokanku. Salam pertemuan menampar kesadaranku dan mengantar kami ke jalan depan. Lalu menikung ke meja penerimaan wisma tamu BKKBN.

Aku tak terlalu ambil perduli pada beberapa mata yang melempar prasangka. Waktu penerima tamu itu mengambilkan kunci kamar, dia mulai angkat bicara.

“Harusnya aku dapat layanan gratis di sini.” Matanya menatapku lekat, aku tak bereaksi. “Aku ‘kan, Pengda PKBI.” Sahutnya pada kelambananku.

“Apa itu?”

“Pengurus daerah.”

“Apa itu PKBI?”

“Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia.”

Kusadari, otakku ternyata lamban. Semula kukira itu semacam perkumpulan para peminat bahasa. Bodoh memang. Kamar no. 20 ada di lantai dua. Tanpa tivi dan ac. Sebuah kipas angin duduk digantung terjungkir pada dinding di atas salah satu ranjang. Dia mulai melolosi diri dan kuikuti iramanya. Dengan caranya sendiri, dia minta kipas diputar sedang saja dan mengarah penuh kepadanya. Dia masih hapal kalau aku alergi kipas angin, membuatku sulit tidur. Kecuali mungkin beberapa yang lekat dengan tubuhku.

“Aku sampai lupa wajahmu.” Matanya terus saja seperti mencari-cari sesuatu di mukaku. Sesaat kemudian kamar mulai meriah dengan cerita-cerita dan kejengkelannya. Terutama kejengkelannya pada sikapku yang selalu tak acuh. Ditunjukkannya hampir semua hal yang dirasa bisa membuatku kaget atau terkesima untuk kembali kecewa sendiri. Sebab pikiranku masih dipenuhi kebingungan dengan kedatangannya ini. Aku tidak sedang memegang uang, sepeser pun tidak. Aku berpikir keras mencari cara untuk bisa menelponmu. Tapi kemudian pikiranku larut dalam permainan kami.

Betapa pun aku masih seorang suami yang cukup normal dan ingin membuatnya senang, setidaknya dalam permainan ini dengan sepenuh rasa. Aku jeri memikirkannya, kalau-kalau kami melakukan ini sebatas karena hubungan suami-isteri. Aku mau melakukannya dengan jujur. Dan aku mau, dia menangkap dengan jelas kejujuran itu.

“Aku akan keluar.” Cetusku akhirnya, setelah dia mulai disapu kantuk berat. “Mau cari makan dan telpon Ary.”

“Tak perlu telpon Ary. Besok saja, aku terlalu capek buat ketemu teman-teman.” Katanya lemah.

“Tadi katanya mau ketemu Ary. Bagaimana nanti kauceritakan pertemuan kalian pada Esti?” Kusebut nama teman barunya yang katanya sangat tergila-gila kepadamu itu, biar aku ada alasan yang pantas kalau misalkan nanti kau datang. “Ya sudahlah. Kalau begitu aku beli makan saja.”

Kubiarkan dia pulas dengan polosnya. Apakah setiap orang tidur selalu polos mirp bayi? Entahlah, tapi menurutku begitulah dia. Sedang mereka yang hidup melangkah tanpa kejujuran seperti yang sudah dijanjikan. Di wartel depan wisma aku sudah menelponmu. Sedang sibuk rupanya, maaf mengganggu.

Di warung kopi Pak Sodik ada beberap teman, sebagian yang sudah tahu segera main mata dan kata. Aku tanggapi ringan-ringan saja. Sepulang beli rokok dan shampoo aku jalan ke pondokan mengambil beberapa barang yang kami perlukan. Cari makan dan balik ke wisma tamu. Aku balik ke kamar dengan keyakinan bahwa kau akan datang malam ini di sini.

Tergopoh-gopoh dari mimpi dia bukakan pintu. Sambil tiduran diawasinya segala gerak-gerikku. Seperti mau meyakinkan ingatannya padaku. Melihat aku khusyuk dengan makananku – mungkin kelihatan seperti orang kelaparan – dia geleng kepala pelahan lalu minta disuapi. Minum sedikit kopi dan bersandar pada bantal lagi.

Sekarang semuanya rapi, aku tinggal mengisap sebatang rokok dan menunggu kau datang. Biasanya deadline antara jam satu sampai jam dua, bukan? Dia sudah pulas lagi, setelah lelah menceritakan pengalaman dan teman-temannya di Korea dan Jepang sambil kupijati. Tinggal aku sekarang yang gelisah menunggu-nunggu.

Setiap kudengar suara motor dengan gema tertentu aku jadi berharap-harap cemas. Beberapa lama aku cuma termangu-mangu. Tapi kau belum datang juga. Lemas oleh irama yang hampir setahun lewat tak kami rasakan itu dan oleh kecemasanku sendiri, kubawa langkah-langkah kecil menuju ruang tivi. Dari salah satu saluran yang ada, kunikmati suguhan Dangerous Beauty. Kuikuti dua pertiga film itu sampai muncul teks Warner Bros. Tanda-tanda kedatanganmu masih tak tercium. Aku pun masuk kamar. Lalu kuembus-embuskan permainan baru, sekali lagi, lebih bersemangat lagi. Malam ini benar-benar penuh kejutan melelahkan.

Karena jendela menghadap ke timur, maka pagi kami pun terasa sangat cerah. Biar pun mendung, tapi siraman cahayanya bisa membuat mataku perih. Semalaman aku sulit tidur, karena tidur tanpa selimut di bawah kipas angin keparat itu. Demi setan atau jembalang, sarungku dipakainya menguasai ranjang sebelah semalaman.

Aku segera bangkit dan pergi mandi, seperti disengat ingatan yang tajam bahwa aku harus menukar 20 dollarnya ke money changer. Keliling di beberapa tempat, dua lembar puluhan dollar itu baru bisa tertukar. Waktu kembali dia sudah keluar dari wisma dan sibuk meladeni pertanyaan beberapa teman soal kesibukannya selama ini. Selesai makan dia minta waktu buat bicara. Kali ini pasti masalah lama kami.

Benar juga, dia minta kejelasan rencana kami. Tapi mau bicara dimana? Bahkan di kamar pondokanku pun tak ada privasi. Kami cari-cari tempat, akhirnya malah ke warnet perpustakaan kampus.

“Kita ini sudah gila rupanya.” Suaraku seperti angin lalu, seperti mau bicara sendiri. Kami main di meja masing-masing.

“Kenapa cemberut?” aku sudah selesai dan duduk di sebelah kursinya.

“Kamu ini keterlaluan.” Dia mulai menahan sesuatu di matanya. “Aku jauh-jauh datang ke sini, dan kita cuma nge-net.” Aku tak bisa menjawab lagi.

Keluar dari warnet, kami putuskan buat cari makan. Biasanya, kalau sambil makan obrolan kami jadi bisa santai, tanpa emosi berlebihan. Tapi aku memang keparat, bahkan tempat makan pun aku sudah tak mengenalnya. Akhirnya kami cuma melahap tahu-telor si gondrong di pojok jalan depan gerbang barat kampus kita.

“Jadi, kamu nggak bisa bantu kiriman buatku sampai lulus nanti?” Matanya mengamat-amati tahu-telor di piringku.

“Ya...” Ini suapan yang tersisa dan leherku hampir tercekik tahu. “Kamu tahu soal itu.” Bukankah, harusnya dia lebih tahu soal mengatur keluarga dari pengalaman workcampnya.

Kami masih harus menelpon Ibu di kampung dan Eyang jauh dari garis Ibu, yang selama ini menampung dia di kotanya sekolah. Dari percakapan dengan Ibu dan Eyang, dia merasa dipersalahkan karena sering pergi tanpa pamit. Baik Eyang maupun Ibu mengeluhkannya juga kepadaku.

Ini jadi batu sandungan buatnya. Dia sudah terlalu sering, bahkan bisa dikata sejak kanak-kanak, berseberangan dengan pendapat dan sikap Ibu. Dan ini juga menjadi tekanan tambahan buatku.

Aku berusaha mendukungnya, sambil terus meyakinkan bahwa aku harus tetap berjalan di jalurku. Artinya, untuk sementara waktu, kami memang harus tahan hidup terpisah. “Aku berharap kita bisa bertahan sampai nanti.” Leherku mulai tercekat sesuatu yang pekat dan jarang kurasai. “Tapi kalau dalam perjalanannya nanti, kamu tidak tahan lagi, entah karena punya sandaran baru atau apa, aku tidak akan menghalangi jalanmu.”

Dia hanya mengalihkan pandangan pada dua bocah yang asyik main bola di rumputan sekitar tiang bendera depan bekas gedung rektorat.

“Setelah ini yang penting kamu jaga hubungan baik dengan keluarga, soal aku jangan terlalu dipikir dulu. Perihal Eyang Tyas dan Ibu, jangan terlalu dipikirkan lagi. Toh, kamu sudah sering beda pendapat dengan Ibu.” Suaraku putus-putus. “Kamu masih harus jalan jauh, hati-hati saja di jalan.”

Dia tetap bergeming. Ada benarnya juga. Toh, aku pun tak bisa berbuat lain, kecuali memberikan omongan. Didengar syukur, tak didengar pun sudah biasa.

Aku jengah. Bukan karena marah pada sikapnya, tapi aku benar-benar merasa tak tahu harus bagaimana lagi. Sulit juga menghadapi rasa salah laknatku, serumit jalinan rasa kami yang terkutuk ini.

“Kamu mau lihat aku nangis...” Putus lagi di leher, anjing!

“Nggak, kenapa?”

“Menurutku, lebih baik kamu berangkat sekarang.”

“Ya.” Dia pun bersiap.

Beberapa kali angkutan yang musti ditumpanginya lewat begitu saja di tengah kebisuan kami. Sampai akhirnya dia hentikan salah satunya. Dia cium tanganku sebagai tanda pamit dan kepatuhan. Sampai ketemu lagi, aku berjanji pada diri-sendiri.

Sekilas matanya leleh, jadi senja yang makin merah saga. Leher dan rahangku mengertap. Betapa aku telah membakar senja dan kilau keemasannya. Betapa kesrakat jalinan rasa ini. Betapa sempurna kebinatanganku lata. Berjalan memunggungi matahari aku adalah ular tak berjiwa. Datanglah, aku menunggumu.

Sebelum lebur rasa gelisah pekatku, sebuah motor datang. Bukan kau, melainkan seorang dosen yang dulu sangat akrab dengannya membonceng adiknya yang juga teman akrab dia. “Lho, gimana kabarnya adik saya?” Ah, ternyata berhenti juga. Padahal semula kukira mau sekedar menyalami saja.

“Oh, baru saja dia berangkat. Mungkin masih di pangkalan angkutan.” Gamang, tapi mau apa lagi.

“O, ya sudah. Coba saya kejar dulu, tapi jangan lupa salamnya juga ya?”

“Ya, Mbak.” Lebih lemah dari angin lewat.

Sampai sore aku masih anjing yang melolong ngilu dengan lidah terpotong. Kau pasti ingat Silent Tongue. Begitu lepas Maghrib barulah aku bisa mengambil waktu buat menulis surat buatmu. Siapa tahu ingatanku tak cukup lengkap buat menceritakan semuanya padamu.

Hampir jam sepuluh suratku baru kelar. Kutunggu kau di pojok jalan itu. Kau datang juga akhirnya, sebelum gelas teh pertamaku tandas. Selebihnya kau tahu sendiri. Pulangnya, mungkin karena masih terpengaruh oleh gelibat rasa itu aku sempat lupa membawa motor pinjaman itu.

Siang ini setelah segelas kopi di warung Mak Mursinah, aku sempatkan diri ke warnet lagi. Mencari kabar dari semua lamaran kerja yang aku kirimkan, sambil mengirimkan beberapa tulisan. Kubaca pesan messenger darinya, minta dicarikan disketnya yang kemarin ketinggalan. Dia berjanji akan datang lagi tanggal 26. Lalu kukirimkan isi disketnya lewat e-mail. Biar dia bisa lebih cepat bekerja, pikirku.

Salah satu isi disket itu sebuah file.foto kiriman dari seorang lelaki bule yang terlihat sedang dipeluknya dari belakang. Dia sendiri tersenyum bangga dengan topi bagus workcampnya, tanpa pakaian lengkapnya. Tak ada kerudung senja di sana. Betapa sempurna mimpi burukku. 080204