Kabut Ketakutan
Lapar. Itu saja yang kugelisahkan. Sepertinya tak ada soal lain lagi. Tiap kali perutku mulai berkeriut, bayangan-bayangan mengerikan mulai mengorek-korek ketakutanku yang lembab. Seperti bakal ada sosok paling menyeramkan yang siap menyergap belakang tengkukku. Sesudah bayangan-bayangan itu berkelebatan tak ada lagi yang bisa kuperbuat. Tiba-tiba tubuh kecilku yang biasanya lincah pun jadi lumpuh. Hanya diam, pasrah menunggu waktu.
Lamat-lamat kudengar detik jam bertingkah satu-satu. Jam beker milik Deny bertengger di atas meja yang penuh dengan perlengkapan militer kegemarannya. Deny memang bisa dibilang sebagai army-mania, maka wajar kalau tongkrongannya terlihat sangat army-look. Semula aku menganggapnya hanya seperti kebanyakan orang muda seumurnya. Tapi setelah menumpang tinggal di rumah petak kontrakannya, yang persis kandang ayam ini, barulah aku tahu benar kalau Deny bukan sekadar mau kelihatan jantan dengan dandanan ala tentara itu.
Deny memang gila, tergila-gila tepatnya, pada segala yang berbau tentara. Deny pernah mendaftarkan diri sebagai perwira, tapi gagal karena ada lubang di gerahamnya. Tak cuma pakaian seragam, kaos oblong dan sepatu lars yang dia punya. Perlengkapan lain dia punya, termasuk sebuah teropong dari jaman perang pun disimpannya. Dan semuanya kini mengurungku di ruang tengah yang mirip kamp konsentrasi ini. Di atas kasur busaku tergelar jala hijau tua yang seperti mau menjerat kelaparanku.
Kulirik pullbed hijaunya buat mengalihkan mata dari jam beker sialan itu. Jarum-jarum jam doreng itu makin lama makin bertingkah layaknya bayonet menyudet-sudet perutku. Kulirik terus sambil merutuki kebodohan arti sebuah harga diri berlebihan.
“Kenapa tadi tak pinjam saja padanya?” Bayangan Addek, perempuan berwajah mungil yang kini lengket denganku, berkelebat dan tersenyum lucu seperti tarian kupu-kupu liar di antara kelopak-kelopak mawar yang sedang mekar dan duri-duri segarnya mencakar perutku.
Tapi, aku belum pernah sekali pun meminjam uang pada perempuan. Sekalipun sudah melewati banyak hal bersama dalam enam bulan terakhir ini, dari satu tahun perkenalan kami, bukan berarti aku bisa dengan gampang bilang kalau mau pinjam uang kepadanya. Sekalipun aku tahu benar kalau jatah bulananku tandas setelah menemaninya jalan-jalan seharian. Jadilah aku tertidur di bawah kabut ketakutan pada para agen-agen perut yang dalam bayangan tampak begitu beringas buat merenggut nyawaku, meski tidak sesadis gambaran yang pernah kudengar dari rintihan panjang Kenyut Plekenyun.
Lelap. Bersama bayonet jam beker keparat dan ingatan lamur pada kisah seorang penulis Jepun. Pada bagian akhir kisahnya tertulis bahwa...
Akuranggawa dipandang sebagai seorang sastrawan terkemuka di Jepun. Banyak yang menganggapnya sebanding dengan Gus tf. Faustnerd, penulis Galia yang terkenal dengan novelnya Mama Bonary. Karya Akuranggawa yang terkenal antara lain:.....
Ia meninggal pada tanggal 24 Juli 1927 karena bunuh diri. Sebab-sebabnya tak dapat diketahui, walaupun ia sendiri pernah mengatakan –seandaianya ia bunuh diri– adalah karena kabut ketakutan.
......Aku takut bahwa malam akan membinasakan diriku yang sekarang dan mengubahka menjadi seorang pembunuh celaka. Membayangkan saat tangan ini menjadi merah tua oleh darah! Kutukan macam apa yang nanti bakal menimpa diriku! Dadaku takkan begitu teriris nyeri andai saja aku membunuh seorang musuh yang kubenci. Tapi, malam ini aku harus membunuh seorang lelaki yang tak kubenci........
Orang boleh tak tahu sebab Akuranggawa membunuh dirinya sendiri pada hari ke-23 bulan ke-4 dan tahun ke-35 masa hidupnya, tapi sedikitnya aku yakin bahwa ini bukannya sebuah kebetulan. Sebab 45 tahun sesudahnya, jiwa ketakutan itu menghidupi janin kel-5 dalam perut Ibu, tanggal 22 Juli 1972. Mungkin, sebab aku sendiri tak terlalu yakin dengan tanggal lahirku.
Perihal penggalan tulisan Akuranggawa itu mungkin semacam pernyataan pribadi. Tapi, malam telah mengubahnya jadi bisikan-bisikan tajam di telingaku yang mendadak diserang demam. Dan setiap kali demam begini, aku selalu dilimpahi mimpi-mimpi yang tak kumengerti.
Serombongan tentara musuh memburuku seperti binatang. Teriakan-teriakan keras, derap sepatu lars, dan ancaman kematian benar-benar membidikku sebagai binatang. Sampai menyelami sungai-sungai yang mengalir deras. Dalam arus hijau lumut yang menghimpit aku masih binatang buruan, binatang malam. Di belakang, tentara kuning terus merangsek. Mengejar tanpa ampun.
Malam juga yang selalu menyambung hidupku. Di tengah perburuan itu mataku lemah menyala dengan nafas terengah-engah. Di antara seperangkat alat perangnya Deny pada meja, masih bertengger jam beker dengan jarum-jarum bayonet itu. Dua seperempat, belum setengah jam sejak aku terlelap kengerian mimpi sendiri. Kasur busa ini menyerap hampir seluruh tubuhku. Basah keringat membentuk garis tubuh yang terbenam dalam-dalam. Leherku tercekat hawa panas yang sangat mencekik.
Di sudut meja perkakas Deny, dekat lubang keluar tanpa daun pintu itu, berjejer jerigen-jerigen air. Aku tak yakin apakah air itu sudah dimasak di atas kompor serba-gunanya atau belum. Seharian Deny tak di rumah dan kompor batu-bata yang sekaligus tempat pembakaran sampah, pengering jemuran di lorong rumah, dan pengusir nyamuk itu sama sekali belum kugunakan. Aku malas menyalakan kompor dan memilih menyerahkan masalah gorong-gorong tenggorokku ini pada air ledeng dalam jerigen yang biasa dibawa Deny dari kamar mandi kampus. Siapa tahu juga dengan begini agen-agen perubahan dalam perutku bisa diredam.
Seekor ayam jago berkoar-koar di kejauhan, disahuti ayam-ayam jago lainnya. Seorang anak tetangga merengek, mungkin terbangun dari mimpi buruk sepertiku. Setengah jerigen air memasuki lambungku yang masih teriris-iris. Lemas oleh dehidrasi berlebihan kucoba meringkuk lagi.
Tapi, pikiranku sama sekali tak berperasaan. Dalam keadaan begini malah mengajak jalan-jalan mencari asalnya mimpi-mimpi bejat yang datang setiap kali demam menyerang. Ingatanku membawakan adegan-adegan demam waktu kecil dulu. Waktu menu makanku berubah jadi bubur gurih atau nasi pecel dari sekadar nasi bergaram atau berkecap saja. Juga pada waktu-waktu demam yang lain ketika tidurku disatroni makhluk-makhluk kuning berseragam perang. Memburu dalam hutan, sawah, dan sungai-sungai yang dalam.
Menyelami sungai itu lagi di antara lumut, batu, dan ikan, mengantarku ke sebuah telaga anakan. Menyembulkan kepala, segera kuambil nafas sebanyak-banyaknya. Kusadari benar sekelilingku. Ini bukan telaga anakan, lebih tepatnya sebuah kolam yang mengurai diri lewat celah bawah tanah yang semula kukira sebatang sungai yang teramat dalam. Entah dimana mata airnya, yang kutahu di depan sana terdapat jembatan yang melengkungkan punggung ke arah sebuah paseban. Lalu sebuah rumah kayu jauh di belakangnya. Di atas, langit tampak biru di sela daun-daun sakura dengan rerumpun bunga yang sedang mekar. Batang pohonnya nampak tua dan kokoh di belakang rumah kayu itu.
“Keindahan.” Pikiranku nganga. “Dan aku ada di dalamnya.”
Aku segera melompat ke jembatan dan hampir mencapai lidah tangga paseban waktu para pemburu itu sigap mengurungku. Semua membawa pedang panjang bermata satu. Seorang dari mereka menatapku dengan pandangan mata srigala.
“Boleh saja kau memilih lari ke rumah ibumu.” Seringai tajamnya mengeluarkan desis yang tak kupahami. “Tapi kau tetap harus mati.”
Kuawasi sekelilingku, gerakan mereka satu per satu. Kuperhatikan mata pedang mereka berkilatan ditimpa selarat cahaya matahari yang sempat menembus daun-daun, bunga, dan rerantingan di atas sana. Kilatan tajam mata pedang dan kilau cahaya pada kolam, menyadarkan mata pada tubuhku. Jubah berlengan panjang warna gading membungkusku. Dan waktu sekilas kulihat bayangannya di atas kolam, tampaklah peci menjulang berpangku pada helai-helai rambutku yang terurai sampai ke pinggang. Saat itu aku mengira kalau parasku lebih cantik dari tampan.
“Seppuku!” Seringai itu melemparkan sebuah pedang sepanjang lengan ke lantai kayu jembatan. “Sebagai lelaki kau harus menerima ini.”
Sekalipun tak mengerti bahasa kuningnya, dengan melemparkan pedang ini pun aku bisa tahu kalau dia menyuruhku mati. Kematian di tengah keindahan, bagus juga. Tapi, tanpa perduli pada siapa pun yang telah meminjamkan takdir dengan tubuh cantiknya ini aku tak mau terima begitu saja kematianku.
“Tidak.” Kuawasi lagi sekelilingku, setelah melemparkan kata yang tak kupahami sendiri maksudnya. “Aku tak akan mati....”
Tiba-tiba mereka merangsek ke arahku. Seketika kusapukan barang yang sedari tadi cuma kurasai saja gagang kayunya. Rupanya cuma selembar kipas besar bersepuh warna biru dan sebaris aksara yang tak kumengerti tertera di dadanya. Lalu angin menderu. Daun-daun dan rerumpun bunga bergoyang dari keagungannya dan menebar diri ke sini seperti mau mengubur sebuah mimpi.
Waktu berjalan dalam kerjapan mata tanpa cahaya. Waktu kubuka mata terasa sekali tubuhku tinggal remah-remah dan seperti sedang berayun-ayun di antara ombak-ombak besar. Jerit ketakutan dan decak beberapa mulut terdengar samar. Tanpa sisa, tubuh kecilku sekarang terhampar di atas papan kayu berbalut selembar pakaian usang. Sebuah kamar kayu aku tahu dan aku pun sadar ini di atas lautan, cukup dengan menandai rasa mualnya yang khas ini.
“Minggir! Minggir....” Seorang lelaki setengah baya menyeruak kerumunan. “Pergi! Pergi!!! Aku akan melindunginya dengan nyawaku. Dia sakit, belum lagi mati. Kalian jangan harap bisa memangsanya.”
“Dia cuma penumpang gelap...” Seorang lelaki lain berdecak dengan suara parau dalam bahasa orang-orang perahu.
“Tidak! Tidakkah kalian sadar kalau kita juga penumpang gelap di laut ini?”
“Tapi, dia ini lain dari kita...”
“Tidak. Kita semua sama. Aku tahu, kalian bisa gila karena lapar dan haus ini. Tapi tidak begini caranya....tidak....” Tiba-tiba suara lelaki paruh baya itu melemah. Aku cuma bisa mendengarkan dari kegelapan, tubuhku sudah terlalu lemah buat semua ini. Terlalu lemah, juga buat mencari jawab atas perpindahanku dari tentara kuning ke perahu ini. Terlalu lemah buat menyadari kepergian kerumunan itu satu per satu.
“Air.” Bahkan terlalu lemah buat mengenali kata-kataku sendiri.
Lelaki paruh baya itu terhenyak dari kelemahannya sendiri. Mengangkat kepalanya dari papan kayu tempat tubuhku tergelar ini. Sejenak menatapku dengan pandangan kosong, lalu mengerjap kaku.
“Kau sudah sadar? Kau bilang air?” Mata itu makin tak bisa dipercaya. “Kau ini, sebangsa kami juga rupanya.....”
Mata cerah itu mulai menengok ke bawah, pada botol di genggamannya. Beberapa saat dia ragu, tapi kemudian menyodorkannya juga.
“Sudah beberapa hari ini kami kehabisan bekal. Air terakhir sudah habis kemarin.” Mata cerah itu menerawang di tengah ayunan gelombang. “Ini mau kuberikan pada anak-anakku. Tapi kalau kau mau, minumlah sedikit...”
Lalu dia ceritakan dua anaknya. Kematian isterinya di laut ini, akibat wabah malaria. Kematian beberapa awak lain. Peristiwa pembakaran daging teman yang sakit keras saat mereka terdampar di sebuah pulau liar, karena lapar tak tertahankan. Dia sendiri seorang dokter yang ikut melarikan diri dari negerinya. Di dera wabah penyakit, kelaparan dan rasa haus yang mencekam lelaki ini mencoba bertahan. Barusan anak-anaknya mengeluh kehausan. Sebagian temannya nekad minum air laut dan mati tercekik sendiri. Diam-diam di ujung buritan, jauh dari jangkauan mata anak-anaknya, dia paksakan diri mengeluarkan urine yang tersisa.
“Minumlah.” Bisiknya seperti angin laut yang mengambang di udara berkabut. “Jangan mati karena lapar dan haus....”
Kukuatkan diri meneguknya sambil menutup jalan udara di tenggorokan. Aromanya mungkin mengganggu, tapi sebagian orang percaya pada adanya terapi air seni. Tapi tetap harus menyisakannya buat kedua orang anak dokter ini.
Kupejamkan mata lagi setelah lelaki itu keluar dari kamar. Aku mau secepatnya keluar dari kamar ini. Aku mau segera meninggalkan ayunan ombak memabukkan ini. Aku mau melompat dari bau tajam yang mengambang dalam mulutku. Aku mau meninggalkan kabut ketakutan ini. Aku masih terapung-apung waktu terdengar suara gedoran-gedoran keras pada pintu. Semakin keras, makin mendorong tubuh lemasku ke arahnya.
“Tidak kuliah?” Suara perempuan berkaca-mata kecil itu masih dengan nada tinggi setelah berteriak-teriak barusan. Kali di depan kontrakan Deny menyebarkan aroma yang khas. “Kau sakit?”
Ampun, jangan bawa aku kemana pun hari ini.
100204