Kongsi
Selagi punya kesempatan buat jogging pagi, buat apa ditunda lagi. Toh sebentar lagi aku sudah tidak bakal punya waktu lagi buat jalan-jalan macam ini. Sambil menyusuri jalan sekitar rumah, bisa kunikmati juga suara orang-orang yang bakalan ramai melakukan pemilihan atas diriku. Dengan topi pantai ini, kukira tidak semua orang bakal mengenalku. Aku tidak berharap banyak, sekali pun yakin sekali bakal memenangi percaturan kali ini. Toh, targetnya juga tidak terlalu tinggi, cukup satu kursi saja di satu kota.
Belum beberapa langkah keluar rumah di warung depan gang sudah kudengar selentingan. Kata salah seorang pemuda di situ, kalau kelompok gabungan empat kekuatan rivalku dengan nama kongsi kebanggaan benar-benar dijalankan secara permanen, akan mengubah sistem politik Indonesia secara signifikan pascapemilihan Walikota/Wakil Walikota putaran kedua nanti. Kongsi permanen itu bakal berdampak terhadap terciptanya dua blok kekuatan politik diametral, yakni jajaran pemkot yang berkuasa dan oposisi formal dalam parlemen.
Kulirik pemuda itu, ternyata dia salah seorang aktivis sebuah LSM Pendidikan Sobirin. Pada dasarnya aku suka pada orang pintar macam dia, tapi tidak untuk duduk bersama satu meja. Apalagi di meja makan, aku tahu orang-orang macam mereka cenderung doyan makan dan kurang kerja. Tapi baguslah, setidaknya mereka suka bicara. Terutama yang aku suka, Sobirin bisa bicara apa yang aku mau tahu.
Aku jadi ingat beberapa peristiwa dari awal-awal ’98. Waktu seorang teman yang dikenal sebagai orang pintar juga, Herman atau Hermawan aku lupa tepatnya, dia datang ke sekolah-sekolah, mengipasi kompornya anak-anak muda di sana buat segera mendesak pelengseran Pak Tua – Walikota dari masa itu. Angin memang lantas jadi besar, berputar-putar di sekitar Kantor Walikota. Dan seterusnya lapuklah kayu jati kursi Pak Tua yang memang sudah mulai digerogori rayap di sana-sini itu. Waktu itu aku masih jadi KaSatpol PP di salah satu Kecamatan. Yah, siapa sangka sebentar lagi sudah giliranku naik panggung. Siapa sangka? Tak ada yang menyangka, memang, kecuali aku sendiri dan kau yang gila tentunya.
Sementara aku menggelibat di bawah pohon dekat warung itu, obrolan anak-anak itu makin ngelantur rupanya. Si Dayat Atmodimejo nyeletuk sambil menyambar sebatang pisang goreng. "Kalau para pejabat itu suka bikin kongsi, nantinya kota ini malah jadi bancakan segelintir orang saja, Rin. Padahal kongsi macam gitu belum tentu pas buat urusan pilihan Walikota begini ini. Malah bisa-bisa benturan sama gerakan massa."
Waduuuh, Dayaaaaat, Dayat. Kok jan pinter tenan kowe, batinku sambil pringas-pringis sendiri.
“Wah, ya ndak bisa gitu, Yat.” Sergah Shobirin, “Biar dikata pilihan langsung, tapi orang kita itu kan masih tradisional, masih bisa ditebak arahnya sama gerakan orang-orang atasnya. Orang-orang kita itu masih nggah-nggih sama bendoronya, kyaine. Sekali pun masih harus ditunggu bagaimana para bendoro itu merapatkan barisan sampai ke bawah." Kurang ajar, ternyata ada juga makhluk kucluk berpikiran miring yang tidak mempan program perubahan yang sudah aku janjikan macam begini, mana ludahnya nyembar-nyembur ke sana-sini lagi. Weeelhaaaaa.
Dia ini sambil berlomba ngremus pisang goreng dengan si Dayat, masih bisa bilang tidak terlalu sepakat dengan mereka yang menganggap kalau kongsi-kongsian itu tidak penting dalam pemilihan Walikota langsung ini. “Konfigurasi kekuatan politik yang mengkristal akan bergantung dari hasil pilwali putaran kedua nanti. Dengan syarat, pernyataan kongsi itu akan permanen bisa dibuktikan,” katanya sampai mulut berbusa-busa.
Masih saja nerocos, dasar gembol dobol, kalau Ega/Cak Kocim yang menang, maka akan muncul penguasa yang kuat semacam Barisan Nasional. Walaaaaah, jaaaaan, moncol temenan Arek iki. “Untuk itu, sangat diperlukan kekuatan politik penyeimbang di tingkat parlemen nantinya yang akan mampu mengimbangi dan mengawasi kekuatan kongsi itu, dalam bentuk oposisi,” kotbah Sobirin makin menjadi.
Sebaliknya, kalau Aku dan Cak Ucup yang unggul, praktis parlemen bakal didominasi oleh kekuatan oposisional. “Yang berbahaya, nanti pas Sss-Cup menang dan mereka tidak menyadari bahwa bagaimana pun tetap perlu merajut kongsi dengan kekuatan politik formal dalam bentuk parpol, pemkot akan sangat tidak efektif. Kekuatan oposisi di parlemen akan terus merongrong pemerintahan yang berkuasa," tuturannya yang benar-benar mirip drama radio lama tutur-tinutur membikin semua pendengarnya cuma bisa manggut-manggut.
“Yaaa, saya se, tidak berharap banyaaaak. Moga-moga saja kongsi-kongsian itu bukan sekadar buat bagi-bagi kuasa. Tapi, benar-benar dilakukan dengan berorientasi bagi perkembangan demokrasi kita dalam jangka panjang," tegas Sobirin dengan lagak aktivisnya.
“Kalau gitu sama saja makan simalakama, Cak,” celetuk Bowo si tukang koreksi buku koleksi Balai RW.
Celetukan itu tak membuat Sobirin jadi galak, bagai diplomat ulung dia mengelak. Dia malah menegaskan pada situasi sekarang tidak penting mengarahkan pilihan pada calon A atau B. “Jauh lebih penting dari itu, kita memberi wawasan kepada publik tentang implikasi-implikasi politik yang akan muncul ketika menjatuhkan pilihan pada salah satu calon. Rakyat akan tahu dampak yang muncul kalau ia memilih A atau B. Itu yang terpenting,” ujarnya.
“Wah, kalau orang-orang atas pada ngikuti cara sampeyan dan nggak perduli sama sikap rakyat, bisa-bisa tambah banyak yang anti partai. Padahal partai itu kan alat demokrasi.” Ayo Dayaaaat, jangan kalah cerdik sama Si Birin itu. “Jadi, sikap politik yang ditunjukkan salah satu kelompok buat netral adalah pilihan yang bijaksana dalam situasi politik saat ini,” lanjut si Dayat tak kalah dahsyat menggasak gorengan. “Kalau mereka cuma ngurusi bagi-bagi kursi dan rezeki, jangan kaget kalau nantinya mengental sikap anti partai. Sekarang saja bibitnya sudah muncul.”
“Gila, bener-bener gila. Kongsi macam begitu itu risikonya tinggi, lho. Dalam teori politik klasik seperti dalam buku State in Theory and Practice tulisan Harold J. Laski dikatakan partai merupakan salah satu instrumen demokrasi, dengan sejumlah fungsi yang melekat seperti agregasi, artikulasi, rekrutmen politik, dll.," ujarnya Dayat tanpa basa-basi menyambar rambak goreng. Kremus, kremus, kremus.
Akan tetapi, lanjut Dayat di balik kremusan rambaknya, dalam kenyataan politik di negara kita partai itu sekadar jadi kendaraan politik untuk ambisi pribadi. “Saya cukup tahu bahwa dari tingkat nasional, provinsi, sampai kabupaten/kota biasanya sikap pimpinan partai dipengaruhi oleh masalah lain di luar politik. Ada yang merasa diuntungkan dalam masalah hukum yang dihadapinya atau ada juga yang merasa terancam oleh jeratan hukum yang dihadapinya. Ujung-ujungnya hal itu berimbas pada sikap politik yang bertentangan dengan hakikat demokrasi itu sendiri," urai Dayat. Wah, wah, wah, benar-benar salut buat Dayatku Dahsyat.
Akhirnya Dayat menegaskan bakalan sulit mengarahkan orang-orang dari tingkat kecamatan ke bawah buat bersikap sama dan sebangun dengan sikap elite di provinsi, kota/kabupaten, apalagi nasional. “Pengalaman pemilu legislatif dan pilwali putaran awal menunjukkan demikian,” ujarnya.
Akhirnya aku makin tahu apa kira-kira yang ada di pikiran orang-orang yang bakal aku atur ini. Sebenarnya ada atau tidak adanya kongsi itu bukan terlalu soal bagiku. Sebab aku sudah cukup lama menyiapkan diri buat perhelatan ini. Ya, kira-kira sejak Pak Tua itu turun, lah. Tidak sulit, kok, caranya. Toh, Pak Tua itu juga musti belajar dulu selama 20 tahun dulu pada si Abang Besar, sebelum akhirnya berkuasa selama lebih dari 6 periode. Dan aku? Aku sudah menyiapkannya kira-kira dalam tempo yang sama dengan Pak Tua, kau tahu itu. Ingat, kan? Bagaimana aku selalu luput dari segala cobaan dan hukuman. Singkatnya, aku sangat yakin dengan semua persiapanku ini. Tak perlu khawatir, nanti namamu pasti ikut tercatat dalam buku kebaikan di kota ini. Kalau tidak, bisa saja tercatut dalam buku kebusukan.
Soalnya, kenapa aku agak sewot dan musti ikut-ikutan bikin semacam kongsi adalah usaha mengganjal Ketua Parlemen Kota yang sangat licin itu. Kau tahu, toh, dia lahir dari jenis paling berlendir. Luput dari sana-sini, malah pakai pura-pura mengancam kader-kadernya di tingkat kecamatan lantaran ndak satu suara sama pilihannya. Ah, mustahil itu benar-benar dilakukannya. Itu kan cuma caranya menarik simpati kawan sekongsi saja. Tahulah, tahu. Tahu, kan, bagaimana pintarnya dia mengulur waktu karena kasus susu tempo hari? Dengan begitu kan dia bisa memainkan arah angin.
Ah, sudahlah. Lebih baik lanjutkan jalan-jalan pagi ini. Sebelum pelanggan warung ini ribut, karena calon walikota mereka ikut nimbrung.
****
Aha, akhirnya kau datang juga. Biar cuma lewat mimpi buruk begini. Setidaknya aku bisa mendengar kabar darimu, kalau kemenangan cukup gamblang. Tiga puluh banding dua puluh, wah-wah-wah. Coba kau datang lebih awal, pasti ada bir temulawak di kulkas buat pengganjal lever hepatitismu. Ayolah, senang-senang sedikit. Lupakan uban dan bekas binimu yang gemar berpolitik itu. Ayo.....200904
Saturday, February 26, 2005
Friday, April 09, 2004
Mimpi Buruk
Tiba-tiba dia datang, membawa tas punggung besar dan seonggok kelelahan dari lorong gelap pondokanku. Salam pertemuan menampar kesadaranku dan mengantar kami ke jalan depan. Lalu menikung ke meja penerimaan wisma tamu BKKBN.
Aku tak terlalu ambil perduli pada beberapa mata yang melempar prasangka. Waktu penerima tamu itu mengambilkan kunci kamar, dia mulai angkat bicara.
“Harusnya aku dapat layanan gratis di sini.” Matanya menatapku lekat, aku tak bereaksi. “Aku ‘kan, Pengda PKBI.” Sahutnya pada kelambananku.
“Apa itu?”
“Pengurus daerah.”
“Apa itu PKBI?”
“Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia.”
Kusadari, otakku ternyata lamban. Semula kukira itu semacam perkumpulan para peminat bahasa. Bodoh memang. Kamar no. 20 ada di lantai dua. Tanpa tivi dan ac. Sebuah kipas angin duduk digantung terjungkir pada dinding di atas salah satu ranjang. Dia mulai melolosi diri dan kuikuti iramanya. Dengan caranya sendiri, dia minta kipas diputar sedang saja dan mengarah penuh kepadanya. Dia masih hapal kalau aku alergi kipas angin, membuatku sulit tidur. Kecuali mungkin beberapa yang lekat dengan tubuhku.
“Aku sampai lupa wajahmu.” Matanya terus saja seperti mencari-cari sesuatu di mukaku. Sesaat kemudian kamar mulai meriah dengan cerita-cerita dan kejengkelannya. Terutama kejengkelannya pada sikapku yang selalu tak acuh. Ditunjukkannya hampir semua hal yang dirasa bisa membuatku kaget atau terkesima untuk kembali kecewa sendiri. Sebab pikiranku masih dipenuhi kebingungan dengan kedatangannya ini. Aku tidak sedang memegang uang, sepeser pun tidak. Aku berpikir keras mencari cara untuk bisa menelponmu. Tapi kemudian pikiranku larut dalam permainan kami.
Betapa pun aku masih seorang suami yang cukup normal dan ingin membuatnya senang, setidaknya dalam permainan ini dengan sepenuh rasa. Aku jeri memikirkannya, kalau-kalau kami melakukan ini sebatas karena hubungan suami-isteri. Aku mau melakukannya dengan jujur. Dan aku mau, dia menangkap dengan jelas kejujuran itu.
“Aku akan keluar.” Cetusku akhirnya, setelah dia mulai disapu kantuk berat. “Mau cari makan dan telpon Ary.”
“Tak perlu telpon Ary. Besok saja, aku terlalu capek buat ketemu teman-teman.” Katanya lemah.
“Tadi katanya mau ketemu Ary. Bagaimana nanti kauceritakan pertemuan kalian pada Esti?” Kusebut nama teman barunya yang katanya sangat tergila-gila kepadamu itu, biar aku ada alasan yang pantas kalau misalkan nanti kau datang. “Ya sudahlah. Kalau begitu aku beli makan saja.”
Kubiarkan dia pulas dengan polosnya. Apakah setiap orang tidur selalu polos mirp bayi? Entahlah, tapi menurutku begitulah dia. Sedang mereka yang hidup melangkah tanpa kejujuran seperti yang sudah dijanjikan. Di wartel depan wisma aku sudah menelponmu. Sedang sibuk rupanya, maaf mengganggu.
Di warung kopi Pak Sodik ada beberap teman, sebagian yang sudah tahu segera main mata dan kata. Aku tanggapi ringan-ringan saja. Sepulang beli rokok dan shampoo aku jalan ke pondokan mengambil beberapa barang yang kami perlukan. Cari makan dan balik ke wisma tamu. Aku balik ke kamar dengan keyakinan bahwa kau akan datang malam ini di sini.
Tergopoh-gopoh dari mimpi dia bukakan pintu. Sambil tiduran diawasinya segala gerak-gerikku. Seperti mau meyakinkan ingatannya padaku. Melihat aku khusyuk dengan makananku – mungkin kelihatan seperti orang kelaparan – dia geleng kepala pelahan lalu minta disuapi. Minum sedikit kopi dan bersandar pada bantal lagi.
Sekarang semuanya rapi, aku tinggal mengisap sebatang rokok dan menunggu kau datang. Biasanya deadline antara jam satu sampai jam dua, bukan? Dia sudah pulas lagi, setelah lelah menceritakan pengalaman dan teman-temannya di Korea dan Jepang sambil kupijati. Tinggal aku sekarang yang gelisah menunggu-nunggu.
Setiap kudengar suara motor dengan gema tertentu aku jadi berharap-harap cemas. Beberapa lama aku cuma termangu-mangu. Tapi kau belum datang juga. Lemas oleh irama yang hampir setahun lewat tak kami rasakan itu dan oleh kecemasanku sendiri, kubawa langkah-langkah kecil menuju ruang tivi. Dari salah satu saluran yang ada, kunikmati suguhan Dangerous Beauty. Kuikuti dua pertiga film itu sampai muncul teks Warner Bros. Tanda-tanda kedatanganmu masih tak tercium. Aku pun masuk kamar. Lalu kuembus-embuskan permainan baru, sekali lagi, lebih bersemangat lagi. Malam ini benar-benar penuh kejutan melelahkan.
Karena jendela menghadap ke timur, maka pagi kami pun terasa sangat cerah. Biar pun mendung, tapi siraman cahayanya bisa membuat mataku perih. Semalaman aku sulit tidur, karena tidur tanpa selimut di bawah kipas angin keparat itu. Demi setan atau jembalang, sarungku dipakainya menguasai ranjang sebelah semalaman.
Aku segera bangkit dan pergi mandi, seperti disengat ingatan yang tajam bahwa aku harus menukar 20 dollarnya ke money changer. Keliling di beberapa tempat, dua lembar puluhan dollar itu baru bisa tertukar. Waktu kembali dia sudah keluar dari wisma dan sibuk meladeni pertanyaan beberapa teman soal kesibukannya selama ini. Selesai makan dia minta waktu buat bicara. Kali ini pasti masalah lama kami.
Benar juga, dia minta kejelasan rencana kami. Tapi mau bicara dimana? Bahkan di kamar pondokanku pun tak ada privasi. Kami cari-cari tempat, akhirnya malah ke warnet perpustakaan kampus.
“Kita ini sudah gila rupanya.” Suaraku seperti angin lalu, seperti mau bicara sendiri. Kami main di meja masing-masing.
“Kenapa cemberut?” aku sudah selesai dan duduk di sebelah kursinya.
“Kamu ini keterlaluan.” Dia mulai menahan sesuatu di matanya. “Aku jauh-jauh datang ke sini, dan kita cuma nge-net.” Aku tak bisa menjawab lagi.
Keluar dari warnet, kami putuskan buat cari makan. Biasanya, kalau sambil makan obrolan kami jadi bisa santai, tanpa emosi berlebihan. Tapi aku memang keparat, bahkan tempat makan pun aku sudah tak mengenalnya. Akhirnya kami cuma melahap tahu-telor si gondrong di pojok jalan depan gerbang barat kampus kita.
“Jadi, kamu nggak bisa bantu kiriman buatku sampai lulus nanti?” Matanya mengamat-amati tahu-telor di piringku.
“Ya...” Ini suapan yang tersisa dan leherku hampir tercekik tahu. “Kamu tahu soal itu.” Bukankah, harusnya dia lebih tahu soal mengatur keluarga dari pengalaman workcampnya.
Kami masih harus menelpon Ibu di kampung dan Eyang jauh dari garis Ibu, yang selama ini menampung dia di kotanya sekolah. Dari percakapan dengan Ibu dan Eyang, dia merasa dipersalahkan karena sering pergi tanpa pamit. Baik Eyang maupun Ibu mengeluhkannya juga kepadaku.
Ini jadi batu sandungan buatnya. Dia sudah terlalu sering, bahkan bisa dikata sejak kanak-kanak, berseberangan dengan pendapat dan sikap Ibu. Dan ini juga menjadi tekanan tambahan buatku.
Aku berusaha mendukungnya, sambil terus meyakinkan bahwa aku harus tetap berjalan di jalurku. Artinya, untuk sementara waktu, kami memang harus tahan hidup terpisah. “Aku berharap kita bisa bertahan sampai nanti.” Leherku mulai tercekat sesuatu yang pekat dan jarang kurasai. “Tapi kalau dalam perjalanannya nanti, kamu tidak tahan lagi, entah karena punya sandaran baru atau apa, aku tidak akan menghalangi jalanmu.”
Dia hanya mengalihkan pandangan pada dua bocah yang asyik main bola di rumputan sekitar tiang bendera depan bekas gedung rektorat.
“Setelah ini yang penting kamu jaga hubungan baik dengan keluarga, soal aku jangan terlalu dipikir dulu. Perihal Eyang Tyas dan Ibu, jangan terlalu dipikirkan lagi. Toh, kamu sudah sering beda pendapat dengan Ibu.” Suaraku putus-putus. “Kamu masih harus jalan jauh, hati-hati saja di jalan.”
Dia tetap bergeming. Ada benarnya juga. Toh, aku pun tak bisa berbuat lain, kecuali memberikan omongan. Didengar syukur, tak didengar pun sudah biasa.
Aku jengah. Bukan karena marah pada sikapnya, tapi aku benar-benar merasa tak tahu harus bagaimana lagi. Sulit juga menghadapi rasa salah laknatku, serumit jalinan rasa kami yang terkutuk ini.
“Kamu mau lihat aku nangis...” Putus lagi di leher, anjing!
“Nggak, kenapa?”
“Menurutku, lebih baik kamu berangkat sekarang.”
“Ya.” Dia pun bersiap.
Beberapa kali angkutan yang musti ditumpanginya lewat begitu saja di tengah kebisuan kami. Sampai akhirnya dia hentikan salah satunya. Dia cium tanganku sebagai tanda pamit dan kepatuhan. Sampai ketemu lagi, aku berjanji pada diri-sendiri.
Sekilas matanya leleh, jadi senja yang makin merah saga. Leher dan rahangku mengertap. Betapa aku telah membakar senja dan kilau keemasannya. Betapa kesrakat jalinan rasa ini. Betapa sempurna kebinatanganku lata. Berjalan memunggungi matahari aku adalah ular tak berjiwa. Datanglah, aku menunggumu.
Sebelum lebur rasa gelisah pekatku, sebuah motor datang. Bukan kau, melainkan seorang dosen yang dulu sangat akrab dengannya membonceng adiknya yang juga teman akrab dia. “Lho, gimana kabarnya adik saya?” Ah, ternyata berhenti juga. Padahal semula kukira mau sekedar menyalami saja.
“Oh, baru saja dia berangkat. Mungkin masih di pangkalan angkutan.” Gamang, tapi mau apa lagi.
“O, ya sudah. Coba saya kejar dulu, tapi jangan lupa salamnya juga ya?”
“Ya, Mbak.” Lebih lemah dari angin lewat.
Sampai sore aku masih anjing yang melolong ngilu dengan lidah terpotong. Kau pasti ingat Silent Tongue. Begitu lepas Maghrib barulah aku bisa mengambil waktu buat menulis surat buatmu. Siapa tahu ingatanku tak cukup lengkap buat menceritakan semuanya padamu.
Hampir jam sepuluh suratku baru kelar. Kutunggu kau di pojok jalan itu. Kau datang juga akhirnya, sebelum gelas teh pertamaku tandas. Selebihnya kau tahu sendiri. Pulangnya, mungkin karena masih terpengaruh oleh gelibat rasa itu aku sempat lupa membawa motor pinjaman itu.
Siang ini setelah segelas kopi di warung Mak Mursinah, aku sempatkan diri ke warnet lagi. Mencari kabar dari semua lamaran kerja yang aku kirimkan, sambil mengirimkan beberapa tulisan. Kubaca pesan messenger darinya, minta dicarikan disketnya yang kemarin ketinggalan. Dia berjanji akan datang lagi tanggal 26. Lalu kukirimkan isi disketnya lewat e-mail. Biar dia bisa lebih cepat bekerja, pikirku.
Salah satu isi disket itu sebuah file.foto kiriman dari seorang lelaki bule yang terlihat sedang dipeluknya dari belakang. Dia sendiri tersenyum bangga dengan topi bagus workcampnya, tanpa pakaian lengkapnya. Tak ada kerudung senja di sana. Betapa sempurna mimpi burukku. 080204
Tiba-tiba dia datang, membawa tas punggung besar dan seonggok kelelahan dari lorong gelap pondokanku. Salam pertemuan menampar kesadaranku dan mengantar kami ke jalan depan. Lalu menikung ke meja penerimaan wisma tamu BKKBN.
Aku tak terlalu ambil perduli pada beberapa mata yang melempar prasangka. Waktu penerima tamu itu mengambilkan kunci kamar, dia mulai angkat bicara.
“Harusnya aku dapat layanan gratis di sini.” Matanya menatapku lekat, aku tak bereaksi. “Aku ‘kan, Pengda PKBI.” Sahutnya pada kelambananku.
“Apa itu?”
“Pengurus daerah.”
“Apa itu PKBI?”
“Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia.”
Kusadari, otakku ternyata lamban. Semula kukira itu semacam perkumpulan para peminat bahasa. Bodoh memang. Kamar no. 20 ada di lantai dua. Tanpa tivi dan ac. Sebuah kipas angin duduk digantung terjungkir pada dinding di atas salah satu ranjang. Dia mulai melolosi diri dan kuikuti iramanya. Dengan caranya sendiri, dia minta kipas diputar sedang saja dan mengarah penuh kepadanya. Dia masih hapal kalau aku alergi kipas angin, membuatku sulit tidur. Kecuali mungkin beberapa yang lekat dengan tubuhku.
“Aku sampai lupa wajahmu.” Matanya terus saja seperti mencari-cari sesuatu di mukaku. Sesaat kemudian kamar mulai meriah dengan cerita-cerita dan kejengkelannya. Terutama kejengkelannya pada sikapku yang selalu tak acuh. Ditunjukkannya hampir semua hal yang dirasa bisa membuatku kaget atau terkesima untuk kembali kecewa sendiri. Sebab pikiranku masih dipenuhi kebingungan dengan kedatangannya ini. Aku tidak sedang memegang uang, sepeser pun tidak. Aku berpikir keras mencari cara untuk bisa menelponmu. Tapi kemudian pikiranku larut dalam permainan kami.
Betapa pun aku masih seorang suami yang cukup normal dan ingin membuatnya senang, setidaknya dalam permainan ini dengan sepenuh rasa. Aku jeri memikirkannya, kalau-kalau kami melakukan ini sebatas karena hubungan suami-isteri. Aku mau melakukannya dengan jujur. Dan aku mau, dia menangkap dengan jelas kejujuran itu.
“Aku akan keluar.” Cetusku akhirnya, setelah dia mulai disapu kantuk berat. “Mau cari makan dan telpon Ary.”
“Tak perlu telpon Ary. Besok saja, aku terlalu capek buat ketemu teman-teman.” Katanya lemah.
“Tadi katanya mau ketemu Ary. Bagaimana nanti kauceritakan pertemuan kalian pada Esti?” Kusebut nama teman barunya yang katanya sangat tergila-gila kepadamu itu, biar aku ada alasan yang pantas kalau misalkan nanti kau datang. “Ya sudahlah. Kalau begitu aku beli makan saja.”
Kubiarkan dia pulas dengan polosnya. Apakah setiap orang tidur selalu polos mirp bayi? Entahlah, tapi menurutku begitulah dia. Sedang mereka yang hidup melangkah tanpa kejujuran seperti yang sudah dijanjikan. Di wartel depan wisma aku sudah menelponmu. Sedang sibuk rupanya, maaf mengganggu.
Di warung kopi Pak Sodik ada beberap teman, sebagian yang sudah tahu segera main mata dan kata. Aku tanggapi ringan-ringan saja. Sepulang beli rokok dan shampoo aku jalan ke pondokan mengambil beberapa barang yang kami perlukan. Cari makan dan balik ke wisma tamu. Aku balik ke kamar dengan keyakinan bahwa kau akan datang malam ini di sini.
Tergopoh-gopoh dari mimpi dia bukakan pintu. Sambil tiduran diawasinya segala gerak-gerikku. Seperti mau meyakinkan ingatannya padaku. Melihat aku khusyuk dengan makananku – mungkin kelihatan seperti orang kelaparan – dia geleng kepala pelahan lalu minta disuapi. Minum sedikit kopi dan bersandar pada bantal lagi.
Sekarang semuanya rapi, aku tinggal mengisap sebatang rokok dan menunggu kau datang. Biasanya deadline antara jam satu sampai jam dua, bukan? Dia sudah pulas lagi, setelah lelah menceritakan pengalaman dan teman-temannya di Korea dan Jepang sambil kupijati. Tinggal aku sekarang yang gelisah menunggu-nunggu.
Setiap kudengar suara motor dengan gema tertentu aku jadi berharap-harap cemas. Beberapa lama aku cuma termangu-mangu. Tapi kau belum datang juga. Lemas oleh irama yang hampir setahun lewat tak kami rasakan itu dan oleh kecemasanku sendiri, kubawa langkah-langkah kecil menuju ruang tivi. Dari salah satu saluran yang ada, kunikmati suguhan Dangerous Beauty. Kuikuti dua pertiga film itu sampai muncul teks Warner Bros. Tanda-tanda kedatanganmu masih tak tercium. Aku pun masuk kamar. Lalu kuembus-embuskan permainan baru, sekali lagi, lebih bersemangat lagi. Malam ini benar-benar penuh kejutan melelahkan.
Karena jendela menghadap ke timur, maka pagi kami pun terasa sangat cerah. Biar pun mendung, tapi siraman cahayanya bisa membuat mataku perih. Semalaman aku sulit tidur, karena tidur tanpa selimut di bawah kipas angin keparat itu. Demi setan atau jembalang, sarungku dipakainya menguasai ranjang sebelah semalaman.
Aku segera bangkit dan pergi mandi, seperti disengat ingatan yang tajam bahwa aku harus menukar 20 dollarnya ke money changer. Keliling di beberapa tempat, dua lembar puluhan dollar itu baru bisa tertukar. Waktu kembali dia sudah keluar dari wisma dan sibuk meladeni pertanyaan beberapa teman soal kesibukannya selama ini. Selesai makan dia minta waktu buat bicara. Kali ini pasti masalah lama kami.
Benar juga, dia minta kejelasan rencana kami. Tapi mau bicara dimana? Bahkan di kamar pondokanku pun tak ada privasi. Kami cari-cari tempat, akhirnya malah ke warnet perpustakaan kampus.
“Kita ini sudah gila rupanya.” Suaraku seperti angin lalu, seperti mau bicara sendiri. Kami main di meja masing-masing.
“Kenapa cemberut?” aku sudah selesai dan duduk di sebelah kursinya.
“Kamu ini keterlaluan.” Dia mulai menahan sesuatu di matanya. “Aku jauh-jauh datang ke sini, dan kita cuma nge-net.” Aku tak bisa menjawab lagi.
Keluar dari warnet, kami putuskan buat cari makan. Biasanya, kalau sambil makan obrolan kami jadi bisa santai, tanpa emosi berlebihan. Tapi aku memang keparat, bahkan tempat makan pun aku sudah tak mengenalnya. Akhirnya kami cuma melahap tahu-telor si gondrong di pojok jalan depan gerbang barat kampus kita.
“Jadi, kamu nggak bisa bantu kiriman buatku sampai lulus nanti?” Matanya mengamat-amati tahu-telor di piringku.
“Ya...” Ini suapan yang tersisa dan leherku hampir tercekik tahu. “Kamu tahu soal itu.” Bukankah, harusnya dia lebih tahu soal mengatur keluarga dari pengalaman workcampnya.
Kami masih harus menelpon Ibu di kampung dan Eyang jauh dari garis Ibu, yang selama ini menampung dia di kotanya sekolah. Dari percakapan dengan Ibu dan Eyang, dia merasa dipersalahkan karena sering pergi tanpa pamit. Baik Eyang maupun Ibu mengeluhkannya juga kepadaku.
Ini jadi batu sandungan buatnya. Dia sudah terlalu sering, bahkan bisa dikata sejak kanak-kanak, berseberangan dengan pendapat dan sikap Ibu. Dan ini juga menjadi tekanan tambahan buatku.
Aku berusaha mendukungnya, sambil terus meyakinkan bahwa aku harus tetap berjalan di jalurku. Artinya, untuk sementara waktu, kami memang harus tahan hidup terpisah. “Aku berharap kita bisa bertahan sampai nanti.” Leherku mulai tercekat sesuatu yang pekat dan jarang kurasai. “Tapi kalau dalam perjalanannya nanti, kamu tidak tahan lagi, entah karena punya sandaran baru atau apa, aku tidak akan menghalangi jalanmu.”
Dia hanya mengalihkan pandangan pada dua bocah yang asyik main bola di rumputan sekitar tiang bendera depan bekas gedung rektorat.
“Setelah ini yang penting kamu jaga hubungan baik dengan keluarga, soal aku jangan terlalu dipikir dulu. Perihal Eyang Tyas dan Ibu, jangan terlalu dipikirkan lagi. Toh, kamu sudah sering beda pendapat dengan Ibu.” Suaraku putus-putus. “Kamu masih harus jalan jauh, hati-hati saja di jalan.”
Dia tetap bergeming. Ada benarnya juga. Toh, aku pun tak bisa berbuat lain, kecuali memberikan omongan. Didengar syukur, tak didengar pun sudah biasa.
Aku jengah. Bukan karena marah pada sikapnya, tapi aku benar-benar merasa tak tahu harus bagaimana lagi. Sulit juga menghadapi rasa salah laknatku, serumit jalinan rasa kami yang terkutuk ini.
“Kamu mau lihat aku nangis...” Putus lagi di leher, anjing!
“Nggak, kenapa?”
“Menurutku, lebih baik kamu berangkat sekarang.”
“Ya.” Dia pun bersiap.
Beberapa kali angkutan yang musti ditumpanginya lewat begitu saja di tengah kebisuan kami. Sampai akhirnya dia hentikan salah satunya. Dia cium tanganku sebagai tanda pamit dan kepatuhan. Sampai ketemu lagi, aku berjanji pada diri-sendiri.
Sekilas matanya leleh, jadi senja yang makin merah saga. Leher dan rahangku mengertap. Betapa aku telah membakar senja dan kilau keemasannya. Betapa kesrakat jalinan rasa ini. Betapa sempurna kebinatanganku lata. Berjalan memunggungi matahari aku adalah ular tak berjiwa. Datanglah, aku menunggumu.
Sebelum lebur rasa gelisah pekatku, sebuah motor datang. Bukan kau, melainkan seorang dosen yang dulu sangat akrab dengannya membonceng adiknya yang juga teman akrab dia. “Lho, gimana kabarnya adik saya?” Ah, ternyata berhenti juga. Padahal semula kukira mau sekedar menyalami saja.
“Oh, baru saja dia berangkat. Mungkin masih di pangkalan angkutan.” Gamang, tapi mau apa lagi.
“O, ya sudah. Coba saya kejar dulu, tapi jangan lupa salamnya juga ya?”
“Ya, Mbak.” Lebih lemah dari angin lewat.
Sampai sore aku masih anjing yang melolong ngilu dengan lidah terpotong. Kau pasti ingat Silent Tongue. Begitu lepas Maghrib barulah aku bisa mengambil waktu buat menulis surat buatmu. Siapa tahu ingatanku tak cukup lengkap buat menceritakan semuanya padamu.
Hampir jam sepuluh suratku baru kelar. Kutunggu kau di pojok jalan itu. Kau datang juga akhirnya, sebelum gelas teh pertamaku tandas. Selebihnya kau tahu sendiri. Pulangnya, mungkin karena masih terpengaruh oleh gelibat rasa itu aku sempat lupa membawa motor pinjaman itu.
Siang ini setelah segelas kopi di warung Mak Mursinah, aku sempatkan diri ke warnet lagi. Mencari kabar dari semua lamaran kerja yang aku kirimkan, sambil mengirimkan beberapa tulisan. Kubaca pesan messenger darinya, minta dicarikan disketnya yang kemarin ketinggalan. Dia berjanji akan datang lagi tanggal 26. Lalu kukirimkan isi disketnya lewat e-mail. Biar dia bisa lebih cepat bekerja, pikirku.
Salah satu isi disket itu sebuah file.foto kiriman dari seorang lelaki bule yang terlihat sedang dipeluknya dari belakang. Dia sendiri tersenyum bangga dengan topi bagus workcampnya, tanpa pakaian lengkapnya. Tak ada kerudung senja di sana. Betapa sempurna mimpi burukku. 080204
Kabut Ketakutan
Lapar. Itu saja yang kugelisahkan. Sepertinya tak ada soal lain lagi. Tiap kali perutku mulai berkeriut, bayangan-bayangan mengerikan mulai mengorek-korek ketakutanku yang lembab. Seperti bakal ada sosok paling menyeramkan yang siap menyergap belakang tengkukku. Sesudah bayangan-bayangan itu berkelebatan tak ada lagi yang bisa kuperbuat. Tiba-tiba tubuh kecilku yang biasanya lincah pun jadi lumpuh. Hanya diam, pasrah menunggu waktu.
Lamat-lamat kudengar detik jam bertingkah satu-satu. Jam beker milik Deny bertengger di atas meja yang penuh dengan perlengkapan militer kegemarannya. Deny memang bisa dibilang sebagai army-mania, maka wajar kalau tongkrongannya terlihat sangat army-look. Semula aku menganggapnya hanya seperti kebanyakan orang muda seumurnya. Tapi setelah menumpang tinggal di rumah petak kontrakannya, yang persis kandang ayam ini, barulah aku tahu benar kalau Deny bukan sekadar mau kelihatan jantan dengan dandanan ala tentara itu.
Deny memang gila, tergila-gila tepatnya, pada segala yang berbau tentara. Deny pernah mendaftarkan diri sebagai perwira, tapi gagal karena ada lubang di gerahamnya. Tak cuma pakaian seragam, kaos oblong dan sepatu lars yang dia punya. Perlengkapan lain dia punya, termasuk sebuah teropong dari jaman perang pun disimpannya. Dan semuanya kini mengurungku di ruang tengah yang mirip kamp konsentrasi ini. Di atas kasur busaku tergelar jala hijau tua yang seperti mau menjerat kelaparanku.
Kulirik pullbed hijaunya buat mengalihkan mata dari jam beker sialan itu. Jarum-jarum jam doreng itu makin lama makin bertingkah layaknya bayonet menyudet-sudet perutku. Kulirik terus sambil merutuki kebodohan arti sebuah harga diri berlebihan.
“Kenapa tadi tak pinjam saja padanya?” Bayangan Addek, perempuan berwajah mungil yang kini lengket denganku, berkelebat dan tersenyum lucu seperti tarian kupu-kupu liar di antara kelopak-kelopak mawar yang sedang mekar dan duri-duri segarnya mencakar perutku.
Tapi, aku belum pernah sekali pun meminjam uang pada perempuan. Sekalipun sudah melewati banyak hal bersama dalam enam bulan terakhir ini, dari satu tahun perkenalan kami, bukan berarti aku bisa dengan gampang bilang kalau mau pinjam uang kepadanya. Sekalipun aku tahu benar kalau jatah bulananku tandas setelah menemaninya jalan-jalan seharian. Jadilah aku tertidur di bawah kabut ketakutan pada para agen-agen perut yang dalam bayangan tampak begitu beringas buat merenggut nyawaku, meski tidak sesadis gambaran yang pernah kudengar dari rintihan panjang Kenyut Plekenyun.
Lelap. Bersama bayonet jam beker keparat dan ingatan lamur pada kisah seorang penulis Jepun. Pada bagian akhir kisahnya tertulis bahwa...
Akuranggawa dipandang sebagai seorang sastrawan terkemuka di Jepun. Banyak yang menganggapnya sebanding dengan Gus tf. Faustnerd, penulis Galia yang terkenal dengan novelnya Mama Bonary. Karya Akuranggawa yang terkenal antara lain:.....
Ia meninggal pada tanggal 24 Juli 1927 karena bunuh diri. Sebab-sebabnya tak dapat diketahui, walaupun ia sendiri pernah mengatakan –seandaianya ia bunuh diri– adalah karena kabut ketakutan.
......Aku takut bahwa malam akan membinasakan diriku yang sekarang dan mengubahka menjadi seorang pembunuh celaka. Membayangkan saat tangan ini menjadi merah tua oleh darah! Kutukan macam apa yang nanti bakal menimpa diriku! Dadaku takkan begitu teriris nyeri andai saja aku membunuh seorang musuh yang kubenci. Tapi, malam ini aku harus membunuh seorang lelaki yang tak kubenci........
Orang boleh tak tahu sebab Akuranggawa membunuh dirinya sendiri pada hari ke-23 bulan ke-4 dan tahun ke-35 masa hidupnya, tapi sedikitnya aku yakin bahwa ini bukannya sebuah kebetulan. Sebab 45 tahun sesudahnya, jiwa ketakutan itu menghidupi janin kel-5 dalam perut Ibu, tanggal 22 Juli 1972. Mungkin, sebab aku sendiri tak terlalu yakin dengan tanggal lahirku.
Perihal penggalan tulisan Akuranggawa itu mungkin semacam pernyataan pribadi. Tapi, malam telah mengubahnya jadi bisikan-bisikan tajam di telingaku yang mendadak diserang demam. Dan setiap kali demam begini, aku selalu dilimpahi mimpi-mimpi yang tak kumengerti.
Serombongan tentara musuh memburuku seperti binatang. Teriakan-teriakan keras, derap sepatu lars, dan ancaman kematian benar-benar membidikku sebagai binatang. Sampai menyelami sungai-sungai yang mengalir deras. Dalam arus hijau lumut yang menghimpit aku masih binatang buruan, binatang malam. Di belakang, tentara kuning terus merangsek. Mengejar tanpa ampun.
Malam juga yang selalu menyambung hidupku. Di tengah perburuan itu mataku lemah menyala dengan nafas terengah-engah. Di antara seperangkat alat perangnya Deny pada meja, masih bertengger jam beker dengan jarum-jarum bayonet itu. Dua seperempat, belum setengah jam sejak aku terlelap kengerian mimpi sendiri. Kasur busa ini menyerap hampir seluruh tubuhku. Basah keringat membentuk garis tubuh yang terbenam dalam-dalam. Leherku tercekat hawa panas yang sangat mencekik.
Di sudut meja perkakas Deny, dekat lubang keluar tanpa daun pintu itu, berjejer jerigen-jerigen air. Aku tak yakin apakah air itu sudah dimasak di atas kompor serba-gunanya atau belum. Seharian Deny tak di rumah dan kompor batu-bata yang sekaligus tempat pembakaran sampah, pengering jemuran di lorong rumah, dan pengusir nyamuk itu sama sekali belum kugunakan. Aku malas menyalakan kompor dan memilih menyerahkan masalah gorong-gorong tenggorokku ini pada air ledeng dalam jerigen yang biasa dibawa Deny dari kamar mandi kampus. Siapa tahu juga dengan begini agen-agen perubahan dalam perutku bisa diredam.
Seekor ayam jago berkoar-koar di kejauhan, disahuti ayam-ayam jago lainnya. Seorang anak tetangga merengek, mungkin terbangun dari mimpi buruk sepertiku. Setengah jerigen air memasuki lambungku yang masih teriris-iris. Lemas oleh dehidrasi berlebihan kucoba meringkuk lagi.
Tapi, pikiranku sama sekali tak berperasaan. Dalam keadaan begini malah mengajak jalan-jalan mencari asalnya mimpi-mimpi bejat yang datang setiap kali demam menyerang. Ingatanku membawakan adegan-adegan demam waktu kecil dulu. Waktu menu makanku berubah jadi bubur gurih atau nasi pecel dari sekadar nasi bergaram atau berkecap saja. Juga pada waktu-waktu demam yang lain ketika tidurku disatroni makhluk-makhluk kuning berseragam perang. Memburu dalam hutan, sawah, dan sungai-sungai yang dalam.
Menyelami sungai itu lagi di antara lumut, batu, dan ikan, mengantarku ke sebuah telaga anakan. Menyembulkan kepala, segera kuambil nafas sebanyak-banyaknya. Kusadari benar sekelilingku. Ini bukan telaga anakan, lebih tepatnya sebuah kolam yang mengurai diri lewat celah bawah tanah yang semula kukira sebatang sungai yang teramat dalam. Entah dimana mata airnya, yang kutahu di depan sana terdapat jembatan yang melengkungkan punggung ke arah sebuah paseban. Lalu sebuah rumah kayu jauh di belakangnya. Di atas, langit tampak biru di sela daun-daun sakura dengan rerumpun bunga yang sedang mekar. Batang pohonnya nampak tua dan kokoh di belakang rumah kayu itu.
“Keindahan.” Pikiranku nganga. “Dan aku ada di dalamnya.”
Aku segera melompat ke jembatan dan hampir mencapai lidah tangga paseban waktu para pemburu itu sigap mengurungku. Semua membawa pedang panjang bermata satu. Seorang dari mereka menatapku dengan pandangan mata srigala.
“Boleh saja kau memilih lari ke rumah ibumu.” Seringai tajamnya mengeluarkan desis yang tak kupahami. “Tapi kau tetap harus mati.”
Kuawasi sekelilingku, gerakan mereka satu per satu. Kuperhatikan mata pedang mereka berkilatan ditimpa selarat cahaya matahari yang sempat menembus daun-daun, bunga, dan rerantingan di atas sana. Kilatan tajam mata pedang dan kilau cahaya pada kolam, menyadarkan mata pada tubuhku. Jubah berlengan panjang warna gading membungkusku. Dan waktu sekilas kulihat bayangannya di atas kolam, tampaklah peci menjulang berpangku pada helai-helai rambutku yang terurai sampai ke pinggang. Saat itu aku mengira kalau parasku lebih cantik dari tampan.
“Seppuku!” Seringai itu melemparkan sebuah pedang sepanjang lengan ke lantai kayu jembatan. “Sebagai lelaki kau harus menerima ini.”
Sekalipun tak mengerti bahasa kuningnya, dengan melemparkan pedang ini pun aku bisa tahu kalau dia menyuruhku mati. Kematian di tengah keindahan, bagus juga. Tapi, tanpa perduli pada siapa pun yang telah meminjamkan takdir dengan tubuh cantiknya ini aku tak mau terima begitu saja kematianku.
“Tidak.” Kuawasi lagi sekelilingku, setelah melemparkan kata yang tak kupahami sendiri maksudnya. “Aku tak akan mati....”
Tiba-tiba mereka merangsek ke arahku. Seketika kusapukan barang yang sedari tadi cuma kurasai saja gagang kayunya. Rupanya cuma selembar kipas besar bersepuh warna biru dan sebaris aksara yang tak kumengerti tertera di dadanya. Lalu angin menderu. Daun-daun dan rerumpun bunga bergoyang dari keagungannya dan menebar diri ke sini seperti mau mengubur sebuah mimpi.
Waktu berjalan dalam kerjapan mata tanpa cahaya. Waktu kubuka mata terasa sekali tubuhku tinggal remah-remah dan seperti sedang berayun-ayun di antara ombak-ombak besar. Jerit ketakutan dan decak beberapa mulut terdengar samar. Tanpa sisa, tubuh kecilku sekarang terhampar di atas papan kayu berbalut selembar pakaian usang. Sebuah kamar kayu aku tahu dan aku pun sadar ini di atas lautan, cukup dengan menandai rasa mualnya yang khas ini.
“Minggir! Minggir....” Seorang lelaki setengah baya menyeruak kerumunan. “Pergi! Pergi!!! Aku akan melindunginya dengan nyawaku. Dia sakit, belum lagi mati. Kalian jangan harap bisa memangsanya.”
“Dia cuma penumpang gelap...” Seorang lelaki lain berdecak dengan suara parau dalam bahasa orang-orang perahu.
“Tidak! Tidakkah kalian sadar kalau kita juga penumpang gelap di laut ini?”
“Tapi, dia ini lain dari kita...”
“Tidak. Kita semua sama. Aku tahu, kalian bisa gila karena lapar dan haus ini. Tapi tidak begini caranya....tidak....” Tiba-tiba suara lelaki paruh baya itu melemah. Aku cuma bisa mendengarkan dari kegelapan, tubuhku sudah terlalu lemah buat semua ini. Terlalu lemah, juga buat mencari jawab atas perpindahanku dari tentara kuning ke perahu ini. Terlalu lemah buat menyadari kepergian kerumunan itu satu per satu.
“Air.” Bahkan terlalu lemah buat mengenali kata-kataku sendiri.
Lelaki paruh baya itu terhenyak dari kelemahannya sendiri. Mengangkat kepalanya dari papan kayu tempat tubuhku tergelar ini. Sejenak menatapku dengan pandangan kosong, lalu mengerjap kaku.
“Kau sudah sadar? Kau bilang air?” Mata itu makin tak bisa dipercaya. “Kau ini, sebangsa kami juga rupanya.....”
Mata cerah itu mulai menengok ke bawah, pada botol di genggamannya. Beberapa saat dia ragu, tapi kemudian menyodorkannya juga.
“Sudah beberapa hari ini kami kehabisan bekal. Air terakhir sudah habis kemarin.” Mata cerah itu menerawang di tengah ayunan gelombang. “Ini mau kuberikan pada anak-anakku. Tapi kalau kau mau, minumlah sedikit...”
Lalu dia ceritakan dua anaknya. Kematian isterinya di laut ini, akibat wabah malaria. Kematian beberapa awak lain. Peristiwa pembakaran daging teman yang sakit keras saat mereka terdampar di sebuah pulau liar, karena lapar tak tertahankan. Dia sendiri seorang dokter yang ikut melarikan diri dari negerinya. Di dera wabah penyakit, kelaparan dan rasa haus yang mencekam lelaki ini mencoba bertahan. Barusan anak-anaknya mengeluh kehausan. Sebagian temannya nekad minum air laut dan mati tercekik sendiri. Diam-diam di ujung buritan, jauh dari jangkauan mata anak-anaknya, dia paksakan diri mengeluarkan urine yang tersisa.
“Minumlah.” Bisiknya seperti angin laut yang mengambang di udara berkabut. “Jangan mati karena lapar dan haus....”
Kukuatkan diri meneguknya sambil menutup jalan udara di tenggorokan. Aromanya mungkin mengganggu, tapi sebagian orang percaya pada adanya terapi air seni. Tapi tetap harus menyisakannya buat kedua orang anak dokter ini.
Kupejamkan mata lagi setelah lelaki itu keluar dari kamar. Aku mau secepatnya keluar dari kamar ini. Aku mau segera meninggalkan ayunan ombak memabukkan ini. Aku mau melompat dari bau tajam yang mengambang dalam mulutku. Aku mau meninggalkan kabut ketakutan ini. Aku masih terapung-apung waktu terdengar suara gedoran-gedoran keras pada pintu. Semakin keras, makin mendorong tubuh lemasku ke arahnya.
“Tidak kuliah?” Suara perempuan berkaca-mata kecil itu masih dengan nada tinggi setelah berteriak-teriak barusan. Kali di depan kontrakan Deny menyebarkan aroma yang khas. “Kau sakit?”
Ampun, jangan bawa aku kemana pun hari ini.
100204
Lapar. Itu saja yang kugelisahkan. Sepertinya tak ada soal lain lagi. Tiap kali perutku mulai berkeriut, bayangan-bayangan mengerikan mulai mengorek-korek ketakutanku yang lembab. Seperti bakal ada sosok paling menyeramkan yang siap menyergap belakang tengkukku. Sesudah bayangan-bayangan itu berkelebatan tak ada lagi yang bisa kuperbuat. Tiba-tiba tubuh kecilku yang biasanya lincah pun jadi lumpuh. Hanya diam, pasrah menunggu waktu.
Lamat-lamat kudengar detik jam bertingkah satu-satu. Jam beker milik Deny bertengger di atas meja yang penuh dengan perlengkapan militer kegemarannya. Deny memang bisa dibilang sebagai army-mania, maka wajar kalau tongkrongannya terlihat sangat army-look. Semula aku menganggapnya hanya seperti kebanyakan orang muda seumurnya. Tapi setelah menumpang tinggal di rumah petak kontrakannya, yang persis kandang ayam ini, barulah aku tahu benar kalau Deny bukan sekadar mau kelihatan jantan dengan dandanan ala tentara itu.
Deny memang gila, tergila-gila tepatnya, pada segala yang berbau tentara. Deny pernah mendaftarkan diri sebagai perwira, tapi gagal karena ada lubang di gerahamnya. Tak cuma pakaian seragam, kaos oblong dan sepatu lars yang dia punya. Perlengkapan lain dia punya, termasuk sebuah teropong dari jaman perang pun disimpannya. Dan semuanya kini mengurungku di ruang tengah yang mirip kamp konsentrasi ini. Di atas kasur busaku tergelar jala hijau tua yang seperti mau menjerat kelaparanku.
Kulirik pullbed hijaunya buat mengalihkan mata dari jam beker sialan itu. Jarum-jarum jam doreng itu makin lama makin bertingkah layaknya bayonet menyudet-sudet perutku. Kulirik terus sambil merutuki kebodohan arti sebuah harga diri berlebihan.
“Kenapa tadi tak pinjam saja padanya?” Bayangan Addek, perempuan berwajah mungil yang kini lengket denganku, berkelebat dan tersenyum lucu seperti tarian kupu-kupu liar di antara kelopak-kelopak mawar yang sedang mekar dan duri-duri segarnya mencakar perutku.
Tapi, aku belum pernah sekali pun meminjam uang pada perempuan. Sekalipun sudah melewati banyak hal bersama dalam enam bulan terakhir ini, dari satu tahun perkenalan kami, bukan berarti aku bisa dengan gampang bilang kalau mau pinjam uang kepadanya. Sekalipun aku tahu benar kalau jatah bulananku tandas setelah menemaninya jalan-jalan seharian. Jadilah aku tertidur di bawah kabut ketakutan pada para agen-agen perut yang dalam bayangan tampak begitu beringas buat merenggut nyawaku, meski tidak sesadis gambaran yang pernah kudengar dari rintihan panjang Kenyut Plekenyun.
Lelap. Bersama bayonet jam beker keparat dan ingatan lamur pada kisah seorang penulis Jepun. Pada bagian akhir kisahnya tertulis bahwa...
Akuranggawa dipandang sebagai seorang sastrawan terkemuka di Jepun. Banyak yang menganggapnya sebanding dengan Gus tf. Faustnerd, penulis Galia yang terkenal dengan novelnya Mama Bonary. Karya Akuranggawa yang terkenal antara lain:.....
Ia meninggal pada tanggal 24 Juli 1927 karena bunuh diri. Sebab-sebabnya tak dapat diketahui, walaupun ia sendiri pernah mengatakan –seandaianya ia bunuh diri– adalah karena kabut ketakutan.
......Aku takut bahwa malam akan membinasakan diriku yang sekarang dan mengubahka menjadi seorang pembunuh celaka. Membayangkan saat tangan ini menjadi merah tua oleh darah! Kutukan macam apa yang nanti bakal menimpa diriku! Dadaku takkan begitu teriris nyeri andai saja aku membunuh seorang musuh yang kubenci. Tapi, malam ini aku harus membunuh seorang lelaki yang tak kubenci........
Orang boleh tak tahu sebab Akuranggawa membunuh dirinya sendiri pada hari ke-23 bulan ke-4 dan tahun ke-35 masa hidupnya, tapi sedikitnya aku yakin bahwa ini bukannya sebuah kebetulan. Sebab 45 tahun sesudahnya, jiwa ketakutan itu menghidupi janin kel-5 dalam perut Ibu, tanggal 22 Juli 1972. Mungkin, sebab aku sendiri tak terlalu yakin dengan tanggal lahirku.
Perihal penggalan tulisan Akuranggawa itu mungkin semacam pernyataan pribadi. Tapi, malam telah mengubahnya jadi bisikan-bisikan tajam di telingaku yang mendadak diserang demam. Dan setiap kali demam begini, aku selalu dilimpahi mimpi-mimpi yang tak kumengerti.
Serombongan tentara musuh memburuku seperti binatang. Teriakan-teriakan keras, derap sepatu lars, dan ancaman kematian benar-benar membidikku sebagai binatang. Sampai menyelami sungai-sungai yang mengalir deras. Dalam arus hijau lumut yang menghimpit aku masih binatang buruan, binatang malam. Di belakang, tentara kuning terus merangsek. Mengejar tanpa ampun.
Malam juga yang selalu menyambung hidupku. Di tengah perburuan itu mataku lemah menyala dengan nafas terengah-engah. Di antara seperangkat alat perangnya Deny pada meja, masih bertengger jam beker dengan jarum-jarum bayonet itu. Dua seperempat, belum setengah jam sejak aku terlelap kengerian mimpi sendiri. Kasur busa ini menyerap hampir seluruh tubuhku. Basah keringat membentuk garis tubuh yang terbenam dalam-dalam. Leherku tercekat hawa panas yang sangat mencekik.
Di sudut meja perkakas Deny, dekat lubang keluar tanpa daun pintu itu, berjejer jerigen-jerigen air. Aku tak yakin apakah air itu sudah dimasak di atas kompor serba-gunanya atau belum. Seharian Deny tak di rumah dan kompor batu-bata yang sekaligus tempat pembakaran sampah, pengering jemuran di lorong rumah, dan pengusir nyamuk itu sama sekali belum kugunakan. Aku malas menyalakan kompor dan memilih menyerahkan masalah gorong-gorong tenggorokku ini pada air ledeng dalam jerigen yang biasa dibawa Deny dari kamar mandi kampus. Siapa tahu juga dengan begini agen-agen perubahan dalam perutku bisa diredam.
Seekor ayam jago berkoar-koar di kejauhan, disahuti ayam-ayam jago lainnya. Seorang anak tetangga merengek, mungkin terbangun dari mimpi buruk sepertiku. Setengah jerigen air memasuki lambungku yang masih teriris-iris. Lemas oleh dehidrasi berlebihan kucoba meringkuk lagi.
Tapi, pikiranku sama sekali tak berperasaan. Dalam keadaan begini malah mengajak jalan-jalan mencari asalnya mimpi-mimpi bejat yang datang setiap kali demam menyerang. Ingatanku membawakan adegan-adegan demam waktu kecil dulu. Waktu menu makanku berubah jadi bubur gurih atau nasi pecel dari sekadar nasi bergaram atau berkecap saja. Juga pada waktu-waktu demam yang lain ketika tidurku disatroni makhluk-makhluk kuning berseragam perang. Memburu dalam hutan, sawah, dan sungai-sungai yang dalam.
Menyelami sungai itu lagi di antara lumut, batu, dan ikan, mengantarku ke sebuah telaga anakan. Menyembulkan kepala, segera kuambil nafas sebanyak-banyaknya. Kusadari benar sekelilingku. Ini bukan telaga anakan, lebih tepatnya sebuah kolam yang mengurai diri lewat celah bawah tanah yang semula kukira sebatang sungai yang teramat dalam. Entah dimana mata airnya, yang kutahu di depan sana terdapat jembatan yang melengkungkan punggung ke arah sebuah paseban. Lalu sebuah rumah kayu jauh di belakangnya. Di atas, langit tampak biru di sela daun-daun sakura dengan rerumpun bunga yang sedang mekar. Batang pohonnya nampak tua dan kokoh di belakang rumah kayu itu.
“Keindahan.” Pikiranku nganga. “Dan aku ada di dalamnya.”
Aku segera melompat ke jembatan dan hampir mencapai lidah tangga paseban waktu para pemburu itu sigap mengurungku. Semua membawa pedang panjang bermata satu. Seorang dari mereka menatapku dengan pandangan mata srigala.
“Boleh saja kau memilih lari ke rumah ibumu.” Seringai tajamnya mengeluarkan desis yang tak kupahami. “Tapi kau tetap harus mati.”
Kuawasi sekelilingku, gerakan mereka satu per satu. Kuperhatikan mata pedang mereka berkilatan ditimpa selarat cahaya matahari yang sempat menembus daun-daun, bunga, dan rerantingan di atas sana. Kilatan tajam mata pedang dan kilau cahaya pada kolam, menyadarkan mata pada tubuhku. Jubah berlengan panjang warna gading membungkusku. Dan waktu sekilas kulihat bayangannya di atas kolam, tampaklah peci menjulang berpangku pada helai-helai rambutku yang terurai sampai ke pinggang. Saat itu aku mengira kalau parasku lebih cantik dari tampan.
“Seppuku!” Seringai itu melemparkan sebuah pedang sepanjang lengan ke lantai kayu jembatan. “Sebagai lelaki kau harus menerima ini.”
Sekalipun tak mengerti bahasa kuningnya, dengan melemparkan pedang ini pun aku bisa tahu kalau dia menyuruhku mati. Kematian di tengah keindahan, bagus juga. Tapi, tanpa perduli pada siapa pun yang telah meminjamkan takdir dengan tubuh cantiknya ini aku tak mau terima begitu saja kematianku.
“Tidak.” Kuawasi lagi sekelilingku, setelah melemparkan kata yang tak kupahami sendiri maksudnya. “Aku tak akan mati....”
Tiba-tiba mereka merangsek ke arahku. Seketika kusapukan barang yang sedari tadi cuma kurasai saja gagang kayunya. Rupanya cuma selembar kipas besar bersepuh warna biru dan sebaris aksara yang tak kumengerti tertera di dadanya. Lalu angin menderu. Daun-daun dan rerumpun bunga bergoyang dari keagungannya dan menebar diri ke sini seperti mau mengubur sebuah mimpi.
Waktu berjalan dalam kerjapan mata tanpa cahaya. Waktu kubuka mata terasa sekali tubuhku tinggal remah-remah dan seperti sedang berayun-ayun di antara ombak-ombak besar. Jerit ketakutan dan decak beberapa mulut terdengar samar. Tanpa sisa, tubuh kecilku sekarang terhampar di atas papan kayu berbalut selembar pakaian usang. Sebuah kamar kayu aku tahu dan aku pun sadar ini di atas lautan, cukup dengan menandai rasa mualnya yang khas ini.
“Minggir! Minggir....” Seorang lelaki setengah baya menyeruak kerumunan. “Pergi! Pergi!!! Aku akan melindunginya dengan nyawaku. Dia sakit, belum lagi mati. Kalian jangan harap bisa memangsanya.”
“Dia cuma penumpang gelap...” Seorang lelaki lain berdecak dengan suara parau dalam bahasa orang-orang perahu.
“Tidak! Tidakkah kalian sadar kalau kita juga penumpang gelap di laut ini?”
“Tapi, dia ini lain dari kita...”
“Tidak. Kita semua sama. Aku tahu, kalian bisa gila karena lapar dan haus ini. Tapi tidak begini caranya....tidak....” Tiba-tiba suara lelaki paruh baya itu melemah. Aku cuma bisa mendengarkan dari kegelapan, tubuhku sudah terlalu lemah buat semua ini. Terlalu lemah, juga buat mencari jawab atas perpindahanku dari tentara kuning ke perahu ini. Terlalu lemah buat menyadari kepergian kerumunan itu satu per satu.
“Air.” Bahkan terlalu lemah buat mengenali kata-kataku sendiri.
Lelaki paruh baya itu terhenyak dari kelemahannya sendiri. Mengangkat kepalanya dari papan kayu tempat tubuhku tergelar ini. Sejenak menatapku dengan pandangan kosong, lalu mengerjap kaku.
“Kau sudah sadar? Kau bilang air?” Mata itu makin tak bisa dipercaya. “Kau ini, sebangsa kami juga rupanya.....”
Mata cerah itu mulai menengok ke bawah, pada botol di genggamannya. Beberapa saat dia ragu, tapi kemudian menyodorkannya juga.
“Sudah beberapa hari ini kami kehabisan bekal. Air terakhir sudah habis kemarin.” Mata cerah itu menerawang di tengah ayunan gelombang. “Ini mau kuberikan pada anak-anakku. Tapi kalau kau mau, minumlah sedikit...”
Lalu dia ceritakan dua anaknya. Kematian isterinya di laut ini, akibat wabah malaria. Kematian beberapa awak lain. Peristiwa pembakaran daging teman yang sakit keras saat mereka terdampar di sebuah pulau liar, karena lapar tak tertahankan. Dia sendiri seorang dokter yang ikut melarikan diri dari negerinya. Di dera wabah penyakit, kelaparan dan rasa haus yang mencekam lelaki ini mencoba bertahan. Barusan anak-anaknya mengeluh kehausan. Sebagian temannya nekad minum air laut dan mati tercekik sendiri. Diam-diam di ujung buritan, jauh dari jangkauan mata anak-anaknya, dia paksakan diri mengeluarkan urine yang tersisa.
“Minumlah.” Bisiknya seperti angin laut yang mengambang di udara berkabut. “Jangan mati karena lapar dan haus....”
Kukuatkan diri meneguknya sambil menutup jalan udara di tenggorokan. Aromanya mungkin mengganggu, tapi sebagian orang percaya pada adanya terapi air seni. Tapi tetap harus menyisakannya buat kedua orang anak dokter ini.
Kupejamkan mata lagi setelah lelaki itu keluar dari kamar. Aku mau secepatnya keluar dari kamar ini. Aku mau segera meninggalkan ayunan ombak memabukkan ini. Aku mau melompat dari bau tajam yang mengambang dalam mulutku. Aku mau meninggalkan kabut ketakutan ini. Aku masih terapung-apung waktu terdengar suara gedoran-gedoran keras pada pintu. Semakin keras, makin mendorong tubuh lemasku ke arahnya.
“Tidak kuliah?” Suara perempuan berkaca-mata kecil itu masih dengan nada tinggi setelah berteriak-teriak barusan. Kali di depan kontrakan Deny menyebarkan aroma yang khas. “Kau sakit?”
Ampun, jangan bawa aku kemana pun hari ini.
100204
Bila Senja Membuka Hari
Mataku seperti pagi yang tak pernah sepi dari embun dan matahari. Ada cahaya keperakan yang tak sanggup terhapuskan dari sudut-sudutnya. Titik-titik cahaya yang akan terus terserap dan tersimpan di kedalamannya. Sampai nanti, sampai saat kereta ekonomi ini menyeret kami keluar lintas batas Jakarta. Ketika itu titik-titik keperakan ini akan meruap, tidak cepat tapi perlahan-lahan seperti uap air di jendela kaca kereta yang mulai dipanasi ufuk pagi. Berguliran saling-silang untuk kemudian hilang kembali ke udara busuk kota besar ini bersama angin tipis yang ditepis laju kereta.
“Selamat tinggal Ibukota........” Begitu gumamku di tengah sesak gerah para penumpang. Dan, seorang dari orang asing yang rupanya agak lama memperhatikan kami pun menyela.
“Mau kemana, Pak?” Pertanyaan basi yang menjadi luar biasa buat telingaku sebagai ajakan untuk bersama-sama meninggalkan tempat keberangkatan kami, cuaca keras Ibukota. Sejak itu aku sadar kalau di setiap tempat seperti itu orang selalu berkumpul dan bertanya menurut arah tujuan, dan bukan sebaliknya. Lupakan hari kemarin, yang lalu biarlah berlalu...
Sejak itu pula aku lupa atau berusaha melupakan untuk memberi tahu Bapak tentang semua yang kualami sebelum ini. Lupa pada pengalaman pertama berpuasa. Pada tugas sehari-hariku berbelanja ke pasar untuk berbuka dan makan sahur bagi keluarga semangku. Pada pukulan anak-anak mereka ketika bercanda dengan ukuran yang bukan lagi bercanda. Pada kesibukan pagi dan sore membersihkan saluran air, kamar mandi, dan wc dari kotoran yang tak pernah boleh kuperbuat di sana.
“Eh, kalau mau mandi atau apa, sana di belakang sana.” Kalimat panjang pertama yang pernah diberikan Pak Haji kepadaku. Pertama dan terakhir, selebihnya adalah perintah-perintah pendek yang butuh cepat dilaksanakan. Pertama, ya semuanya memang baru kali pertama kualami bersama tergusurnya keluargaku dan terpisah jarak dan waktu yang begitu panjang.
Sejak kecelakaan itu keadaan seperti tak pernah lelah memberikan ujian, atau tepatnya hukuman, pada keluargaku. Sekeluar dari Rumah Sakit Umum Serang kami tak punya waktu santai lagi di rumah kontrakan itu. Bapak tak bisa meraih pekerjaannya lagi. Pekerjaan yang baru lepas dari tangan Bapak adalah usaha patungan dengan rekanannya. Dan, PHK yang dialami Bapak kali ini benar-benar pemutusan hubungan kerja secara sepihak oleh rekanannya dengan alasan Bapak terlalu lama mangkir selama sakit. Bapak sudah berusaha menjelaskan masalahnya tapi Pak Hardian, rekanannya itu, tetap tak bisa menerima. Beberapa hari tekanan darah Bapak naik pesat tersandung masalah ini. Puncak penjelasan Bapak adalah melemparkan kursi lipat ke arah Pak Hardian dan meninggalkan kantor dengan sumpah serapah. Sementara seluruh tabungan keluarga sudah hampir terkuras untuk biaya pengobatan dan hidup sehari-hari.
Sudah tak kurang-kurang usaha Bapak buat mengembalikan keadaan. Bapak juga orangnya bisa tahan dan mau mencari pekerjaan lain. Juragan alat-alat peraga sekolah itu sempat menjadi sopir pribadi pada sebuah keluarga yang tak kuketahui. Sekalipun cuma bertahan tiga hari.
Waktu itu Bapak keluar tanpa permisi minta berhenti.
“Sopir kok disuruh nyuci mobil.” Omelan Bapak menandaskan kejengkelannya sore itu sepulang kerja pada Ibu. Ya, Ibu memang sering jadi tumpuan kemarahan Bapak, tak perduli pada siapa Bapak Marah. Dan rupanya kerelaan Ibu ini yang membuat perkawinan mereka bertahan sampai dua puluh lima tahun. Seperempat abad mereka hidup di atas pasang surut keadaan dan Ibu menjadi pendengar setia umpatan-umpatan Bapak sambil melahirkan sepuluh orang anak serta membesarkan mereka.
Sekolahku sudah mulai libur. Buku rapot hasil belajar sudah dibagikan tapi belum bisa diambil, karena itu berarti Bapak harus keluar biaya ekstra buat SPP yang mestinya cukup buat makan sekeluarga selama dua atau tiga hari. Jadi, aku dipaksa bisa terima oleh keadaan.
Juga aku masih bisa terima, waktu Bapak pada akhirnya tak mampu lagi melihat anak-anaknya kelaparan, sementara dia sendiri masih perlu makan buat tenaga mencari kerja. Sore itu semua anak dikumpulkan di ruang tamu sekaligus ruang tivi yang tak jarang jadi ruang makan. Sekilas kulihat mata Ibu yang sembab merah tembaga tapi tak bicara.
“Begini....” Sebentar Bapak berusaha menelan ludah. Ibu menyelinap ke belakang, mungkin mengambil air hangat buat Bapak. “Begini...Bapak, Bapak minta maaf sebab sudah ndak bisa menanggung hidup kalian lagi. Bapak benar-benar menyesalkan semua ini. Mungkin nanti kamu dan mbakmu akan Bapak titipkan pada satu atau dua keluarga.”
Mata Bapak sekilas mengalih pandangan dari tatapanku. Sementara aku sudah menyiapkan anggukan kepala yang mantap meski lemah, Mbakku sudah lebih dulu histeris. Keras, cukup keras, sambil matanya terus mencari-cari nada kebohongan dari suara Bapak dan mencari perlindungan dari kasih Ibu, semua ibu.
“Bagaimana, kamu siap?” Bapak minta penegasan.
“Ya, Pak.” Jawaban yang tak perlu diulur-ulur lagi. Tangis Mbakku meledakkan seisi rumah. Aku tertegun, tak yakin kalau semua ini bukan salah satu adegan dalam episode sepekan drama yang sedang diputar oleh TVRI.
“Nanti,” suara itu makin berat dan serak, “kalau Bapak sudah cukupan, kalian pasti Bapak ambil. Bapak tidak akan membiarkan kalian terpisah dari keluarga lagi.” Mata Bapak mulai merah seperti tempayan di atas tungku pembakaran. Mungkin juga ada tungku menyala-nyala dalam badan Bapak, pikirku menghibur diri. Kepalaku terangguk-angguk kecil sambil tersenyum tipis semanis senyum Presiden waktu itu.
Hasil keputusan keluarga itu memang tak terjadi. Bapak kemudian menjadi pelopor kepulangan keluarga ke kampung halaman, entah di kampung mana. Beberapa minggu keluarga kami hidup dari hasil penjualan segala barang dan perabot rumah tangga. Makanan seadanya menjadi benar-benar seadanya. Kadang tetangga yang berjualan nasi uduk memberi porsi yang jauh lebih banyak dari yang kami beli. Tak jarang tetangga belakang rumah – keluarga China yang punya depot, entah dimana – memberikan beberapa iris daging sejak tetangga itu mendengar tiupan recorderku seperti alunan lagu latar film silat mandarin berseri yang sedang mereka nikmati. Selama itu hubungan dalam keluarga jadi begitu peka. Semua merasa sebagai satu-satunya orang paling menderita di dunia. Pertengkaran bisa meledak dari soal-soal kecil saja. Kemarahan bisa berlangsung cepat, bisa juga sampai berhari-hari lamanya. Sampai di situ aku masih bisa tahan.
Baru ketika semua isi rumah terjual habis dan merasa cudah ada cukup bekal perjalanannya, maka Ibu minta semua anak membantunya mengemas barang yang perlu dibawa pulang. Semuanya pulang, kecuali aku yang sekali lagi diminta bisa menerima buat tinggal sementara di rumah Pak Haji pemilik rumah kontrakan kami. Aku sangat bisa menerima, sebab aku tahu Bapak belum lagi membayar sewa selama tiga bulan. Jadilah aku sebagai jaminan dan sebuah kebetulan akulah satu-satunya anak lelaki, selain si bungsu yang masih terlalu kecil, yang sudah cukup besar untuk bisa mengerti. Baru ketika itulah masalah sebenarnya datang mengendap-endap seperti wajah malaikat pencabut nyawa di malam buta.
Sebenarnya menjadi barang jaminan itu bukan masalah buat aku yang punya kepala dan tubuh lebih kecil dari ukuran anak-anak seumuran ini. Bukan soal bantu-membantu itu yang membuatku terguncang keras seperti terbanting ke batu cadas. Bukan, sekali-kali bukan karena saluran air, jalan-jalan sore ke pasar, atau anak-anak Pak Haji yang suka berlaku kasar itu.
Sejujurnya aku masih bersyukur bahwa permintaan Bapak pada pengertianku kali ini tidak terlalu parah. Aku pun merasa bersyukur masih ada sedikitnya dua orang dalam rumah itu yang cukup ramah dan bersikap melindungiku. Seorang yang pertama ialah Sida, gadis muda seumurku yang menetap di situ lebih sebagai pembantu daripada sebagai keponakan Bu Haji. Seorang gadis yang sewaktu keluargaku masih ada tak pernah kuperhatikan. Anak perempuan yang dulunya kadang terlalu berani kalau ketemu aku di jalan ini, pada hari-hari itu sering memberiku porsi tersendiri untuk makan. Satu-satunya masalah yang kerap diperbuatnya adalah memanas-panasi darah perjakaku sampai tersirap tiap kali baju tidurnya tersingkap, sebab kami menempati satu kamar bersama yang lain-lain juga. Dan, masalah seperti itu acap kali datang ketika jam tidur tiba.
Seorang lagi adalah anak sulung keluarga ini. Kakak kelas dua tingkat di SMP 45 ini selalu melindungiku dari ancaman adik-adiknya atau pun orang lain. Aku merasa benar-benar terlindungi sampai aku sadar kalau sikap Deden itu tak lebih dari usaha untuk menembakku, seperti pagi itu waktu dengan terpaksa mandi bersama di kamar mandi belakang rumah.
“Jangan bilang siapa-siapa. Kalau nyanyi gue bunuh lu...”
“Kenapa?” Kurutuki laknat ini. “Kenapa gak pakai Sida?”
“Hhh, ngeliatnya aja gue udah enegh.” Sambil terus menyampaikan hajadnya. Sementara aku tetap tak habis pikir, ujung-ujung alisku mengkerut dan bertemu di hidung. Sejak itu juga aku tak mudah percaya pada segala niat baik sebuah perlindungan.
Tapi, masih bukan itu yang membuatku merasa perlu mengorek keruh air mata dalam bening mata airnya. Bukan tembakan pagi hari yang mengalirkan benang-benang keperakan itu di atas pipi cekung ini. Soal macam itu buatku sudah bukan barang baru. Sebelumnya, tiga tahun lalu, saat masih di Blitar kegembiraan kelas IV SD-ku telah dikotori oleh tangan putih seorang Imam Belanda di balik bilik rumah pastori. Jadi sekali pun kusumpahi setengah mati, bukan semua itu yang mengalirkan sungai kecil di pipi.
Lebih dari semua ini. Lebih dari penghinaan dan ancaman pagi tadi aku telah ditampar kenyataan sore itu. Pulang belanja dari Pasar Cengkareng juga tidak membuatku terlalu payah, sebab jarak itu cuma setengah jarak dari rumah ke sekolah. Sepulang belanja macam-macam kebutuhan, saat senja membuka hari di Bulan Suci Tahun Rembulan ini, kulihat Bu Haji mendampingi Pak Haji istirahat di serambi muka. Waktu aku lewat dengan suara ringan Bu Haji menegur.
“Wo’, ‘tar kalau sampai lebaran bapak kamu nggak ke sini, kamu Ibu’ jual ya?” Sekilas Pak Haji melirik Bu Haji. Aku terpaku pada ubin licin di kakiku.
“Ya, Bu.” Aku tak punya pilihan. Ujung lidahku seperti cacing di ujung mata pancing. Seperti cacing kepanasan yang bergerak lamban mencari perlindungan, kuseret langkah menuju dapur tempat belanjaan harus diletakkan. Kepalaku berkunang-kunang mencari tempat menumpang dan menampung malam. Seribu berkunang-kunang di kepalaku begitu dihadang sekeping pertanyaan yang tersisa. Kapan Bapak datang menjemputku pulang? Pulang ke kampung halaman. Entah, kampung mana dan halaman siapa.
110204
Mataku seperti pagi yang tak pernah sepi dari embun dan matahari. Ada cahaya keperakan yang tak sanggup terhapuskan dari sudut-sudutnya. Titik-titik cahaya yang akan terus terserap dan tersimpan di kedalamannya. Sampai nanti, sampai saat kereta ekonomi ini menyeret kami keluar lintas batas Jakarta. Ketika itu titik-titik keperakan ini akan meruap, tidak cepat tapi perlahan-lahan seperti uap air di jendela kaca kereta yang mulai dipanasi ufuk pagi. Berguliran saling-silang untuk kemudian hilang kembali ke udara busuk kota besar ini bersama angin tipis yang ditepis laju kereta.
“Selamat tinggal Ibukota........” Begitu gumamku di tengah sesak gerah para penumpang. Dan, seorang dari orang asing yang rupanya agak lama memperhatikan kami pun menyela.
“Mau kemana, Pak?” Pertanyaan basi yang menjadi luar biasa buat telingaku sebagai ajakan untuk bersama-sama meninggalkan tempat keberangkatan kami, cuaca keras Ibukota. Sejak itu aku sadar kalau di setiap tempat seperti itu orang selalu berkumpul dan bertanya menurut arah tujuan, dan bukan sebaliknya. Lupakan hari kemarin, yang lalu biarlah berlalu...
Sejak itu pula aku lupa atau berusaha melupakan untuk memberi tahu Bapak tentang semua yang kualami sebelum ini. Lupa pada pengalaman pertama berpuasa. Pada tugas sehari-hariku berbelanja ke pasar untuk berbuka dan makan sahur bagi keluarga semangku. Pada pukulan anak-anak mereka ketika bercanda dengan ukuran yang bukan lagi bercanda. Pada kesibukan pagi dan sore membersihkan saluran air, kamar mandi, dan wc dari kotoran yang tak pernah boleh kuperbuat di sana.
“Eh, kalau mau mandi atau apa, sana di belakang sana.” Kalimat panjang pertama yang pernah diberikan Pak Haji kepadaku. Pertama dan terakhir, selebihnya adalah perintah-perintah pendek yang butuh cepat dilaksanakan. Pertama, ya semuanya memang baru kali pertama kualami bersama tergusurnya keluargaku dan terpisah jarak dan waktu yang begitu panjang.
Sejak kecelakaan itu keadaan seperti tak pernah lelah memberikan ujian, atau tepatnya hukuman, pada keluargaku. Sekeluar dari Rumah Sakit Umum Serang kami tak punya waktu santai lagi di rumah kontrakan itu. Bapak tak bisa meraih pekerjaannya lagi. Pekerjaan yang baru lepas dari tangan Bapak adalah usaha patungan dengan rekanannya. Dan, PHK yang dialami Bapak kali ini benar-benar pemutusan hubungan kerja secara sepihak oleh rekanannya dengan alasan Bapak terlalu lama mangkir selama sakit. Bapak sudah berusaha menjelaskan masalahnya tapi Pak Hardian, rekanannya itu, tetap tak bisa menerima. Beberapa hari tekanan darah Bapak naik pesat tersandung masalah ini. Puncak penjelasan Bapak adalah melemparkan kursi lipat ke arah Pak Hardian dan meninggalkan kantor dengan sumpah serapah. Sementara seluruh tabungan keluarga sudah hampir terkuras untuk biaya pengobatan dan hidup sehari-hari.
Sudah tak kurang-kurang usaha Bapak buat mengembalikan keadaan. Bapak juga orangnya bisa tahan dan mau mencari pekerjaan lain. Juragan alat-alat peraga sekolah itu sempat menjadi sopir pribadi pada sebuah keluarga yang tak kuketahui. Sekalipun cuma bertahan tiga hari.
Waktu itu Bapak keluar tanpa permisi minta berhenti.
“Sopir kok disuruh nyuci mobil.” Omelan Bapak menandaskan kejengkelannya sore itu sepulang kerja pada Ibu. Ya, Ibu memang sering jadi tumpuan kemarahan Bapak, tak perduli pada siapa Bapak Marah. Dan rupanya kerelaan Ibu ini yang membuat perkawinan mereka bertahan sampai dua puluh lima tahun. Seperempat abad mereka hidup di atas pasang surut keadaan dan Ibu menjadi pendengar setia umpatan-umpatan Bapak sambil melahirkan sepuluh orang anak serta membesarkan mereka.
Sekolahku sudah mulai libur. Buku rapot hasil belajar sudah dibagikan tapi belum bisa diambil, karena itu berarti Bapak harus keluar biaya ekstra buat SPP yang mestinya cukup buat makan sekeluarga selama dua atau tiga hari. Jadi, aku dipaksa bisa terima oleh keadaan.
Juga aku masih bisa terima, waktu Bapak pada akhirnya tak mampu lagi melihat anak-anaknya kelaparan, sementara dia sendiri masih perlu makan buat tenaga mencari kerja. Sore itu semua anak dikumpulkan di ruang tamu sekaligus ruang tivi yang tak jarang jadi ruang makan. Sekilas kulihat mata Ibu yang sembab merah tembaga tapi tak bicara.
“Begini....” Sebentar Bapak berusaha menelan ludah. Ibu menyelinap ke belakang, mungkin mengambil air hangat buat Bapak. “Begini...Bapak, Bapak minta maaf sebab sudah ndak bisa menanggung hidup kalian lagi. Bapak benar-benar menyesalkan semua ini. Mungkin nanti kamu dan mbakmu akan Bapak titipkan pada satu atau dua keluarga.”
Mata Bapak sekilas mengalih pandangan dari tatapanku. Sementara aku sudah menyiapkan anggukan kepala yang mantap meski lemah, Mbakku sudah lebih dulu histeris. Keras, cukup keras, sambil matanya terus mencari-cari nada kebohongan dari suara Bapak dan mencari perlindungan dari kasih Ibu, semua ibu.
“Bagaimana, kamu siap?” Bapak minta penegasan.
“Ya, Pak.” Jawaban yang tak perlu diulur-ulur lagi. Tangis Mbakku meledakkan seisi rumah. Aku tertegun, tak yakin kalau semua ini bukan salah satu adegan dalam episode sepekan drama yang sedang diputar oleh TVRI.
“Nanti,” suara itu makin berat dan serak, “kalau Bapak sudah cukupan, kalian pasti Bapak ambil. Bapak tidak akan membiarkan kalian terpisah dari keluarga lagi.” Mata Bapak mulai merah seperti tempayan di atas tungku pembakaran. Mungkin juga ada tungku menyala-nyala dalam badan Bapak, pikirku menghibur diri. Kepalaku terangguk-angguk kecil sambil tersenyum tipis semanis senyum Presiden waktu itu.
Hasil keputusan keluarga itu memang tak terjadi. Bapak kemudian menjadi pelopor kepulangan keluarga ke kampung halaman, entah di kampung mana. Beberapa minggu keluarga kami hidup dari hasil penjualan segala barang dan perabot rumah tangga. Makanan seadanya menjadi benar-benar seadanya. Kadang tetangga yang berjualan nasi uduk memberi porsi yang jauh lebih banyak dari yang kami beli. Tak jarang tetangga belakang rumah – keluarga China yang punya depot, entah dimana – memberikan beberapa iris daging sejak tetangga itu mendengar tiupan recorderku seperti alunan lagu latar film silat mandarin berseri yang sedang mereka nikmati. Selama itu hubungan dalam keluarga jadi begitu peka. Semua merasa sebagai satu-satunya orang paling menderita di dunia. Pertengkaran bisa meledak dari soal-soal kecil saja. Kemarahan bisa berlangsung cepat, bisa juga sampai berhari-hari lamanya. Sampai di situ aku masih bisa tahan.
Baru ketika semua isi rumah terjual habis dan merasa cudah ada cukup bekal perjalanannya, maka Ibu minta semua anak membantunya mengemas barang yang perlu dibawa pulang. Semuanya pulang, kecuali aku yang sekali lagi diminta bisa menerima buat tinggal sementara di rumah Pak Haji pemilik rumah kontrakan kami. Aku sangat bisa menerima, sebab aku tahu Bapak belum lagi membayar sewa selama tiga bulan. Jadilah aku sebagai jaminan dan sebuah kebetulan akulah satu-satunya anak lelaki, selain si bungsu yang masih terlalu kecil, yang sudah cukup besar untuk bisa mengerti. Baru ketika itulah masalah sebenarnya datang mengendap-endap seperti wajah malaikat pencabut nyawa di malam buta.
Sebenarnya menjadi barang jaminan itu bukan masalah buat aku yang punya kepala dan tubuh lebih kecil dari ukuran anak-anak seumuran ini. Bukan soal bantu-membantu itu yang membuatku terguncang keras seperti terbanting ke batu cadas. Bukan, sekali-kali bukan karena saluran air, jalan-jalan sore ke pasar, atau anak-anak Pak Haji yang suka berlaku kasar itu.
Sejujurnya aku masih bersyukur bahwa permintaan Bapak pada pengertianku kali ini tidak terlalu parah. Aku pun merasa bersyukur masih ada sedikitnya dua orang dalam rumah itu yang cukup ramah dan bersikap melindungiku. Seorang yang pertama ialah Sida, gadis muda seumurku yang menetap di situ lebih sebagai pembantu daripada sebagai keponakan Bu Haji. Seorang gadis yang sewaktu keluargaku masih ada tak pernah kuperhatikan. Anak perempuan yang dulunya kadang terlalu berani kalau ketemu aku di jalan ini, pada hari-hari itu sering memberiku porsi tersendiri untuk makan. Satu-satunya masalah yang kerap diperbuatnya adalah memanas-panasi darah perjakaku sampai tersirap tiap kali baju tidurnya tersingkap, sebab kami menempati satu kamar bersama yang lain-lain juga. Dan, masalah seperti itu acap kali datang ketika jam tidur tiba.
Seorang lagi adalah anak sulung keluarga ini. Kakak kelas dua tingkat di SMP 45 ini selalu melindungiku dari ancaman adik-adiknya atau pun orang lain. Aku merasa benar-benar terlindungi sampai aku sadar kalau sikap Deden itu tak lebih dari usaha untuk menembakku, seperti pagi itu waktu dengan terpaksa mandi bersama di kamar mandi belakang rumah.
“Jangan bilang siapa-siapa. Kalau nyanyi gue bunuh lu...”
“Kenapa?” Kurutuki laknat ini. “Kenapa gak pakai Sida?”
“Hhh, ngeliatnya aja gue udah enegh.” Sambil terus menyampaikan hajadnya. Sementara aku tetap tak habis pikir, ujung-ujung alisku mengkerut dan bertemu di hidung. Sejak itu juga aku tak mudah percaya pada segala niat baik sebuah perlindungan.
Tapi, masih bukan itu yang membuatku merasa perlu mengorek keruh air mata dalam bening mata airnya. Bukan tembakan pagi hari yang mengalirkan benang-benang keperakan itu di atas pipi cekung ini. Soal macam itu buatku sudah bukan barang baru. Sebelumnya, tiga tahun lalu, saat masih di Blitar kegembiraan kelas IV SD-ku telah dikotori oleh tangan putih seorang Imam Belanda di balik bilik rumah pastori. Jadi sekali pun kusumpahi setengah mati, bukan semua itu yang mengalirkan sungai kecil di pipi.
Lebih dari semua ini. Lebih dari penghinaan dan ancaman pagi tadi aku telah ditampar kenyataan sore itu. Pulang belanja dari Pasar Cengkareng juga tidak membuatku terlalu payah, sebab jarak itu cuma setengah jarak dari rumah ke sekolah. Sepulang belanja macam-macam kebutuhan, saat senja membuka hari di Bulan Suci Tahun Rembulan ini, kulihat Bu Haji mendampingi Pak Haji istirahat di serambi muka. Waktu aku lewat dengan suara ringan Bu Haji menegur.
“Wo’, ‘tar kalau sampai lebaran bapak kamu nggak ke sini, kamu Ibu’ jual ya?” Sekilas Pak Haji melirik Bu Haji. Aku terpaku pada ubin licin di kakiku.
“Ya, Bu.” Aku tak punya pilihan. Ujung lidahku seperti cacing di ujung mata pancing. Seperti cacing kepanasan yang bergerak lamban mencari perlindungan, kuseret langkah menuju dapur tempat belanjaan harus diletakkan. Kepalaku berkunang-kunang mencari tempat menumpang dan menampung malam. Seribu berkunang-kunang di kepalaku begitu dihadang sekeping pertanyaan yang tersisa. Kapan Bapak datang menjemputku pulang? Pulang ke kampung halaman. Entah, kampung mana dan halaman siapa.
110204
Friday, December 12, 2003
Maria, Julia dan Aku
Cerpen Susilo
Masih pagi yang sama dan Julia telah kehilangan dua orang buruannya. Pertama seorang lelaki yang setengah asing baginya. Kedua, perempuan matang, yang kemudian dikenalnya bernama Maria, penunjuk jalannya menuju lelaki setengah asing itu, yang lebih asing lagi darinya. Jejak yang tersisa hanyalah sebuah rumah dinas yang menggigil dan bersegel kuning barang sah milik dinas kepolisian. Dan, ia sendiri yang masih juga tak percaya.
?Begitulah dia,? Ujar Maria memulai ceritanya tentang lelaki setengah asing, yang selalu membuatnya penasaran itu. ?Sebenarnya dia hanya akan menunggu setiap yang datang, memberikan sedikit tempat buat menyambung nafas.?
Pagi kemarin, dengan seluruh nafas yang berdenyutan Julia mengadu untung menemui Maria di rumah dinasnya. Sedikit keberanian yang dipaksakan ada pada dirinya sendiri itu telah menghasilkan kalimat panjang lebar dari perempuan berkaca-mata minus itu. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Maria tentang dirinya yang telah begitu berhasrat mencari lelaki carut-marut itu. Satu hal yang pasti mulut perempuan matang itu terus saja berkomat-kamit, seperti membaca mantra atau rapalan tertentu yang dihapalnya di luar kepala. Dari cara bicaranya pun segera tertangkap kesan kalau mereka memiliki carut-marut perasaan yang bermuara pada lelaki setengah asing itu.
?Setelah dua atau tiga hari mendudukan dirinya di taman kota itu maka dia segera tahu kalau aku punya sedikit perhatian padanya. Sebenarnya perhatianku bukan pada tampangnya yang cenderung cantik atau perawakannya yang matang itu, melainkan lebih pada kebiasaannya itu sendiri. Kebiasaan duduk berlama-lama, di satu tempat, pada tiap jam yang sama. Ini membuatku tertarik lebih dari sekadar kegemaran naif pada permainan liar dan cermatnya di atas ranjang. Bukan, sekali-kali bukan karena itu, sekalipun itu bisa jadi catatan tersendiri secara panjang lebar. Sekali lagi, kebiasaan itulah kuncinya. Tolong catat itu lebih dari yang lain.
Aku sendiri baru satu minggu sejak dimutasikan pada Bank di belakang areal taman itu, saat melihatnya untuk kali pertama. Mula-mula aku menganggapnya sebagai orang yang sedikit kelebihan waktu sebelum berangkat kerja. Sambil menunggu bis kota atau apa, dia habiskan waktunya dengan memajang diri begitu rupa. Selebihnya, sentuhan matahari pagi pun cukup menjadikannya punya alasan untuk mendapat sedikit kehangatan dan kesehatan. Tapi, pikirku kemudian, penampilannya kurang lazim untuk seorang pekerja. Pakaiannya tidak cukup mendukung anggapan pertamaku itu. Kamu sendiri di ruangan kantormu tentu kesulitan mencari partner yang bisa bebas dengan ketsnya. Ah, coba dulu minumannya sebelum leher jenjangmu kekeringan.....?
Hati-hati Julia meneguk minuman itu karena tak ingin merusak suasananya. Sejak titik ini, Maria mulai lebih lancar dari setengah jam sebelumnya.
?Bahkan sebagai pekerja kerah biru pun jelas sekali dia tak punya potongan.? Lanjut bibir senja yang merona ditimpa fajar itu. ?Memasuki minggu kedua sejak kali pertama melihat tingkahnya itu aku mulai menyadari kalau dia tengah menunggu sesuatu atau seseorang tepatnya. Hari ketiga minggu kedua itu juga matanya mulai bisa memaksaku bertukar senyum dengannya. Senyumku mungkin berarti tegur sapa calon tetangga, sedang miliknya ? seperti yang kau lihat juga, kusadari kemudian ? mengandung dorongan yang lebih dalam dari sebuah ketekunan. Menurutku, seperti retakan ice cream saat gigitan pertama. Beberapa kali aku berusaha mencari tahu sampai berapa lama dia bertahan duduk di situ setelah setiap pagi biasanya. Setahuku, setiap aku pulang kerja dia sudah tak ada di taman itu. Maka, aku coba luangkan waktu saat jam istirahat buat sekadar memeriksa batang hidungnya, juga tak ada.
Jum?at minggu kedua sengaja aku berangkat dua jam lebih siang dari biasanya dan dia ternyata masih duduk di tempatnya. Sabtu pagi, agak malas aku bangun dan setelah berbenah aku keluar cari sarapan. Tepat tiga jam dari kebiasaanku berangkat kerja, taman itu sudah dipenuhi banyak orang, terutama kaum tua, dan dia sudah tak ada lagi di sana.
Segera kusimpulkan kalau dia memang menunggu sesuatu setiap pagi selama tiga jam lebih, satu jam sebelum dan dua jam sesudah jam masuk kerjaku. Tapi, aku tak pernah tahu apa dan siapa yang ditunggunya. Dia memang mengambil waktu sekitar jam berangkatku, tapi itu saja tidak cukup membuatku merasa sebagai orang yang ditunggu-tunggu itu. Jadi aku memang digariskan untuk tak pernah tahu sasaran yang ditunggunya sampai aku memberanikan diri bertanya waktu itu. Memberanikan diri terhadap pandangan orang di sana atau teman kerjaku yang kebetulan lewat. Aku menguatkan diri pada celaan yang muncul dari kepalaku sendiri. Bisa kau bayangkan, aku seorang staf akuntan sebuah bank terkemuka milik pemerintah disibukkan dengan perhatianku pada seorang lelaki asing yang terbiasa duduk-duduk di salah satu sudut taman kota. Hahahahahaha.....
Toh, akhirnya aku berhenti juga. Menyapanya sekilas dan segera semuanya berubah, seperti tengah malam paling hening saat terjadinya pergeseran hari menjelang esok. Lalu kami berjalan menyusuri pinggang taman itu, bercerita tentang beberapa hal di sela senyum dan sorot matanya. Selebihnya, dia menjadi penghuni baru di rumah ini. Tapi, maaf aku tak bisa memberikan satu nama pun padamu untuk menyebut atau memburunya. Sebab, buatku nama tak menjadi soal dan sikap selalu lebih penting dari sekadar kartu pengenal apa pun, kau tahu maksudku.
Terus terang aku merasa pernah berhubungan dengan orang macam ini, jauh sebelum ini. Berhubungan dengan orang yang bisa mencukupi nyaris semua kebutuhhanku. Uang, kehormatan, dan....seks, tentu saja, seperti yang kau harapkan bakal keluar dari mulutku. Perhatiannya yang besar membuat setiap yang dekat dengannya akan merasa nyaman dengan sendirinya. Bisa jadi itu wajar, mengingat dia adalah site manajer sebuah grup supermarket di tempatku kerja waktu itu. Satu hal yang sedikit menarik mungkin karena aku harus rela melepaskan posisi bagusku di sana hanya karena kami berencana menikah. Sekalipun baru sebatas rencana. Padahal kau tahu, untuk mendapatkan,? Maria berhenti sejenak meneguk minumannya, ?site manajer itu aku musti siap pula meninggalkan pasanganku yang lain, seorang analis komputer jempolan.
Tentang yang terakhir, analis komputer itu, dia benar-benar jembatan emas buatku. Dari semula aku hanya berencana menggunakan statusnya sebagai dosen bantu pada lab komputasi di Fakultasku untuk menghacurkan nilai setiap orang yang telah merusak jalanku. Salah satunya adalah seorang teman sekelas yang sama sekali tak tahu diri, seorang mahasiswi bermoral yang kehabisan tempat. Hmm, setelah kubantu pindah tempat tinggal ke tempat kosku, perlahan-lahan ia mulai menelikungku dari balik selimut. Mengaduku dengan ibu kos yang rupanya lebih mempercayai orang baru ini dan mengusirku hanya karena adegan kecil suatu petang di teras rumah. Ah, aku benar-benar tak ingin melihat wajahnya lagi sejak itu. Biar dia hadapi kehancuran berulang-ulang di bangku yang sama dengan moralitasnya. Juga yang lain, semua yang telah seenaknya mempermainkan aku menjadi mangsa empuk analis komputerku itu. Begitulah, sementara waktu berjalan dan kelulusanku menjadi dentang bel berakhirnya menikmati waktu di atas jembatanku. Maaf, mungkin aku bukan perempuan lembut yang cukup pantas kau jadikan sosok ibu yang kau cari-cari. Tak pernah terbayang sekilas pun dalam benakku gambaran menjadi seorang ibu. Menjijikkan sekali bahwa perempuan dipaksa melahirkan dan membesarkan anak-anak, sementara lelakinya asyik bermain-main di luaran.
Dia, maksudku partnerku yang site manajer dulu itu, datang tepat waktu. Begitu bel akhir itu berdentang teramat keras, begitu saja dia menyelinapkan dirinya lembut-lembut ke balik selimutku. Dan, jembatan emas itu pun hancur berkeping-keping. Kudengar sebentar kemudia dia nikahi adik kelasku yang cantik, beranak, lalu diceraikannya lagi. Beberapa kali dia menelponku di antara sekian dering yang lain. Tapi, telpon di tempatku rupanya sudah terlanjur mengikat diri pada basement pusat perbelanjaan baru itu. Malahan waktu telponnya membisik-bisikkan gesekkan lembut selimut dan ranjang merah jambu, hahahahaha...anggrekku cuma senyum tipis dengan desahan lirih setengah merintih, yang aku yakin akan membuat analis komputer itu makin terguncang-guncang di atas cadiknya yang rapuh. Kubilang satu kali menjawabnya.....
?Sudahlah, belajarlah dari sedikit, buanglah sampah pada tempatnya. Dan menuai benih dari yang kautaburkan.? Lalu terdengar kertak gigi di seberang, suara gagang telpon terbanting keras dan ngiiiiing. Baik, akan kuteruskan sendiri, semuanya. Kalau kau sendiri sudah terserang penyakit gagu dan gagap dalam mengiblatkan jalanmu sampai kau datang ke rumah dinas ini. Sedikit banyak kau pasti tahu, apa itu monolog. Dulu aku suka juga melihat pertunjukkan biarpun sedikit.
Benar, bukan cuma perhatian dan kehormatan yang aku dapatkan dari site manajerku itu. Lebih dari itu, kehangatan bisa aku nikmati setiap saat, di tempat paling dingin sekali pun. Justru dari karena site manajerku itu datang dari kota dingin. Di atas kotanya dia benar-benar kuda liar, baik di jalanan maupun di tengah ranjang. Serangan gencarnya membuatku berkali-kali kewalahan. Sekali putaran aku bisa mencapai tiga sampai lima puncak dengan resiko seluruh tulang serasa berlepasan. Dan anggrekku, ah anggrekku seperti dirajam pisau bermata seribu. Darahnya sulit berhenti, tapi sungguh ngilu yang kunikmati. Biasanya setelah saat-saat yang dahsyat itu kami menghabiskan waktu dalam buaian mimpi indah sebuah puri di gigir telaga yang seluruhnya diliputi cahaya remang. Sepasang angsa menggiring angin di wajah telaga yang pias oleh cahaya bulan setengah telanjang. Hahahahaha....
Saat-saat indah dalam hidupku. Setelah sekian kerikil tajam menisik dan mengantuk kakiku. Mungkin hanya satu orang yang bisa mengalahkan kegilaan macam ini. Kegilaan dan kenikmatan yang pekat. Ya, mungkin hanya satu orang yang sanggup mengalahkan rekor site manajerku. Sekali pernah kudaki tujuh puncak sekaligus, lalu aku benar-benar jadi sejenis lolita di sana. Di sisi novel pertamaku, lelaki kecil dan naif yang aku yakin masih menunggu sampai saat ini, setelah sekian penerbangan bersama analis komputer dan site manajerku. Lelaki kecil dan naif.....lebih tepatnya seorang bocah gembala yang selalu kekanakan. Entah sampai kapan, sebab kami dipertemukan dalam musim kawin pertama tahun kedua kuliahku. Selayaknya setiap musim kawin pertama, si kecil ini pun terlanjur melingkarkan cincin akar rumput di jari manis batinku.
Tak cuma soal tujuh puncak itu reputasinya, selalu dia mengakhiri perjalanan kami dengan basuhan-basuhan lembut di tubuhku yang basah dan membawaku terentang antara kaki langit gumpalan awan putih. Ah, sudahlah biarkan dia menghuni albumku yang berdebu dan lapuk sendiri suatu hari nanti.? Maria seperti mengalami kesulitan untuk keluar dari labirin masa lalunya. Kernyit kecil mempertajam bola matanya yang menjauh.
?Lalu, bagaimana tentang basementmu....?? Julia berusaha memperbaiki keadaan.
?Oya, kami berencana menikah. Baiknya langsung saja dari situ. Tapi, selalu aku harus berhadapan dengan masalah keluarga. Dia punya seorang ibu dari sejenis ular aristokrat sejati. Bermulut tajam, memandang orang lain dengan mata yang selalu mengantuk, penuh gairah dan sedikit culas. Bapaknya tak jauh beda. Macan kampung, tuan tanah puluhan hektarare, berkulit dan hidung belang-belang. Pada kekasih anaknya pun sempat mendenguskan nafas mesumnya. Semua ini yang membuat kami bertahan hanya lewat jalan belakang. Sampai, entah bagaimana, keluargaku mencium hubungan kami yang aga kelewatan itu. Papi memintaku pulang kampung secara mendadak. Sampai di sana aku dihadapkan pada sidang keluarga. Keluarga besar Mami datang semua. Tak ketinggalan seluruh warga dari garis Papi datang bertandang. Lalu sidang dibuka oleh Eyang Sepuh ? kakak tertua Eyang Kakung dari Mami.
?Aapa yang sudah kamu lakukan, Nduk? Mamimu nangis ndak habis-habis.? Eyang Sepuh mulai mendesakku.
Aku bergeming dan terus saja berusaha sekerasnya memperjuangkan pertahananku. Tapi sidang kemudian memutuskan agar aku memeriksakan diri ke dokter. Mami diutus sebagai pengantar pemeriksaan diriku. Dari sanalah bermulanya pergeseran hari. Semua mulai membaca dan mengulitiku habis-habisan. Untung mereka tahu hanya sebatas itu. Lalu tuntutan diajukan pada site manajerku beserta keluarga. Sampai di situ, habislah semuanya. Ibunya marah besar, mulutnya menyemburkan bisa. Bapaknya mengamuk sejadi-jadinya, menggeram dan mencabik-cabik hargaku dengan kuku di tiap ujung lidahnya. Dan makin tertampar aku waktu site manajer itu cuma diam, tertunduk kelu dan sekali bersuara.
?Buka aku yang pertama...?
Bagus, tampaknya semua batu harus diangkat oleh sisiphus yang sama. Sejak itu kuputuskan untuk menjalani hidup selibat tanpa sakramen, lepas dari keluarga dan siapa pun yang selama ini mengikatku. Menerbitkan dan menggelamkan sendiri matahariku. Sampai suatu pagi, aku lihat lelaki asing kita di sudut taman itu.
Dari semula aku tak berharap banyak darinya. Aku hanya tertarik pada kemauannya menunggui patung-patung batu di taman itu. Sekali tempo, sempat terpikir olehku, kalau dia tak hanya menunggu melainkan membasuh tubuh dewa-dewi di sekitar kolamnya juga. Tapi, pikiran-pikiran cengeng itu segera kuempaskan lagi dan terjadilah yang musti terjadi. Sejak dia menghuni rumah ini, tak sekali pun kutanyakan pekejaannya atau mengungkit-ungkit kebiasaannya memandang jauh keluar pagar taman setiap pagi sebelumnya.
Pagi-paginya kemudian diisi dengan membangunkan aku dengan ciuman lembut. Menyiapkan sarapan dan secangkir kopi dengan cream. Melepaskan aku pergi dan menutup pintu pagar lagi. Selebihnya aku tak tahu. Yang pasti aku melihatnya adalah sambutan hangatnya ketika aku pulang kerja. Membantuku melepaskan perlengkapan kerja satu per satu. Menyeka tengkuk, punggung dan beberapa bagian lain dengan handuk hangat. Sementara makanan kecil dan lemon tea sudah tersedia. Tiap malam kami isi dengan acara televisi atau permainan atau obrolan ringan seputar masalah umum. Selain menyiapkan makan malam, kalau kebetulan badanku terlalu capek untuk keluar rumah, tak lupa dia menyuguhiku santapan utama pengantar tidur.
Pernah sekali waktu, aku mencuri tahu kebiasaannya setelah larut malam. Kulihat pintu kamar kerja sedikit terbuka dan ada cahaya biru remang keluar dari mulut pintu. Kuperhatikan dia tercenung di depan layar monitor di sana. Entah sedang menulis apa, aku tak terlalu yakin dengan mata telanjangku pada jarak lebih dari lima meter. Kegugupan segera menyerang waktu dia menyadari kedatanganku, dia menengok ke arahku dengan pandangan tajam. Dia menghampiri dan aku menggigil dalam gelap, matanya seperti srigala lapar.
?Tidak baik membiasakan diri dengan pencurian...? Senyumnya masih bisa kubaca lewat berkas cahaya tipis dari monitor. Aku tertunduk lemas. Dia menuntunku kembali ke kamar dan menina-bobokanku dengan usapan lembut di kepala. Lamat-lamat Schubert merintih lewat Ave Maria.
Baik, semuanya telah kubeberkan, hanya karena aku perlu seorang teman bicara yang bisa dipercaya. Semuanya, sampai dia mendadak hilang sekarang. Sampai kau datang hari ini. Sekarang, mungkin giliranmu....? Perempuan matang berkaca-mata kecil itu seperti sedang melepaskan pukat ke depannya.
?Maksudku, sekarang mungkin giliranmu untuk bercerita. Barangkali kau sendiri punya sesuatu yang menarik untuk kita dengarkan siang ini.?
?Ee, begini. Ini tak lebih dari sekedar...?
Julia memulai tentang perjalanan kariernya sebagai reporter muda pada sebuah tabloid wanita. Juga tentang perasaannya pada lelaki setengah asing itu. Bahwa ia seperti pernah akrab dengan lelaki itu. Bahwa ia seperti bisa membayangkan apa yang dilakukan lelaki itu saat ini. Semua diketahuinya berdasarkan pengamatannya pada beberapa kasus serupa yang pernah dikejarnya. Tapi, satu hal yang tak pernah dibukanya pada Maria adalah bahwa lelaki jenis ini lebih berbahaya dari ular maupun srigala lapar. Dia dilahirkan sebagai jenis kegilaan yang melebihi guru besar kegilaan dari RS. John Hopkins, Hannibal Lector.
Bayangan yang dulu masih disimpannya itu kini telah terbukti, mungkin. Selain pita kuning tand panyegelan, kepolisian wilayah kota juga memberikan informasi.
?Kasusnya bunuh diri. Motifnya belum pasti. Masih dalam proses.?
Rumah dinas itu masih menggigil pagi ini, ketika Julia hendak beranjak pergi dan melepaskan sisa pandangan terakhir pada bangunan ngungun itu. Ia sadar benar, banyak kasus bunuh diri yang hanya bersaksi dinding bangunan itu sendiri. Julia sudah akan beranjak pergi waktu seseorang berbisik lembut dari belakang telinga kirinya, waktunya sudah habis, mari.....
medio1999-2003
________________________
Susilo, penulis lepas tinggal Jl. Karangmenjangan 68A, Surabaya, karya-karyanya pernah dimuat dalam; Antologi Puisi I Puska 1992, Jurnal Sastra Jejak ? Gapus Unair 1998, Majalah Aksara, Majalah Jayabaya, Majalah Liberty, Harian Surabaya News, Harian Sinar Harapan, Harian Berita Sore, Tabloid Mitra Rakyat, Tabloid The Smile File, www.cybersastra.net, www.puisi.crimsonzine.net, dan www.pintunet.com
Cerpen Susilo
Masih pagi yang sama dan Julia telah kehilangan dua orang buruannya. Pertama seorang lelaki yang setengah asing baginya. Kedua, perempuan matang, yang kemudian dikenalnya bernama Maria, penunjuk jalannya menuju lelaki setengah asing itu, yang lebih asing lagi darinya. Jejak yang tersisa hanyalah sebuah rumah dinas yang menggigil dan bersegel kuning barang sah milik dinas kepolisian. Dan, ia sendiri yang masih juga tak percaya.
?Begitulah dia,? Ujar Maria memulai ceritanya tentang lelaki setengah asing, yang selalu membuatnya penasaran itu. ?Sebenarnya dia hanya akan menunggu setiap yang datang, memberikan sedikit tempat buat menyambung nafas.?
Pagi kemarin, dengan seluruh nafas yang berdenyutan Julia mengadu untung menemui Maria di rumah dinasnya. Sedikit keberanian yang dipaksakan ada pada dirinya sendiri itu telah menghasilkan kalimat panjang lebar dari perempuan berkaca-mata minus itu. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Maria tentang dirinya yang telah begitu berhasrat mencari lelaki carut-marut itu. Satu hal yang pasti mulut perempuan matang itu terus saja berkomat-kamit, seperti membaca mantra atau rapalan tertentu yang dihapalnya di luar kepala. Dari cara bicaranya pun segera tertangkap kesan kalau mereka memiliki carut-marut perasaan yang bermuara pada lelaki setengah asing itu.
?Setelah dua atau tiga hari mendudukan dirinya di taman kota itu maka dia segera tahu kalau aku punya sedikit perhatian padanya. Sebenarnya perhatianku bukan pada tampangnya yang cenderung cantik atau perawakannya yang matang itu, melainkan lebih pada kebiasaannya itu sendiri. Kebiasaan duduk berlama-lama, di satu tempat, pada tiap jam yang sama. Ini membuatku tertarik lebih dari sekadar kegemaran naif pada permainan liar dan cermatnya di atas ranjang. Bukan, sekali-kali bukan karena itu, sekalipun itu bisa jadi catatan tersendiri secara panjang lebar. Sekali lagi, kebiasaan itulah kuncinya. Tolong catat itu lebih dari yang lain.
Aku sendiri baru satu minggu sejak dimutasikan pada Bank di belakang areal taman itu, saat melihatnya untuk kali pertama. Mula-mula aku menganggapnya sebagai orang yang sedikit kelebihan waktu sebelum berangkat kerja. Sambil menunggu bis kota atau apa, dia habiskan waktunya dengan memajang diri begitu rupa. Selebihnya, sentuhan matahari pagi pun cukup menjadikannya punya alasan untuk mendapat sedikit kehangatan dan kesehatan. Tapi, pikirku kemudian, penampilannya kurang lazim untuk seorang pekerja. Pakaiannya tidak cukup mendukung anggapan pertamaku itu. Kamu sendiri di ruangan kantormu tentu kesulitan mencari partner yang bisa bebas dengan ketsnya. Ah, coba dulu minumannya sebelum leher jenjangmu kekeringan.....?
Hati-hati Julia meneguk minuman itu karena tak ingin merusak suasananya. Sejak titik ini, Maria mulai lebih lancar dari setengah jam sebelumnya.
?Bahkan sebagai pekerja kerah biru pun jelas sekali dia tak punya potongan.? Lanjut bibir senja yang merona ditimpa fajar itu. ?Memasuki minggu kedua sejak kali pertama melihat tingkahnya itu aku mulai menyadari kalau dia tengah menunggu sesuatu atau seseorang tepatnya. Hari ketiga minggu kedua itu juga matanya mulai bisa memaksaku bertukar senyum dengannya. Senyumku mungkin berarti tegur sapa calon tetangga, sedang miliknya ? seperti yang kau lihat juga, kusadari kemudian ? mengandung dorongan yang lebih dalam dari sebuah ketekunan. Menurutku, seperti retakan ice cream saat gigitan pertama. Beberapa kali aku berusaha mencari tahu sampai berapa lama dia bertahan duduk di situ setelah setiap pagi biasanya. Setahuku, setiap aku pulang kerja dia sudah tak ada di taman itu. Maka, aku coba luangkan waktu saat jam istirahat buat sekadar memeriksa batang hidungnya, juga tak ada.
Jum?at minggu kedua sengaja aku berangkat dua jam lebih siang dari biasanya dan dia ternyata masih duduk di tempatnya. Sabtu pagi, agak malas aku bangun dan setelah berbenah aku keluar cari sarapan. Tepat tiga jam dari kebiasaanku berangkat kerja, taman itu sudah dipenuhi banyak orang, terutama kaum tua, dan dia sudah tak ada lagi di sana.
Segera kusimpulkan kalau dia memang menunggu sesuatu setiap pagi selama tiga jam lebih, satu jam sebelum dan dua jam sesudah jam masuk kerjaku. Tapi, aku tak pernah tahu apa dan siapa yang ditunggunya. Dia memang mengambil waktu sekitar jam berangkatku, tapi itu saja tidak cukup membuatku merasa sebagai orang yang ditunggu-tunggu itu. Jadi aku memang digariskan untuk tak pernah tahu sasaran yang ditunggunya sampai aku memberanikan diri bertanya waktu itu. Memberanikan diri terhadap pandangan orang di sana atau teman kerjaku yang kebetulan lewat. Aku menguatkan diri pada celaan yang muncul dari kepalaku sendiri. Bisa kau bayangkan, aku seorang staf akuntan sebuah bank terkemuka milik pemerintah disibukkan dengan perhatianku pada seorang lelaki asing yang terbiasa duduk-duduk di salah satu sudut taman kota. Hahahahahaha.....
Toh, akhirnya aku berhenti juga. Menyapanya sekilas dan segera semuanya berubah, seperti tengah malam paling hening saat terjadinya pergeseran hari menjelang esok. Lalu kami berjalan menyusuri pinggang taman itu, bercerita tentang beberapa hal di sela senyum dan sorot matanya. Selebihnya, dia menjadi penghuni baru di rumah ini. Tapi, maaf aku tak bisa memberikan satu nama pun padamu untuk menyebut atau memburunya. Sebab, buatku nama tak menjadi soal dan sikap selalu lebih penting dari sekadar kartu pengenal apa pun, kau tahu maksudku.
Terus terang aku merasa pernah berhubungan dengan orang macam ini, jauh sebelum ini. Berhubungan dengan orang yang bisa mencukupi nyaris semua kebutuhhanku. Uang, kehormatan, dan....seks, tentu saja, seperti yang kau harapkan bakal keluar dari mulutku. Perhatiannya yang besar membuat setiap yang dekat dengannya akan merasa nyaman dengan sendirinya. Bisa jadi itu wajar, mengingat dia adalah site manajer sebuah grup supermarket di tempatku kerja waktu itu. Satu hal yang sedikit menarik mungkin karena aku harus rela melepaskan posisi bagusku di sana hanya karena kami berencana menikah. Sekalipun baru sebatas rencana. Padahal kau tahu, untuk mendapatkan,? Maria berhenti sejenak meneguk minumannya, ?site manajer itu aku musti siap pula meninggalkan pasanganku yang lain, seorang analis komputer jempolan.
Tentang yang terakhir, analis komputer itu, dia benar-benar jembatan emas buatku. Dari semula aku hanya berencana menggunakan statusnya sebagai dosen bantu pada lab komputasi di Fakultasku untuk menghacurkan nilai setiap orang yang telah merusak jalanku. Salah satunya adalah seorang teman sekelas yang sama sekali tak tahu diri, seorang mahasiswi bermoral yang kehabisan tempat. Hmm, setelah kubantu pindah tempat tinggal ke tempat kosku, perlahan-lahan ia mulai menelikungku dari balik selimut. Mengaduku dengan ibu kos yang rupanya lebih mempercayai orang baru ini dan mengusirku hanya karena adegan kecil suatu petang di teras rumah. Ah, aku benar-benar tak ingin melihat wajahnya lagi sejak itu. Biar dia hadapi kehancuran berulang-ulang di bangku yang sama dengan moralitasnya. Juga yang lain, semua yang telah seenaknya mempermainkan aku menjadi mangsa empuk analis komputerku itu. Begitulah, sementara waktu berjalan dan kelulusanku menjadi dentang bel berakhirnya menikmati waktu di atas jembatanku. Maaf, mungkin aku bukan perempuan lembut yang cukup pantas kau jadikan sosok ibu yang kau cari-cari. Tak pernah terbayang sekilas pun dalam benakku gambaran menjadi seorang ibu. Menjijikkan sekali bahwa perempuan dipaksa melahirkan dan membesarkan anak-anak, sementara lelakinya asyik bermain-main di luaran.
Dia, maksudku partnerku yang site manajer dulu itu, datang tepat waktu. Begitu bel akhir itu berdentang teramat keras, begitu saja dia menyelinapkan dirinya lembut-lembut ke balik selimutku. Dan, jembatan emas itu pun hancur berkeping-keping. Kudengar sebentar kemudia dia nikahi adik kelasku yang cantik, beranak, lalu diceraikannya lagi. Beberapa kali dia menelponku di antara sekian dering yang lain. Tapi, telpon di tempatku rupanya sudah terlanjur mengikat diri pada basement pusat perbelanjaan baru itu. Malahan waktu telponnya membisik-bisikkan gesekkan lembut selimut dan ranjang merah jambu, hahahahaha...anggrekku cuma senyum tipis dengan desahan lirih setengah merintih, yang aku yakin akan membuat analis komputer itu makin terguncang-guncang di atas cadiknya yang rapuh. Kubilang satu kali menjawabnya.....
?Sudahlah, belajarlah dari sedikit, buanglah sampah pada tempatnya. Dan menuai benih dari yang kautaburkan.? Lalu terdengar kertak gigi di seberang, suara gagang telpon terbanting keras dan ngiiiiing. Baik, akan kuteruskan sendiri, semuanya. Kalau kau sendiri sudah terserang penyakit gagu dan gagap dalam mengiblatkan jalanmu sampai kau datang ke rumah dinas ini. Sedikit banyak kau pasti tahu, apa itu monolog. Dulu aku suka juga melihat pertunjukkan biarpun sedikit.
Benar, bukan cuma perhatian dan kehormatan yang aku dapatkan dari site manajerku itu. Lebih dari itu, kehangatan bisa aku nikmati setiap saat, di tempat paling dingin sekali pun. Justru dari karena site manajerku itu datang dari kota dingin. Di atas kotanya dia benar-benar kuda liar, baik di jalanan maupun di tengah ranjang. Serangan gencarnya membuatku berkali-kali kewalahan. Sekali putaran aku bisa mencapai tiga sampai lima puncak dengan resiko seluruh tulang serasa berlepasan. Dan anggrekku, ah anggrekku seperti dirajam pisau bermata seribu. Darahnya sulit berhenti, tapi sungguh ngilu yang kunikmati. Biasanya setelah saat-saat yang dahsyat itu kami menghabiskan waktu dalam buaian mimpi indah sebuah puri di gigir telaga yang seluruhnya diliputi cahaya remang. Sepasang angsa menggiring angin di wajah telaga yang pias oleh cahaya bulan setengah telanjang. Hahahahaha....
Saat-saat indah dalam hidupku. Setelah sekian kerikil tajam menisik dan mengantuk kakiku. Mungkin hanya satu orang yang bisa mengalahkan kegilaan macam ini. Kegilaan dan kenikmatan yang pekat. Ya, mungkin hanya satu orang yang sanggup mengalahkan rekor site manajerku. Sekali pernah kudaki tujuh puncak sekaligus, lalu aku benar-benar jadi sejenis lolita di sana. Di sisi novel pertamaku, lelaki kecil dan naif yang aku yakin masih menunggu sampai saat ini, setelah sekian penerbangan bersama analis komputer dan site manajerku. Lelaki kecil dan naif.....lebih tepatnya seorang bocah gembala yang selalu kekanakan. Entah sampai kapan, sebab kami dipertemukan dalam musim kawin pertama tahun kedua kuliahku. Selayaknya setiap musim kawin pertama, si kecil ini pun terlanjur melingkarkan cincin akar rumput di jari manis batinku.
Tak cuma soal tujuh puncak itu reputasinya, selalu dia mengakhiri perjalanan kami dengan basuhan-basuhan lembut di tubuhku yang basah dan membawaku terentang antara kaki langit gumpalan awan putih. Ah, sudahlah biarkan dia menghuni albumku yang berdebu dan lapuk sendiri suatu hari nanti.? Maria seperti mengalami kesulitan untuk keluar dari labirin masa lalunya. Kernyit kecil mempertajam bola matanya yang menjauh.
?Lalu, bagaimana tentang basementmu....?? Julia berusaha memperbaiki keadaan.
?Oya, kami berencana menikah. Baiknya langsung saja dari situ. Tapi, selalu aku harus berhadapan dengan masalah keluarga. Dia punya seorang ibu dari sejenis ular aristokrat sejati. Bermulut tajam, memandang orang lain dengan mata yang selalu mengantuk, penuh gairah dan sedikit culas. Bapaknya tak jauh beda. Macan kampung, tuan tanah puluhan hektarare, berkulit dan hidung belang-belang. Pada kekasih anaknya pun sempat mendenguskan nafas mesumnya. Semua ini yang membuat kami bertahan hanya lewat jalan belakang. Sampai, entah bagaimana, keluargaku mencium hubungan kami yang aga kelewatan itu. Papi memintaku pulang kampung secara mendadak. Sampai di sana aku dihadapkan pada sidang keluarga. Keluarga besar Mami datang semua. Tak ketinggalan seluruh warga dari garis Papi datang bertandang. Lalu sidang dibuka oleh Eyang Sepuh ? kakak tertua Eyang Kakung dari Mami.
?Aapa yang sudah kamu lakukan, Nduk? Mamimu nangis ndak habis-habis.? Eyang Sepuh mulai mendesakku.
Aku bergeming dan terus saja berusaha sekerasnya memperjuangkan pertahananku. Tapi sidang kemudian memutuskan agar aku memeriksakan diri ke dokter. Mami diutus sebagai pengantar pemeriksaan diriku. Dari sanalah bermulanya pergeseran hari. Semua mulai membaca dan mengulitiku habis-habisan. Untung mereka tahu hanya sebatas itu. Lalu tuntutan diajukan pada site manajerku beserta keluarga. Sampai di situ, habislah semuanya. Ibunya marah besar, mulutnya menyemburkan bisa. Bapaknya mengamuk sejadi-jadinya, menggeram dan mencabik-cabik hargaku dengan kuku di tiap ujung lidahnya. Dan makin tertampar aku waktu site manajer itu cuma diam, tertunduk kelu dan sekali bersuara.
?Buka aku yang pertama...?
Bagus, tampaknya semua batu harus diangkat oleh sisiphus yang sama. Sejak itu kuputuskan untuk menjalani hidup selibat tanpa sakramen, lepas dari keluarga dan siapa pun yang selama ini mengikatku. Menerbitkan dan menggelamkan sendiri matahariku. Sampai suatu pagi, aku lihat lelaki asing kita di sudut taman itu.
Dari semula aku tak berharap banyak darinya. Aku hanya tertarik pada kemauannya menunggui patung-patung batu di taman itu. Sekali tempo, sempat terpikir olehku, kalau dia tak hanya menunggu melainkan membasuh tubuh dewa-dewi di sekitar kolamnya juga. Tapi, pikiran-pikiran cengeng itu segera kuempaskan lagi dan terjadilah yang musti terjadi. Sejak dia menghuni rumah ini, tak sekali pun kutanyakan pekejaannya atau mengungkit-ungkit kebiasaannya memandang jauh keluar pagar taman setiap pagi sebelumnya.
Pagi-paginya kemudian diisi dengan membangunkan aku dengan ciuman lembut. Menyiapkan sarapan dan secangkir kopi dengan cream. Melepaskan aku pergi dan menutup pintu pagar lagi. Selebihnya aku tak tahu. Yang pasti aku melihatnya adalah sambutan hangatnya ketika aku pulang kerja. Membantuku melepaskan perlengkapan kerja satu per satu. Menyeka tengkuk, punggung dan beberapa bagian lain dengan handuk hangat. Sementara makanan kecil dan lemon tea sudah tersedia. Tiap malam kami isi dengan acara televisi atau permainan atau obrolan ringan seputar masalah umum. Selain menyiapkan makan malam, kalau kebetulan badanku terlalu capek untuk keluar rumah, tak lupa dia menyuguhiku santapan utama pengantar tidur.
Pernah sekali waktu, aku mencuri tahu kebiasaannya setelah larut malam. Kulihat pintu kamar kerja sedikit terbuka dan ada cahaya biru remang keluar dari mulut pintu. Kuperhatikan dia tercenung di depan layar monitor di sana. Entah sedang menulis apa, aku tak terlalu yakin dengan mata telanjangku pada jarak lebih dari lima meter. Kegugupan segera menyerang waktu dia menyadari kedatanganku, dia menengok ke arahku dengan pandangan tajam. Dia menghampiri dan aku menggigil dalam gelap, matanya seperti srigala lapar.
?Tidak baik membiasakan diri dengan pencurian...? Senyumnya masih bisa kubaca lewat berkas cahaya tipis dari monitor. Aku tertunduk lemas. Dia menuntunku kembali ke kamar dan menina-bobokanku dengan usapan lembut di kepala. Lamat-lamat Schubert merintih lewat Ave Maria.
Baik, semuanya telah kubeberkan, hanya karena aku perlu seorang teman bicara yang bisa dipercaya. Semuanya, sampai dia mendadak hilang sekarang. Sampai kau datang hari ini. Sekarang, mungkin giliranmu....? Perempuan matang berkaca-mata kecil itu seperti sedang melepaskan pukat ke depannya.
?Maksudku, sekarang mungkin giliranmu untuk bercerita. Barangkali kau sendiri punya sesuatu yang menarik untuk kita dengarkan siang ini.?
?Ee, begini. Ini tak lebih dari sekedar...?
Julia memulai tentang perjalanan kariernya sebagai reporter muda pada sebuah tabloid wanita. Juga tentang perasaannya pada lelaki setengah asing itu. Bahwa ia seperti pernah akrab dengan lelaki itu. Bahwa ia seperti bisa membayangkan apa yang dilakukan lelaki itu saat ini. Semua diketahuinya berdasarkan pengamatannya pada beberapa kasus serupa yang pernah dikejarnya. Tapi, satu hal yang tak pernah dibukanya pada Maria adalah bahwa lelaki jenis ini lebih berbahaya dari ular maupun srigala lapar. Dia dilahirkan sebagai jenis kegilaan yang melebihi guru besar kegilaan dari RS. John Hopkins, Hannibal Lector.
Bayangan yang dulu masih disimpannya itu kini telah terbukti, mungkin. Selain pita kuning tand panyegelan, kepolisian wilayah kota juga memberikan informasi.
?Kasusnya bunuh diri. Motifnya belum pasti. Masih dalam proses.?
Rumah dinas itu masih menggigil pagi ini, ketika Julia hendak beranjak pergi dan melepaskan sisa pandangan terakhir pada bangunan ngungun itu. Ia sadar benar, banyak kasus bunuh diri yang hanya bersaksi dinding bangunan itu sendiri. Julia sudah akan beranjak pergi waktu seseorang berbisik lembut dari belakang telinga kirinya, waktunya sudah habis, mari.....
medio1999-2003
________________________
Susilo, penulis lepas tinggal Jl. Karangmenjangan 68A, Surabaya, karya-karyanya pernah dimuat dalam; Antologi Puisi I Puska 1992, Jurnal Sastra Jejak ? Gapus Unair 1998, Majalah Aksara, Majalah Jayabaya, Majalah Liberty, Harian Surabaya News, Harian Sinar Harapan, Harian Berita Sore, Tabloid Mitra Rakyat, Tabloid The Smile File, www.cybersastra.net, www.puisi.crimsonzine.net, dan www.pintunet.com
Subscribe to:
Posts (Atom)