Sunday, August 03, 2003

Paranoia





Orang kadang menjamu untuk dirinya sendiri……



Tapi siapa mau peduli, kecuali Joko. Dan dokter muda itu dengan nalarnya sendiri pasti bisa menerima keputusan Abim kali ini. Beberapa waktu terakhir, Joko sudah menyarankan supaya Abim lekas cari kerja. Apa saja, asal cukup buat hidup.



Demi mengikuti saran teman kostnya itu Abim kini rela duduk tepekur berlama-lama di teras depan pondokannya, menunggu datang Pak Tua si tukang pijat keliling yang bakal mengajarinya banyak hal soal pijat-memijat. Abim sudah memutuskan buat mencari hidup dari kelihaian tangannya memijat. Bukan dari rumah ke rumah, tentu, melainkan dari hotel ke hotel. Begitulah sore ini, seperti sore-sore lain dalam dua minggu ini Abim tekun belajar memijat demi menyambung hidup dan sekolahnya di kota.



***



Tapi sore ini gerimis datang terlalu rapat. Padahal, kalau sore datang dan tak sedang hujan, biasanya bakal lewat bayangan panjang Pak Tua dengan langkah terseret dari ujung barat jalan depan rumah kost Abim, dengan bumbu suara seraknya.



“Pijat refleksi, hernia, sakit kepala, darah tinggi….” Dengan cara tersendiri orang tua itu olengkan kepala sedikit ke kiri. Agak diputarnya lagi ke kanan dan, “pijat refleksi….”



“Pijat, Pak.”



“….hernia, sakit kepala, darah tinggi…..”



“Sakit kepala, Pak.” Kali pertama menyebut kata itu Abim merasa agak ragu. Tapi, Pak Tua itu tetap mengikuti langkah Abim. Begitulah, tiap-tiap sorenya. Abim sendiri seperti sudah tak mau mengubah cara-cara Pak Tua ini, dari hari ke hari. Menerima begitu saja tiap bagian dari akad sewa jasa ini layaknya sebuah kebiasaan baru buatnya.



Lalu mereka mulai melakukannya semuanya, satu-satu. Tutup pintu, buka baju, pijat ini, pijat itu.



“Kalau ini, titik pusat pijat buat migrain Mas.” Ada saja selingan macam itu dari mulut keriput Pak Tua. “Tapi andak boleh dikerjakan orangnya sendiri. Bisa mindah letak titiknya nanti. Jadi mesti dibantu orang lain.”



“Kalau buat jantung, paru-paru, hepar, ginjel gitu, ada juga di tangan, Pak?”



“Ada Mas, ada. Tapi, ya….nanti dulu, Mas. Satu-satu….” Entah sabar atau kikir, Pak Tua selalu terlalu sedikit cerita tiap harinya. Itu pun tidak semua cerita, mungkin belum. Seperti sore itu.



Abim yakin, Pak Tua mestinya seorang sin-she piawai. Tapi kenapa hidupnya tetap di jalanan, sergah pikiran Abim yang lain, pakaiannya saja seperti tak pernah ada yang kelihatan masih layak pakai. Tapi, lelaki tua agak botak itu seperti jarang mau peduli pada soal-soal semacam itu. Juga waktu pemuda tanggung ini mengaku mau jadi ahli pijat ulung, Pak Tua diam saja hanya tangan keriputnya yang terus bekerja. Semacam dukungan atau sekadar komentar pun tak keluar dari bibirnya yang membentuk garis lengkung berkerut itu. Terpaksa, waktu dan simpanan terakhir mahasiswa yang sudah tak mendapat pesangon dari orang tuanya itu pun musti hangus satu-satu.



“Saya sendiri kalau ndak yakin masih suka buka-buka buku ini kok Mas,” ujarnya kemarin sore. “Haa, ini dia….Ini titik-titik kunci pijat buat bikin betul letaknya ginjel sama mulihkan tali pengiketnya. Haa….ketahuan sekarang….”



“Ya, Pak.” Abim menelan ludah saja, mendengar suara Pak Tua sibuk sendiri dengan buku suci pijat-memijatnya. Semangat sudah nyaris habis.



“Yaa, kadang-kadang ada yang sakitnya macam-macam Mas.”



“Ya.”



“Ada juga yang maunya macam-macam.” Celoteh Pak Tua kali ini membuat Abim tertegun, seperti bocah yang tertangkap basah mencuri harta warisan milik tetangganya. “Yang kepingin gemuklah, kuruslah. Ada juga yang pingin cepat kaya, cepat dapat jodoh. Mau dapat jodoh kok omong sama tukang pijet. Sinting, dikiranya kita ini praktek dukun, apa?”



“Sebentar Pak.” Abim mulai tak tahan. “Saya bikin teh dulu.”



“Yaa. Pakai ini saja, Mas. Teh item baik buat tekanan darah yang baru naik.” ujar Pak Tua seperti mau mengingatkan Abim soal pelajaran saji teh yang diberikan sebelumnya.



“Ya, Pak.”



“Orang kadang menjamu untuk dirinya sendiri.....”



“Ya.” Bayangan kurusnya sudah hilang ditelan lorong ke arah dapur. Bersiap mendengar bisik-bisik dari beberapa teman kostnya, tetang Suhu barunya itu. Mereka juga suka menirukan cara menyeret jalannya. Atau, tangannya yang selalu gerak-gerik sendiri.



***



Tapi siapa mau peduli. Abim pun tidak. Dia mendengar, sekadar mendengar. Mereka yang suka kasak-kusuk biasanya tak cukup kenal keadaan, pikir Abim sambil mengaduk gelas tehnya. Selama ini Joko saja yang dipercayainya. Tapi keadaan jadi makin sulit saja akhir-akhir ini. Joko makin sibuk bepergian, larut dalam kesibukan biasa setelah wisuda, mencari kerja.



Petang di teras ini, matahari sudah lama lindap. Dan bau sedap Pak Tua belum juga tercium oleh hidung Abim. Mungkin gerimis kecil barusan membuat Pak Tua malas keluar. Jaga kesehatan, seperti yang biasa dia katakan pada murid barunya ini. Dan Abim masih setia menunggu, duduk di bangku panjang dari kayu meranti bercat hitam di teras depan kostnya itu. Selain menunggu Pak Tua, dia juga mau ketemu Joko. Sudah lama dia mau bilang pada Joko, soal rencananya jadi ahli pijat refleksi itu, tapi akhir-akhir ini dokter ikal berkulit legam itu seperti hilang ditelan arus kehidupan kota.



“Nunggu wangsit dari eyang guru, Bim?” Yudi, mahasiswa ekonomi itu memang salah satu teman kostnya yang paling getol menggoda tabiat pijat-memijat Abim.



“Nggak usah ikut-ikutan sinis, Mas Yudi.”



“Enggaaaak. Aku malah ikut senang sama rencanamu itu.” Pemuda berambut tipis itu mengambil tempat dekat Abim. “Aku sendiri, belum tentu bisa begitu.”



***



Di balik senyum kecut Yudi terbuka tiap lembar jatuh bangun yang dirasakan Abim. Akhir Agustus, karena kemarahan yang menggila, Abim menabrak mati seorang ibu muda yang sedang senang-senangnya menjemput kesembuhan suaminya di rumah sakit. Berurusan dengan polisi dan menguras simpanan Bapak yang sudah setahun tak disentuhnya. Waktu itu, Bapak sampai harus merelakan mobil tuanya. Sejak itu kemana pun orang separuh umur itu musti naik motor yang baru ditebus dari polisi.



Akhir November, mungkin karena terlalu capek, Bapak kambuh penyakit lambung dan darah tingginya. Sedikit demam, Bapak berjalan ke kamar mandi. Terpeleset di dekat sumur Bapak jatuh terduduk. Demam meninggi, rawat inap dua hari dan tak tertolong lagi. Bapak meninggal sebelum Abim sempat membesuk, bahkan selama rawat inap orang tua itu sudah menolak tawaran Ibu untuk menjemput Abim. Kejadian ini membuat Abim merasa hampir gila, rasa bersalah karena menjadi sebab dari kematian Bapak dan Ibu itu tak tertebus dengan tangisan yang melolong dalam batinnya.



Akhir tahun lalu, tampaknya bakal menjadi akhir dari bagian hidup normalnya yang paling mungkin. Calon isteri yang pernah melahirkan dua janin mati untuknya itu tiba-tiba pergi begitu saja. Maka bagian akhir ini benar-benar membuatnya gila. Enam bulan berikutnya, Abim menjalani perawatan intensif dari seorang dokter, seorang guru besar ahli jiwa. Dari dokter jiwa itu Abim mendapat beberapa butir pereda rasa sakit dosis tinggi. Selebihnya cuma daftar pertanyaan dan jawaban-jawaban bodoh, pikir Abim sebelum pada akhirnya dia memutuskan buat meninggalkan ruang konsultasi ahli jiwa itu.



***



“Mas Joko kemana, Mas?”



“Lho, ada kok. Tidur dari siang. Bangunkan saja, sudah maghrib juga.”



“Iyalah,” turunkan kaki dan berdiri. “Lha, itu orangnya. Mas! Mas Joko! Sebentar Mas!”



“Sebentar Bim,” lelaki rambut ikal itu menghentikan motornya di luar pagar. “Aku musti ke kedokteran. Katanya mau ada transaksi. Maklum pemuda panggilan....sebentar ya, semuanya....”



“Yaa, ya.” Abim dan Yudi hampir bersamaan menjawab seruan Joko yang sudah jauh di ujung gang. Abim duduk lagi, lebih lemas lagi.



“Untung ada orang macam Mas Joko, Bim,” celetuk Yudi.



“Ah, Mas Yudi juga sering bantu saya, kan?” suara itu sedatar matanya menatap gang depan kostnya. “Seperti sekarang ini.”



“Eh, apa kabarnya Pak Gurumu? Dari suara dalam kamarmu, kedengarannya kalian mulai akrab.”



“Yaa. Tapi orangnya susah, Mas,” matanya ke kanan-kiri sepanjang gang di batas pagar. “Setiap tanya nggak pernah di jawab langsung.”



“Itu yang namanya akrab, Bim. Jangan buruk sangka dulu.”



“Wah. Saking akrabnya sampai-sampai pulang pun nggak pakai pamitan,” alis Abim mengkerut tajam. “Padahal baru aku tinggal sebentar, bikin teh. Buat dia juga. Kemarin itu, malahan teh yang aku seduh karena menuruti kemuannya ditinggal begitu saja. Sebungkus-bungkusnya. Bukunya juga ketinggalan, tahu rasa dia, kehilangan kitab sucinya. Itu Mas, buku pijatnya itu.”



“Ya, kalau bisa dikembalikan Bim,” mengisap dan mengembus asap rokoknya lagi. “Mungkin kemarin dia agak buru-buru. Siapa tahu ada janji sama pelanggan lain yang lebih galak, iya kan?”



“Yaa, siapa tahu Mas. Orang sekarang saja dia nggak lewat.”



“Sudahlah, sabar dulu.” Yudi berdiri dan meregangkan pinggang ke kanan-kiri. “Nonton tivi saja, yuk.”



Yudi tak menunggu jawaban lagi. Ikut bergerombol di antara anak-anak kost lain di depan televisi ruang tengah. Sementara Abim belum bisa melepaskan matanya dari gang depan pagar ini. Pikirannya berloncatan antara Pak Tua, Joko dan simpanannya yang tinggal cukup buat sekali pijat dan sekali makan malam ini. Kalau Pak Tua tak jadi datang berarti masih ada sisa buat besok. Sehabis itu Abim masih belum tahu, mungkin dia musti benar-benar bertaruh dengan tangan dan jari-jarinya, dengan suara seraknya. Mengorek kuping orang-orang, dari kampung ke kampung.



“Bim!” Joko sudah di depan pagar lagi. “Tolong kamu ikut aku sekarang. Aku ada perlu.”



“Ya, Mas.” Abim berlari kecil. “Kenapa, Mas, kok gugup sekali?”



Joko tak memberi waktu buat duduk dengan enak. Motornya melesat kesetanan. Menari-nari di antara puluhan kendaraan lain dan merkuri pembatas jalan. Joko hampir menabrak portal gerbang gedung Fakultas Kedokteran dan membuka dengan kasar pintu ruang bedah.



“Ini, Dok.” Nafasnya sengal. “Teman saya ini kenal baik dengan subyek.”



Orang-orang berjas putih, para dokter, menatap tajam ke arah Joko dari kursi masing-masing di seputar sebuah meja.



“Kamu kenal Pak Tua, kan Bim.” Joko menuntun langkah Abim sambil berbisik lirih, nyaris tak terdengar. “Kalau enggak, dia bisa jadi mister-X dan dijadikan praktek anatomi.”



“Ya, Mas.”



“Kamu kenal keluarganya, kan? Tahu rumahnya?”



Beberapa waktu Abim tercenung. Matanya berloncatan lagi seperti garis-garis sinar pada layar mesin penghitung denyut nadi. Matanya berdenyutan antara Pak Tua yang tak lagi bersuara, tampak payah, dan buku sucinya. Antara Joko dan nafas sengalnya. Antara para dokter dan kekerabatannya yang kebal hukum. Satu untuk semua, sum-per-ply.



Antara perutnya dan lampu pijar di atas kepala Pak Tua yang mulai menggandakan diri. Berpijar terus dan berputar-putar persis mitraliur bintang musim hujan.



“Pak Tua ditemukan telentang di jalan, tadi waktu hujan. Keteranganmu sangat dibutuhkan sekarang.” Suara Joko berdenyaran antara gelap dan terang. Antara keheningan yang samun dan denyut nadi yang makin lemah.



“Maaf, Mas. Aku nggak bisa bantu. Aku nggak tahu...” Gelap. Matanya terkatup rapat.



“Saudara Joko, harap ikut saya sebentar.”



“Tidak, Dok. Terima-kasih. Kami pulang. Permisi.” Joko mengangkat tubuh kecil Abim yang melemah terkuras perutnya sendiri. Mata Abim makin pekat dan hitam, justru saat ingat jari-jari kanan Pak Tua yang biasanya lumpuh itu sedikit tergerak tadi. Justru saat mesin penghitung nadi itu berdenging panjang sekarang.



Untuk sinshe jalanan

sepanjang Karangmenjangan akhir ‘94




Surabaya, 032000