Doa Dev
Empat sore tepat. Sebagian kaki berhak sepatu tinggi terjulur di atas tangga teras kiri kantor sebuah harian. Sebagian tegak bersandar pada bangku kayu seadanya. Sepasang sepatu kulit biasa bergerak-gerak resah di antara mereka. Sepasang sepatu kulit lain yang lebih mengkilat terinjak keras di ujung lain.
"Nunggu siapa ?" Sepatu hitam bersol rendah mengorek nada acuh-tak-acuh.
"Nggak. Nggak ada." Sepatu kulit depan bangku kayu jadi lebih resah, rokok di sela dua kakinya berputar-putar sendiri.
"Cari hiburan…..?" Sedikit merentang dan menutup lagi dalam tempo allegro.
"Eh. Emm. Bukan. Bukan." Pikirannya larut dengan ocehan editornya pagi ini.
"Lho, mau apa?"
"Istirahat…." Bersandar pada rolling door kantor itu.
"Kerja di sini?" Acuh-tak-acuh lagi. "Bagian apa?"
Harusnya aku yang banyak bertanya, pikir pemilik sepatu kulit itu. Tapi mungkin semuanya memang sedang terbalik. Dia juga merasa harusnya lebih banyak tahu soal-soal di lapangan, tapi editornya merasa sebaliknya. Orang tua itu ngoceh nggak karuan pagi ini. Harus begini, harus begitu. Tidak boleh ini, jangan itu. Hampir tiga jam penuh dihabiskannya cuma buat berceramah soal kerja di lapangan, padahal pemilik sepatu kulit itu tahu benar orang tua itu tak pernah terlihat ada di lapangan. Jangankan di lapangan, jalan saja susah.
"Hei, bengong…"
"Eh, ya-ya. Agama."
"Oo…wartawan agama?"
Cuma anggukan lesu yang menjawab. Suaranya sendiri sudah jauh tertelan pikirannya yang jengkel campur kesal, campur geli. Reporter macam apa yang kerjanya cuma ditanyai orang lain. Mustinya aku yang bertanya, pikirnya keras-keras, mustinya aku yang mencari tahu soal kamu. Tapi, apa menariknya agama buat orang macam kamu, yang tiap hari duduk-duduk di sini menunggu tamu. Tamu?! Hah, orang mana mau bertamu di pinggiran kantor macam ini. Mungkin lebih baik bukan tamu. Tapi, apa ya? Sebutan apa yang pas buat mereka. Aaa, mungkin…
"Suka ngelamun?"
"Nggak juga."
"Lha barusan." Selembar tissue menggosok jatuh.
"Capek."
"Kebanyakan lembur, ya?" Mengingatkan reporter itu pada suara ibunya."Apa….?"
"Dev…..!" Sepatu berkulit licin di ujung memberi tanda.
Sedan biru legam berhenti pelahan. Kaca-hitamnya melorot pelan.
"Ya!" Dev sepatu merah jambu cepat maju. Sebentar menengok pada sepatu kulit sebelahnya. "Sebentar."
Sepatu licin di sana mulai tak sabar, tapi mungkin si Dev itu terlalu berharga buat dibentak keras. Jadi mulut sepatunya saja yang naik turun. Si Dev mengajukan kakinya satu-satu. Membungkuk lembut, kepalanya sedikit masuk jendela sedan itu, mirip lidah panjang yang terjulur dari dalam. Panjang dan berkilat oleh matahari sore. Betisnya padat berisi, sedikit takikan di tengkuk mata kakinya.
Sepatu kulit di bangku tahu ada kecemburuan dari sorot mata banyak sepatu hak tinggi yang lain. Tapi satu yang bersepatu sol tinggi keperakan kelihatan tak acuh saja. Memainkan permen karetnya. Kaki jenjangnya tak tertutup oleh rok mini satin itu. Atau malah sengaja dibiarkannya terbuka. Reporter itu tidak terlalu suka memikirkan mereka. Kepalanya masih ngilu dengan makian atasannya. Sudah bulan ketiga masih belum ada perkembangan juga, seruan serak itu terdengar lagi. Kapan anda bisa maju, kalau begini terus. Bikin berita yang sederhana saja asal pembaca ngerti, ndak usah susah-susah bikin isu sendiri. Ndak usah menggurui pembaca, mereka itu lebih tahu dari anda. Kalau mereka lebih tahu, buat apa baca berita, bantah pikirannya sendiri.
Sudah tiga bulan dia tahu. Soal ada peningkatan atau tidak harusnya orang kantor lebih tahu, protesnya lagi, kenapa musti tanya. Kenapa nggak sekalian tanya gimana hidupku, gimana keluargaku, gimana isteriku. Abu rokoknya menimpa celana. Angin nakal meraupkan abu itu ke mukanya. Berdecak sedikit, lalu matanya ikut-ikutan nakal menguliti rok mini satin yang digoda angin barusan.
"Ee. Cari gratisan, ya?" Si kecil rok satin itu melempar permen karetnya.
Reporter itu mengelak kecil. Senyum sedikit dan menekuri diri lagi. Sebentar matanya menangkap bayangan Dev terlihat alot di samping sedan itu. Tak lama Dev pun menggeleng dan berlalu. Antrian di belakang yang sudah lama menunggu saling berebutan mencapai pintu birunya. Dev melirik arah rok mini sekilas, mengambil sebatang rokok, dan menyulutnya.
"Kenapa?" Reporter itu menyambung rokoknya juga.
Dev menggeleng sambil mengisap kuat-kuat. Meniupkan asapnya lagi dengan hembusan mahal.
"Agama, ya?" Pertanyaan mendadak itu tak sempat terjawab. "Apa menariknya?"
"Kamu sendiri gimana?" Nada desahnya agak tinggi. "Masih percaya?"
"Tanya? Ngejek?" Tarik lagi embus lagi. "Jangan-jangan kamu sendiri nggak percaya."
"Heh."
Mata reporter itu kosong lagi. Pikirannya mengalir ke sekian jalan yang sudah ditempuhnya. Ada senang ada susah. Tak satu pun bikin dia bertanya soal keyakinan macam itu. Tiga bulan ini jadi reporter halaman ini pun tak pernah bertanya buat apa. Tak semua bisa ditanya untuk apa, kata sebuah tulisan. Tapi katanya sendiri kenapa bukan cuma soal untuk apa. Mungkin ada yang salah di otak penulisnya, mungkin juga tidak. Mungkin cuma satu yang bisa menjawabnya, mungkin juga tidak. Dia tidak tahu kenapa mesti kerja di tempat ini. Bertemu perempuan ini. Bertemu orang-orang lain. Bertemu perempuan-perempuan lain. Bertemu isterinya yang mulai melepasnya akhir-akhir ini. Mungkin isterinya jengkel dengan kebebalannya mencari kerja. Mungkin isterinya mau dia berusaha lebih keras lagi. Mungkin juga isterinya memang sudah tidak menginginkannya lagi.
"Nglamun lagi?" Asap itu disemburkan ke teman barunya.
"Bukan." Setelah beberapa kali mengangguk-angguk.
"Lantas apa namanya?" Ditiupkannya lagi asap itu. "Merenungi takdir Ilahi? Apa bedanya? Kamu bisa hidup cuma dengan merenung-renung begitu? Kenyang? Kecukupan?"
Lelaki muda di samping cuma menggeleng lemah. Mungkin karena tak ada jawaban buatnya. Mungkin juga karena reporter ini bosan dengan pertanyaan-pertanyaan macam itu. Isterinya sudah terlalu sering bertanya seperti itu. Bahkan dengan sedikit keras. Dan yang paling menjengkelkan dari mengingat pertanyaan isterinya adalah ingatan soal tabiat isterinya yang mulai berubah. Enam bulan terakhir ini isterinya mulai tak banyak menanyainya lagi. Isterinya membiarkannya saja melakukan apa pun yang dia mau. Mau kerja silakan, mau luntang-luntung juga nggak masalah. Isterinya tak lagi protes ini atau menuntut itu. Harusnya dia senang, tapi tidak.
Reporter ini mulai bingung dengan kelakuan isterinya. Isterinya yang dikenal taat beragama, setidaknya menurut pandangan orang, mulai bergeser sedikit demi sedikit. Membiarkannya bukan karena ingin membebaskannya, tapi karena ingin membebaskan dirinya sendiri.
"Aku pulang dulu." Sepatu kulitnya mulai kurang jelas oleh sisa matahari dan sedikit lampu jalan."Wawancaranya lain kali saja."
Jalan mulai lengang. Selewat hari menjadi saat-saat paling mendebarkan. Dulu isterinya paling suka menegurnya soal sembahyang, sekarang tidak lagi. Dulu isterinya paling rajin membuatkan kopi, sekarang jangan mimpi. Tapi saat begini tetap saja menyisakan rasa kurang nyaman di kepala reporter ini. Sebagian orang di gangnya malah suka cemas pada jam-jam ini kalau-kalau jadi langganan pencuri motor.
"Hei?! Hei?!" Teriakannya mengejutkan seorang perempuan muda yang nyaris masuk sebuah sedan metalik di depan rumahnya.
Buru-buru dia berlari. Memburu nafasnya dan gerung sedan itu, jangan sampai kalah cepat. Ditendangnya pintu kanan sedan itu. Lelaki dalam mobil itu dia tarik keras-keras. Begitu lelaki itu keluar langsung dipukulnya sekerasnya.
"Anjing bau kencur. Suka bawa isteri orang, ya?!" Sengaja dikeraskan buat mengundang orang kampung. "Nggak ada perempuan lain, ha? Nggak bisa cari yang lebih muda, yang belum kawin?"
Pukulannya makin keras bersamaan datangnya banyak tetangga. Pemuda dari dalam mobil itu gelagapan melihat kemarahan di sekitarnya. Benar, yang dia takutkan bukan suami kekasihnya ini melainkan kemarahan massal yang sewaktu-waktu bisa meledak saat itu.
"Masuk. Masuk ke mobil mesummu ini dan jangan datang lagi."
Pemuda itu menurut. Isteri reporter mendatangi suaminya dengan lembut. Tegak di sana dan melayangkan tamparannya kuat-kuat.
"Bikin malu." Lalu masuk sedan itu lagi tanpa ragu, sementara suaminya masih terlongong sendiri.
Orang-orang bubar satu-satu. Lelaki reporter itu sebentar mengawasi sisa debu yang disemburkan knalpot sedan di ujung gang. Lelaki ini masih tak percaya dengan penglihatannya. Tak percaya dengan tingkah isterinya, dengan ketaatannya.
Jalan mulai lengang. Benar-benar lengang. Kantornya sudah lama sepi. Tinggal para penjaga malam bermain kartu, sekadar pengisi waktu. Teras samping kiri juga sepi. Mungkin sepatu-sepatu cantik itu sudah dapat peminatnya sendiri-sendiri.
Dia, reporter itu, cuma duduk saja menunggu angin meniup habis batang rokoknya.
"Nglamun lagi, kan?" Suara itu terdengar capek di telinganya.
"Ya."
"Tumben?" Sebentar menunggu angin kosong. "Tumben ngaku?"
"Ya."
"Kenapa? Capek lagi?"
"Apa katamu soal agama?" Mengisap rokoknya yang buntung separuh. "Kamu percaya?"
Dev menghela nafasnya pelan. Merapikan duduk dan menutup kakinya dengan selembar kain warna-warni. Menyulut sebatang rokok lagi. Mengembuskan asapnya pelan-pelan dan tipis sekali.
"Kerja lembur hari ini?"
"Bukan, yang ini pribadi."
"Oya?! Tak ada recorder?" Tertawa kecil, renyah tapi punya harga. "Wah, nggak terkenal dong?!"
"Aku bisa menulisnya nanti kalau kamu mau."
"Oke. Apa masalahmu? Ada apa di rumah?" Menunggu jawaban dari batu bungkam itu lagi. "Soal isterimu?"
"Apa kita pernah kenal?" Matanya mengawasi lebih tajam tiap lekuk kecantikan di depannya. "Darimana kamu dapat kamus teka-teki-silangmu?"
"Kita sudah pernah kenal." Kali ini benar-benar ada kebingungan dari teman barunya. "Tadi siang……dan aku pikir nggak ada kamus seperti itu. Tapi keluarga muda tanpa anak, biasanya memang masih suka pakai cincin kawinnya. Ini kota besar dan kamu lelaki muda, banyak yang pingin cari selingan toh. Tapi kamu…"
"Oke, oke. Makasih ceramahnya. Kita balik ke soal agama." Kali ini dia yang menunggu. "Gimana komentarmu?"
"Ada kaitan apa dengan masalah di rumah barusan."
Reporter itu mengeluarkan botol kecil dari kantong celananya.
"Sorry." Menenggaknya sedikit dan menawari Dev yang menyambutnya pelan. "Isteriku….."
Dev menutup mulut reporter itu dengan telunjuknya.
"Lebih baik, kita sambil jalan-jalan."
"Kemana?" Reporter itu mulai bingung.
"Kemana saja." Menjulurkan tangannya. "Devi."
"Bram."
Berdua mereka melenggang sepanjang jalan samping kantornya. Sepanjang jalan pusat penjual bunga dan warung-warung makan. Sepanjang jalan-jalan di kota mereka. Sepanjang perjalanan mereka masing-masing. Sepanjang malam. Malam itu Bram tahu bedanya menjual tubuh dan menjual perasaan. Malam itu Bram tahu arti menjual cinta dan menjual kenikmatan. Malam itu Bram tahu Devi menjual tubuhnya hanya demi menutup rasa sakit ditinggal mati kekasihnya yang tertembak polisi karena buron setelah membunuh seorang mucikari yang lama memerasnya.
Besoknya, siang datang begitu cepat. Sore Bram datang ke teras itu lagi. Dia mau ngobrol lagi dengan Devi. Mau memberitahu Devi kalau cerita perjalanan perempuan itu dan pandangan agamanya menarik perhatian editor tuanya. Dia juga mau mengatakan rencananya merangkainya jadi skenario film.
"Dari kemarin dia nggak pulang mungkin sudah mati. Itu juga lebih baik, utangnya pada orang-orang sudah terlalu banyak." Lelaki bersepatu licin itu menjawab ringan sambil mulutnya terus mengunyah permen karet.
Reporter itu melihat yang diam menunduk. Cuma si kecil berok-mini kemarin yang tetap tegak ke jalan sambil senyum-senyum.
2002