Thursday, August 28, 2003

tak semua memang

bisa ditanya untuk apa




ini dari sebuah puisi si gundul itu...padahal ini pun sudah merupakan sebuah reduksi; klo berniat bertanya tentang sang mengapa, aku rasa lebih baik gunakan mengapa. Mengapa tidak sesempit makna yang dipertanyakan oleh sebab/karena apa alias kena apa yg dipersingkat menjadi kenapa. Mengapa pun tidak sesempit untuk apa atau buat apa yang terlalu pragmatis bahkan cenderung mengarah pada utilitarianis, opportunis, dan bahkan hedonis...mari aku berkaca lagi dan mengapa aku bertanya-tanya; ah mungkin hanya ingin mengenali diri (gnoi seaton; bual plato menirukan gurunya di pintu-pintu kelas academosnya), mungkin hanya ingin berpatut-patut diri, barangkali sekadar mau katarsis meski tak selalu ekstasis (masturbasi batin seperti setiap saat aku sambat pada yg aku anggap kuasa pada segala doa dan dosa; sayang, aku mulai coba tinggalkan pikiran tentang reward and punishment yg kerap membuatku jadi penjilat atau paranoia), pun barangkali sekadar mewedar mimpi-mimpi yang tak pasti....barangkali seperti mimpi...soal apakah ruang ini bakal jadi ajang perdebatan diskusi karya atau apa ya terserah saja...sebab pada ruang yang terlanjur terbuka sebagaimana juga karya penulis/penyair telah mati di sana...ketika ia coba mengunjungi lagi ruang itu, ia pun tamu dan pembaca yang baru...toh tak ada kaki yang menyeberangi sungai dua kali...justru kalau aku menyayangkan adanya gejolak dan perbedaan yang berkembang atau kukuh memegang petak-petak sawah yang ada maka aku merasa seperti berada dalam penjara strukturalisme mesin-mesin, padahal cukup lama kudengar gaung perlawanan yang terbantun dalam maraknya gelegak Rage Against the Machine, padahal aku begitu gandrung dengan tarian masyuknya para penggembira di jalanan generasi bunga (the lost generations?), padahal aku sangat terpesona oleh pesona dialog pembunuh tua yang dibualkan sean connery dalam the rock (setelah ini aku berhenti dan memilih menjadi petani atau penyair...) sementara teriakan nelangsanya nicholas cage menyeruak ke udara pecah seperti balon-balon kalimat dalam komik...aku suka tekanan, aku suka tekanan, aku suka tekanan...aku bahkan jarang membayangkan hidup dalam kelimpahan benda-benda dari [B]puri rapuhku[/B] setelah sekian abad suntuk dalam menggoreskan darahku pada dinding-dindingnya karena kertas, korden, pakaian dan sprei telah habis bersama menguapnya dawat tinta dalam botol-botol jack daniels…toh, aku bukan nirdawat atau penulis kwartet tarian cangkir remuk yang nyatanya menyosor dari quatrine of an artist as a didderot man…aku pun rafilus aku juga bukan bekas pelukis yang tergila-gila pada mayat bekas istrinya…aku bukan kropos yg diselundupkan, dimangsa dan dicerabut dalam oleh dan dari zabaza….aku tak mungkin menjelma bekas calon rahib, bekas pejuang, bekas algojo pemenggal kepala para pengkhianat, dan gelandangan yang dihidupi maria dan hendak dihidupi vivi yang terbunuh itu….aku pun bukan lelaki yang sanggup menatap inti matahari hingga hanya tinggal satu dan satu-satunya masalah yang dihadapinya yakni bahwa sepanjang malam ia ada melihat matahari dalam tempurung kepalanya…meski aku bukan si dungu yang ketika digorok akan berbisik mesra pada cuaca….”seperti anjing…..” mustahil…..dan musykil aku menjadi seorang muda yang sedia membunuh nyonya rentenir tetangga hanya demi suara-suara tokoh besarnya sambil melunasi seluruh hutang hidupnya….pun tak ada niatan dalam benakku untuk sekali pun mengeja-wantah diri sebagai kecoa seperti metamorfosa yang gagal dan memuakkan…..aku tak berhasrat merengkuh segala kemuakkan dalam mata jejala mayapadha ini sebagaimana pernah dinyatakan oleh si penjual kata-kata, yang kerap merasa muak pada keterasingan….juga tak perlu aku menggerus rumusan-rumusan pretensi atas surga atau neraka di dasar pantatku hingga merusukkan tinju peradaban dalam buku bulukan tertajuk hajad absolut….kalo kerasa reseh atau bikin pusing…..lah apa ya setiap langkahku musti ga kesandung, ga pake jatuh….aku kok ga ngerasa itu perlu diperumit dengan segala perhitungan….terlalu banyak berhitung mending aku ga usah mencintai bunga-bunga….terlalu sedikit gunanya….mending aku milih jadi tukang intelek atawa dagang bualan di kelas-kelas…atau sekalian koar-koar jadi nabi penjaga gawang moralitas kaya juragan sekte di jepang yg bisa bikin orang sekampung bunuh diri massal…tanpa perlu jagal…wah kalo dah kayak gitu kayanya aku dah jadi teror yang lebih mengerikan ketimbang segala bentuk senjata balistik, bom plastik, bombasme…..sebab bombie ada di kepalaku….lha aku mau mleding, mau nungging, mau ngibing, mau apa juga siapa sebenarnya yang paling sah seabsah-absahnya memberikan tanda seru sampai…..kotaku penuh tanda seru….kecuali temenku yang kadang selera humornya rada kelewatan itu….dia yang kadang jadi penembak yang tak jitu…dia yang juga mencintai bunga-bunga…..

aku tak bicara

buah, daun dan pokok

anggur kebunmu

cuma kucinta

semai, semi, dan mekar

bunga-bungaku

proklamasi58 sby, 3:38