Sunday, August 03, 2003

Jalan gelap belakang SC











Debu. Dan puing-puing beterbangan memenuhi ruangan. Hampir seluruh sudut ruang di tepi pantai ini lebur jadi serpihan debu dan remah-remah sisa bangunan. Pantai ini jadi lebih luas dan ramai oleh potongan-potongan tubuh basah merah, ketimbang oleh hingar-bingar musik klab malam.



Ari terus merangkak, keluar. Mencari jalan paling mungkin di antara perih sekujur tubuhnya yang terbuka dan lepuh. Bertumpu pada lengan kanan, dilihatnya tubuh-tubuh lain di sekelilingnya pun cuma potongan tulang dan keratan daging hangus, dia mulai yakin kalau Devia telah habis riwayatnya. Sasaran yang seharusnya habis di tangannya itu rupanya sudah lebih dulu mati. Matanya terasa hangat dan basah, entah untuk siapa. Entah untuk apa, dia cuma ingat tak semua bisa ditanya untuk apa.



Lelaki legam ini mendengus, saat tangan kirinya menyikut tembok lapuk di luar bangunan rubuh itu. Nyeri yang menyebar dari sikunya hampir-hampir membuatnya berteriak sekeras geledek yang pernah didengarnya. Beruntung dia segera menahan kelojotan lidahnya begitu sadar beberapa orang mulai datang. Tak lama berselang orang-orang itu berbiak jadi puluhan sampai ratusan penduduk dan pelancong yang sibuk mencari sanak keluarganya. Ari selamat, mungkin juga bakal lebih selamat kalau segera dilarikan ke rumah sakit. Tapi Ari lebih memilih diam, menyelinap diam-diam.



Rumah sakit mungkin bisa menyelamatkannya dari luka-luka, tapi tidak dari kejaran orang-orang yang sedang memburunya. Dengan luka di mana-mana lelaki ramping kecil itu terus menuju kegelapan. Menembus malam, sampai ke sudut paling gelap di kolong kota pesisir selatan ini, tak ada lagi yang perlu ditakutkannya terhadap malam. Sebab Ari bahkan telah menembus batas perjanjiannya dengan You-As Inc. Intl.



Perjanjiannya adalah bahwa Ari harus menghabisi seorang pembelot bernama Devia. Entah, pembelotan macam apa yang telah dilakukan perempuan muda berdarah lokal dan Yunani itu. Buat Ari alasan bukanlah satu hal penting untuk pelaksanaan tugasnya, bisnisnya. Satu sasaran, satu penghabisan1 dan satu pembayaran, sudah cukup buat dijadikan satu alasan. Tugas adalah tugas, bisnis adalah bisnis.



Biasanya juga begitu. Mulai dari model penghabisan manual, penghabisan dengan mesiu, kecelakaan biasa, sampai kecelakaan tanpa jejak korban pun biasa dilakukannya. Begitu yakin dengan sasaran, maka sisanya tinggal menunggu saat yang tepat buat saat penghabisan. Itu pun tak perlu banyak makan waktu. Dan kalau harganya terlalu kecil, maka jebolan sekolah jalanan Jagir ini akan memakai cara lama yang sudah ketinggalan dan sederhana.



Dia jemput orang itu dari depan atau belakang. Renggut rambutnya, lalu gesekkan katana2 dari ujung ke ujung. Lalu pergi tanpa pernah menengok ke belakang lagi, hanya jeritan orang-orang di sekitar korban yang kadang terngiang. Begitulah semua sasaran Ari habis tanpa menyisakan perkara. Satu-satunya masalah adalah bahwa dia tak bisa cepat pulang. Dua tiga bulan ke depan dia harus pergi keliling negeri ini.



Satu kali sempat ibunya bertanya.



“Apa nggak bisa cari kerjaan lain?” tangan ibunya terus menggerus ramuan luka akibat terobek dalam sebuah bisnis besar untuk menghadapi seorang jawara tua dan memaksanya pulang sebentar.



“Buat apa?” meringis menahan rasa perih di iga kirinya.



“Apa nggak takut kuwalat?”



Sebenarnya jeri juga Ari pada pertanyaan itu. Tapi meninggalkan bisnis yang sudah dijalaninya sepuluh tahun lebih ini bukan pekerjaan mudah. Dan lagi lelaki berambut daun cemara ini, yang kalau dipotong pendek bakal kelihatan seperti mau menantang langit, sudah punya satu cara buat menghindari kata kuwalat itu. Satu hal, jangan pernah melihat mata korban3. Apa pun yang terjadi padanya. Satu lagi kunci di luar tugas, sehari-hari jangan pernah mencari atau mendekati masalah.



Pernah satu kali kampungnya diributkan oleh tawuran persahabatan, perebutan daerah kekuasaan, dengan pemuda kampung sebelah. Seorang pemuda kampungnya datang berlari-lari dari arah lokasi kejadian menuju rumahnya. Ari segera berdiri dari tempatnya berjongkok di depan pintu.



“Jangan. Cari tempat lain saja,” tangannya tetap ringan tanpa kesiagaan bertarung, tapi matanya sarat tekanan.



“Tolonglah, Ri,” pemuda itu mencekam lambungnya yang menangis merah.



“Kamu tahu bagaimana aku. Aku tahu siapa kamu,” sambil berbisik Ari melangkah satu-satu. “Kamu sudah maju, kenapa sekarang mundur?”



Pemuda itu tak mau lebih lama menunggu, segera terbungkuk-bungkuk lari lebih cepat dari saat dia datang. Dan hilang di gelap malam. Ari jongkok lagi, menyulut rokoknya. Beberapa saat kemudian seorang pemuda lain datang, pemuda yang tak dikenalnya. Pedang panjang karatan berlumuran basah di tangannya. Ari diam di tempat, hanya pandangannya nanap ke titik hitam mata pemuda itu. Diisapnya rokok ditangan dalam-dalam, matanya menatap lebih dalam dari luka yang bisa dibuat dengan pedang gemetar itu.



“Kalau pedangmu deg-degan lihat mataku, jangan datang ke rumah ini.” embusan tipis keluar dari lubang hitam di wajahnya.



Penenteng pedang itu pun mundur beberapa tindak dan menghilang lagi. Mungkin mulai sadar, siapa lelaki di depannya barusan. Lelaki yang tak boleh disebutkan namanya dengan tidak hormat dalam radius 500 rumah dari kampungnya. Nama yang juga dikenal baik oleh para cukong pendendam. Namanya tak jarang juga dijadikan jaminan buat keluar tahanan, asal dia tak tahu. Sebab begitu dia tahu, maka tak akan segan-segan menghabisi tukang catut nama itu. Apa pun pasalnya. Jadi hidup bersih sudah menjadi kesehariannya.



Bukan apa-apa. Dia berusaha selalu tetap bersih, bahkan alkohol pun tak lagi disentuhnya. Cukup susu putih setiap pagi dan sorenya. Bersih di rumah, bersih di luar rumah, bersih pula pikirannya dari mata yang ketakutan saat para korban sekarat menjemput maut. Begitulah biasanya dan seharusnya.



Tapi kali ini Ari dipaksa melakukan kerja tambahan. Ada pembayaran lebih memang, meski sebenarnya dia tak terlalu suka melakukannya. Ari diminta lebih dulu menemui seseorang di salah satu kafe di ibukota, dia biasanya lebih suka melakukan transaksi lewat layar monitor dan nomor rekening saja. Tapi sudahlah, dia sudah terlanjur masuk ke dalam ruangan ber-ac itu. Duduk di antara orang-orang rapi paling menyebalkan yang pernah dilihatnya. Minum ini, minum itu, lantas melantur tak kenal ujung pangkal. Dan cuma satu yang tak seperti itu.



“Jadi anda, orang yang dikirimkan You-As?” suara lembut itu kemudian mengenalkan diri sebagai Devia.



Ari tercekat beberapa saat. Pertama kali itu dia menghadapi perempuan sebagai sasarannya. Selebihnya dia pun tak tahu bagaimana harus bersikap pada sasaran yang sudah tahu keadaannya sebagai korban.



“Kalau anda tak bersedia duduk, bagaimana kita bisa bertransaksi?” masih lembut, masih mencekam pikiran Ari. “Baik. Mana bagian saya? Saya sedang buru-buru.”



Bagian? Uang? Ini lagi, Ari tak pernah soal transaksi dan pembagian uang apa pun.



“Tidak, saya cuma diminta mengantar sampai Pelabuhan Ratu,” tukas pemuda itu tanpa arah.



“Kenapa mereka selalu mempersulit keadaan?” kepalanya menggeleng beberapa kali. “Kecil-kecil tapi menjengkelkan. Ah, kalau saja anda pernah melakukan tugas yang lebih berat dari ini. Hal-hal kecil seperti ini pasti akan sangat menjengkelkan. Saya sudah menunggu lebih dari enam bulan untuk pembayaran yang seharusnya saya terima segera setelah tugas saya selesai. Pernah menghabisi orang-orang tak dikenal?”



Pertanyaan itu. Pertanyaan itulah yang menghentakkan Ari dari arah jalannya. Dia sedang dalam tugas, menghabisi orang yang harusnya mendapat bayaran sebagai hasil jerih payahnya. Orang yang seharusnya bisa menjadi teman senasib. Senasib, pikiran itu juga yang menjerumuskannya dalam kubangan yang lebih jauh. Aku pun bisa mengalami nasib serupa kalau sudah tak dibutuhkan lagi atau dianggap seperti itu, pikiran Ari mulai limbung.



Sampai di kamar hotel dekat Pelabuhan Ratu, Ari juga tak menemukan pengantar pembayarannya yang dijanjikan akan menemuinya di sana. Ari lebih keras lagi berpikir, jangan-jangan aku pun menjadi sasaran. Diperiksanya beberapa barang bawaan Devia. Tak ada yang berbahaya, tak ada benda tajam, tak ada peledak yang bisa membuatnya sekarat, tak ada mesin penghancur kaliber berat. Hanya sebuah magnum yang bisa diamankannya.



“Kenapa kau bongkar barang-barangku?!” masih dengan handuk di badan, keluar dari kamar mandi, kelembutan itu pun berubah berang. Ari sedikit terusik oleh tingkah berang-berang betina ini.



“Kita harus pergi.”



“Kemana lagi?!”



“Entahlah, aku merasa tidak nyaman di sini.”



“Kenapa? Ini kan yang kalian inginkan? Kita berlarat-larat dengan perjalanan celaka ini?!” G-string, bee-dee’s dan seragam hitam dari You-As sudah lengkap di tubuh padat-rampingnya.



“Rasanya....tak lama lagi aku pun bakal mengalami perjalanan sepertimu.”



“Baik. Lelaki penuh perasaan, jelaskan maksudmu,” resleting panjang seragam itu hampir mencapai leher jenjangnya.



“Aku diminta menghabisi seseorang,” suaranya lemah.



“Aku?” melompat gesit dan digerayanginya tas hitam di bawah meja sudut sana. Lalu segera lemas setelah sadar kalau perbuatan itu pun sia-sia belaka. “Baik. Lakukan sekarang. Cepat!!”



Ari bergeming. Suara di depannya terngiang antara kemarahan dan keputus-asaan. Tangan kanan lelaki legam ini menjulur lemah, matanya menyapu lantai di bawah. Tenggoroknya naik turun saat magnum itu lepas berpindah tangan dengan cepat.



“Kenapa?” pertanyaan anak-anak sekolahan yang paling dibencinya.



“Kita harus cepat pergi dari sini.”



Devia tak bersuara lagi. Semua tas hitamnya sudah tertutup rapi. Beberapa saat mengintip keluar lewat tirai kamar mereka. “Berapa hargaku?”



“Tiga ribu dollar.”



“Murah sekali! Hh! Mereka benar-benar anjing,” Devia mengikat rambut sebahunya dan mundur bebarapa langkah, menjauhi jendela kamar itu pelahan. “Berapa per diem4mu sekarang.”



“Sekitar 250. Tapi rekeningku sudah cukup buat beli tanah peternakan di pedalaman timur sana,” mencoba melucu.



“Berapa banyak rekeningmu yang bisa kau selamatkan dari mereka?” mengintip tirai itu lagi. “Kita jawab nanti saja.”



Devia menggelandang tangan jagal yang baru pertama kali gagal ini. Ari kaget bukan kepalang, tapi Devia sudah menghambur tungang langgang, mendobrak pintu, dan terus berlari. Beberapa saat kemudian terdengar hingar bingar salvo melubangi jendela dan kamar yang baru lima langkah mereka tinggalkan.



Dan keduanya terus berlari. Lewat gang-gang kelinci dan lubang-lubang tikus yang mereka kenali. Sampailah keduanya di kota pesisir pantai selatan tempat sandaran para pelancong ini. Surga dunia di negeri para dewa ini, satu-satunya pilihan yang bisa mereka sepakati. Ari tak mau pulang dan menghancurkan hidup ibunya, keluarga satu-satunya. Devia tak tahu lagi harus ke mana. Angin kematian mereka sama, tapi mereka punya selera yang jelas berbeda. Ari tak suka keriuhan. Devia sebaliknya, lebih suka sembunyi di tengah keramaian.



“Aku tak mau mati berkumpul kebo dan sapi di ladang peternakan dalam otak konyolmu itu.”



“Aku juga tak mau mati di antara orang-orang bodoh yang suka berpura-pura menggelandang itu.”



“Terserah, kalau aku mati lebih dulu. Kau toh bakal punya pilihan buat menarik bayaranmu.”



Ari masih akan membantah kemungkinan itu, tapi Devia sudah tak bisa diajak bicara lagi. Berang-berang betina ini sudah menghambur di tengah keramaian pelabuhan. Melompat ringan di antara para penumpang bercampur ayam, kambing, dan sapi kiriman. Ari mengikut saja, tak tahu kenapa.



“Mau berapa lama kau bertahan dengan pekerjaan ini?” bisikan itu menyemburkan aroma tajam yang tak disuka Ari.



“Sampai aku bisa berhenti,” masih dengan susu putih hangat yang bisa bikin perut Devia mual-mual.



Sore itu keduanya keluar dari motel pinggir jalan milik kenalan Ari. Duduk berhadapan di salah satu sudut klab malam ini. Dekat pintu masuk, seorang lelaki berbadan tegap meninggalkan tas hitam. Lelaki itu sendiri menuju toilet seperti ditunjukkan oleh portir. Ari mendenguskan ketakutannya. Apakah orang tegap itu juga anggota You-As? Kenapa dia pergi lagi? Haruskah orang lain yang akan membuka tas hitam itu dan melakukan eksekusi atas mereka? Haruskah dia memastikan isi tas hitam itu? Haruskah dia digantung oleh pertanyaan-pertanyaan itu?



“Dev...?”



“Ri!” perempuan cantik itu sudah menyelinap jauh di antara para pesakitan di lantai dansa. Menari-nari di sana, sambil menunjuk-nunjuk ke arah pintu belakang. Dua orang berseragam You-As menunggu di bibir pintu itu. Devia hilang lagi, Ari memburunya tak tentu arah. Dalam hitungan 25 detik kemudian, Ari merasakan tubuhnya melambung tinggi, melayang keras dan akhirnya terhempas tumpas.



***



Ari terus merayap pelahan seperti kadal. Pelahan tapi pasti dia pun hilang di antara mayat-mayat. Di antara semak dan sisa bangunan. Radius seratus meter atau lebih telah rata dengan tanah. Tak lama berselang terdengar lagi ledakan yang tak kalah kerasnya. Tapi sepertinya bukan dari dalam kota, mungkin jauh di luar kota. Ari tak mau peduli lagi. Ari benar-benar tak mau melihat ke belakang lagi. Terus merayap dan mengumpat.



“Devia...” terus digumamkannya nama itu. Demamnya tak kunjung turun. Saat dia mulai sadar, tiba-tiba saja sudah banyak orang di sekitarnya. Sebagian kasihan, sebagian bertanya-tanya.



“Ah mungkin istrinya hilang di sana.”



“Ya, benar. Siapa tahu.”



“Nama bapak siapa?” seorang pemuda berpakaian serba putih menanyainya dengan sopan. Ari sendiri mencoba hentikan gigil demamnya



“Abim. Abimanyu lengkapnya,” diliriknya tangan pemuda itu mencatat namanya di secarik kertas berbantal kayu lapis, seperti ingin menjadi malaikat penjaga makamnya. Ari tak mau kalah dengan aksi penyamaran pemuda itu. Semua data yang diberikannya hanya pemanis bibir belaka. Genap seperempat jam pemuda itu selesai dengan daftar pertanyaannya. Ari, sebagai pengusaha seperti yang barusan diakunya, mendapat perawatan lebih intensif dan khusus. No. Registrasi kartu kredit atas nama Abimanyu ternyata bisa menjadi jaminan yang berharga. Beberapa lama kemudian didapatinya balutan disekujur tubuh dan wajahnya.



Tiga hari kemudian, Ari keluar dari kamp penampungan korban setelah menyelesaikan urusan administrasi. Tapi dia sendiri pun sulit mengenali wajahnya. Dia merasa harus menemui kenalannya pemilik motel pinggir jalan itu.



Tinggal puing-puing motelnya. Tapi pemiliknya masih selamat dan mengadakan semacam selamatan ruwat bumi di bekas bangunan motelnya. Lelaki paruh baya bersila di sana dengan seluruha sanak keluarganya, tak kurang seorang pun.



“Aku Ari, Bli.”



“Ah, saya kira sudah hilang juga kamu,” mata pensiunan jagal ini pun bertanya-tanya.



“Kupakai nama lain. Wajah dan badanku habis diberangus. Gila benar mereka.”



“Kudengar, urusanamu bukan masalah kecil. Devia tahu urusan di kota ini, kemarin dia datang, tapi dia tak mau bilang.”



“Jadi dia sengaja membawaku kemari.”



“Bukan. Dia tahu lokasi ini bakal lebur. Karena itu dia diburu. Sintingnya dia justru sengaja datang kemari, mungkin mencari teman mati sebanyak-banyaknya dari pihak mereka. Sudah taruh kemenyannya dan pergi.”



“Tolong urus surat-suratku.”



“Di kamar belakang rumah Tanah Lot,” lelaki itu terus memanjatkan doa bersama bubungan kemenyannya. Semoga dewa-dewa mendengarkan doa orang-orang yang tulus kepadanya. Ari menghilang di kerumunan orang-orang.



Sampai di kamar itu, Ari segera mencari kotak besi pipih hitamnya. Menemukan surat-suratnya masih lengkap.



“Mungkin aku memang harus mati berkumpul kebo dan sapimu.” Bisikan itu masih secantik orangnya. Luwak5 keparat, Ari mengumpat dalam hatinya kaget tak keruan, bagaimana berang-berang ini bisa menyelamatkan diri dan kecantikannya. Keduanya pun pergi lebih ke timur. Dari sana mereka tak mau lagi mendengar berita tentang ledakan yang makin simpang siur dan tak jelas jluntrungannya itu.



Ari lebih suka beternak dan berkebun, Devia sibuk dibelakang layar monitornya.



2003







1 Ari tak pernah punya kata bunuh dalam kamusnya, tapi tiap korbannya selalu sadar apa yang dialaminya setelah badannya terpisah dari roh yang memberinya tenaga. Sedang yang namanya roh itu sendiri sudah pergi entah kemana. Mungkin pergi bersama angin. Entah.



2 pedang ukuran sedang; warisan Mbah Karso yang sempat selamat dari jaman PETA Jepang. Lebih ringan dari samurai klasik dan lebih mumpuni buat membikin goresan tajam dari pedang pendek.



3 cara ini pun diturunkan oleh Mbah Karso yang telah berpuluh tahun sebelum akhirnya mereka bertemu waktu Ari kanak-kanak. Mbah Karso banyak cerita soal perjalanannya setelah meninggalkan keluarga mereka. Mbah Karso bukan raja tega atau rampok. Tapi kalau sewaktu-waktu terpaksa melakukan itu karena merasa direndahkan harga dirinya oleh orang lain, maka dia bakal menghabisi orang itu dengan cara sederhana.



Pertama kali tentu sulit melakukannya. Tapi pengalaman selalu mengajarkan lebih banyak hal daripada pengetahuan. Pengalaman kedua, ketiga dan seterusnya akhirnya mulai menjadi tabiat biasa. Tabiat hidup di luar rumah. Kadang buat sekadar bertahan hidup pun kita harus menghentikan hidup orang lain, begitu kata Mbah Karso berkali-kali. Dan jangan pernah melihat mata mereka setiap kau lakukan itu, ujar Mbah Karso mewanti-wanti waktu Ari muda terpaksa menohok ulu hati teman minumnya, tembus punggung. Sejak itu Ari mulai terbiasa dengan kebiasaan Mbah Karso. Sayang bahwa kebiasaan ini tidak bertahan lama, karena Ari terlibat masalah yang lebih besar. Dia lari keluar pulau beberapa bulan. Balik ke rumah setelah dirasanya aman. Seterusnya hidup menggiringnya ke arah yang lebih pasti dan berbau uang, bisnis barunya.



Tak hanya cerita dan katana, Mbah Karso juga mewariskan lembu sekilan. Rapalan milik Gajah Mada dan Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya seperti tertulis dalam riwayat pejuang Mahesa Jenar ini mampu melindungi pemiliknya dari kecelakaan berjarak antara 25 cm dan 1 meter dari badan.



4 biaya transportasi dan akomodasi.



5 berang-berang (Jw.)