Tuesday, August 05, 2003

cerpen itu dibacok-bacok Parang



diremas-remas seperti daging segar. dibuka lagi, pelan-pelan, selembar-demi-selembar. dibuatkan pigura, dipajang dalam kamar. ternyata masih kurang sreg juga.

piguranya diusung ke kamar mandi. dipelototi ampe mata juling begasing-gasing, tapi itu cerpen masih bandel juga. gak ada bagus-bagusnya acan. lama ngendon di kamar mandi, digedor sama orang serumah dikira sudah mati di dalam. cerpen itu bikin tak bisa mandi. orang serumah protes keras lantaran bergidik liat kertas comel comang-comeng darah segar dari tangan terParang. cerpen itu menggigil keluar dari kamar mandi.

saking geregetan cerpen itu ditaruh sembarangan dalam wc. lagi-lagi cerpen yang gak sreg itu bikin ulah. orang-orang takut masuk wc. di bawah lampu wc yang remang cerpen itu mengeluarkan gambaran remang-remang dari seorang penulis cerpen yang mati penasaran. cerpen itu menghantui orang serumah. saking ketakutannya, mereka lari berhamburan keluar rumah. ruang tengah, kamar tidur, dapur, ruang tamu, tak lupa wc dan kamar mandi sudah tak lagi aman. orang-orang berlarian ke sana-sini nyari tempat sembunyi. tak sempat berpakaian, tak baju, tak celana, luar dalam mereka lupa. orang-orang terus berlarian keluar rumah. apalagi setelah cerpen itu ikut lari ketakutan. berkejaran mereka berlarian, tanpa busana, tanpa paksaan, tanpa pigura.

cerpen itu mencari teman menghambur ke orang-orang yang ketakutan. keliling kampung, keliling kota.

orang-orang kampung terpukau oleh pemandangan istimewa ini. mereka anggap serupa santapan mewah. mereka turut suka berlari-lari dalam histeria. orang serumah dihantui cerpen itu dan diturutsukai orang sekampung berlarian tak kunjung ujung. semua orang (termasuk si cerpen, sic!) lantas terlibat dalam karnaval panjang sambil berteriak, tertawa, mengacung-acungkan pakaian dan celana. kegembiraan tak terduga ini tentu saja disambut meriah oleh tiap orang sepanjang-jalan-mana mereka lintasi dengan lintasan-lintasan pikiran sepintas. orang-orang di jalan-jalan, gedung-gedung, warung-warung, kantor jawatan pemerintah dan partikelir sedikit tertegun oleh kenyataan bahwa di kota mereka masih ada yang tertawa. segera saja semua memburu ke arah yang sama. tak ketinggalan pula seorang pemburu-gembira-ria ini yang berlari sambil mengebor jalan.

yang lain tak mau kalah, cepat-tepat dilakukannya goyang ngecor. sebagian lagi menyusul dengan goyang ngedor. amboooooi, alamaaaaaak, alakazaaaaaaaam, abracadabrrrrrrrrra. seisi kota mencair riak ke dalam larutan kegembiraan ini. semua seperti kenabian (sebutan lain untuk kata kesetanan; hanya berlaku di kota itu, pen.) membentuk karnaval panjang yang lebih meriah dari pesta hari jadi kota, seluruhnya mengekoooooooooorrrrrrrrrr.

setengah terengah-engah, sampailah kepala keluarga pemilik cerpen itu pada ujung kota yang mewujud dalam bentuk tubir jurang teramat dalam.

pelahan kepala keluarga itu menengok ke arah orang-orang serumah dan orang-orang sekotanya. lalu matanya tertumbuk pada sebuah cerpen tanpa pigura. "ini semuuuuuaaaaaa garrraaa-garrrraaa kamuuuu!!!!

serta-merta kepala keluarga itu mencabik cerpen yang masih menggigil ketakutan dan nyaris kehabisan nafas itu. tak sanggup mengelak cerpen itu pun menurut saja dicabik-cabik oleh kepala keluarga. orang-orang serumah segera sadar akan keadaannya, orang-orang sekota begitu pula jadinya. si penulis cerpen yang tangannya terParang itu pun tak mau kalah rindu-dendam pada cerpennya. akhirnya setelah melalui pergulatan yang sangat dahsyat cerpen itu bisa dijinakkan dari kebanalannya. akhir kata, jadilah sebuah cerpen pendek seperti ini.2003