Maria, Julia dan Aku
Cerpen Susilo
Masih pagi yang sama dan Julia telah kehilangan dua orang buruannya. Pertama seorang lelaki yang setengah asing baginya. Kedua, perempuan matang, yang kemudian dikenalnya bernama Maria, penunjuk jalannya menuju lelaki setengah asing itu, yang lebih asing lagi darinya. Jejak yang tersisa hanyalah sebuah rumah dinas yang menggigil dan bersegel kuning barang sah milik dinas kepolisian. Dan, ia sendiri yang masih juga tak percaya.
?Begitulah dia,? Ujar Maria memulai ceritanya tentang lelaki setengah asing, yang selalu membuatnya penasaran itu. ?Sebenarnya dia hanya akan menunggu setiap yang datang, memberikan sedikit tempat buat menyambung nafas.?
Pagi kemarin, dengan seluruh nafas yang berdenyutan Julia mengadu untung menemui Maria di rumah dinasnya. Sedikit keberanian yang dipaksakan ada pada dirinya sendiri itu telah menghasilkan kalimat panjang lebar dari perempuan berkaca-mata minus itu. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Maria tentang dirinya yang telah begitu berhasrat mencari lelaki carut-marut itu. Satu hal yang pasti mulut perempuan matang itu terus saja berkomat-kamit, seperti membaca mantra atau rapalan tertentu yang dihapalnya di luar kepala. Dari cara bicaranya pun segera tertangkap kesan kalau mereka memiliki carut-marut perasaan yang bermuara pada lelaki setengah asing itu.
?Setelah dua atau tiga hari mendudukan dirinya di taman kota itu maka dia segera tahu kalau aku punya sedikit perhatian padanya. Sebenarnya perhatianku bukan pada tampangnya yang cenderung cantik atau perawakannya yang matang itu, melainkan lebih pada kebiasaannya itu sendiri. Kebiasaan duduk berlama-lama, di satu tempat, pada tiap jam yang sama. Ini membuatku tertarik lebih dari sekadar kegemaran naif pada permainan liar dan cermatnya di atas ranjang. Bukan, sekali-kali bukan karena itu, sekalipun itu bisa jadi catatan tersendiri secara panjang lebar. Sekali lagi, kebiasaan itulah kuncinya. Tolong catat itu lebih dari yang lain.
Aku sendiri baru satu minggu sejak dimutasikan pada Bank di belakang areal taman itu, saat melihatnya untuk kali pertama. Mula-mula aku menganggapnya sebagai orang yang sedikit kelebihan waktu sebelum berangkat kerja. Sambil menunggu bis kota atau apa, dia habiskan waktunya dengan memajang diri begitu rupa. Selebihnya, sentuhan matahari pagi pun cukup menjadikannya punya alasan untuk mendapat sedikit kehangatan dan kesehatan. Tapi, pikirku kemudian, penampilannya kurang lazim untuk seorang pekerja. Pakaiannya tidak cukup mendukung anggapan pertamaku itu. Kamu sendiri di ruangan kantormu tentu kesulitan mencari partner yang bisa bebas dengan ketsnya. Ah, coba dulu minumannya sebelum leher jenjangmu kekeringan.....?
Hati-hati Julia meneguk minuman itu karena tak ingin merusak suasananya. Sejak titik ini, Maria mulai lebih lancar dari setengah jam sebelumnya.
?Bahkan sebagai pekerja kerah biru pun jelas sekali dia tak punya potongan.? Lanjut bibir senja yang merona ditimpa fajar itu. ?Memasuki minggu kedua sejak kali pertama melihat tingkahnya itu aku mulai menyadari kalau dia tengah menunggu sesuatu atau seseorang tepatnya. Hari ketiga minggu kedua itu juga matanya mulai bisa memaksaku bertukar senyum dengannya. Senyumku mungkin berarti tegur sapa calon tetangga, sedang miliknya ? seperti yang kau lihat juga, kusadari kemudian ? mengandung dorongan yang lebih dalam dari sebuah ketekunan. Menurutku, seperti retakan ice cream saat gigitan pertama. Beberapa kali aku berusaha mencari tahu sampai berapa lama dia bertahan duduk di situ setelah setiap pagi biasanya. Setahuku, setiap aku pulang kerja dia sudah tak ada di taman itu. Maka, aku coba luangkan waktu saat jam istirahat buat sekadar memeriksa batang hidungnya, juga tak ada.
Jum?at minggu kedua sengaja aku berangkat dua jam lebih siang dari biasanya dan dia ternyata masih duduk di tempatnya. Sabtu pagi, agak malas aku bangun dan setelah berbenah aku keluar cari sarapan. Tepat tiga jam dari kebiasaanku berangkat kerja, taman itu sudah dipenuhi banyak orang, terutama kaum tua, dan dia sudah tak ada lagi di sana.
Segera kusimpulkan kalau dia memang menunggu sesuatu setiap pagi selama tiga jam lebih, satu jam sebelum dan dua jam sesudah jam masuk kerjaku. Tapi, aku tak pernah tahu apa dan siapa yang ditunggunya. Dia memang mengambil waktu sekitar jam berangkatku, tapi itu saja tidak cukup membuatku merasa sebagai orang yang ditunggu-tunggu itu. Jadi aku memang digariskan untuk tak pernah tahu sasaran yang ditunggunya sampai aku memberanikan diri bertanya waktu itu. Memberanikan diri terhadap pandangan orang di sana atau teman kerjaku yang kebetulan lewat. Aku menguatkan diri pada celaan yang muncul dari kepalaku sendiri. Bisa kau bayangkan, aku seorang staf akuntan sebuah bank terkemuka milik pemerintah disibukkan dengan perhatianku pada seorang lelaki asing yang terbiasa duduk-duduk di salah satu sudut taman kota. Hahahahahaha.....
Toh, akhirnya aku berhenti juga. Menyapanya sekilas dan segera semuanya berubah, seperti tengah malam paling hening saat terjadinya pergeseran hari menjelang esok. Lalu kami berjalan menyusuri pinggang taman itu, bercerita tentang beberapa hal di sela senyum dan sorot matanya. Selebihnya, dia menjadi penghuni baru di rumah ini. Tapi, maaf aku tak bisa memberikan satu nama pun padamu untuk menyebut atau memburunya. Sebab, buatku nama tak menjadi soal dan sikap selalu lebih penting dari sekadar kartu pengenal apa pun, kau tahu maksudku.
Terus terang aku merasa pernah berhubungan dengan orang macam ini, jauh sebelum ini. Berhubungan dengan orang yang bisa mencukupi nyaris semua kebutuhhanku. Uang, kehormatan, dan....seks, tentu saja, seperti yang kau harapkan bakal keluar dari mulutku. Perhatiannya yang besar membuat setiap yang dekat dengannya akan merasa nyaman dengan sendirinya. Bisa jadi itu wajar, mengingat dia adalah site manajer sebuah grup supermarket di tempatku kerja waktu itu. Satu hal yang sedikit menarik mungkin karena aku harus rela melepaskan posisi bagusku di sana hanya karena kami berencana menikah. Sekalipun baru sebatas rencana. Padahal kau tahu, untuk mendapatkan,? Maria berhenti sejenak meneguk minumannya, ?site manajer itu aku musti siap pula meninggalkan pasanganku yang lain, seorang analis komputer jempolan.
Tentang yang terakhir, analis komputer itu, dia benar-benar jembatan emas buatku. Dari semula aku hanya berencana menggunakan statusnya sebagai dosen bantu pada lab komputasi di Fakultasku untuk menghacurkan nilai setiap orang yang telah merusak jalanku. Salah satunya adalah seorang teman sekelas yang sama sekali tak tahu diri, seorang mahasiswi bermoral yang kehabisan tempat. Hmm, setelah kubantu pindah tempat tinggal ke tempat kosku, perlahan-lahan ia mulai menelikungku dari balik selimut. Mengaduku dengan ibu kos yang rupanya lebih mempercayai orang baru ini dan mengusirku hanya karena adegan kecil suatu petang di teras rumah. Ah, aku benar-benar tak ingin melihat wajahnya lagi sejak itu. Biar dia hadapi kehancuran berulang-ulang di bangku yang sama dengan moralitasnya. Juga yang lain, semua yang telah seenaknya mempermainkan aku menjadi mangsa empuk analis komputerku itu. Begitulah, sementara waktu berjalan dan kelulusanku menjadi dentang bel berakhirnya menikmati waktu di atas jembatanku. Maaf, mungkin aku bukan perempuan lembut yang cukup pantas kau jadikan sosok ibu yang kau cari-cari. Tak pernah terbayang sekilas pun dalam benakku gambaran menjadi seorang ibu. Menjijikkan sekali bahwa perempuan dipaksa melahirkan dan membesarkan anak-anak, sementara lelakinya asyik bermain-main di luaran.
Dia, maksudku partnerku yang site manajer dulu itu, datang tepat waktu. Begitu bel akhir itu berdentang teramat keras, begitu saja dia menyelinapkan dirinya lembut-lembut ke balik selimutku. Dan, jembatan emas itu pun hancur berkeping-keping. Kudengar sebentar kemudia dia nikahi adik kelasku yang cantik, beranak, lalu diceraikannya lagi. Beberapa kali dia menelponku di antara sekian dering yang lain. Tapi, telpon di tempatku rupanya sudah terlanjur mengikat diri pada basement pusat perbelanjaan baru itu. Malahan waktu telponnya membisik-bisikkan gesekkan lembut selimut dan ranjang merah jambu, hahahahaha...anggrekku cuma senyum tipis dengan desahan lirih setengah merintih, yang aku yakin akan membuat analis komputer itu makin terguncang-guncang di atas cadiknya yang rapuh. Kubilang satu kali menjawabnya.....
?Sudahlah, belajarlah dari sedikit, buanglah sampah pada tempatnya. Dan menuai benih dari yang kautaburkan.? Lalu terdengar kertak gigi di seberang, suara gagang telpon terbanting keras dan ngiiiiing. Baik, akan kuteruskan sendiri, semuanya. Kalau kau sendiri sudah terserang penyakit gagu dan gagap dalam mengiblatkan jalanmu sampai kau datang ke rumah dinas ini. Sedikit banyak kau pasti tahu, apa itu monolog. Dulu aku suka juga melihat pertunjukkan biarpun sedikit.
Benar, bukan cuma perhatian dan kehormatan yang aku dapatkan dari site manajerku itu. Lebih dari itu, kehangatan bisa aku nikmati setiap saat, di tempat paling dingin sekali pun. Justru dari karena site manajerku itu datang dari kota dingin. Di atas kotanya dia benar-benar kuda liar, baik di jalanan maupun di tengah ranjang. Serangan gencarnya membuatku berkali-kali kewalahan. Sekali putaran aku bisa mencapai tiga sampai lima puncak dengan resiko seluruh tulang serasa berlepasan. Dan anggrekku, ah anggrekku seperti dirajam pisau bermata seribu. Darahnya sulit berhenti, tapi sungguh ngilu yang kunikmati. Biasanya setelah saat-saat yang dahsyat itu kami menghabiskan waktu dalam buaian mimpi indah sebuah puri di gigir telaga yang seluruhnya diliputi cahaya remang. Sepasang angsa menggiring angin di wajah telaga yang pias oleh cahaya bulan setengah telanjang. Hahahahaha....
Saat-saat indah dalam hidupku. Setelah sekian kerikil tajam menisik dan mengantuk kakiku. Mungkin hanya satu orang yang bisa mengalahkan kegilaan macam ini. Kegilaan dan kenikmatan yang pekat. Ya, mungkin hanya satu orang yang sanggup mengalahkan rekor site manajerku. Sekali pernah kudaki tujuh puncak sekaligus, lalu aku benar-benar jadi sejenis lolita di sana. Di sisi novel pertamaku, lelaki kecil dan naif yang aku yakin masih menunggu sampai saat ini, setelah sekian penerbangan bersama analis komputer dan site manajerku. Lelaki kecil dan naif.....lebih tepatnya seorang bocah gembala yang selalu kekanakan. Entah sampai kapan, sebab kami dipertemukan dalam musim kawin pertama tahun kedua kuliahku. Selayaknya setiap musim kawin pertama, si kecil ini pun terlanjur melingkarkan cincin akar rumput di jari manis batinku.
Tak cuma soal tujuh puncak itu reputasinya, selalu dia mengakhiri perjalanan kami dengan basuhan-basuhan lembut di tubuhku yang basah dan membawaku terentang antara kaki langit gumpalan awan putih. Ah, sudahlah biarkan dia menghuni albumku yang berdebu dan lapuk sendiri suatu hari nanti.? Maria seperti mengalami kesulitan untuk keluar dari labirin masa lalunya. Kernyit kecil mempertajam bola matanya yang menjauh.
?Lalu, bagaimana tentang basementmu....?? Julia berusaha memperbaiki keadaan.
?Oya, kami berencana menikah. Baiknya langsung saja dari situ. Tapi, selalu aku harus berhadapan dengan masalah keluarga. Dia punya seorang ibu dari sejenis ular aristokrat sejati. Bermulut tajam, memandang orang lain dengan mata yang selalu mengantuk, penuh gairah dan sedikit culas. Bapaknya tak jauh beda. Macan kampung, tuan tanah puluhan hektarare, berkulit dan hidung belang-belang. Pada kekasih anaknya pun sempat mendenguskan nafas mesumnya. Semua ini yang membuat kami bertahan hanya lewat jalan belakang. Sampai, entah bagaimana, keluargaku mencium hubungan kami yang aga kelewatan itu. Papi memintaku pulang kampung secara mendadak. Sampai di sana aku dihadapkan pada sidang keluarga. Keluarga besar Mami datang semua. Tak ketinggalan seluruh warga dari garis Papi datang bertandang. Lalu sidang dibuka oleh Eyang Sepuh ? kakak tertua Eyang Kakung dari Mami.
?Aapa yang sudah kamu lakukan, Nduk? Mamimu nangis ndak habis-habis.? Eyang Sepuh mulai mendesakku.
Aku bergeming dan terus saja berusaha sekerasnya memperjuangkan pertahananku. Tapi sidang kemudian memutuskan agar aku memeriksakan diri ke dokter. Mami diutus sebagai pengantar pemeriksaan diriku. Dari sanalah bermulanya pergeseran hari. Semua mulai membaca dan mengulitiku habis-habisan. Untung mereka tahu hanya sebatas itu. Lalu tuntutan diajukan pada site manajerku beserta keluarga. Sampai di situ, habislah semuanya. Ibunya marah besar, mulutnya menyemburkan bisa. Bapaknya mengamuk sejadi-jadinya, menggeram dan mencabik-cabik hargaku dengan kuku di tiap ujung lidahnya. Dan makin tertampar aku waktu site manajer itu cuma diam, tertunduk kelu dan sekali bersuara.
?Buka aku yang pertama...?
Bagus, tampaknya semua batu harus diangkat oleh sisiphus yang sama. Sejak itu kuputuskan untuk menjalani hidup selibat tanpa sakramen, lepas dari keluarga dan siapa pun yang selama ini mengikatku. Menerbitkan dan menggelamkan sendiri matahariku. Sampai suatu pagi, aku lihat lelaki asing kita di sudut taman itu.
Dari semula aku tak berharap banyak darinya. Aku hanya tertarik pada kemauannya menunggui patung-patung batu di taman itu. Sekali tempo, sempat terpikir olehku, kalau dia tak hanya menunggu melainkan membasuh tubuh dewa-dewi di sekitar kolamnya juga. Tapi, pikiran-pikiran cengeng itu segera kuempaskan lagi dan terjadilah yang musti terjadi. Sejak dia menghuni rumah ini, tak sekali pun kutanyakan pekejaannya atau mengungkit-ungkit kebiasaannya memandang jauh keluar pagar taman setiap pagi sebelumnya.
Pagi-paginya kemudian diisi dengan membangunkan aku dengan ciuman lembut. Menyiapkan sarapan dan secangkir kopi dengan cream. Melepaskan aku pergi dan menutup pintu pagar lagi. Selebihnya aku tak tahu. Yang pasti aku melihatnya adalah sambutan hangatnya ketika aku pulang kerja. Membantuku melepaskan perlengkapan kerja satu per satu. Menyeka tengkuk, punggung dan beberapa bagian lain dengan handuk hangat. Sementara makanan kecil dan lemon tea sudah tersedia. Tiap malam kami isi dengan acara televisi atau permainan atau obrolan ringan seputar masalah umum. Selain menyiapkan makan malam, kalau kebetulan badanku terlalu capek untuk keluar rumah, tak lupa dia menyuguhiku santapan utama pengantar tidur.
Pernah sekali waktu, aku mencuri tahu kebiasaannya setelah larut malam. Kulihat pintu kamar kerja sedikit terbuka dan ada cahaya biru remang keluar dari mulut pintu. Kuperhatikan dia tercenung di depan layar monitor di sana. Entah sedang menulis apa, aku tak terlalu yakin dengan mata telanjangku pada jarak lebih dari lima meter. Kegugupan segera menyerang waktu dia menyadari kedatanganku, dia menengok ke arahku dengan pandangan tajam. Dia menghampiri dan aku menggigil dalam gelap, matanya seperti srigala lapar.
?Tidak baik membiasakan diri dengan pencurian...? Senyumnya masih bisa kubaca lewat berkas cahaya tipis dari monitor. Aku tertunduk lemas. Dia menuntunku kembali ke kamar dan menina-bobokanku dengan usapan lembut di kepala. Lamat-lamat Schubert merintih lewat Ave Maria.
Baik, semuanya telah kubeberkan, hanya karena aku perlu seorang teman bicara yang bisa dipercaya. Semuanya, sampai dia mendadak hilang sekarang. Sampai kau datang hari ini. Sekarang, mungkin giliranmu....? Perempuan matang berkaca-mata kecil itu seperti sedang melepaskan pukat ke depannya.
?Maksudku, sekarang mungkin giliranmu untuk bercerita. Barangkali kau sendiri punya sesuatu yang menarik untuk kita dengarkan siang ini.?
?Ee, begini. Ini tak lebih dari sekedar...?
Julia memulai tentang perjalanan kariernya sebagai reporter muda pada sebuah tabloid wanita. Juga tentang perasaannya pada lelaki setengah asing itu. Bahwa ia seperti pernah akrab dengan lelaki itu. Bahwa ia seperti bisa membayangkan apa yang dilakukan lelaki itu saat ini. Semua diketahuinya berdasarkan pengamatannya pada beberapa kasus serupa yang pernah dikejarnya. Tapi, satu hal yang tak pernah dibukanya pada Maria adalah bahwa lelaki jenis ini lebih berbahaya dari ular maupun srigala lapar. Dia dilahirkan sebagai jenis kegilaan yang melebihi guru besar kegilaan dari RS. John Hopkins, Hannibal Lector.
Bayangan yang dulu masih disimpannya itu kini telah terbukti, mungkin. Selain pita kuning tand panyegelan, kepolisian wilayah kota juga memberikan informasi.
?Kasusnya bunuh diri. Motifnya belum pasti. Masih dalam proses.?
Rumah dinas itu masih menggigil pagi ini, ketika Julia hendak beranjak pergi dan melepaskan sisa pandangan terakhir pada bangunan ngungun itu. Ia sadar benar, banyak kasus bunuh diri yang hanya bersaksi dinding bangunan itu sendiri. Julia sudah akan beranjak pergi waktu seseorang berbisik lembut dari belakang telinga kirinya, waktunya sudah habis, mari.....
medio1999-2003
________________________
Susilo, penulis lepas tinggal Jl. Karangmenjangan 68A, Surabaya, karya-karyanya pernah dimuat dalam; Antologi Puisi I Puska 1992, Jurnal Sastra Jejak ? Gapus Unair 1998, Majalah Aksara, Majalah Jayabaya, Majalah Liberty, Harian Surabaya News, Harian Sinar Harapan, Harian Berita Sore, Tabloid Mitra Rakyat, Tabloid The Smile File, www.cybersastra.net, www.puisi.crimsonzine.net, dan www.pintunet.com
Friday, December 12, 2003
Sunday, October 19, 2003
Kisah
Setelah habis sekira 4 cerita membaca dari buku kumpulan cerita pendek Riyono, segera kutaruh buku itu di lantai dekat ranjang. Sambil memandangi buku bergambar goresan tangan biola bengkok, aku terus saja mngumpat dalam hati. Bangsat benar pengarang satu ini, pikirku, orang disuruh larut dalam permainan kisah-kisah seremnya yang teramat liar.
Aku pun lantas ingat pada salah satu cerpennya yang berjudul Kepanjangan, yang mana telah pula mengingatkanku pada Bapak. Dikisahkan, dalam cerpen itu, ada sepasang suami-isteri yang telah menghadapi kesedihan mendalam begitu si isteri mengalami suatu peristiwa keguguran atas kandungan pertamanya yang telah berumur sekira tujuh bulanan. Begitu halnya dengan Bapak.
“Bapak ini ada memiliki riwayat kelahiran yang serem punya.” Ujar Bapak suatu siang, waktu aku masih kerap mendengar dongeng-dongengnya. “Waktu Nenek mengandung bayinya Bapak, genap usia tujuh bulan Kakekmu mengajak Nenek berpindah rumah. Padahal, menurut kepercayaan, orang tak boleh bepergian jauh atau berpindah rumah apalagi sampai ke luar kota selama masih mengandung seorang bakal bayi. Malahan sebelum bayi yang kemudian terlahir itu genap berumur satu tahun, menurut kepercayaan juga, tak baik di bawa bepergian kelewat jauh.
Tapi karena Kakek sudah terlanjur berjanji pada stasiun tempatnya bekerja sebagai opas polisi istimewa maka berangkatlah Kakek Nenek sekeluarga berpindah ke kota yang jadi tempat dinas barunya Kakek. Sekalipun dengan sedikit kecemasan, untuk menghindari apa-apa yang tidak diinginkan Nenek sudah membawa sebongkahan tanah dari halaman rumah lama, begitu seperti yang dinasehatkan oleh Buyut. Semua berjalan lancar.
Sampai pada satu sore, sepulang dari kerja di stasiun kota, Kakek teramat terkejutnya mendapati laporan dari Nenek. Siang tadi perut Nenek tiba-tiba mengempis. Tak ada tanda-tanda perdarahan seperti layaknya perempuan yang mengalami keguguran.
‘Jadi apa yang kaualami ini?’ Kakek masih ada menyimpan keheranan atas pengalaman Nenek. Kakek seperti merasa kalau Nenek membohonginya, entah dengan tujuan apa. Kakek merasa kalau bayi (bakal bayi tepatnya) Bapak masih ada tersimpan dalam perut Nenek, entah di bagian mana.
Nenek pun merasa tak tahu harus berbuat apa, mendapati keheranan Kakek itu. Nenek cuma menunduk saja. Menganggap kalau semuanya bakal selesai bersamaan berlalunya waktu. Sebaliknya sebagai opas polisi istimewa, yang sekalipun sehari-harinya bertugas di stasiun, Kakek merasa ada sesuatu yang harus diluruskan. Dengan naluri kepolisiannya Kakek segera mau mengajukan serentetan pertanyaan pada Nenek. Tapi melihat tanda-tanda ketakutan pada air muka Nenek, ditambah sedikit keyakinan kalau Nenek masih mengandung bakal bayi Bapak, maka sore itu waktu berlalu seperti aliran kali kecil di belakang rumah mereka.
Kakek kepikiran terus dengan dugaan-dugaannya, dan menganggap lebih baik mendiamkan keadaannya sementara waktu. Di pihak Nenek yang merasa sedang dipersalahkan oleh kelalaiannya menjaga amanah suami, seperti seorang tertuduh pada umumnya, juga merasa lebih baik mendiamkan saja keadaannya untuk sementara waktu. Sepanjang sore sampai malam harinya, kedua penanda rumah-tangga itu sedang asyik mengunci mulutnya rapat-rapat. Alhasil, layaknya sebuah kapal tanpa nahkoda, rumah mereka pun jadi kehilangan kendali.
Tak seperti biasanya sore itu, rumah pun jadi lebih ramai. Anak-anak pulang bermain, mandi sore, makan, mengaji, dan berangkat tidur tanpa ada yang menyuruh, mengatur ini dan itu atau memarahi. Mulanya, sore-sore mereka sudah berkumpul ramai berebut mandi. Air mandi yang tinggal separoh kolah jadi rebutan. Tentu saja yang paling kecil jadi kalah-kalahan. Mak Yat, kakak perempuan Bapak (atau bakal bayi Bapak?) yang masih paling bontot, jadi korban rumah tangga tanpa aturan itu. Mak Yat hampir menangis waktu itu, tapi dasar orangnya pendiam dan perasa sejak kecil dia pun memilih diam mengisak di pojok kamar mandi dekat sumur. Beruntung Pak De Jani, yang kemudian hari kukenal sebagai keranjingan besar (penjahat ulung?), mau mengambil air wudhlu menjelang maghrib.
‘Kenapa kamu ndepipis (jongkok menyudut di satu pojok) di situ?’ Tanya Pak De Jani setelah melihat adiknya teronggok di sudut sumur itu. ‘Belum mandi, ya?’
Tak mendapat sahutan, Pak De Jani segera melihat isi kolah dan tersadarlah dia akan nasib adik perempuannya yang sengaja terlambat sekolah sebab orang-tuanya belum ada uang itu. Tanpa banyak kata lagi Pak De Jani segera menimbakan beberapa ember air buat mengisi kolah. Sedikit susah payah, karena ukuran tubuhnya yang terlalu kecil untuk ukuran ember yang kelewat besar itu, akhirnya terisi juga kolah itu sampai separohnya.
‘Sudah kau mandi sana, biar aku tunggui di sini.’ Pak De Jani mengangkat bahu adiknya supaya berdiri dan pergi mandi. Setelah itu dia sendiri duduk berjongkok dekat sumur, menunggui adiknya mandi di balik bilik bambu yang mulai berlubang di sana-sini itu.
Tak berapa lama, rupanya Pak De Jani sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia pun segera menanyai adiknya yang di dalam bilik mandi itu. ‘Sudah Yat? Kalau sudah aku mau wudu.’ Tak ada sahutan dari dalam, hanya suara gayung masih berdeburan membuat jantung Pak De Jani berdebar keras. Bukan apa-apa, pikirnya waktu itu, sebentar lagi maghribnya habis, bisa-bisa aku kehilangan kesempatan ini.
Hari-hari itu Pak De Jani memang sedang tekun-tekunnya sembahyang. Itu pun bukan apa-apa, melainkan karena dia sedang nglakoni suatu lelaku. Jadi tak boleh putus sembahyangnya itu. Ini sudah hari keenam, rusuh batinnya lagi, tinggal sehari lagi, jangan sampai sia-sia usahaku hanya karena kelewatan maghrib sekali ini. Tak jelas lelaku apa yang sedang dijalaninya, yang jelas dia dikenal semua saudaranya sebagai bocah yang gemar lelaku. Perbuatan seperti itu sudah sering dilakukannya sejak masih di rumah lama, di bawah bimbingan Buyut dari pihak Nenek. Sebab keluarga dari pihak Kakek tinggal jauh di kota lain lagi. Tentu saja, pikiran bocah Pak De Jani tak mau dikalahkan oleh keadaan apa pun demi mendapatkan kemauannya.
Baru dia memutuskan mau menyuruh adiknya segera selesaikan mandi. Tahu-tahu dari arah belakang tengkuknya dia ada merasakan selembar angin yang lain dari yang lain. Belum sempat dia menengok ke belakang dia sudah mendapat sebuah teguran. Pak De Jani tidak yakin apakah lelaki tua berjenggot putih itu tetangganya atau bukan, karena dia merasa sebagai penduduk yang masih baru di situ. Hanya sebagai jaga-jaga dalam hatinya dia membatin; nuwun sewu, tunggal guru ojo ngganggu, tunggal ilmu ojo nyatru.
‘Apa yang kamu tunggui di sumur ini, Bocah?’ Tanya lelaki tua itu. Samar-samar Pak De Jani pun mulai bisa menangkap bayangan utuhnya. Lelaki tua itu tak hanya berjenggot putih, melainkan sekujur tubuhnya dibalut pakaian serba putih, rambutnya pun putih seluruhnya.
‘Kulo nungui adik Kulo yang sedang mandi.’
‘Mana adikmu yang mandi itu? Tak ada adikmu yang sedang mandi di situ.’
Tersadar oleh teguran itu, Pak De Jani sudah tidak lagi mendengar suara gayung berjeburan. Pak De Jani segera menengok ke arah kolah, memastikan kalau pendengarannya benar adanya. Terkesiap oleh kenyataan kalau sudah tidak terdengar suara jeburan gayung, Pak De Jani segera pula mau bertanya pada orang tua berjenggot putih itu. Tapi, si penegur sudah tidah ada di tempatnya tadi berdiri. Pak De Jani menengok ke kanan dan kiri. Tidak ada sesiapa pun di sekitarnya. Bayangan orang tak ada, angin yang meremangkan tengkuknya pun tak ada. Dalam keremangan matanya hanya menangkap bayangan pohon-pohon saja.
Tak mau larut dalam kebingungan pikirannya sendiri, Pak De Jani segera pergi mengambil air wudhlu, sambil beristighfar terus sepanjang waktu. Dan saat tangannya membasuhkan air ke kedua daun telinganya lamat-lamat di dengarnya lagi sebuah teguran. ‘Bocah, jangan dikira tempat ini tak ada yang punya. Kau hanya menumpang lewat saja di sini. Oleh sebab itu jangan memamerkan ilmu di depan kami….’
Pak De Jani tak mau banyak mendengar lagi. Begitu wudhlunya selesai dia segera beranjak masuk ke dalam rumahnya. Dia juga mau secepatnya memastikan kalau-kalau adiknya, Mak Yat, sudah selesai mandi dan selamat sampai di rumah.
Begitu menginjakkan kakinya ke undakan batu belakang rumah, Pak De Jani sudah pula mendapat teguran keras dari Kakek yang dikenal galak oleh anak-anaknya itu. ‘Jani, kamu kemana saja?! Tiga hari tidak pulang, kamu pikir rumahmu ini gardu (waktu itu orang-orang tua dan para pemuda suka menghabiskan waktu sorenya dengan duduk-duduk di gardu penjagaan), cuma dibuat mampir lewat saja?!!’
Pak De Jani, sekali lagi, terkesiap oleh kenyataan dirinya. Air wudhlu di wajah, ubun-ubun, telinga, tangan dan kakinya belum lagi kering. Tapi Kakek sudah menuduhnya meninggalkan rumah selama tiga hari. Ingatan Pak De Jani segera berlari ke arah bayangan orang tua berjenggot putih itu, dan merasa benar-benar telah dicobai olehnya. ‘Nggih…’ Pak De Jani tak punya jawaban lain pada bapaknya.
‘Sudah, bantu Makmu sana!’ Sahut Kakek waktu itu. ‘Kita harus cepat meninggalkan rumah kesrakat ini.’
Belakangan Pak De Jani mendengar selentingan, kalau Mak Yat mengalami demam, badannya panas dingin tak keruan, selama dua hari ini. Dan Nenek selalu mimpi hal-hal menakutkan. Belum lagi Kakek dibingungkan oleh kepergiannya yang tanpa kabar itu.
Tak sempat sembahyang maghrib, Pak De Jani membantu Nenek selekasnya mengemasi barang-barang mereka, utamanya yang paling dibutuhkan saja. Perkakas yang besar-besar bakal menyusul kemudian. Kakek-Nenek sekeluarga boyongan lagi, tapi sekali ini untuk kembali ke rumah lama yang untungnya belum sampai dijual oleh Buyut.”
Berhenti sebentar Bapak menarik nafas agak berat, sebelum meneruskan ceritanya. “Beberapa bulan kemudian perut Nenek membesar lagi seperti umumnya orang hamil sembilan bulan lebih. Tapi sampai sebesar itu kandungan tak juga terlahirkan. Genap enam bulan kandungan yang kedua ini, tepat pada Bakda Mulud lahirlah seorang bayi.
Waktu itu Pak De Jani yang tak merasa putus asa dengan kegagalannya nglakoni sebelumnya, sudah menyelesaikan tirakatannya semula. Dan sore selepas selamatan Muludan dan bersih desa, Pak De Jani bertemu dengan orang tua berjenggot putih tempo hari. ‘Ngger.’ Sapa orang tua itu di tikungan pekuburan desa. ‘Adikmu yang baru lahir ini, bakal minta korban. Sesiapa saudaranya yang punya hari dan neptu sama dengan kelahirannya harus mengalah. Kalau tidak, ya bayi itu yang kalah.’
Pak De Jani tak sanggup menjawab apa pun lagi, kecuali melepas kepergian orang tua itu berjalan seperti angin dan hilang di ujung barat jalan.”
Memang kemudian salah seorang Bu Dhe kami meninggal tak berapa lama sejak Bapak lahir. Aku sendiri masih setengah percaya pada cerita Bapak kali ini. Tapi perihal kejengkelanku pada cerpen-cerpen Riyono itu tak bisa kuelakkan.
Kalau memang ada anjing yang bisa berubah jadi gadis cantik seperti digambarkan dalam cerpen Kepanjangannya Riyono itu, maka aku mau memeluknya kuat-kuat. Kalau perlu dikuburkan satu liang dengannya.
Susilo, 191003
Untuk Riyono dan W. Haryanto yang kesrakat
Setelah habis sekira 4 cerita membaca dari buku kumpulan cerita pendek Riyono, segera kutaruh buku itu di lantai dekat ranjang. Sambil memandangi buku bergambar goresan tangan biola bengkok, aku terus saja mngumpat dalam hati. Bangsat benar pengarang satu ini, pikirku, orang disuruh larut dalam permainan kisah-kisah seremnya yang teramat liar.
Aku pun lantas ingat pada salah satu cerpennya yang berjudul Kepanjangan, yang mana telah pula mengingatkanku pada Bapak. Dikisahkan, dalam cerpen itu, ada sepasang suami-isteri yang telah menghadapi kesedihan mendalam begitu si isteri mengalami suatu peristiwa keguguran atas kandungan pertamanya yang telah berumur sekira tujuh bulanan. Begitu halnya dengan Bapak.
“Bapak ini ada memiliki riwayat kelahiran yang serem punya.” Ujar Bapak suatu siang, waktu aku masih kerap mendengar dongeng-dongengnya. “Waktu Nenek mengandung bayinya Bapak, genap usia tujuh bulan Kakekmu mengajak Nenek berpindah rumah. Padahal, menurut kepercayaan, orang tak boleh bepergian jauh atau berpindah rumah apalagi sampai ke luar kota selama masih mengandung seorang bakal bayi. Malahan sebelum bayi yang kemudian terlahir itu genap berumur satu tahun, menurut kepercayaan juga, tak baik di bawa bepergian kelewat jauh.
Tapi karena Kakek sudah terlanjur berjanji pada stasiun tempatnya bekerja sebagai opas polisi istimewa maka berangkatlah Kakek Nenek sekeluarga berpindah ke kota yang jadi tempat dinas barunya Kakek. Sekalipun dengan sedikit kecemasan, untuk menghindari apa-apa yang tidak diinginkan Nenek sudah membawa sebongkahan tanah dari halaman rumah lama, begitu seperti yang dinasehatkan oleh Buyut. Semua berjalan lancar.
Sampai pada satu sore, sepulang dari kerja di stasiun kota, Kakek teramat terkejutnya mendapati laporan dari Nenek. Siang tadi perut Nenek tiba-tiba mengempis. Tak ada tanda-tanda perdarahan seperti layaknya perempuan yang mengalami keguguran.
‘Jadi apa yang kaualami ini?’ Kakek masih ada menyimpan keheranan atas pengalaman Nenek. Kakek seperti merasa kalau Nenek membohonginya, entah dengan tujuan apa. Kakek merasa kalau bayi (bakal bayi tepatnya) Bapak masih ada tersimpan dalam perut Nenek, entah di bagian mana.
Nenek pun merasa tak tahu harus berbuat apa, mendapati keheranan Kakek itu. Nenek cuma menunduk saja. Menganggap kalau semuanya bakal selesai bersamaan berlalunya waktu. Sebaliknya sebagai opas polisi istimewa, yang sekalipun sehari-harinya bertugas di stasiun, Kakek merasa ada sesuatu yang harus diluruskan. Dengan naluri kepolisiannya Kakek segera mau mengajukan serentetan pertanyaan pada Nenek. Tapi melihat tanda-tanda ketakutan pada air muka Nenek, ditambah sedikit keyakinan kalau Nenek masih mengandung bakal bayi Bapak, maka sore itu waktu berlalu seperti aliran kali kecil di belakang rumah mereka.
Kakek kepikiran terus dengan dugaan-dugaannya, dan menganggap lebih baik mendiamkan keadaannya sementara waktu. Di pihak Nenek yang merasa sedang dipersalahkan oleh kelalaiannya menjaga amanah suami, seperti seorang tertuduh pada umumnya, juga merasa lebih baik mendiamkan saja keadaannya untuk sementara waktu. Sepanjang sore sampai malam harinya, kedua penanda rumah-tangga itu sedang asyik mengunci mulutnya rapat-rapat. Alhasil, layaknya sebuah kapal tanpa nahkoda, rumah mereka pun jadi kehilangan kendali.
Tak seperti biasanya sore itu, rumah pun jadi lebih ramai. Anak-anak pulang bermain, mandi sore, makan, mengaji, dan berangkat tidur tanpa ada yang menyuruh, mengatur ini dan itu atau memarahi. Mulanya, sore-sore mereka sudah berkumpul ramai berebut mandi. Air mandi yang tinggal separoh kolah jadi rebutan. Tentu saja yang paling kecil jadi kalah-kalahan. Mak Yat, kakak perempuan Bapak (atau bakal bayi Bapak?) yang masih paling bontot, jadi korban rumah tangga tanpa aturan itu. Mak Yat hampir menangis waktu itu, tapi dasar orangnya pendiam dan perasa sejak kecil dia pun memilih diam mengisak di pojok kamar mandi dekat sumur. Beruntung Pak De Jani, yang kemudian hari kukenal sebagai keranjingan besar (penjahat ulung?), mau mengambil air wudhlu menjelang maghrib.
‘Kenapa kamu ndepipis (jongkok menyudut di satu pojok) di situ?’ Tanya Pak De Jani setelah melihat adiknya teronggok di sudut sumur itu. ‘Belum mandi, ya?’
Tak mendapat sahutan, Pak De Jani segera melihat isi kolah dan tersadarlah dia akan nasib adik perempuannya yang sengaja terlambat sekolah sebab orang-tuanya belum ada uang itu. Tanpa banyak kata lagi Pak De Jani segera menimbakan beberapa ember air buat mengisi kolah. Sedikit susah payah, karena ukuran tubuhnya yang terlalu kecil untuk ukuran ember yang kelewat besar itu, akhirnya terisi juga kolah itu sampai separohnya.
‘Sudah kau mandi sana, biar aku tunggui di sini.’ Pak De Jani mengangkat bahu adiknya supaya berdiri dan pergi mandi. Setelah itu dia sendiri duduk berjongkok dekat sumur, menunggui adiknya mandi di balik bilik bambu yang mulai berlubang di sana-sini itu.
Tak berapa lama, rupanya Pak De Jani sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia pun segera menanyai adiknya yang di dalam bilik mandi itu. ‘Sudah Yat? Kalau sudah aku mau wudu.’ Tak ada sahutan dari dalam, hanya suara gayung masih berdeburan membuat jantung Pak De Jani berdebar keras. Bukan apa-apa, pikirnya waktu itu, sebentar lagi maghribnya habis, bisa-bisa aku kehilangan kesempatan ini.
Hari-hari itu Pak De Jani memang sedang tekun-tekunnya sembahyang. Itu pun bukan apa-apa, melainkan karena dia sedang nglakoni suatu lelaku. Jadi tak boleh putus sembahyangnya itu. Ini sudah hari keenam, rusuh batinnya lagi, tinggal sehari lagi, jangan sampai sia-sia usahaku hanya karena kelewatan maghrib sekali ini. Tak jelas lelaku apa yang sedang dijalaninya, yang jelas dia dikenal semua saudaranya sebagai bocah yang gemar lelaku. Perbuatan seperti itu sudah sering dilakukannya sejak masih di rumah lama, di bawah bimbingan Buyut dari pihak Nenek. Sebab keluarga dari pihak Kakek tinggal jauh di kota lain lagi. Tentu saja, pikiran bocah Pak De Jani tak mau dikalahkan oleh keadaan apa pun demi mendapatkan kemauannya.
Baru dia memutuskan mau menyuruh adiknya segera selesaikan mandi. Tahu-tahu dari arah belakang tengkuknya dia ada merasakan selembar angin yang lain dari yang lain. Belum sempat dia menengok ke belakang dia sudah mendapat sebuah teguran. Pak De Jani tidak yakin apakah lelaki tua berjenggot putih itu tetangganya atau bukan, karena dia merasa sebagai penduduk yang masih baru di situ. Hanya sebagai jaga-jaga dalam hatinya dia membatin; nuwun sewu, tunggal guru ojo ngganggu, tunggal ilmu ojo nyatru.
‘Apa yang kamu tunggui di sumur ini, Bocah?’ Tanya lelaki tua itu. Samar-samar Pak De Jani pun mulai bisa menangkap bayangan utuhnya. Lelaki tua itu tak hanya berjenggot putih, melainkan sekujur tubuhnya dibalut pakaian serba putih, rambutnya pun putih seluruhnya.
‘Kulo nungui adik Kulo yang sedang mandi.’
‘Mana adikmu yang mandi itu? Tak ada adikmu yang sedang mandi di situ.’
Tersadar oleh teguran itu, Pak De Jani sudah tidak lagi mendengar suara gayung berjeburan. Pak De Jani segera menengok ke arah kolah, memastikan kalau pendengarannya benar adanya. Terkesiap oleh kenyataan kalau sudah tidak terdengar suara jeburan gayung, Pak De Jani segera pula mau bertanya pada orang tua berjenggot putih itu. Tapi, si penegur sudah tidah ada di tempatnya tadi berdiri. Pak De Jani menengok ke kanan dan kiri. Tidak ada sesiapa pun di sekitarnya. Bayangan orang tak ada, angin yang meremangkan tengkuknya pun tak ada. Dalam keremangan matanya hanya menangkap bayangan pohon-pohon saja.
Tak mau larut dalam kebingungan pikirannya sendiri, Pak De Jani segera pergi mengambil air wudhlu, sambil beristighfar terus sepanjang waktu. Dan saat tangannya membasuhkan air ke kedua daun telinganya lamat-lamat di dengarnya lagi sebuah teguran. ‘Bocah, jangan dikira tempat ini tak ada yang punya. Kau hanya menumpang lewat saja di sini. Oleh sebab itu jangan memamerkan ilmu di depan kami….’
Pak De Jani tak mau banyak mendengar lagi. Begitu wudhlunya selesai dia segera beranjak masuk ke dalam rumahnya. Dia juga mau secepatnya memastikan kalau-kalau adiknya, Mak Yat, sudah selesai mandi dan selamat sampai di rumah.
Begitu menginjakkan kakinya ke undakan batu belakang rumah, Pak De Jani sudah pula mendapat teguran keras dari Kakek yang dikenal galak oleh anak-anaknya itu. ‘Jani, kamu kemana saja?! Tiga hari tidak pulang, kamu pikir rumahmu ini gardu (waktu itu orang-orang tua dan para pemuda suka menghabiskan waktu sorenya dengan duduk-duduk di gardu penjagaan), cuma dibuat mampir lewat saja?!!’
Pak De Jani, sekali lagi, terkesiap oleh kenyataan dirinya. Air wudhlu di wajah, ubun-ubun, telinga, tangan dan kakinya belum lagi kering. Tapi Kakek sudah menuduhnya meninggalkan rumah selama tiga hari. Ingatan Pak De Jani segera berlari ke arah bayangan orang tua berjenggot putih itu, dan merasa benar-benar telah dicobai olehnya. ‘Nggih…’ Pak De Jani tak punya jawaban lain pada bapaknya.
‘Sudah, bantu Makmu sana!’ Sahut Kakek waktu itu. ‘Kita harus cepat meninggalkan rumah kesrakat ini.’
Belakangan Pak De Jani mendengar selentingan, kalau Mak Yat mengalami demam, badannya panas dingin tak keruan, selama dua hari ini. Dan Nenek selalu mimpi hal-hal menakutkan. Belum lagi Kakek dibingungkan oleh kepergiannya yang tanpa kabar itu.
Tak sempat sembahyang maghrib, Pak De Jani membantu Nenek selekasnya mengemasi barang-barang mereka, utamanya yang paling dibutuhkan saja. Perkakas yang besar-besar bakal menyusul kemudian. Kakek-Nenek sekeluarga boyongan lagi, tapi sekali ini untuk kembali ke rumah lama yang untungnya belum sampai dijual oleh Buyut.”
Berhenti sebentar Bapak menarik nafas agak berat, sebelum meneruskan ceritanya. “Beberapa bulan kemudian perut Nenek membesar lagi seperti umumnya orang hamil sembilan bulan lebih. Tapi sampai sebesar itu kandungan tak juga terlahirkan. Genap enam bulan kandungan yang kedua ini, tepat pada Bakda Mulud lahirlah seorang bayi.
Waktu itu Pak De Jani yang tak merasa putus asa dengan kegagalannya nglakoni sebelumnya, sudah menyelesaikan tirakatannya semula. Dan sore selepas selamatan Muludan dan bersih desa, Pak De Jani bertemu dengan orang tua berjenggot putih tempo hari. ‘Ngger.’ Sapa orang tua itu di tikungan pekuburan desa. ‘Adikmu yang baru lahir ini, bakal minta korban. Sesiapa saudaranya yang punya hari dan neptu sama dengan kelahirannya harus mengalah. Kalau tidak, ya bayi itu yang kalah.’
Pak De Jani tak sanggup menjawab apa pun lagi, kecuali melepas kepergian orang tua itu berjalan seperti angin dan hilang di ujung barat jalan.”
Memang kemudian salah seorang Bu Dhe kami meninggal tak berapa lama sejak Bapak lahir. Aku sendiri masih setengah percaya pada cerita Bapak kali ini. Tapi perihal kejengkelanku pada cerpen-cerpen Riyono itu tak bisa kuelakkan.
Kalau memang ada anjing yang bisa berubah jadi gadis cantik seperti digambarkan dalam cerpen Kepanjangannya Riyono itu, maka aku mau memeluknya kuat-kuat. Kalau perlu dikuburkan satu liang dengannya.
Susilo, 191003
Monday, October 06, 2003
Scriptwritter
Oleh: Susilo
Sekumpulan merpati liar di taman kota berlonjakan mengikuti arah angin. Berebut makanan yang dilemparkan para pengunjung taman. Tiap kepakannya melahirkan anak-anak angin baru. Angin mengndus samar menebarkan semburat senja ke tiap sudut ruang yang sisa. Menanting aroma gunung yang mulai menggigit. Tapi ada yang selalu perkecualian dan tak tergigit.
"Jadi dimana posisimu sekarang?" Perempuan bersyal biru menyoroti mata di depannya.
"Sementara............" Sebatang rokok menyusup mulut si lelaki kaca-mata kecil. "Aku pikir, jangan dululah."
"Lantas buat apa kau cari aku?"
"Aku perlu sedikit dukungan........."
"Berapa?"
"Bukan. Bukan berapa, tapi apa." Menunggu jawaban yang masih menganggapnya sepi. "Baiklah, aku sedang menyelesaikan sebuah naskah...."
"Film? Opera? Teater? Apa?" Suara lembut itu mulai tajam.
"Naskah kita."
"Naskah kita........?"
Sepi. Pelayan datang menanyakan pesanan. Tapi mereka sedang tak suka makan rupanya. Hanya dua gelas penghangat pikiran mereka minta. Tak kurang tak lebih, sepasang gelas, semangkuk es dan sebotol anggun minuman yang berdesis. Berdesis, pikir si lelaki kecil itu, persis ular para fakir yang kehilangan seruling. Meliuk dalam jambangan terbuka. Kata orang, gelitik pikiran kecilnya lagi, gelas kristal membawa kesehatan. Tapi tidak untuk sore ini. Tidak, dengan desis di dalamnya.
Biasanya, setidakanya tiga tahun lalu, mereka bakal segera membukagabus penutup botolnya. Menuang jadi dua, menghirup aromanya, dan mencecapnya pelan-pelan seperti dari tadahan cawan. Sedikit tengadah lantas saling kerling dan gelak-gelak kecil. Memainkan sedikit tangan, sedikit kaki, sedikit sudut, dan sedikit malam yang mungkin untuk mereka bagi berdua. Tapi memang, tak setiap malam jadi yang sedikit itu. Kebanyakan malam mereka habiskan di tempat masing-masing. Lelaki kecil itu selalu sibuk dengan isteri yang tak pernah bisa memahami tingkah aneh suaminya pada tiap malam tertentu itu. Sedang perempuan ini cuma bisa menunggu sampai hampir lewat tiga tahun berlalu.
"Aji......." Cairan berdesis itu tak melicinkan leher jenjangnya. "Aku tak tahan lagi."
"Aku juga." Matanya menekuni asbak dan gelas kristal di tangan. "Apalagi menjelang musim dingin begini."
"Matamu...." Menuangi isi perutnya dan mengetukkan kaki gelas sedikit keras. "Terlalu suka gelas dan minuman. Lama-lama dia merasa Cuma jadi asbak rokokmu saja."
"Oh, maaf, maaf..........maksudku......"
"Sudahlah. Aku tak mau dibodohi terus, seperti isterimu. Nama boleh sama tapi soal cara tidak harus serupa, kan?" Bangkit dari duduknya. Tegak di atas kakinya yang menjulang
"Eh...Anna sebentar. Aku belum selesai."
"Siapa yang belum selesai? Apakah Anna juga mau datang ke sini?" Mengemasi tas kecilnya. "Kamu belum selesai, aku sudah."
"Baik, baik. Aku minta maaf lagi. Sekali lagi. Ayolah....Duduk dulu...." Lirih tapi ajakan itu penuh tekanan dan memaksa perempuan itu duduk lagi.
"Baik....Aku tadi terlalu buru-buru menebak maksud tak tahanmu. Maaf. Aku minta maaf.....Bagaimana?"
Tiga tahun hampir-hampir lewat begitu saja. Persis seperti Yulianna, isterinya yang tak pernah tahu tingkah anehnya, perempuan ini pun sama meledak-ledaknya. Suka menggoda, suka melabrak juga. Tourisiana hampir tak berbeda dari Yuliana yang suka di rumah saja. Perbedaannya mungkin cuma soal ukuran. Medium dan large siapa bilang sama, sekalipun tak selalu menunjukkan kemampuan dan kekuatan. Tapi orang memang tak harus mencari yang lain sama sekali dari rumput depan rumahnya. Orang, dalih lelaki kecil kita, bisa mengendus rumput dari jenis yang sama, toh tak setiap hujan sore datangkan pelangi senja.
"Kamu persis....."
"Isterimu?!"
"Bukan. Ibuku." Mengorek rokok lagi. "Selalu marah, teriak, tertawa, dan menangisnya dulu sebelum tahu. Sebelum mendengarkan omongan orang."
"Kamu pikir aku tuli?"
"Kamu mendengar tapi tidak mendengarkan. Kamu terlalu jarang mendengarkan omongan orang."
"Hh, kamu bukan Ibuku."
"Ah, bahkan Ibumu tak kamu dengarkan."
"Bahkan Ibuku?"
"Bahkan Bapakmu?"
"Bahkan Bapakku?! Cukup! Kamu mulai suka jadi petugas sensus."
"Bukannya kamu yang mau supaya suatu hari ada yang menyensusmu? Bukannya kamu yang mau menikahi petugas sensus bernama Mas Aji itu? Kamu berhak bosan pada semua ini. Kamu berhak bosan padaku. Ah, siapa juga aku ini toh. Tapi jangan pernah kamu bosani harapan-harapanmu, mimpi-mimpimu. Jangan, jangan pernah. Sebab, itu berarti kamu sudah siap mati. Dan petugas sesusmu ini belum siap melepasmu pergi, sendiri. Belum siap. Belum."
Tourisiana, perempuan itu, menyilangkan kakinya. Menepukkan tangan satu sama lain, sehingga beberapa orang mengira mereka sedang melatih salah satu adegan dari sebuah melodrama.
"Nana, tolong........dengarkan aku."
Perempuan itu masih berdiri dan memperhatikan saja aktor kecilnya ini mengoceh tak keruan. Tanpa berkedip. Tersenyum terus dan mengatupkan rahangnya pelahan.
"Baik. Nana, sekarang terserah kamu." Melepaskan kaca-mata kecilnya. "Orang-orang ini mau mengontrak kita buat film mereka rupanya. Hmmm, kamu lihatkan? Tapi, baiklah terserah kamu. Aku cuma minta sedikit waktumu. Sedikit saja lagi."
Senyum Nana sedikit mengembang dengan mata menari-nari membalas tiap mata di lain meja. Dan meneruskan senja di pertemuan jahanamnya. Dengan seorang seniman, aktor, penulis dan apalah yang serba amatiran.
"Aku cuma mau menyerahkan ini." Tangannya bergerak gesit, menyentuh ringan telinga Tourisiana dan tiba-tiba sebuah kotak beludu ada dalam genggamannya yang terbuka. "Bukalah, kalau kamu suka."
Sebentar Nana ragu-ragu pada perasaannya, pada harapannya sendiri. Seperti bakal ada ulat kecil yang melenting dari dalam kotak mungil itu. Ulat kecil yang bisa merambat ke tangan dan meremah hatinya.
"Apa itu?"
"Dukunganmu..."
"Dukunganku?"
"Ya, dukunganmu. Seperti yang aku minta tadi." Tangannya menuntun jari-jari Nana. "Bukalah. Biar aku cerita sedikit soal mobil, rumah dan seisinya yang sekarang sudah jadi punya isteriku sepenuhnya. Mantan maksudku, mantan isteriku."
"Apa?!" Emas putih itu hampir jatuh dari genggamannya. Dia memang pernah berharap, bahkan sangat berharap, segera datangnya peristiwa ini. Tapi tidak secepat ini. Sebelum dia mampu meredakan gelenyar-gelenyar dalam dadanya.
"Yah, aku sekarang tinggal sendiri menunggumu meminangku." Mengaduk es dalam gelasnya pelan. "Aku tinggal di penginapan kelas kambing. Moga-moga kamu nggak kecewa. Oya, ada tawaran menyelesaikan naskah komunikasi spiritual. Dan aku juga mau menyelesaikan naskah kita....."
"Mas Aji..." Nana duduk lagi. Tunduk, tengadah, senyum dan menangis kecil. "Aku belum ada krenteg......."
Begitulah naskah itu, kenang Aji sepanjang waktu yang lewat kemudian, Nana moga-moga kado ini bisa mengingatkan kamu terus pada senja hangat kita. Mas Aji meninggalkan ziarahnya pada pesta pernikahan Tourisiana, dua tahun kemudian. Ziarah pada naskahnya yang tak akan pernah selesai.
121100-051003
Oleh: Susilo
Sekumpulan merpati liar di taman kota berlonjakan mengikuti arah angin. Berebut makanan yang dilemparkan para pengunjung taman. Tiap kepakannya melahirkan anak-anak angin baru. Angin mengndus samar menebarkan semburat senja ke tiap sudut ruang yang sisa. Menanting aroma gunung yang mulai menggigit. Tapi ada yang selalu perkecualian dan tak tergigit.
"Jadi dimana posisimu sekarang?" Perempuan bersyal biru menyoroti mata di depannya.
"Sementara............" Sebatang rokok menyusup mulut si lelaki kaca-mata kecil. "Aku pikir, jangan dululah."
"Lantas buat apa kau cari aku?"
"Aku perlu sedikit dukungan........."
"Berapa?"
"Bukan. Bukan berapa, tapi apa." Menunggu jawaban yang masih menganggapnya sepi. "Baiklah, aku sedang menyelesaikan sebuah naskah...."
"Film? Opera? Teater? Apa?" Suara lembut itu mulai tajam.
"Naskah kita."
"Naskah kita........?"
Sepi. Pelayan datang menanyakan pesanan. Tapi mereka sedang tak suka makan rupanya. Hanya dua gelas penghangat pikiran mereka minta. Tak kurang tak lebih, sepasang gelas, semangkuk es dan sebotol anggun minuman yang berdesis. Berdesis, pikir si lelaki kecil itu, persis ular para fakir yang kehilangan seruling. Meliuk dalam jambangan terbuka. Kata orang, gelitik pikiran kecilnya lagi, gelas kristal membawa kesehatan. Tapi tidak untuk sore ini. Tidak, dengan desis di dalamnya.
Biasanya, setidakanya tiga tahun lalu, mereka bakal segera membukagabus penutup botolnya. Menuang jadi dua, menghirup aromanya, dan mencecapnya pelan-pelan seperti dari tadahan cawan. Sedikit tengadah lantas saling kerling dan gelak-gelak kecil. Memainkan sedikit tangan, sedikit kaki, sedikit sudut, dan sedikit malam yang mungkin untuk mereka bagi berdua. Tapi memang, tak setiap malam jadi yang sedikit itu. Kebanyakan malam mereka habiskan di tempat masing-masing. Lelaki kecil itu selalu sibuk dengan isteri yang tak pernah bisa memahami tingkah aneh suaminya pada tiap malam tertentu itu. Sedang perempuan ini cuma bisa menunggu sampai hampir lewat tiga tahun berlalu.
"Aji......." Cairan berdesis itu tak melicinkan leher jenjangnya. "Aku tak tahan lagi."
"Aku juga." Matanya menekuni asbak dan gelas kristal di tangan. "Apalagi menjelang musim dingin begini."
"Matamu...." Menuangi isi perutnya dan mengetukkan kaki gelas sedikit keras. "Terlalu suka gelas dan minuman. Lama-lama dia merasa Cuma jadi asbak rokokmu saja."
"Oh, maaf, maaf..........maksudku......"
"Sudahlah. Aku tak mau dibodohi terus, seperti isterimu. Nama boleh sama tapi soal cara tidak harus serupa, kan?" Bangkit dari duduknya. Tegak di atas kakinya yang menjulang
"Eh...Anna sebentar. Aku belum selesai."
"Siapa yang belum selesai? Apakah Anna juga mau datang ke sini?" Mengemasi tas kecilnya. "Kamu belum selesai, aku sudah."
"Baik, baik. Aku minta maaf lagi. Sekali lagi. Ayolah....Duduk dulu...." Lirih tapi ajakan itu penuh tekanan dan memaksa perempuan itu duduk lagi.
"Baik....Aku tadi terlalu buru-buru menebak maksud tak tahanmu. Maaf. Aku minta maaf.....Bagaimana?"
Tiga tahun hampir-hampir lewat begitu saja. Persis seperti Yulianna, isterinya yang tak pernah tahu tingkah anehnya, perempuan ini pun sama meledak-ledaknya. Suka menggoda, suka melabrak juga. Tourisiana hampir tak berbeda dari Yuliana yang suka di rumah saja. Perbedaannya mungkin cuma soal ukuran. Medium dan large siapa bilang sama, sekalipun tak selalu menunjukkan kemampuan dan kekuatan. Tapi orang memang tak harus mencari yang lain sama sekali dari rumput depan rumahnya. Orang, dalih lelaki kecil kita, bisa mengendus rumput dari jenis yang sama, toh tak setiap hujan sore datangkan pelangi senja.
"Kamu persis....."
"Isterimu?!"
"Bukan. Ibuku." Mengorek rokok lagi. "Selalu marah, teriak, tertawa, dan menangisnya dulu sebelum tahu. Sebelum mendengarkan omongan orang."
"Kamu pikir aku tuli?"
"Kamu mendengar tapi tidak mendengarkan. Kamu terlalu jarang mendengarkan omongan orang."
"Hh, kamu bukan Ibuku."
"Ah, bahkan Ibumu tak kamu dengarkan."
"Bahkan Ibuku?"
"Bahkan Bapakmu?"
"Bahkan Bapakku?! Cukup! Kamu mulai suka jadi petugas sensus."
"Bukannya kamu yang mau supaya suatu hari ada yang menyensusmu? Bukannya kamu yang mau menikahi petugas sensus bernama Mas Aji itu? Kamu berhak bosan pada semua ini. Kamu berhak bosan padaku. Ah, siapa juga aku ini toh. Tapi jangan pernah kamu bosani harapan-harapanmu, mimpi-mimpimu. Jangan, jangan pernah. Sebab, itu berarti kamu sudah siap mati. Dan petugas sesusmu ini belum siap melepasmu pergi, sendiri. Belum siap. Belum."
Tourisiana, perempuan itu, menyilangkan kakinya. Menepukkan tangan satu sama lain, sehingga beberapa orang mengira mereka sedang melatih salah satu adegan dari sebuah melodrama.
"Nana, tolong........dengarkan aku."
Perempuan itu masih berdiri dan memperhatikan saja aktor kecilnya ini mengoceh tak keruan. Tanpa berkedip. Tersenyum terus dan mengatupkan rahangnya pelahan.
"Baik. Nana, sekarang terserah kamu." Melepaskan kaca-mata kecilnya. "Orang-orang ini mau mengontrak kita buat film mereka rupanya. Hmmm, kamu lihatkan? Tapi, baiklah terserah kamu. Aku cuma minta sedikit waktumu. Sedikit saja lagi."
Senyum Nana sedikit mengembang dengan mata menari-nari membalas tiap mata di lain meja. Dan meneruskan senja di pertemuan jahanamnya. Dengan seorang seniman, aktor, penulis dan apalah yang serba amatiran.
"Aku cuma mau menyerahkan ini." Tangannya bergerak gesit, menyentuh ringan telinga Tourisiana dan tiba-tiba sebuah kotak beludu ada dalam genggamannya yang terbuka. "Bukalah, kalau kamu suka."
Sebentar Nana ragu-ragu pada perasaannya, pada harapannya sendiri. Seperti bakal ada ulat kecil yang melenting dari dalam kotak mungil itu. Ulat kecil yang bisa merambat ke tangan dan meremah hatinya.
"Apa itu?"
"Dukunganmu..."
"Dukunganku?"
"Ya, dukunganmu. Seperti yang aku minta tadi." Tangannya menuntun jari-jari Nana. "Bukalah. Biar aku cerita sedikit soal mobil, rumah dan seisinya yang sekarang sudah jadi punya isteriku sepenuhnya. Mantan maksudku, mantan isteriku."
"Apa?!" Emas putih itu hampir jatuh dari genggamannya. Dia memang pernah berharap, bahkan sangat berharap, segera datangnya peristiwa ini. Tapi tidak secepat ini. Sebelum dia mampu meredakan gelenyar-gelenyar dalam dadanya.
"Yah, aku sekarang tinggal sendiri menunggumu meminangku." Mengaduk es dalam gelasnya pelan. "Aku tinggal di penginapan kelas kambing. Moga-moga kamu nggak kecewa. Oya, ada tawaran menyelesaikan naskah komunikasi spiritual. Dan aku juga mau menyelesaikan naskah kita....."
"Mas Aji..." Nana duduk lagi. Tunduk, tengadah, senyum dan menangis kecil. "Aku belum ada krenteg......."
Begitulah naskah itu, kenang Aji sepanjang waktu yang lewat kemudian, Nana moga-moga kado ini bisa mengingatkan kamu terus pada senja hangat kita. Mas Aji meninggalkan ziarahnya pada pesta pernikahan Tourisiana, dua tahun kemudian. Ziarah pada naskahnya yang tak akan pernah selesai.
121100-051003
Thursday, September 25, 2003
Think of the lizard. It spends most of its life on the ground, envying the birds and indignant at its fate and its shape. "I am the most disliked of all the creatures," it thinks. "Ugly, repulsive, and condemned to crawl along the ground." One day, though, Mother Nature asks the lizard to make a cocoon. The lizard is startled -- it has never made a cocoon before. He thinks that he is building his tomb, and prepares to die. Although unhappy with the life he has led up until then, he complains to God: "Just when I finally became accustomed to things, Lord, you take away what little I have." In desperation, he locks himself into the cocoon and awaits the end. Some days later, he finds that he has been transformed into a beautiful butterfly. He is able to fly to the sky, and he is greatly admired. He is surprised at the meaning of life and at God's designs.
"Maktub" means "It is written." The Arabs feel that "It is written" is not really a good translation, because, although everything is already written, God is compassionate, and wrote it all down just to help us. The wanderer is in New York. He has overslept an appointment, and when he leaves his hotel, he finds that his car has been towed by the police. He arrives late for his appointment, the luncheon lasts longer than necessary, and he is thinking about the fine he will have to pay. It will cost a fortune. Suddenly, he remembers the dollar bill he found in the street the day before. He sees some kind of weird relationship between the dollar bill and what happened to him that morning. "Who knows, perhaps I found that money before the person who was supposed to find it had the chance? Maybe I removed that dollar bill from the path of someone who really needed it. Who knows but what I interfered with what was written?" He feels the need to rid himself of the dollar bill, and at that moment sees a beggar sitting on the sidewalk. He quickly hands him the bill, and feels that he has restored a kind of equilibrium to things. "Just a minute," says the beggar. "I'm not looking for a handout. I'm a poet, and I want to read you a poem in return." "Well, make it a short one, because I'm in a hurry," says the wanderer. The beggar says, "If you are still living, it's because you have not yet arrived at the place you should be."
Thursday, August 28, 2003
tak semua memang
bisa ditanya untuk apa
ini dari sebuah puisi si gundul itu...padahal ini pun sudah merupakan sebuah reduksi; klo berniat bertanya tentang sang mengapa, aku rasa lebih baik gunakan mengapa. Mengapa tidak sesempit makna yang dipertanyakan oleh sebab/karena apa alias kena apa yg dipersingkat menjadi kenapa. Mengapa pun tidak sesempit untuk apa atau buat apa yang terlalu pragmatis bahkan cenderung mengarah pada utilitarianis, opportunis, dan bahkan hedonis...mari aku berkaca lagi dan mengapa aku bertanya-tanya; ah mungkin hanya ingin mengenali diri (gnoi seaton; bual plato menirukan gurunya di pintu-pintu kelas academosnya), mungkin hanya ingin berpatut-patut diri, barangkali sekadar mau katarsis meski tak selalu ekstasis (masturbasi batin seperti setiap saat aku sambat pada yg aku anggap kuasa pada segala doa dan dosa; sayang, aku mulai coba tinggalkan pikiran tentang reward and punishment yg kerap membuatku jadi penjilat atau paranoia), pun barangkali sekadar mewedar mimpi-mimpi yang tak pasti....barangkali seperti mimpi...soal apakah ruang ini bakal jadi ajang perdebatan diskusi karya atau apa ya terserah saja...sebab pada ruang yang terlanjur terbuka sebagaimana juga karya penulis/penyair telah mati di sana...ketika ia coba mengunjungi lagi ruang itu, ia pun tamu dan pembaca yang baru...toh tak ada kaki yang menyeberangi sungai dua kali...justru kalau aku menyayangkan adanya gejolak dan perbedaan yang berkembang atau kukuh memegang petak-petak sawah yang ada maka aku merasa seperti berada dalam penjara strukturalisme mesin-mesin, padahal cukup lama kudengar gaung perlawanan yang terbantun dalam maraknya gelegak Rage Against the Machine, padahal aku begitu gandrung dengan tarian masyuknya para penggembira di jalanan generasi bunga (the lost generations?), padahal aku sangat terpesona oleh pesona dialog pembunuh tua yang dibualkan sean connery dalam the rock (setelah ini aku berhenti dan memilih menjadi petani atau penyair...) sementara teriakan nelangsanya nicholas cage menyeruak ke udara pecah seperti balon-balon kalimat dalam komik...aku suka tekanan, aku suka tekanan, aku suka tekanan...aku bahkan jarang membayangkan hidup dalam kelimpahan benda-benda dari [B]puri rapuhku[/B] setelah sekian abad suntuk dalam menggoreskan darahku pada dinding-dindingnya karena kertas, korden, pakaian dan sprei telah habis bersama menguapnya dawat tinta dalam botol-botol jack daniels…toh, aku bukan nirdawat atau penulis kwartet tarian cangkir remuk yang nyatanya menyosor dari quatrine of an artist as a didderot man…aku pun rafilus aku juga bukan bekas pelukis yang tergila-gila pada mayat bekas istrinya…aku bukan kropos yg diselundupkan, dimangsa dan dicerabut dalam oleh dan dari zabaza….aku tak mungkin menjelma bekas calon rahib, bekas pejuang, bekas algojo pemenggal kepala para pengkhianat, dan gelandangan yang dihidupi maria dan hendak dihidupi vivi yang terbunuh itu….aku pun bukan lelaki yang sanggup menatap inti matahari hingga hanya tinggal satu dan satu-satunya masalah yang dihadapinya yakni bahwa sepanjang malam ia ada melihat matahari dalam tempurung kepalanya…meski aku bukan si dungu yang ketika digorok akan berbisik mesra pada cuaca….”seperti anjing…..” mustahil…..dan musykil aku menjadi seorang muda yang sedia membunuh nyonya rentenir tetangga hanya demi suara-suara tokoh besarnya sambil melunasi seluruh hutang hidupnya….pun tak ada niatan dalam benakku untuk sekali pun mengeja-wantah diri sebagai kecoa seperti metamorfosa yang gagal dan memuakkan…..aku tak berhasrat merengkuh segala kemuakkan dalam mata jejala mayapadha ini sebagaimana pernah dinyatakan oleh si penjual kata-kata, yang kerap merasa muak pada keterasingan….juga tak perlu aku menggerus rumusan-rumusan pretensi atas surga atau neraka di dasar pantatku hingga merusukkan tinju peradaban dalam buku bulukan tertajuk hajad absolut….kalo kerasa reseh atau bikin pusing…..lah apa ya setiap langkahku musti ga kesandung, ga pake jatuh….aku kok ga ngerasa itu perlu diperumit dengan segala perhitungan….terlalu banyak berhitung mending aku ga usah mencintai bunga-bunga….terlalu sedikit gunanya….mending aku milih jadi tukang intelek atawa dagang bualan di kelas-kelas…atau sekalian koar-koar jadi nabi penjaga gawang moralitas kaya juragan sekte di jepang yg bisa bikin orang sekampung bunuh diri massal…tanpa perlu jagal…wah kalo dah kayak gitu kayanya aku dah jadi teror yang lebih mengerikan ketimbang segala bentuk senjata balistik, bom plastik, bombasme…..sebab bombie ada di kepalaku….lha aku mau mleding, mau nungging, mau ngibing, mau apa juga siapa sebenarnya yang paling sah seabsah-absahnya memberikan tanda seru sampai…..kotaku penuh tanda seru….kecuali temenku yang kadang selera humornya rada kelewatan itu….dia yang kadang jadi penembak yang tak jitu…dia yang juga mencintai bunga-bunga…..
aku tak bicara
buah, daun dan pokok
anggur kebunmu
cuma kucinta
semai, semi, dan mekar
bunga-bungaku
proklamasi58 sby, 3:38
bisa ditanya untuk apa
ini dari sebuah puisi si gundul itu...padahal ini pun sudah merupakan sebuah reduksi; klo berniat bertanya tentang sang mengapa, aku rasa lebih baik gunakan mengapa. Mengapa tidak sesempit makna yang dipertanyakan oleh sebab/karena apa alias kena apa yg dipersingkat menjadi kenapa. Mengapa pun tidak sesempit untuk apa atau buat apa yang terlalu pragmatis bahkan cenderung mengarah pada utilitarianis, opportunis, dan bahkan hedonis...mari aku berkaca lagi dan mengapa aku bertanya-tanya; ah mungkin hanya ingin mengenali diri (gnoi seaton; bual plato menirukan gurunya di pintu-pintu kelas academosnya), mungkin hanya ingin berpatut-patut diri, barangkali sekadar mau katarsis meski tak selalu ekstasis (masturbasi batin seperti setiap saat aku sambat pada yg aku anggap kuasa pada segala doa dan dosa; sayang, aku mulai coba tinggalkan pikiran tentang reward and punishment yg kerap membuatku jadi penjilat atau paranoia), pun barangkali sekadar mewedar mimpi-mimpi yang tak pasti....barangkali seperti mimpi...soal apakah ruang ini bakal jadi ajang perdebatan diskusi karya atau apa ya terserah saja...sebab pada ruang yang terlanjur terbuka sebagaimana juga karya penulis/penyair telah mati di sana...ketika ia coba mengunjungi lagi ruang itu, ia pun tamu dan pembaca yang baru...toh tak ada kaki yang menyeberangi sungai dua kali...justru kalau aku menyayangkan adanya gejolak dan perbedaan yang berkembang atau kukuh memegang petak-petak sawah yang ada maka aku merasa seperti berada dalam penjara strukturalisme mesin-mesin, padahal cukup lama kudengar gaung perlawanan yang terbantun dalam maraknya gelegak Rage Against the Machine, padahal aku begitu gandrung dengan tarian masyuknya para penggembira di jalanan generasi bunga (the lost generations?), padahal aku sangat terpesona oleh pesona dialog pembunuh tua yang dibualkan sean connery dalam the rock (setelah ini aku berhenti dan memilih menjadi petani atau penyair...) sementara teriakan nelangsanya nicholas cage menyeruak ke udara pecah seperti balon-balon kalimat dalam komik...aku suka tekanan, aku suka tekanan, aku suka tekanan...aku bahkan jarang membayangkan hidup dalam kelimpahan benda-benda dari [B]puri rapuhku[/B] setelah sekian abad suntuk dalam menggoreskan darahku pada dinding-dindingnya karena kertas, korden, pakaian dan sprei telah habis bersama menguapnya dawat tinta dalam botol-botol jack daniels…toh, aku bukan nirdawat atau penulis kwartet tarian cangkir remuk yang nyatanya menyosor dari quatrine of an artist as a didderot man…aku pun rafilus aku juga bukan bekas pelukis yang tergila-gila pada mayat bekas istrinya…aku bukan kropos yg diselundupkan, dimangsa dan dicerabut dalam oleh dan dari zabaza….aku tak mungkin menjelma bekas calon rahib, bekas pejuang, bekas algojo pemenggal kepala para pengkhianat, dan gelandangan yang dihidupi maria dan hendak dihidupi vivi yang terbunuh itu….aku pun bukan lelaki yang sanggup menatap inti matahari hingga hanya tinggal satu dan satu-satunya masalah yang dihadapinya yakni bahwa sepanjang malam ia ada melihat matahari dalam tempurung kepalanya…meski aku bukan si dungu yang ketika digorok akan berbisik mesra pada cuaca….”seperti anjing…..” mustahil…..dan musykil aku menjadi seorang muda yang sedia membunuh nyonya rentenir tetangga hanya demi suara-suara tokoh besarnya sambil melunasi seluruh hutang hidupnya….pun tak ada niatan dalam benakku untuk sekali pun mengeja-wantah diri sebagai kecoa seperti metamorfosa yang gagal dan memuakkan…..aku tak berhasrat merengkuh segala kemuakkan dalam mata jejala mayapadha ini sebagaimana pernah dinyatakan oleh si penjual kata-kata, yang kerap merasa muak pada keterasingan….juga tak perlu aku menggerus rumusan-rumusan pretensi atas surga atau neraka di dasar pantatku hingga merusukkan tinju peradaban dalam buku bulukan tertajuk hajad absolut….kalo kerasa reseh atau bikin pusing…..lah apa ya setiap langkahku musti ga kesandung, ga pake jatuh….aku kok ga ngerasa itu perlu diperumit dengan segala perhitungan….terlalu banyak berhitung mending aku ga usah mencintai bunga-bunga….terlalu sedikit gunanya….mending aku milih jadi tukang intelek atawa dagang bualan di kelas-kelas…atau sekalian koar-koar jadi nabi penjaga gawang moralitas kaya juragan sekte di jepang yg bisa bikin orang sekampung bunuh diri massal…tanpa perlu jagal…wah kalo dah kayak gitu kayanya aku dah jadi teror yang lebih mengerikan ketimbang segala bentuk senjata balistik, bom plastik, bombasme…..sebab bombie ada di kepalaku….lha aku mau mleding, mau nungging, mau ngibing, mau apa juga siapa sebenarnya yang paling sah seabsah-absahnya memberikan tanda seru sampai…..kotaku penuh tanda seru….kecuali temenku yang kadang selera humornya rada kelewatan itu….dia yang kadang jadi penembak yang tak jitu…dia yang juga mencintai bunga-bunga…..
aku tak bicara
buah, daun dan pokok
anggur kebunmu
cuma kucinta
semai, semi, dan mekar
bunga-bungaku
proklamasi58 sby, 3:38
Tuesday, August 05, 2003
cerpen itu dibacok-bacok Parang
diremas-remas seperti daging segar. dibuka lagi, pelan-pelan, selembar-demi-selembar. dibuatkan pigura, dipajang dalam kamar. ternyata masih kurang sreg juga.
piguranya diusung ke kamar mandi. dipelototi ampe mata juling begasing-gasing, tapi itu cerpen masih bandel juga. gak ada bagus-bagusnya acan. lama ngendon di kamar mandi, digedor sama orang serumah dikira sudah mati di dalam. cerpen itu bikin tak bisa mandi. orang serumah protes keras lantaran bergidik liat kertas comel comang-comeng darah segar dari tangan terParang. cerpen itu menggigil keluar dari kamar mandi.
saking geregetan cerpen itu ditaruh sembarangan dalam wc. lagi-lagi cerpen yang gak sreg itu bikin ulah. orang-orang takut masuk wc. di bawah lampu wc yang remang cerpen itu mengeluarkan gambaran remang-remang dari seorang penulis cerpen yang mati penasaran. cerpen itu menghantui orang serumah. saking ketakutannya, mereka lari berhamburan keluar rumah. ruang tengah, kamar tidur, dapur, ruang tamu, tak lupa wc dan kamar mandi sudah tak lagi aman. orang-orang berlarian ke sana-sini nyari tempat sembunyi. tak sempat berpakaian, tak baju, tak celana, luar dalam mereka lupa. orang-orang terus berlarian keluar rumah. apalagi setelah cerpen itu ikut lari ketakutan. berkejaran mereka berlarian, tanpa busana, tanpa paksaan, tanpa pigura.
cerpen itu mencari teman menghambur ke orang-orang yang ketakutan. keliling kampung, keliling kota.
orang-orang kampung terpukau oleh pemandangan istimewa ini. mereka anggap serupa santapan mewah. mereka turut suka berlari-lari dalam histeria. orang serumah dihantui cerpen itu dan diturutsukai orang sekampung berlarian tak kunjung ujung. semua orang (termasuk si cerpen, sic!) lantas terlibat dalam karnaval panjang sambil berteriak, tertawa, mengacung-acungkan pakaian dan celana. kegembiraan tak terduga ini tentu saja disambut meriah oleh tiap orang sepanjang-jalan-mana mereka lintasi dengan lintasan-lintasan pikiran sepintas. orang-orang di jalan-jalan, gedung-gedung, warung-warung, kantor jawatan pemerintah dan partikelir sedikit tertegun oleh kenyataan bahwa di kota mereka masih ada yang tertawa. segera saja semua memburu ke arah yang sama. tak ketinggalan pula seorang pemburu-gembira-ria ini yang berlari sambil mengebor jalan.
yang lain tak mau kalah, cepat-tepat dilakukannya goyang ngecor. sebagian lagi menyusul dengan goyang ngedor. amboooooi, alamaaaaaak, alakazaaaaaaaam, abracadabrrrrrrrrra. seisi kota mencair riak ke dalam larutan kegembiraan ini. semua seperti kenabian (sebutan lain untuk kata kesetanan; hanya berlaku di kota itu, pen.) membentuk karnaval panjang yang lebih meriah dari pesta hari jadi kota, seluruhnya mengekoooooooooorrrrrrrrrr.
setengah terengah-engah, sampailah kepala keluarga pemilik cerpen itu pada ujung kota yang mewujud dalam bentuk tubir jurang teramat dalam.
pelahan kepala keluarga itu menengok ke arah orang-orang serumah dan orang-orang sekotanya. lalu matanya tertumbuk pada sebuah cerpen tanpa pigura. "ini semuuuuuaaaaaa garrraaa-garrrraaa kamuuuu!!!!
serta-merta kepala keluarga itu mencabik cerpen yang masih menggigil ketakutan dan nyaris kehabisan nafas itu. tak sanggup mengelak cerpen itu pun menurut saja dicabik-cabik oleh kepala keluarga. orang-orang serumah segera sadar akan keadaannya, orang-orang sekota begitu pula jadinya. si penulis cerpen yang tangannya terParang itu pun tak mau kalah rindu-dendam pada cerpennya. akhirnya setelah melalui pergulatan yang sangat dahsyat cerpen itu bisa dijinakkan dari kebanalannya. akhir kata, jadilah sebuah cerpen pendek seperti ini.2003
diremas-remas seperti daging segar. dibuka lagi, pelan-pelan, selembar-demi-selembar. dibuatkan pigura, dipajang dalam kamar. ternyata masih kurang sreg juga.
piguranya diusung ke kamar mandi. dipelototi ampe mata juling begasing-gasing, tapi itu cerpen masih bandel juga. gak ada bagus-bagusnya acan. lama ngendon di kamar mandi, digedor sama orang serumah dikira sudah mati di dalam. cerpen itu bikin tak bisa mandi. orang serumah protes keras lantaran bergidik liat kertas comel comang-comeng darah segar dari tangan terParang. cerpen itu menggigil keluar dari kamar mandi.
saking geregetan cerpen itu ditaruh sembarangan dalam wc. lagi-lagi cerpen yang gak sreg itu bikin ulah. orang-orang takut masuk wc. di bawah lampu wc yang remang cerpen itu mengeluarkan gambaran remang-remang dari seorang penulis cerpen yang mati penasaran. cerpen itu menghantui orang serumah. saking ketakutannya, mereka lari berhamburan keluar rumah. ruang tengah, kamar tidur, dapur, ruang tamu, tak lupa wc dan kamar mandi sudah tak lagi aman. orang-orang berlarian ke sana-sini nyari tempat sembunyi. tak sempat berpakaian, tak baju, tak celana, luar dalam mereka lupa. orang-orang terus berlarian keluar rumah. apalagi setelah cerpen itu ikut lari ketakutan. berkejaran mereka berlarian, tanpa busana, tanpa paksaan, tanpa pigura.
cerpen itu mencari teman menghambur ke orang-orang yang ketakutan. keliling kampung, keliling kota.
orang-orang kampung terpukau oleh pemandangan istimewa ini. mereka anggap serupa santapan mewah. mereka turut suka berlari-lari dalam histeria. orang serumah dihantui cerpen itu dan diturutsukai orang sekampung berlarian tak kunjung ujung. semua orang (termasuk si cerpen, sic!) lantas terlibat dalam karnaval panjang sambil berteriak, tertawa, mengacung-acungkan pakaian dan celana. kegembiraan tak terduga ini tentu saja disambut meriah oleh tiap orang sepanjang-jalan-mana mereka lintasi dengan lintasan-lintasan pikiran sepintas. orang-orang di jalan-jalan, gedung-gedung, warung-warung, kantor jawatan pemerintah dan partikelir sedikit tertegun oleh kenyataan bahwa di kota mereka masih ada yang tertawa. segera saja semua memburu ke arah yang sama. tak ketinggalan pula seorang pemburu-gembira-ria ini yang berlari sambil mengebor jalan.
yang lain tak mau kalah, cepat-tepat dilakukannya goyang ngecor. sebagian lagi menyusul dengan goyang ngedor. amboooooi, alamaaaaaak, alakazaaaaaaaam, abracadabrrrrrrrrra. seisi kota mencair riak ke dalam larutan kegembiraan ini. semua seperti kenabian (sebutan lain untuk kata kesetanan; hanya berlaku di kota itu, pen.) membentuk karnaval panjang yang lebih meriah dari pesta hari jadi kota, seluruhnya mengekoooooooooorrrrrrrrrr.
setengah terengah-engah, sampailah kepala keluarga pemilik cerpen itu pada ujung kota yang mewujud dalam bentuk tubir jurang teramat dalam.
pelahan kepala keluarga itu menengok ke arah orang-orang serumah dan orang-orang sekotanya. lalu matanya tertumbuk pada sebuah cerpen tanpa pigura. "ini semuuuuuaaaaaa garrraaa-garrrraaa kamuuuu!!!!
serta-merta kepala keluarga itu mencabik cerpen yang masih menggigil ketakutan dan nyaris kehabisan nafas itu. tak sanggup mengelak cerpen itu pun menurut saja dicabik-cabik oleh kepala keluarga. orang-orang serumah segera sadar akan keadaannya, orang-orang sekota begitu pula jadinya. si penulis cerpen yang tangannya terParang itu pun tak mau kalah rindu-dendam pada cerpennya. akhirnya setelah melalui pergulatan yang sangat dahsyat cerpen itu bisa dijinakkan dari kebanalannya. akhir kata, jadilah sebuah cerpen pendek seperti ini.2003
Sunday, August 03, 2003
Jalan gelap belakang SC
Debu. Dan puing-puing beterbangan memenuhi ruangan. Hampir seluruh sudut ruang di tepi pantai ini lebur jadi serpihan debu dan remah-remah sisa bangunan. Pantai ini jadi lebih luas dan ramai oleh potongan-potongan tubuh basah merah, ketimbang oleh hingar-bingar musik klab malam.
Ari terus merangkak, keluar. Mencari jalan paling mungkin di antara perih sekujur tubuhnya yang terbuka dan lepuh. Bertumpu pada lengan kanan, dilihatnya tubuh-tubuh lain di sekelilingnya pun cuma potongan tulang dan keratan daging hangus, dia mulai yakin kalau Devia telah habis riwayatnya. Sasaran yang seharusnya habis di tangannya itu rupanya sudah lebih dulu mati. Matanya terasa hangat dan basah, entah untuk siapa. Entah untuk apa, dia cuma ingat tak semua bisa ditanya untuk apa.
Lelaki legam ini mendengus, saat tangan kirinya menyikut tembok lapuk di luar bangunan rubuh itu. Nyeri yang menyebar dari sikunya hampir-hampir membuatnya berteriak sekeras geledek yang pernah didengarnya. Beruntung dia segera menahan kelojotan lidahnya begitu sadar beberapa orang mulai datang. Tak lama berselang orang-orang itu berbiak jadi puluhan sampai ratusan penduduk dan pelancong yang sibuk mencari sanak keluarganya. Ari selamat, mungkin juga bakal lebih selamat kalau segera dilarikan ke rumah sakit. Tapi Ari lebih memilih diam, menyelinap diam-diam.
Rumah sakit mungkin bisa menyelamatkannya dari luka-luka, tapi tidak dari kejaran orang-orang yang sedang memburunya. Dengan luka di mana-mana lelaki ramping kecil itu terus menuju kegelapan. Menembus malam, sampai ke sudut paling gelap di kolong kota pesisir selatan ini, tak ada lagi yang perlu ditakutkannya terhadap malam. Sebab Ari bahkan telah menembus batas perjanjiannya dengan You-As Inc. Intl.
Perjanjiannya adalah bahwa Ari harus menghabisi seorang pembelot bernama Devia. Entah, pembelotan macam apa yang telah dilakukan perempuan muda berdarah lokal dan Yunani itu. Buat Ari alasan bukanlah satu hal penting untuk pelaksanaan tugasnya, bisnisnya. Satu sasaran, satu penghabisan1 dan satu pembayaran, sudah cukup buat dijadikan satu alasan. Tugas adalah tugas, bisnis adalah bisnis.
Biasanya juga begitu. Mulai dari model penghabisan manual, penghabisan dengan mesiu, kecelakaan biasa, sampai kecelakaan tanpa jejak korban pun biasa dilakukannya. Begitu yakin dengan sasaran, maka sisanya tinggal menunggu saat yang tepat buat saat penghabisan. Itu pun tak perlu banyak makan waktu. Dan kalau harganya terlalu kecil, maka jebolan sekolah jalanan Jagir ini akan memakai cara lama yang sudah ketinggalan dan sederhana.
Dia jemput orang itu dari depan atau belakang. Renggut rambutnya, lalu gesekkan katana2 dari ujung ke ujung. Lalu pergi tanpa pernah menengok ke belakang lagi, hanya jeritan orang-orang di sekitar korban yang kadang terngiang. Begitulah semua sasaran Ari habis tanpa menyisakan perkara. Satu-satunya masalah adalah bahwa dia tak bisa cepat pulang. Dua tiga bulan ke depan dia harus pergi keliling negeri ini.
Satu kali sempat ibunya bertanya.
“Apa nggak bisa cari kerjaan lain?” tangan ibunya terus menggerus ramuan luka akibat terobek dalam sebuah bisnis besar untuk menghadapi seorang jawara tua dan memaksanya pulang sebentar.
“Buat apa?” meringis menahan rasa perih di iga kirinya.
“Apa nggak takut kuwalat?”
Sebenarnya jeri juga Ari pada pertanyaan itu. Tapi meninggalkan bisnis yang sudah dijalaninya sepuluh tahun lebih ini bukan pekerjaan mudah. Dan lagi lelaki berambut daun cemara ini, yang kalau dipotong pendek bakal kelihatan seperti mau menantang langit, sudah punya satu cara buat menghindari kata kuwalat itu. Satu hal, jangan pernah melihat mata korban3. Apa pun yang terjadi padanya. Satu lagi kunci di luar tugas, sehari-hari jangan pernah mencari atau mendekati masalah.
Pernah satu kali kampungnya diributkan oleh tawuran persahabatan, perebutan daerah kekuasaan, dengan pemuda kampung sebelah. Seorang pemuda kampungnya datang berlari-lari dari arah lokasi kejadian menuju rumahnya. Ari segera berdiri dari tempatnya berjongkok di depan pintu.
“Jangan. Cari tempat lain saja,” tangannya tetap ringan tanpa kesiagaan bertarung, tapi matanya sarat tekanan.
“Tolonglah, Ri,” pemuda itu mencekam lambungnya yang menangis merah.
“Kamu tahu bagaimana aku. Aku tahu siapa kamu,” sambil berbisik Ari melangkah satu-satu. “Kamu sudah maju, kenapa sekarang mundur?”
Pemuda itu tak mau lebih lama menunggu, segera terbungkuk-bungkuk lari lebih cepat dari saat dia datang. Dan hilang di gelap malam. Ari jongkok lagi, menyulut rokoknya. Beberapa saat kemudian seorang pemuda lain datang, pemuda yang tak dikenalnya. Pedang panjang karatan berlumuran basah di tangannya. Ari diam di tempat, hanya pandangannya nanap ke titik hitam mata pemuda itu. Diisapnya rokok ditangan dalam-dalam, matanya menatap lebih dalam dari luka yang bisa dibuat dengan pedang gemetar itu.
“Kalau pedangmu deg-degan lihat mataku, jangan datang ke rumah ini.” embusan tipis keluar dari lubang hitam di wajahnya.
Penenteng pedang itu pun mundur beberapa tindak dan menghilang lagi. Mungkin mulai sadar, siapa lelaki di depannya barusan. Lelaki yang tak boleh disebutkan namanya dengan tidak hormat dalam radius 500 rumah dari kampungnya. Nama yang juga dikenal baik oleh para cukong pendendam. Namanya tak jarang juga dijadikan jaminan buat keluar tahanan, asal dia tak tahu. Sebab begitu dia tahu, maka tak akan segan-segan menghabisi tukang catut nama itu. Apa pun pasalnya. Jadi hidup bersih sudah menjadi kesehariannya.
Bukan apa-apa. Dia berusaha selalu tetap bersih, bahkan alkohol pun tak lagi disentuhnya. Cukup susu putih setiap pagi dan sorenya. Bersih di rumah, bersih di luar rumah, bersih pula pikirannya dari mata yang ketakutan saat para korban sekarat menjemput maut. Begitulah biasanya dan seharusnya.
Tapi kali ini Ari dipaksa melakukan kerja tambahan. Ada pembayaran lebih memang, meski sebenarnya dia tak terlalu suka melakukannya. Ari diminta lebih dulu menemui seseorang di salah satu kafe di ibukota, dia biasanya lebih suka melakukan transaksi lewat layar monitor dan nomor rekening saja. Tapi sudahlah, dia sudah terlanjur masuk ke dalam ruangan ber-ac itu. Duduk di antara orang-orang rapi paling menyebalkan yang pernah dilihatnya. Minum ini, minum itu, lantas melantur tak kenal ujung pangkal. Dan cuma satu yang tak seperti itu.
“Jadi anda, orang yang dikirimkan You-As?” suara lembut itu kemudian mengenalkan diri sebagai Devia.
Ari tercekat beberapa saat. Pertama kali itu dia menghadapi perempuan sebagai sasarannya. Selebihnya dia pun tak tahu bagaimana harus bersikap pada sasaran yang sudah tahu keadaannya sebagai korban.
“Kalau anda tak bersedia duduk, bagaimana kita bisa bertransaksi?” masih lembut, masih mencekam pikiran Ari. “Baik. Mana bagian saya? Saya sedang buru-buru.”
Bagian? Uang? Ini lagi, Ari tak pernah soal transaksi dan pembagian uang apa pun.
“Tidak, saya cuma diminta mengantar sampai Pelabuhan Ratu,” tukas pemuda itu tanpa arah.
“Kenapa mereka selalu mempersulit keadaan?” kepalanya menggeleng beberapa kali. “Kecil-kecil tapi menjengkelkan. Ah, kalau saja anda pernah melakukan tugas yang lebih berat dari ini. Hal-hal kecil seperti ini pasti akan sangat menjengkelkan. Saya sudah menunggu lebih dari enam bulan untuk pembayaran yang seharusnya saya terima segera setelah tugas saya selesai. Pernah menghabisi orang-orang tak dikenal?”
Pertanyaan itu. Pertanyaan itulah yang menghentakkan Ari dari arah jalannya. Dia sedang dalam tugas, menghabisi orang yang harusnya mendapat bayaran sebagai hasil jerih payahnya. Orang yang seharusnya bisa menjadi teman senasib. Senasib, pikiran itu juga yang menjerumuskannya dalam kubangan yang lebih jauh. Aku pun bisa mengalami nasib serupa kalau sudah tak dibutuhkan lagi atau dianggap seperti itu, pikiran Ari mulai limbung.
Sampai di kamar hotel dekat Pelabuhan Ratu, Ari juga tak menemukan pengantar pembayarannya yang dijanjikan akan menemuinya di sana. Ari lebih keras lagi berpikir, jangan-jangan aku pun menjadi sasaran. Diperiksanya beberapa barang bawaan Devia. Tak ada yang berbahaya, tak ada benda tajam, tak ada peledak yang bisa membuatnya sekarat, tak ada mesin penghancur kaliber berat. Hanya sebuah magnum yang bisa diamankannya.
“Kenapa kau bongkar barang-barangku?!” masih dengan handuk di badan, keluar dari kamar mandi, kelembutan itu pun berubah berang. Ari sedikit terusik oleh tingkah berang-berang betina ini.
“Kita harus pergi.”
“Kemana lagi?!”
“Entahlah, aku merasa tidak nyaman di sini.”
“Kenapa? Ini kan yang kalian inginkan? Kita berlarat-larat dengan perjalanan celaka ini?!” G-string, bee-dee’s dan seragam hitam dari You-As sudah lengkap di tubuh padat-rampingnya.
“Rasanya....tak lama lagi aku pun bakal mengalami perjalanan sepertimu.”
“Baik. Lelaki penuh perasaan, jelaskan maksudmu,” resleting panjang seragam itu hampir mencapai leher jenjangnya.
“Aku diminta menghabisi seseorang,” suaranya lemah.
“Aku?” melompat gesit dan digerayanginya tas hitam di bawah meja sudut sana. Lalu segera lemas setelah sadar kalau perbuatan itu pun sia-sia belaka. “Baik. Lakukan sekarang. Cepat!!”
Ari bergeming. Suara di depannya terngiang antara kemarahan dan keputus-asaan. Tangan kanan lelaki legam ini menjulur lemah, matanya menyapu lantai di bawah. Tenggoroknya naik turun saat magnum itu lepas berpindah tangan dengan cepat.
“Kenapa?” pertanyaan anak-anak sekolahan yang paling dibencinya.
“Kita harus cepat pergi dari sini.”
Devia tak bersuara lagi. Semua tas hitamnya sudah tertutup rapi. Beberapa saat mengintip keluar lewat tirai kamar mereka. “Berapa hargaku?”
“Tiga ribu dollar.”
“Murah sekali! Hh! Mereka benar-benar anjing,” Devia mengikat rambut sebahunya dan mundur bebarapa langkah, menjauhi jendela kamar itu pelahan. “Berapa per diem4mu sekarang.”
“Sekitar 250. Tapi rekeningku sudah cukup buat beli tanah peternakan di pedalaman timur sana,” mencoba melucu.
“Berapa banyak rekeningmu yang bisa kau selamatkan dari mereka?” mengintip tirai itu lagi. “Kita jawab nanti saja.”
Devia menggelandang tangan jagal yang baru pertama kali gagal ini. Ari kaget bukan kepalang, tapi Devia sudah menghambur tungang langgang, mendobrak pintu, dan terus berlari. Beberapa saat kemudian terdengar hingar bingar salvo melubangi jendela dan kamar yang baru lima langkah mereka tinggalkan.
Dan keduanya terus berlari. Lewat gang-gang kelinci dan lubang-lubang tikus yang mereka kenali. Sampailah keduanya di kota pesisir pantai selatan tempat sandaran para pelancong ini. Surga dunia di negeri para dewa ini, satu-satunya pilihan yang bisa mereka sepakati. Ari tak mau pulang dan menghancurkan hidup ibunya, keluarga satu-satunya. Devia tak tahu lagi harus ke mana. Angin kematian mereka sama, tapi mereka punya selera yang jelas berbeda. Ari tak suka keriuhan. Devia sebaliknya, lebih suka sembunyi di tengah keramaian.
“Aku tak mau mati berkumpul kebo dan sapi di ladang peternakan dalam otak konyolmu itu.”
“Aku juga tak mau mati di antara orang-orang bodoh yang suka berpura-pura menggelandang itu.”
“Terserah, kalau aku mati lebih dulu. Kau toh bakal punya pilihan buat menarik bayaranmu.”
Ari masih akan membantah kemungkinan itu, tapi Devia sudah tak bisa diajak bicara lagi. Berang-berang betina ini sudah menghambur di tengah keramaian pelabuhan. Melompat ringan di antara para penumpang bercampur ayam, kambing, dan sapi kiriman. Ari mengikut saja, tak tahu kenapa.
“Mau berapa lama kau bertahan dengan pekerjaan ini?” bisikan itu menyemburkan aroma tajam yang tak disuka Ari.
“Sampai aku bisa berhenti,” masih dengan susu putih hangat yang bisa bikin perut Devia mual-mual.
Sore itu keduanya keluar dari motel pinggir jalan milik kenalan Ari. Duduk berhadapan di salah satu sudut klab malam ini. Dekat pintu masuk, seorang lelaki berbadan tegap meninggalkan tas hitam. Lelaki itu sendiri menuju toilet seperti ditunjukkan oleh portir. Ari mendenguskan ketakutannya. Apakah orang tegap itu juga anggota You-As? Kenapa dia pergi lagi? Haruskah orang lain yang akan membuka tas hitam itu dan melakukan eksekusi atas mereka? Haruskah dia memastikan isi tas hitam itu? Haruskah dia digantung oleh pertanyaan-pertanyaan itu?
“Dev...?”
“Ri!” perempuan cantik itu sudah menyelinap jauh di antara para pesakitan di lantai dansa. Menari-nari di sana, sambil menunjuk-nunjuk ke arah pintu belakang. Dua orang berseragam You-As menunggu di bibir pintu itu. Devia hilang lagi, Ari memburunya tak tentu arah. Dalam hitungan 25 detik kemudian, Ari merasakan tubuhnya melambung tinggi, melayang keras dan akhirnya terhempas tumpas.
***
Ari terus merayap pelahan seperti kadal. Pelahan tapi pasti dia pun hilang di antara mayat-mayat. Di antara semak dan sisa bangunan. Radius seratus meter atau lebih telah rata dengan tanah. Tak lama berselang terdengar lagi ledakan yang tak kalah kerasnya. Tapi sepertinya bukan dari dalam kota, mungkin jauh di luar kota. Ari tak mau peduli lagi. Ari benar-benar tak mau melihat ke belakang lagi. Terus merayap dan mengumpat.
“Devia...” terus digumamkannya nama itu. Demamnya tak kunjung turun. Saat dia mulai sadar, tiba-tiba saja sudah banyak orang di sekitarnya. Sebagian kasihan, sebagian bertanya-tanya.
“Ah mungkin istrinya hilang di sana.”
“Ya, benar. Siapa tahu.”
“Nama bapak siapa?” seorang pemuda berpakaian serba putih menanyainya dengan sopan. Ari sendiri mencoba hentikan gigil demamnya
“Abim. Abimanyu lengkapnya,” diliriknya tangan pemuda itu mencatat namanya di secarik kertas berbantal kayu lapis, seperti ingin menjadi malaikat penjaga makamnya. Ari tak mau kalah dengan aksi penyamaran pemuda itu. Semua data yang diberikannya hanya pemanis bibir belaka. Genap seperempat jam pemuda itu selesai dengan daftar pertanyaannya. Ari, sebagai pengusaha seperti yang barusan diakunya, mendapat perawatan lebih intensif dan khusus. No. Registrasi kartu kredit atas nama Abimanyu ternyata bisa menjadi jaminan yang berharga. Beberapa lama kemudian didapatinya balutan disekujur tubuh dan wajahnya.
Tiga hari kemudian, Ari keluar dari kamp penampungan korban setelah menyelesaikan urusan administrasi. Tapi dia sendiri pun sulit mengenali wajahnya. Dia merasa harus menemui kenalannya pemilik motel pinggir jalan itu.
Tinggal puing-puing motelnya. Tapi pemiliknya masih selamat dan mengadakan semacam selamatan ruwat bumi di bekas bangunan motelnya. Lelaki paruh baya bersila di sana dengan seluruha sanak keluarganya, tak kurang seorang pun.
“Aku Ari, Bli.”
“Ah, saya kira sudah hilang juga kamu,” mata pensiunan jagal ini pun bertanya-tanya.
“Kupakai nama lain. Wajah dan badanku habis diberangus. Gila benar mereka.”
“Kudengar, urusanamu bukan masalah kecil. Devia tahu urusan di kota ini, kemarin dia datang, tapi dia tak mau bilang.”
“Jadi dia sengaja membawaku kemari.”
“Bukan. Dia tahu lokasi ini bakal lebur. Karena itu dia diburu. Sintingnya dia justru sengaja datang kemari, mungkin mencari teman mati sebanyak-banyaknya dari pihak mereka. Sudah taruh kemenyannya dan pergi.”
“Tolong urus surat-suratku.”
“Di kamar belakang rumah Tanah Lot,” lelaki itu terus memanjatkan doa bersama bubungan kemenyannya. Semoga dewa-dewa mendengarkan doa orang-orang yang tulus kepadanya. Ari menghilang di kerumunan orang-orang.
Sampai di kamar itu, Ari segera mencari kotak besi pipih hitamnya. Menemukan surat-suratnya masih lengkap.
“Mungkin aku memang harus mati berkumpul kebo dan sapimu.” Bisikan itu masih secantik orangnya. Luwak5 keparat, Ari mengumpat dalam hatinya kaget tak keruan, bagaimana berang-berang ini bisa menyelamatkan diri dan kecantikannya. Keduanya pun pergi lebih ke timur. Dari sana mereka tak mau lagi mendengar berita tentang ledakan yang makin simpang siur dan tak jelas jluntrungannya itu.
Ari lebih suka beternak dan berkebun, Devia sibuk dibelakang layar monitornya.
2003
1 Ari tak pernah punya kata bunuh dalam kamusnya, tapi tiap korbannya selalu sadar apa yang dialaminya setelah badannya terpisah dari roh yang memberinya tenaga. Sedang yang namanya roh itu sendiri sudah pergi entah kemana. Mungkin pergi bersama angin. Entah.
2 pedang ukuran sedang; warisan Mbah Karso yang sempat selamat dari jaman PETA Jepang. Lebih ringan dari samurai klasik dan lebih mumpuni buat membikin goresan tajam dari pedang pendek.
3 cara ini pun diturunkan oleh Mbah Karso yang telah berpuluh tahun sebelum akhirnya mereka bertemu waktu Ari kanak-kanak. Mbah Karso banyak cerita soal perjalanannya setelah meninggalkan keluarga mereka. Mbah Karso bukan raja tega atau rampok. Tapi kalau sewaktu-waktu terpaksa melakukan itu karena merasa direndahkan harga dirinya oleh orang lain, maka dia bakal menghabisi orang itu dengan cara sederhana.
Pertama kali tentu sulit melakukannya. Tapi pengalaman selalu mengajarkan lebih banyak hal daripada pengetahuan. Pengalaman kedua, ketiga dan seterusnya akhirnya mulai menjadi tabiat biasa. Tabiat hidup di luar rumah. Kadang buat sekadar bertahan hidup pun kita harus menghentikan hidup orang lain, begitu kata Mbah Karso berkali-kali. Dan jangan pernah melihat mata mereka setiap kau lakukan itu, ujar Mbah Karso mewanti-wanti waktu Ari muda terpaksa menohok ulu hati teman minumnya, tembus punggung. Sejak itu Ari mulai terbiasa dengan kebiasaan Mbah Karso. Sayang bahwa kebiasaan ini tidak bertahan lama, karena Ari terlibat masalah yang lebih besar. Dia lari keluar pulau beberapa bulan. Balik ke rumah setelah dirasanya aman. Seterusnya hidup menggiringnya ke arah yang lebih pasti dan berbau uang, bisnis barunya.
Tak hanya cerita dan katana, Mbah Karso juga mewariskan lembu sekilan. Rapalan milik Gajah Mada dan Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya seperti tertulis dalam riwayat pejuang Mahesa Jenar ini mampu melindungi pemiliknya dari kecelakaan berjarak antara 25 cm dan 1 meter dari badan.
4 biaya transportasi dan akomodasi.
5 berang-berang (Jw.)
Debu. Dan puing-puing beterbangan memenuhi ruangan. Hampir seluruh sudut ruang di tepi pantai ini lebur jadi serpihan debu dan remah-remah sisa bangunan. Pantai ini jadi lebih luas dan ramai oleh potongan-potongan tubuh basah merah, ketimbang oleh hingar-bingar musik klab malam.
Ari terus merangkak, keluar. Mencari jalan paling mungkin di antara perih sekujur tubuhnya yang terbuka dan lepuh. Bertumpu pada lengan kanan, dilihatnya tubuh-tubuh lain di sekelilingnya pun cuma potongan tulang dan keratan daging hangus, dia mulai yakin kalau Devia telah habis riwayatnya. Sasaran yang seharusnya habis di tangannya itu rupanya sudah lebih dulu mati. Matanya terasa hangat dan basah, entah untuk siapa. Entah untuk apa, dia cuma ingat tak semua bisa ditanya untuk apa.
Lelaki legam ini mendengus, saat tangan kirinya menyikut tembok lapuk di luar bangunan rubuh itu. Nyeri yang menyebar dari sikunya hampir-hampir membuatnya berteriak sekeras geledek yang pernah didengarnya. Beruntung dia segera menahan kelojotan lidahnya begitu sadar beberapa orang mulai datang. Tak lama berselang orang-orang itu berbiak jadi puluhan sampai ratusan penduduk dan pelancong yang sibuk mencari sanak keluarganya. Ari selamat, mungkin juga bakal lebih selamat kalau segera dilarikan ke rumah sakit. Tapi Ari lebih memilih diam, menyelinap diam-diam.
Rumah sakit mungkin bisa menyelamatkannya dari luka-luka, tapi tidak dari kejaran orang-orang yang sedang memburunya. Dengan luka di mana-mana lelaki ramping kecil itu terus menuju kegelapan. Menembus malam, sampai ke sudut paling gelap di kolong kota pesisir selatan ini, tak ada lagi yang perlu ditakutkannya terhadap malam. Sebab Ari bahkan telah menembus batas perjanjiannya dengan You-As Inc. Intl.
Perjanjiannya adalah bahwa Ari harus menghabisi seorang pembelot bernama Devia. Entah, pembelotan macam apa yang telah dilakukan perempuan muda berdarah lokal dan Yunani itu. Buat Ari alasan bukanlah satu hal penting untuk pelaksanaan tugasnya, bisnisnya. Satu sasaran, satu penghabisan1 dan satu pembayaran, sudah cukup buat dijadikan satu alasan. Tugas adalah tugas, bisnis adalah bisnis.
Biasanya juga begitu. Mulai dari model penghabisan manual, penghabisan dengan mesiu, kecelakaan biasa, sampai kecelakaan tanpa jejak korban pun biasa dilakukannya. Begitu yakin dengan sasaran, maka sisanya tinggal menunggu saat yang tepat buat saat penghabisan. Itu pun tak perlu banyak makan waktu. Dan kalau harganya terlalu kecil, maka jebolan sekolah jalanan Jagir ini akan memakai cara lama yang sudah ketinggalan dan sederhana.
Dia jemput orang itu dari depan atau belakang. Renggut rambutnya, lalu gesekkan katana2 dari ujung ke ujung. Lalu pergi tanpa pernah menengok ke belakang lagi, hanya jeritan orang-orang di sekitar korban yang kadang terngiang. Begitulah semua sasaran Ari habis tanpa menyisakan perkara. Satu-satunya masalah adalah bahwa dia tak bisa cepat pulang. Dua tiga bulan ke depan dia harus pergi keliling negeri ini.
Satu kali sempat ibunya bertanya.
“Apa nggak bisa cari kerjaan lain?” tangan ibunya terus menggerus ramuan luka akibat terobek dalam sebuah bisnis besar untuk menghadapi seorang jawara tua dan memaksanya pulang sebentar.
“Buat apa?” meringis menahan rasa perih di iga kirinya.
“Apa nggak takut kuwalat?”
Sebenarnya jeri juga Ari pada pertanyaan itu. Tapi meninggalkan bisnis yang sudah dijalaninya sepuluh tahun lebih ini bukan pekerjaan mudah. Dan lagi lelaki berambut daun cemara ini, yang kalau dipotong pendek bakal kelihatan seperti mau menantang langit, sudah punya satu cara buat menghindari kata kuwalat itu. Satu hal, jangan pernah melihat mata korban3. Apa pun yang terjadi padanya. Satu lagi kunci di luar tugas, sehari-hari jangan pernah mencari atau mendekati masalah.
Pernah satu kali kampungnya diributkan oleh tawuran persahabatan, perebutan daerah kekuasaan, dengan pemuda kampung sebelah. Seorang pemuda kampungnya datang berlari-lari dari arah lokasi kejadian menuju rumahnya. Ari segera berdiri dari tempatnya berjongkok di depan pintu.
“Jangan. Cari tempat lain saja,” tangannya tetap ringan tanpa kesiagaan bertarung, tapi matanya sarat tekanan.
“Tolonglah, Ri,” pemuda itu mencekam lambungnya yang menangis merah.
“Kamu tahu bagaimana aku. Aku tahu siapa kamu,” sambil berbisik Ari melangkah satu-satu. “Kamu sudah maju, kenapa sekarang mundur?”
Pemuda itu tak mau lebih lama menunggu, segera terbungkuk-bungkuk lari lebih cepat dari saat dia datang. Dan hilang di gelap malam. Ari jongkok lagi, menyulut rokoknya. Beberapa saat kemudian seorang pemuda lain datang, pemuda yang tak dikenalnya. Pedang panjang karatan berlumuran basah di tangannya. Ari diam di tempat, hanya pandangannya nanap ke titik hitam mata pemuda itu. Diisapnya rokok ditangan dalam-dalam, matanya menatap lebih dalam dari luka yang bisa dibuat dengan pedang gemetar itu.
“Kalau pedangmu deg-degan lihat mataku, jangan datang ke rumah ini.” embusan tipis keluar dari lubang hitam di wajahnya.
Penenteng pedang itu pun mundur beberapa tindak dan menghilang lagi. Mungkin mulai sadar, siapa lelaki di depannya barusan. Lelaki yang tak boleh disebutkan namanya dengan tidak hormat dalam radius 500 rumah dari kampungnya. Nama yang juga dikenal baik oleh para cukong pendendam. Namanya tak jarang juga dijadikan jaminan buat keluar tahanan, asal dia tak tahu. Sebab begitu dia tahu, maka tak akan segan-segan menghabisi tukang catut nama itu. Apa pun pasalnya. Jadi hidup bersih sudah menjadi kesehariannya.
Bukan apa-apa. Dia berusaha selalu tetap bersih, bahkan alkohol pun tak lagi disentuhnya. Cukup susu putih setiap pagi dan sorenya. Bersih di rumah, bersih di luar rumah, bersih pula pikirannya dari mata yang ketakutan saat para korban sekarat menjemput maut. Begitulah biasanya dan seharusnya.
Tapi kali ini Ari dipaksa melakukan kerja tambahan. Ada pembayaran lebih memang, meski sebenarnya dia tak terlalu suka melakukannya. Ari diminta lebih dulu menemui seseorang di salah satu kafe di ibukota, dia biasanya lebih suka melakukan transaksi lewat layar monitor dan nomor rekening saja. Tapi sudahlah, dia sudah terlanjur masuk ke dalam ruangan ber-ac itu. Duduk di antara orang-orang rapi paling menyebalkan yang pernah dilihatnya. Minum ini, minum itu, lantas melantur tak kenal ujung pangkal. Dan cuma satu yang tak seperti itu.
“Jadi anda, orang yang dikirimkan You-As?” suara lembut itu kemudian mengenalkan diri sebagai Devia.
Ari tercekat beberapa saat. Pertama kali itu dia menghadapi perempuan sebagai sasarannya. Selebihnya dia pun tak tahu bagaimana harus bersikap pada sasaran yang sudah tahu keadaannya sebagai korban.
“Kalau anda tak bersedia duduk, bagaimana kita bisa bertransaksi?” masih lembut, masih mencekam pikiran Ari. “Baik. Mana bagian saya? Saya sedang buru-buru.”
Bagian? Uang? Ini lagi, Ari tak pernah soal transaksi dan pembagian uang apa pun.
“Tidak, saya cuma diminta mengantar sampai Pelabuhan Ratu,” tukas pemuda itu tanpa arah.
“Kenapa mereka selalu mempersulit keadaan?” kepalanya menggeleng beberapa kali. “Kecil-kecil tapi menjengkelkan. Ah, kalau saja anda pernah melakukan tugas yang lebih berat dari ini. Hal-hal kecil seperti ini pasti akan sangat menjengkelkan. Saya sudah menunggu lebih dari enam bulan untuk pembayaran yang seharusnya saya terima segera setelah tugas saya selesai. Pernah menghabisi orang-orang tak dikenal?”
Pertanyaan itu. Pertanyaan itulah yang menghentakkan Ari dari arah jalannya. Dia sedang dalam tugas, menghabisi orang yang harusnya mendapat bayaran sebagai hasil jerih payahnya. Orang yang seharusnya bisa menjadi teman senasib. Senasib, pikiran itu juga yang menjerumuskannya dalam kubangan yang lebih jauh. Aku pun bisa mengalami nasib serupa kalau sudah tak dibutuhkan lagi atau dianggap seperti itu, pikiran Ari mulai limbung.
Sampai di kamar hotel dekat Pelabuhan Ratu, Ari juga tak menemukan pengantar pembayarannya yang dijanjikan akan menemuinya di sana. Ari lebih keras lagi berpikir, jangan-jangan aku pun menjadi sasaran. Diperiksanya beberapa barang bawaan Devia. Tak ada yang berbahaya, tak ada benda tajam, tak ada peledak yang bisa membuatnya sekarat, tak ada mesin penghancur kaliber berat. Hanya sebuah magnum yang bisa diamankannya.
“Kenapa kau bongkar barang-barangku?!” masih dengan handuk di badan, keluar dari kamar mandi, kelembutan itu pun berubah berang. Ari sedikit terusik oleh tingkah berang-berang betina ini.
“Kita harus pergi.”
“Kemana lagi?!”
“Entahlah, aku merasa tidak nyaman di sini.”
“Kenapa? Ini kan yang kalian inginkan? Kita berlarat-larat dengan perjalanan celaka ini?!” G-string, bee-dee’s dan seragam hitam dari You-As sudah lengkap di tubuh padat-rampingnya.
“Rasanya....tak lama lagi aku pun bakal mengalami perjalanan sepertimu.”
“Baik. Lelaki penuh perasaan, jelaskan maksudmu,” resleting panjang seragam itu hampir mencapai leher jenjangnya.
“Aku diminta menghabisi seseorang,” suaranya lemah.
“Aku?” melompat gesit dan digerayanginya tas hitam di bawah meja sudut sana. Lalu segera lemas setelah sadar kalau perbuatan itu pun sia-sia belaka. “Baik. Lakukan sekarang. Cepat!!”
Ari bergeming. Suara di depannya terngiang antara kemarahan dan keputus-asaan. Tangan kanan lelaki legam ini menjulur lemah, matanya menyapu lantai di bawah. Tenggoroknya naik turun saat magnum itu lepas berpindah tangan dengan cepat.
“Kenapa?” pertanyaan anak-anak sekolahan yang paling dibencinya.
“Kita harus cepat pergi dari sini.”
Devia tak bersuara lagi. Semua tas hitamnya sudah tertutup rapi. Beberapa saat mengintip keluar lewat tirai kamar mereka. “Berapa hargaku?”
“Tiga ribu dollar.”
“Murah sekali! Hh! Mereka benar-benar anjing,” Devia mengikat rambut sebahunya dan mundur bebarapa langkah, menjauhi jendela kamar itu pelahan. “Berapa per diem4mu sekarang.”
“Sekitar 250. Tapi rekeningku sudah cukup buat beli tanah peternakan di pedalaman timur sana,” mencoba melucu.
“Berapa banyak rekeningmu yang bisa kau selamatkan dari mereka?” mengintip tirai itu lagi. “Kita jawab nanti saja.”
Devia menggelandang tangan jagal yang baru pertama kali gagal ini. Ari kaget bukan kepalang, tapi Devia sudah menghambur tungang langgang, mendobrak pintu, dan terus berlari. Beberapa saat kemudian terdengar hingar bingar salvo melubangi jendela dan kamar yang baru lima langkah mereka tinggalkan.
Dan keduanya terus berlari. Lewat gang-gang kelinci dan lubang-lubang tikus yang mereka kenali. Sampailah keduanya di kota pesisir pantai selatan tempat sandaran para pelancong ini. Surga dunia di negeri para dewa ini, satu-satunya pilihan yang bisa mereka sepakati. Ari tak mau pulang dan menghancurkan hidup ibunya, keluarga satu-satunya. Devia tak tahu lagi harus ke mana. Angin kematian mereka sama, tapi mereka punya selera yang jelas berbeda. Ari tak suka keriuhan. Devia sebaliknya, lebih suka sembunyi di tengah keramaian.
“Aku tak mau mati berkumpul kebo dan sapi di ladang peternakan dalam otak konyolmu itu.”
“Aku juga tak mau mati di antara orang-orang bodoh yang suka berpura-pura menggelandang itu.”
“Terserah, kalau aku mati lebih dulu. Kau toh bakal punya pilihan buat menarik bayaranmu.”
Ari masih akan membantah kemungkinan itu, tapi Devia sudah tak bisa diajak bicara lagi. Berang-berang betina ini sudah menghambur di tengah keramaian pelabuhan. Melompat ringan di antara para penumpang bercampur ayam, kambing, dan sapi kiriman. Ari mengikut saja, tak tahu kenapa.
“Mau berapa lama kau bertahan dengan pekerjaan ini?” bisikan itu menyemburkan aroma tajam yang tak disuka Ari.
“Sampai aku bisa berhenti,” masih dengan susu putih hangat yang bisa bikin perut Devia mual-mual.
Sore itu keduanya keluar dari motel pinggir jalan milik kenalan Ari. Duduk berhadapan di salah satu sudut klab malam ini. Dekat pintu masuk, seorang lelaki berbadan tegap meninggalkan tas hitam. Lelaki itu sendiri menuju toilet seperti ditunjukkan oleh portir. Ari mendenguskan ketakutannya. Apakah orang tegap itu juga anggota You-As? Kenapa dia pergi lagi? Haruskah orang lain yang akan membuka tas hitam itu dan melakukan eksekusi atas mereka? Haruskah dia memastikan isi tas hitam itu? Haruskah dia digantung oleh pertanyaan-pertanyaan itu?
“Dev...?”
“Ri!” perempuan cantik itu sudah menyelinap jauh di antara para pesakitan di lantai dansa. Menari-nari di sana, sambil menunjuk-nunjuk ke arah pintu belakang. Dua orang berseragam You-As menunggu di bibir pintu itu. Devia hilang lagi, Ari memburunya tak tentu arah. Dalam hitungan 25 detik kemudian, Ari merasakan tubuhnya melambung tinggi, melayang keras dan akhirnya terhempas tumpas.
***
Ari terus merayap pelahan seperti kadal. Pelahan tapi pasti dia pun hilang di antara mayat-mayat. Di antara semak dan sisa bangunan. Radius seratus meter atau lebih telah rata dengan tanah. Tak lama berselang terdengar lagi ledakan yang tak kalah kerasnya. Tapi sepertinya bukan dari dalam kota, mungkin jauh di luar kota. Ari tak mau peduli lagi. Ari benar-benar tak mau melihat ke belakang lagi. Terus merayap dan mengumpat.
“Devia...” terus digumamkannya nama itu. Demamnya tak kunjung turun. Saat dia mulai sadar, tiba-tiba saja sudah banyak orang di sekitarnya. Sebagian kasihan, sebagian bertanya-tanya.
“Ah mungkin istrinya hilang di sana.”
“Ya, benar. Siapa tahu.”
“Nama bapak siapa?” seorang pemuda berpakaian serba putih menanyainya dengan sopan. Ari sendiri mencoba hentikan gigil demamnya
“Abim. Abimanyu lengkapnya,” diliriknya tangan pemuda itu mencatat namanya di secarik kertas berbantal kayu lapis, seperti ingin menjadi malaikat penjaga makamnya. Ari tak mau kalah dengan aksi penyamaran pemuda itu. Semua data yang diberikannya hanya pemanis bibir belaka. Genap seperempat jam pemuda itu selesai dengan daftar pertanyaannya. Ari, sebagai pengusaha seperti yang barusan diakunya, mendapat perawatan lebih intensif dan khusus. No. Registrasi kartu kredit atas nama Abimanyu ternyata bisa menjadi jaminan yang berharga. Beberapa lama kemudian didapatinya balutan disekujur tubuh dan wajahnya.
Tiga hari kemudian, Ari keluar dari kamp penampungan korban setelah menyelesaikan urusan administrasi. Tapi dia sendiri pun sulit mengenali wajahnya. Dia merasa harus menemui kenalannya pemilik motel pinggir jalan itu.
Tinggal puing-puing motelnya. Tapi pemiliknya masih selamat dan mengadakan semacam selamatan ruwat bumi di bekas bangunan motelnya. Lelaki paruh baya bersila di sana dengan seluruha sanak keluarganya, tak kurang seorang pun.
“Aku Ari, Bli.”
“Ah, saya kira sudah hilang juga kamu,” mata pensiunan jagal ini pun bertanya-tanya.
“Kupakai nama lain. Wajah dan badanku habis diberangus. Gila benar mereka.”
“Kudengar, urusanamu bukan masalah kecil. Devia tahu urusan di kota ini, kemarin dia datang, tapi dia tak mau bilang.”
“Jadi dia sengaja membawaku kemari.”
“Bukan. Dia tahu lokasi ini bakal lebur. Karena itu dia diburu. Sintingnya dia justru sengaja datang kemari, mungkin mencari teman mati sebanyak-banyaknya dari pihak mereka. Sudah taruh kemenyannya dan pergi.”
“Tolong urus surat-suratku.”
“Di kamar belakang rumah Tanah Lot,” lelaki itu terus memanjatkan doa bersama bubungan kemenyannya. Semoga dewa-dewa mendengarkan doa orang-orang yang tulus kepadanya. Ari menghilang di kerumunan orang-orang.
Sampai di kamar itu, Ari segera mencari kotak besi pipih hitamnya. Menemukan surat-suratnya masih lengkap.
“Mungkin aku memang harus mati berkumpul kebo dan sapimu.” Bisikan itu masih secantik orangnya. Luwak5 keparat, Ari mengumpat dalam hatinya kaget tak keruan, bagaimana berang-berang ini bisa menyelamatkan diri dan kecantikannya. Keduanya pun pergi lebih ke timur. Dari sana mereka tak mau lagi mendengar berita tentang ledakan yang makin simpang siur dan tak jelas jluntrungannya itu.
Ari lebih suka beternak dan berkebun, Devia sibuk dibelakang layar monitornya.
2003
1 Ari tak pernah punya kata bunuh dalam kamusnya, tapi tiap korbannya selalu sadar apa yang dialaminya setelah badannya terpisah dari roh yang memberinya tenaga. Sedang yang namanya roh itu sendiri sudah pergi entah kemana. Mungkin pergi bersama angin. Entah.
2 pedang ukuran sedang; warisan Mbah Karso yang sempat selamat dari jaman PETA Jepang. Lebih ringan dari samurai klasik dan lebih mumpuni buat membikin goresan tajam dari pedang pendek.
3 cara ini pun diturunkan oleh Mbah Karso yang telah berpuluh tahun sebelum akhirnya mereka bertemu waktu Ari kanak-kanak. Mbah Karso banyak cerita soal perjalanannya setelah meninggalkan keluarga mereka. Mbah Karso bukan raja tega atau rampok. Tapi kalau sewaktu-waktu terpaksa melakukan itu karena merasa direndahkan harga dirinya oleh orang lain, maka dia bakal menghabisi orang itu dengan cara sederhana.
Pertama kali tentu sulit melakukannya. Tapi pengalaman selalu mengajarkan lebih banyak hal daripada pengetahuan. Pengalaman kedua, ketiga dan seterusnya akhirnya mulai menjadi tabiat biasa. Tabiat hidup di luar rumah. Kadang buat sekadar bertahan hidup pun kita harus menghentikan hidup orang lain, begitu kata Mbah Karso berkali-kali. Dan jangan pernah melihat mata mereka setiap kau lakukan itu, ujar Mbah Karso mewanti-wanti waktu Ari muda terpaksa menohok ulu hati teman minumnya, tembus punggung. Sejak itu Ari mulai terbiasa dengan kebiasaan Mbah Karso. Sayang bahwa kebiasaan ini tidak bertahan lama, karena Ari terlibat masalah yang lebih besar. Dia lari keluar pulau beberapa bulan. Balik ke rumah setelah dirasanya aman. Seterusnya hidup menggiringnya ke arah yang lebih pasti dan berbau uang, bisnis barunya.
Tak hanya cerita dan katana, Mbah Karso juga mewariskan lembu sekilan. Rapalan milik Gajah Mada dan Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya seperti tertulis dalam riwayat pejuang Mahesa Jenar ini mampu melindungi pemiliknya dari kecelakaan berjarak antara 25 cm dan 1 meter dari badan.
4 biaya transportasi dan akomodasi.
5 berang-berang (Jw.)
Paranoia
Orang kadang menjamu untuk dirinya sendiri……
Tapi siapa mau peduli, kecuali Joko. Dan dokter muda itu dengan nalarnya sendiri pasti bisa menerima keputusan Abim kali ini. Beberapa waktu terakhir, Joko sudah menyarankan supaya Abim lekas cari kerja. Apa saja, asal cukup buat hidup.
Demi mengikuti saran teman kostnya itu Abim kini rela duduk tepekur berlama-lama di teras depan pondokannya, menunggu datang Pak Tua si tukang pijat keliling yang bakal mengajarinya banyak hal soal pijat-memijat. Abim sudah memutuskan buat mencari hidup dari kelihaian tangannya memijat. Bukan dari rumah ke rumah, tentu, melainkan dari hotel ke hotel. Begitulah sore ini, seperti sore-sore lain dalam dua minggu ini Abim tekun belajar memijat demi menyambung hidup dan sekolahnya di kota.
***
Tapi sore ini gerimis datang terlalu rapat. Padahal, kalau sore datang dan tak sedang hujan, biasanya bakal lewat bayangan panjang Pak Tua dengan langkah terseret dari ujung barat jalan depan rumah kost Abim, dengan bumbu suara seraknya.
“Pijat refleksi, hernia, sakit kepala, darah tinggi….” Dengan cara tersendiri orang tua itu olengkan kepala sedikit ke kiri. Agak diputarnya lagi ke kanan dan, “pijat refleksi….”
“Pijat, Pak.”
“….hernia, sakit kepala, darah tinggi…..”
“Sakit kepala, Pak.” Kali pertama menyebut kata itu Abim merasa agak ragu. Tapi, Pak Tua itu tetap mengikuti langkah Abim. Begitulah, tiap-tiap sorenya. Abim sendiri seperti sudah tak mau mengubah cara-cara Pak Tua ini, dari hari ke hari. Menerima begitu saja tiap bagian dari akad sewa jasa ini layaknya sebuah kebiasaan baru buatnya.
Lalu mereka mulai melakukannya semuanya, satu-satu. Tutup pintu, buka baju, pijat ini, pijat itu.
“Kalau ini, titik pusat pijat buat migrain Mas.” Ada saja selingan macam itu dari mulut keriput Pak Tua. “Tapi andak boleh dikerjakan orangnya sendiri. Bisa mindah letak titiknya nanti. Jadi mesti dibantu orang lain.”
“Kalau buat jantung, paru-paru, hepar, ginjel gitu, ada juga di tangan, Pak?”
“Ada Mas, ada. Tapi, ya….nanti dulu, Mas. Satu-satu….” Entah sabar atau kikir, Pak Tua selalu terlalu sedikit cerita tiap harinya. Itu pun tidak semua cerita, mungkin belum. Seperti sore itu.
Abim yakin, Pak Tua mestinya seorang sin-she piawai. Tapi kenapa hidupnya tetap di jalanan, sergah pikiran Abim yang lain, pakaiannya saja seperti tak pernah ada yang kelihatan masih layak pakai. Tapi, lelaki tua agak botak itu seperti jarang mau peduli pada soal-soal semacam itu. Juga waktu pemuda tanggung ini mengaku mau jadi ahli pijat ulung, Pak Tua diam saja hanya tangan keriputnya yang terus bekerja. Semacam dukungan atau sekadar komentar pun tak keluar dari bibirnya yang membentuk garis lengkung berkerut itu. Terpaksa, waktu dan simpanan terakhir mahasiswa yang sudah tak mendapat pesangon dari orang tuanya itu pun musti hangus satu-satu.
“Saya sendiri kalau ndak yakin masih suka buka-buka buku ini kok Mas,” ujarnya kemarin sore. “Haa, ini dia….Ini titik-titik kunci pijat buat bikin betul letaknya ginjel sama mulihkan tali pengiketnya. Haa….ketahuan sekarang….”
“Ya, Pak.” Abim menelan ludah saja, mendengar suara Pak Tua sibuk sendiri dengan buku suci pijat-memijatnya. Semangat sudah nyaris habis.
“Yaa, kadang-kadang ada yang sakitnya macam-macam Mas.”
“Ya.”
“Ada juga yang maunya macam-macam.” Celoteh Pak Tua kali ini membuat Abim tertegun, seperti bocah yang tertangkap basah mencuri harta warisan milik tetangganya. “Yang kepingin gemuklah, kuruslah. Ada juga yang pingin cepat kaya, cepat dapat jodoh. Mau dapat jodoh kok omong sama tukang pijet. Sinting, dikiranya kita ini praktek dukun, apa?”
“Sebentar Pak.” Abim mulai tak tahan. “Saya bikin teh dulu.”
“Yaa. Pakai ini saja, Mas. Teh item baik buat tekanan darah yang baru naik.” ujar Pak Tua seperti mau mengingatkan Abim soal pelajaran saji teh yang diberikan sebelumnya.
“Ya, Pak.”
“Orang kadang menjamu untuk dirinya sendiri.....”
“Ya.” Bayangan kurusnya sudah hilang ditelan lorong ke arah dapur. Bersiap mendengar bisik-bisik dari beberapa teman kostnya, tetang Suhu barunya itu. Mereka juga suka menirukan cara menyeret jalannya. Atau, tangannya yang selalu gerak-gerik sendiri.
***
Tapi siapa mau peduli. Abim pun tidak. Dia mendengar, sekadar mendengar. Mereka yang suka kasak-kusuk biasanya tak cukup kenal keadaan, pikir Abim sambil mengaduk gelas tehnya. Selama ini Joko saja yang dipercayainya. Tapi keadaan jadi makin sulit saja akhir-akhir ini. Joko makin sibuk bepergian, larut dalam kesibukan biasa setelah wisuda, mencari kerja.
Petang di teras ini, matahari sudah lama lindap. Dan bau sedap Pak Tua belum juga tercium oleh hidung Abim. Mungkin gerimis kecil barusan membuat Pak Tua malas keluar. Jaga kesehatan, seperti yang biasa dia katakan pada murid barunya ini. Dan Abim masih setia menunggu, duduk di bangku panjang dari kayu meranti bercat hitam di teras depan kostnya itu. Selain menunggu Pak Tua, dia juga mau ketemu Joko. Sudah lama dia mau bilang pada Joko, soal rencananya jadi ahli pijat refleksi itu, tapi akhir-akhir ini dokter ikal berkulit legam itu seperti hilang ditelan arus kehidupan kota.
“Nunggu wangsit dari eyang guru, Bim?” Yudi, mahasiswa ekonomi itu memang salah satu teman kostnya yang paling getol menggoda tabiat pijat-memijat Abim.
“Nggak usah ikut-ikutan sinis, Mas Yudi.”
“Enggaaaak. Aku malah ikut senang sama rencanamu itu.” Pemuda berambut tipis itu mengambil tempat dekat Abim. “Aku sendiri, belum tentu bisa begitu.”
***
Di balik senyum kecut Yudi terbuka tiap lembar jatuh bangun yang dirasakan Abim. Akhir Agustus, karena kemarahan yang menggila, Abim menabrak mati seorang ibu muda yang sedang senang-senangnya menjemput kesembuhan suaminya di rumah sakit. Berurusan dengan polisi dan menguras simpanan Bapak yang sudah setahun tak disentuhnya. Waktu itu, Bapak sampai harus merelakan mobil tuanya. Sejak itu kemana pun orang separuh umur itu musti naik motor yang baru ditebus dari polisi.
Akhir November, mungkin karena terlalu capek, Bapak kambuh penyakit lambung dan darah tingginya. Sedikit demam, Bapak berjalan ke kamar mandi. Terpeleset di dekat sumur Bapak jatuh terduduk. Demam meninggi, rawat inap dua hari dan tak tertolong lagi. Bapak meninggal sebelum Abim sempat membesuk, bahkan selama rawat inap orang tua itu sudah menolak tawaran Ibu untuk menjemput Abim. Kejadian ini membuat Abim merasa hampir gila, rasa bersalah karena menjadi sebab dari kematian Bapak dan Ibu itu tak tertebus dengan tangisan yang melolong dalam batinnya.
Akhir tahun lalu, tampaknya bakal menjadi akhir dari bagian hidup normalnya yang paling mungkin. Calon isteri yang pernah melahirkan dua janin mati untuknya itu tiba-tiba pergi begitu saja. Maka bagian akhir ini benar-benar membuatnya gila. Enam bulan berikutnya, Abim menjalani perawatan intensif dari seorang dokter, seorang guru besar ahli jiwa. Dari dokter jiwa itu Abim mendapat beberapa butir pereda rasa sakit dosis tinggi. Selebihnya cuma daftar pertanyaan dan jawaban-jawaban bodoh, pikir Abim sebelum pada akhirnya dia memutuskan buat meninggalkan ruang konsultasi ahli jiwa itu.
***
“Mas Joko kemana, Mas?”
“Lho, ada kok. Tidur dari siang. Bangunkan saja, sudah maghrib juga.”
“Iyalah,” turunkan kaki dan berdiri. “Lha, itu orangnya. Mas! Mas Joko! Sebentar Mas!”
“Sebentar Bim,” lelaki rambut ikal itu menghentikan motornya di luar pagar. “Aku musti ke kedokteran. Katanya mau ada transaksi. Maklum pemuda panggilan....sebentar ya, semuanya....”
“Yaa, ya.” Abim dan Yudi hampir bersamaan menjawab seruan Joko yang sudah jauh di ujung gang. Abim duduk lagi, lebih lemas lagi.
“Untung ada orang macam Mas Joko, Bim,” celetuk Yudi.
“Ah, Mas Yudi juga sering bantu saya, kan?” suara itu sedatar matanya menatap gang depan kostnya. “Seperti sekarang ini.”
“Eh, apa kabarnya Pak Gurumu? Dari suara dalam kamarmu, kedengarannya kalian mulai akrab.”
“Yaa. Tapi orangnya susah, Mas,” matanya ke kanan-kiri sepanjang gang di batas pagar. “Setiap tanya nggak pernah di jawab langsung.”
“Itu yang namanya akrab, Bim. Jangan buruk sangka dulu.”
“Wah. Saking akrabnya sampai-sampai pulang pun nggak pakai pamitan,” alis Abim mengkerut tajam. “Padahal baru aku tinggal sebentar, bikin teh. Buat dia juga. Kemarin itu, malahan teh yang aku seduh karena menuruti kemuannya ditinggal begitu saja. Sebungkus-bungkusnya. Bukunya juga ketinggalan, tahu rasa dia, kehilangan kitab sucinya. Itu Mas, buku pijatnya itu.”
“Ya, kalau bisa dikembalikan Bim,” mengisap dan mengembus asap rokoknya lagi. “Mungkin kemarin dia agak buru-buru. Siapa tahu ada janji sama pelanggan lain yang lebih galak, iya kan?”
“Yaa, siapa tahu Mas. Orang sekarang saja dia nggak lewat.”
“Sudahlah, sabar dulu.” Yudi berdiri dan meregangkan pinggang ke kanan-kiri. “Nonton tivi saja, yuk.”
Yudi tak menunggu jawaban lagi. Ikut bergerombol di antara anak-anak kost lain di depan televisi ruang tengah. Sementara Abim belum bisa melepaskan matanya dari gang depan pagar ini. Pikirannya berloncatan antara Pak Tua, Joko dan simpanannya yang tinggal cukup buat sekali pijat dan sekali makan malam ini. Kalau Pak Tua tak jadi datang berarti masih ada sisa buat besok. Sehabis itu Abim masih belum tahu, mungkin dia musti benar-benar bertaruh dengan tangan dan jari-jarinya, dengan suara seraknya. Mengorek kuping orang-orang, dari kampung ke kampung.
“Bim!” Joko sudah di depan pagar lagi. “Tolong kamu ikut aku sekarang. Aku ada perlu.”
“Ya, Mas.” Abim berlari kecil. “Kenapa, Mas, kok gugup sekali?”
Joko tak memberi waktu buat duduk dengan enak. Motornya melesat kesetanan. Menari-nari di antara puluhan kendaraan lain dan merkuri pembatas jalan. Joko hampir menabrak portal gerbang gedung Fakultas Kedokteran dan membuka dengan kasar pintu ruang bedah.
“Ini, Dok.” Nafasnya sengal. “Teman saya ini kenal baik dengan subyek.”
Orang-orang berjas putih, para dokter, menatap tajam ke arah Joko dari kursi masing-masing di seputar sebuah meja.
“Kamu kenal Pak Tua, kan Bim.” Joko menuntun langkah Abim sambil berbisik lirih, nyaris tak terdengar. “Kalau enggak, dia bisa jadi mister-X dan dijadikan praktek anatomi.”
“Ya, Mas.”
“Kamu kenal keluarganya, kan? Tahu rumahnya?”
Beberapa waktu Abim tercenung. Matanya berloncatan lagi seperti garis-garis sinar pada layar mesin penghitung denyut nadi. Matanya berdenyutan antara Pak Tua yang tak lagi bersuara, tampak payah, dan buku sucinya. Antara Joko dan nafas sengalnya. Antara para dokter dan kekerabatannya yang kebal hukum. Satu untuk semua, sum-per-ply.
Antara perutnya dan lampu pijar di atas kepala Pak Tua yang mulai menggandakan diri. Berpijar terus dan berputar-putar persis mitraliur bintang musim hujan.
“Pak Tua ditemukan telentang di jalan, tadi waktu hujan. Keteranganmu sangat dibutuhkan sekarang.” Suara Joko berdenyaran antara gelap dan terang. Antara keheningan yang samun dan denyut nadi yang makin lemah.
“Maaf, Mas. Aku nggak bisa bantu. Aku nggak tahu...” Gelap. Matanya terkatup rapat.
“Saudara Joko, harap ikut saya sebentar.”
“Tidak, Dok. Terima-kasih. Kami pulang. Permisi.” Joko mengangkat tubuh kecil Abim yang melemah terkuras perutnya sendiri. Mata Abim makin pekat dan hitam, justru saat ingat jari-jari kanan Pak Tua yang biasanya lumpuh itu sedikit tergerak tadi. Justru saat mesin penghitung nadi itu berdenging panjang sekarang.
Untuk sinshe jalanan
sepanjang Karangmenjangan akhir ‘94
Surabaya, 032000
Orang kadang menjamu untuk dirinya sendiri……
Tapi siapa mau peduli, kecuali Joko. Dan dokter muda itu dengan nalarnya sendiri pasti bisa menerima keputusan Abim kali ini. Beberapa waktu terakhir, Joko sudah menyarankan supaya Abim lekas cari kerja. Apa saja, asal cukup buat hidup.
Demi mengikuti saran teman kostnya itu Abim kini rela duduk tepekur berlama-lama di teras depan pondokannya, menunggu datang Pak Tua si tukang pijat keliling yang bakal mengajarinya banyak hal soal pijat-memijat. Abim sudah memutuskan buat mencari hidup dari kelihaian tangannya memijat. Bukan dari rumah ke rumah, tentu, melainkan dari hotel ke hotel. Begitulah sore ini, seperti sore-sore lain dalam dua minggu ini Abim tekun belajar memijat demi menyambung hidup dan sekolahnya di kota.
***
Tapi sore ini gerimis datang terlalu rapat. Padahal, kalau sore datang dan tak sedang hujan, biasanya bakal lewat bayangan panjang Pak Tua dengan langkah terseret dari ujung barat jalan depan rumah kost Abim, dengan bumbu suara seraknya.
“Pijat refleksi, hernia, sakit kepala, darah tinggi….” Dengan cara tersendiri orang tua itu olengkan kepala sedikit ke kiri. Agak diputarnya lagi ke kanan dan, “pijat refleksi….”
“Pijat, Pak.”
“….hernia, sakit kepala, darah tinggi…..”
“Sakit kepala, Pak.” Kali pertama menyebut kata itu Abim merasa agak ragu. Tapi, Pak Tua itu tetap mengikuti langkah Abim. Begitulah, tiap-tiap sorenya. Abim sendiri seperti sudah tak mau mengubah cara-cara Pak Tua ini, dari hari ke hari. Menerima begitu saja tiap bagian dari akad sewa jasa ini layaknya sebuah kebiasaan baru buatnya.
Lalu mereka mulai melakukannya semuanya, satu-satu. Tutup pintu, buka baju, pijat ini, pijat itu.
“Kalau ini, titik pusat pijat buat migrain Mas.” Ada saja selingan macam itu dari mulut keriput Pak Tua. “Tapi andak boleh dikerjakan orangnya sendiri. Bisa mindah letak titiknya nanti. Jadi mesti dibantu orang lain.”
“Kalau buat jantung, paru-paru, hepar, ginjel gitu, ada juga di tangan, Pak?”
“Ada Mas, ada. Tapi, ya….nanti dulu, Mas. Satu-satu….” Entah sabar atau kikir, Pak Tua selalu terlalu sedikit cerita tiap harinya. Itu pun tidak semua cerita, mungkin belum. Seperti sore itu.
Abim yakin, Pak Tua mestinya seorang sin-she piawai. Tapi kenapa hidupnya tetap di jalanan, sergah pikiran Abim yang lain, pakaiannya saja seperti tak pernah ada yang kelihatan masih layak pakai. Tapi, lelaki tua agak botak itu seperti jarang mau peduli pada soal-soal semacam itu. Juga waktu pemuda tanggung ini mengaku mau jadi ahli pijat ulung, Pak Tua diam saja hanya tangan keriputnya yang terus bekerja. Semacam dukungan atau sekadar komentar pun tak keluar dari bibirnya yang membentuk garis lengkung berkerut itu. Terpaksa, waktu dan simpanan terakhir mahasiswa yang sudah tak mendapat pesangon dari orang tuanya itu pun musti hangus satu-satu.
“Saya sendiri kalau ndak yakin masih suka buka-buka buku ini kok Mas,” ujarnya kemarin sore. “Haa, ini dia….Ini titik-titik kunci pijat buat bikin betul letaknya ginjel sama mulihkan tali pengiketnya. Haa….ketahuan sekarang….”
“Ya, Pak.” Abim menelan ludah saja, mendengar suara Pak Tua sibuk sendiri dengan buku suci pijat-memijatnya. Semangat sudah nyaris habis.
“Yaa, kadang-kadang ada yang sakitnya macam-macam Mas.”
“Ya.”
“Ada juga yang maunya macam-macam.” Celoteh Pak Tua kali ini membuat Abim tertegun, seperti bocah yang tertangkap basah mencuri harta warisan milik tetangganya. “Yang kepingin gemuklah, kuruslah. Ada juga yang pingin cepat kaya, cepat dapat jodoh. Mau dapat jodoh kok omong sama tukang pijet. Sinting, dikiranya kita ini praktek dukun, apa?”
“Sebentar Pak.” Abim mulai tak tahan. “Saya bikin teh dulu.”
“Yaa. Pakai ini saja, Mas. Teh item baik buat tekanan darah yang baru naik.” ujar Pak Tua seperti mau mengingatkan Abim soal pelajaran saji teh yang diberikan sebelumnya.
“Ya, Pak.”
“Orang kadang menjamu untuk dirinya sendiri.....”
“Ya.” Bayangan kurusnya sudah hilang ditelan lorong ke arah dapur. Bersiap mendengar bisik-bisik dari beberapa teman kostnya, tetang Suhu barunya itu. Mereka juga suka menirukan cara menyeret jalannya. Atau, tangannya yang selalu gerak-gerik sendiri.
***
Tapi siapa mau peduli. Abim pun tidak. Dia mendengar, sekadar mendengar. Mereka yang suka kasak-kusuk biasanya tak cukup kenal keadaan, pikir Abim sambil mengaduk gelas tehnya. Selama ini Joko saja yang dipercayainya. Tapi keadaan jadi makin sulit saja akhir-akhir ini. Joko makin sibuk bepergian, larut dalam kesibukan biasa setelah wisuda, mencari kerja.
Petang di teras ini, matahari sudah lama lindap. Dan bau sedap Pak Tua belum juga tercium oleh hidung Abim. Mungkin gerimis kecil barusan membuat Pak Tua malas keluar. Jaga kesehatan, seperti yang biasa dia katakan pada murid barunya ini. Dan Abim masih setia menunggu, duduk di bangku panjang dari kayu meranti bercat hitam di teras depan kostnya itu. Selain menunggu Pak Tua, dia juga mau ketemu Joko. Sudah lama dia mau bilang pada Joko, soal rencananya jadi ahli pijat refleksi itu, tapi akhir-akhir ini dokter ikal berkulit legam itu seperti hilang ditelan arus kehidupan kota.
“Nunggu wangsit dari eyang guru, Bim?” Yudi, mahasiswa ekonomi itu memang salah satu teman kostnya yang paling getol menggoda tabiat pijat-memijat Abim.
“Nggak usah ikut-ikutan sinis, Mas Yudi.”
“Enggaaaak. Aku malah ikut senang sama rencanamu itu.” Pemuda berambut tipis itu mengambil tempat dekat Abim. “Aku sendiri, belum tentu bisa begitu.”
***
Di balik senyum kecut Yudi terbuka tiap lembar jatuh bangun yang dirasakan Abim. Akhir Agustus, karena kemarahan yang menggila, Abim menabrak mati seorang ibu muda yang sedang senang-senangnya menjemput kesembuhan suaminya di rumah sakit. Berurusan dengan polisi dan menguras simpanan Bapak yang sudah setahun tak disentuhnya. Waktu itu, Bapak sampai harus merelakan mobil tuanya. Sejak itu kemana pun orang separuh umur itu musti naik motor yang baru ditebus dari polisi.
Akhir November, mungkin karena terlalu capek, Bapak kambuh penyakit lambung dan darah tingginya. Sedikit demam, Bapak berjalan ke kamar mandi. Terpeleset di dekat sumur Bapak jatuh terduduk. Demam meninggi, rawat inap dua hari dan tak tertolong lagi. Bapak meninggal sebelum Abim sempat membesuk, bahkan selama rawat inap orang tua itu sudah menolak tawaran Ibu untuk menjemput Abim. Kejadian ini membuat Abim merasa hampir gila, rasa bersalah karena menjadi sebab dari kematian Bapak dan Ibu itu tak tertebus dengan tangisan yang melolong dalam batinnya.
Akhir tahun lalu, tampaknya bakal menjadi akhir dari bagian hidup normalnya yang paling mungkin. Calon isteri yang pernah melahirkan dua janin mati untuknya itu tiba-tiba pergi begitu saja. Maka bagian akhir ini benar-benar membuatnya gila. Enam bulan berikutnya, Abim menjalani perawatan intensif dari seorang dokter, seorang guru besar ahli jiwa. Dari dokter jiwa itu Abim mendapat beberapa butir pereda rasa sakit dosis tinggi. Selebihnya cuma daftar pertanyaan dan jawaban-jawaban bodoh, pikir Abim sebelum pada akhirnya dia memutuskan buat meninggalkan ruang konsultasi ahli jiwa itu.
***
“Mas Joko kemana, Mas?”
“Lho, ada kok. Tidur dari siang. Bangunkan saja, sudah maghrib juga.”
“Iyalah,” turunkan kaki dan berdiri. “Lha, itu orangnya. Mas! Mas Joko! Sebentar Mas!”
“Sebentar Bim,” lelaki rambut ikal itu menghentikan motornya di luar pagar. “Aku musti ke kedokteran. Katanya mau ada transaksi. Maklum pemuda panggilan....sebentar ya, semuanya....”
“Yaa, ya.” Abim dan Yudi hampir bersamaan menjawab seruan Joko yang sudah jauh di ujung gang. Abim duduk lagi, lebih lemas lagi.
“Untung ada orang macam Mas Joko, Bim,” celetuk Yudi.
“Ah, Mas Yudi juga sering bantu saya, kan?” suara itu sedatar matanya menatap gang depan kostnya. “Seperti sekarang ini.”
“Eh, apa kabarnya Pak Gurumu? Dari suara dalam kamarmu, kedengarannya kalian mulai akrab.”
“Yaa. Tapi orangnya susah, Mas,” matanya ke kanan-kiri sepanjang gang di batas pagar. “Setiap tanya nggak pernah di jawab langsung.”
“Itu yang namanya akrab, Bim. Jangan buruk sangka dulu.”
“Wah. Saking akrabnya sampai-sampai pulang pun nggak pakai pamitan,” alis Abim mengkerut tajam. “Padahal baru aku tinggal sebentar, bikin teh. Buat dia juga. Kemarin itu, malahan teh yang aku seduh karena menuruti kemuannya ditinggal begitu saja. Sebungkus-bungkusnya. Bukunya juga ketinggalan, tahu rasa dia, kehilangan kitab sucinya. Itu Mas, buku pijatnya itu.”
“Ya, kalau bisa dikembalikan Bim,” mengisap dan mengembus asap rokoknya lagi. “Mungkin kemarin dia agak buru-buru. Siapa tahu ada janji sama pelanggan lain yang lebih galak, iya kan?”
“Yaa, siapa tahu Mas. Orang sekarang saja dia nggak lewat.”
“Sudahlah, sabar dulu.” Yudi berdiri dan meregangkan pinggang ke kanan-kiri. “Nonton tivi saja, yuk.”
Yudi tak menunggu jawaban lagi. Ikut bergerombol di antara anak-anak kost lain di depan televisi ruang tengah. Sementara Abim belum bisa melepaskan matanya dari gang depan pagar ini. Pikirannya berloncatan antara Pak Tua, Joko dan simpanannya yang tinggal cukup buat sekali pijat dan sekali makan malam ini. Kalau Pak Tua tak jadi datang berarti masih ada sisa buat besok. Sehabis itu Abim masih belum tahu, mungkin dia musti benar-benar bertaruh dengan tangan dan jari-jarinya, dengan suara seraknya. Mengorek kuping orang-orang, dari kampung ke kampung.
“Bim!” Joko sudah di depan pagar lagi. “Tolong kamu ikut aku sekarang. Aku ada perlu.”
“Ya, Mas.” Abim berlari kecil. “Kenapa, Mas, kok gugup sekali?”
Joko tak memberi waktu buat duduk dengan enak. Motornya melesat kesetanan. Menari-nari di antara puluhan kendaraan lain dan merkuri pembatas jalan. Joko hampir menabrak portal gerbang gedung Fakultas Kedokteran dan membuka dengan kasar pintu ruang bedah.
“Ini, Dok.” Nafasnya sengal. “Teman saya ini kenal baik dengan subyek.”
Orang-orang berjas putih, para dokter, menatap tajam ke arah Joko dari kursi masing-masing di seputar sebuah meja.
“Kamu kenal Pak Tua, kan Bim.” Joko menuntun langkah Abim sambil berbisik lirih, nyaris tak terdengar. “Kalau enggak, dia bisa jadi mister-X dan dijadikan praktek anatomi.”
“Ya, Mas.”
“Kamu kenal keluarganya, kan? Tahu rumahnya?”
Beberapa waktu Abim tercenung. Matanya berloncatan lagi seperti garis-garis sinar pada layar mesin penghitung denyut nadi. Matanya berdenyutan antara Pak Tua yang tak lagi bersuara, tampak payah, dan buku sucinya. Antara Joko dan nafas sengalnya. Antara para dokter dan kekerabatannya yang kebal hukum. Satu untuk semua, sum-per-ply.
Antara perutnya dan lampu pijar di atas kepala Pak Tua yang mulai menggandakan diri. Berpijar terus dan berputar-putar persis mitraliur bintang musim hujan.
“Pak Tua ditemukan telentang di jalan, tadi waktu hujan. Keteranganmu sangat dibutuhkan sekarang.” Suara Joko berdenyaran antara gelap dan terang. Antara keheningan yang samun dan denyut nadi yang makin lemah.
“Maaf, Mas. Aku nggak bisa bantu. Aku nggak tahu...” Gelap. Matanya terkatup rapat.
“Saudara Joko, harap ikut saya sebentar.”
“Tidak, Dok. Terima-kasih. Kami pulang. Permisi.” Joko mengangkat tubuh kecil Abim yang melemah terkuras perutnya sendiri. Mata Abim makin pekat dan hitam, justru saat ingat jari-jari kanan Pak Tua yang biasanya lumpuh itu sedikit tergerak tadi. Justru saat mesin penghitung nadi itu berdenging panjang sekarang.
Untuk sinshe jalanan
sepanjang Karangmenjangan akhir ‘94
Surabaya, 032000
Sakrilegi
Setan. Keretaapi itu kesetanan. Menembus kota-kota dan hutan tanpa permisi. Begitu keluar Gambir seperti tak mau menambah penumpang. Sekali berhenti di Balapan, itu pun cuma menurunkan penumpang.
“Dari Surabaya Gubeng terus mau kemana, Mbak?” lelaki muda di sebelah Lina ini bertingkah lagi.
“Ooo, mungkin saya nggak turun Surabaya.”
“Lho, nggak jadi?”
“Memang nggak turun sana,” senyum kirinya tipis saja. “Tapi Kertosono, cukup? Saya perlu istirahat, maaf.”
“Sudah Saradan, sebentar lagi...”
Lina tak mau menanggapi lelaki itu lagi. Ia tahu, mungkin lelaki ini seumur dengannya dan dia cukup hafal tingkah lelaki macam ini. Selalu jadi kelihatan kekanakan, cetus pikiran Lina sendiri.
Jelas beda dari Mas Imam, pikir Lina. Suaminya itu benar-benar sabar menghadapinya. Kesabaran yang datang bukan karena mau sok tebar pesona atau karena menahan diri. Mas Imam sabar karena memang sabar dan tahu benar masalah yang dihadapinya, batin Lina membanggakan suaminya. Pernikahan kami pun bisa menjadi contoh, kalau mau disebutkan bisik Lina dalam mimpinya, dalam keadaan serba tak menentu Mas Imam melamarku. Waktu itu Lina sendiri sedang bingung, saat melamar pekerjaan baru sebagai teman ngobrol tamu-tamu. Keadaan makin menjepit, pekerjaan baru belum didapat, masih pula harus menghidupi anaknya yang berdarah campuran. Belum lagi soal beda agama antara ia dengan anak perempuannya dan Mas Imamnya itu.
“Kalau Mbak Lina belum siap pakai cara saya, soal itu bisa kita pikirkan sama-sama nanti. Sementara kita jalani cara kita sendiri-sendiri. Itu lebih baik daripada terpaksa....” Lina cuma senyum-senyum sendiri menanggap lamaran Imam waktu itu. Tak mungkin juga menampik lamaran itu dengan kasar di meja tempat hiburan begitu, bisa-bisa ia terkena kartu merah dari bosnya yang mulai bangkrut dan banyak mengurangi karyawan itu. Tapi kata orang berkahnya makanan itu memang datang dari suapan terakhir, dan Lina mendapatkannya waktu itu. Berkat yang sering membuat Lina bisa senyum-senyum sendiri. Seperti kali ini, saat Lina ingat kesabaran lain suaminya itu.
“Kenapa mendadak begini? Telpon ke kantor cuma mau bilang soal mingat. Itu kan bikin panik, Bu...” ujar Imam di depan pintu kamar, setelah tergopoh-gopoh pulang dari kantor.
“Biar. Biar Mas tahu kalau aku nggak suka digombali. Obral janji terus soal pulang kampung. Tapi mana buktinya?”
“Ya, sabar sedikit laah. Kita kan belum punya cukup bekal buat pulang. Apalagi katamu, Bapak orangnya galak. Ya kan?”
“Nggak pakai nggoda-nggoda. Nggak pakai senyam-senyum. Pokoknya aku mau pulang. Masak lima tahun di kota nggak pernah pulang sekali pun. Bekal kita sudah cukup, hidup kita di sini jauh lebih bagus dari orang rumahku,” tangannya terus memasukkan beberapa potong pakaian dalam kopor.
“Bekal kan bukan cuma uang dan barang, Buu...” Imam duduk lemas di bibir ranjang. Wajahnya tertunduk dalam-dalam. “Ya, sudah. Kalau mau nekat berangkat, kita tunggu Mei dulu. Sudah bawa uang belum. Kalau kurang bilang, lho. Aku belum bisa ikut pulang, pekerjaan numpuk di kantor menjelang tutup tahun begini, maaf ya?”
“Sudah, sudah. Uangku sudah cukup buat pulang balik, sekalian buat orang rumah nanti. Dan Mei, dia musti ikut pulang nengok Eyangnya. Dia juga pasti sudah kangen sama mereka,” ambil tas jinjing, tempat untuk menaruh macam-macam perhiasan dagangannya.
“Kalau bisa jangan semuanya ditaruh situ, Bu...”
“Aku ya nggak sebodo itu, ya. Semuanya sudah aku bagi-bagi tempatnya. Memangnya, cuma kamu saja yang pinter mbagi-mbagi duit,” mondar-mandir sambil sesekali melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
Gertakan minggat itu ternyata tidak membuat Mas Imam marah atau terpancing ikut mengantar pulang, Lina tersenyum lagi memikirkannya. Sekilas juga sempat terpikir buat membatalkan saja rencana konyolnya itu. Tapi....
“Itu Mei pulang.”
“Bapaaak, lho, kok sudah pulang. Mbolos, ya?” Lina tersenyum masygul melihat anaknya begitu akrab dengan bapak tirinya.
“Mei, ganti baju! Ikut Ibu’, pulang ke rumah Eyang.”
“Lhoh, Ibu kok nggak bilang-bilng dulu? Mei kan belum libur...”
“Kamu nggak kangen sama Yang Ti, Yang Kung, Mas Andre?!”
“Ya kangen. Tapi...”
“Nggak pakek tapi-tapian. Cepet ganti baju!”
“Buu, kita kan belum tanya gimana maunya Mei. Sekarang, biar aku yang tanya....” Menyorongkan badan bertumpu pada lututnya. “Mei...Mei mau ikut Ibu’ atau tinggal di rumah dulu sampai liburan depan. Bapak janji nanti pulang bareng-bareng.”
“Eee, nggak usah ngibuli anak kecil. Pakek ngrayu-ngrayu segala.”
“Sss....” masih sempat senyum ke arah Lina. “Gimana Mei?”
“Mei maunya ikut Ibu’. Tapi sekolahan kan belum libur....”
“Apa susahnya ambil libur sendiri barang seminggu. Bapakmu bisa mintakan ijin nanti,” Lina mulai gusar.
“Nggak. Mei ngak mau ketingalan pelajaran.”
“Eee, dasar anak-bapak sama saja. Kalian sudah sekongkol, ya?! Ya, sudah. Aku berangkat sendiri. Huh!” Lina memburu langkahnya balik ke kamar.
“Gimana Pak?”
“Tenang, Mei. Ibumu selalu begitu kan, kalau lagi marah-marah?”
Lina cuma mendengarkan sekilas sambil menyeret roda kopornya. Sampai di ruang tengah Lina melirik sepintas pada mereka.
“Sebentar, Bu’. Kita antar sampai Gambir.”
“Gak usah! Aku bisa sendiri!” Lina merasa harus menahan harga dirinya di depan persekongkolan anak dan bapak itu.
Dan, sekarang Lina cuma bisa tersenyum kecut dalam mimpinya di atas kereta ini. Mustinya pagi ini dia bisa tidur tenang, di balik selimutnya yang hangat.
“Mbak....Mbak....Maaf sudah sampai Kertosono itu.”
“Oh-eh, ya.” Lina terbangun. “Mereka kan sudah tahu ada yang turun sini.”
“Ya, ya....” masih menebar pesona lewat senyumnya. “Ada yang bisa saya bantu....”
“Oh, nggak. Ma-kasih. Nggak berat, kok.”
“Itu, kopernya?”
“Oya,” Lina segera menyeret kopornya dan menarik perhatian lelaki murah senyum.
“Turunnya?”
Lina menghela nafas lagi. Genit sekali anak ini, pikir Lina. “Saya bisa panggil kuli stasiun, sebenarnya, tapi kalau mau ya sudahlah...silakan saja.”
Musti dijelaskan, musti diluruskan otakanya, gerutu Lina pada diri sendiri. Lelaki itu pun menguntit Lina sampai pintu gerbong, membantunya menurunkan tas besar itu dan menjulurkan tangannya.
“Roy....” cara yang manis dan jorok sekaligus.
“Lina. Anak saya dua. Satu ikut suami pertama. Sulungnya ikut saya dan suami kedua. Terima-kasih bantuannya.”
“Terima-kasih kenalannya. Moga-moga kita masih bisa ketemu lagi di kereta....”
Lina tak suka bualan murahan. Menyeret kopornya dekat pintu keluar. Hari mulai terang, postir tak kesulitan memeriksa tiket Lina sekalipun tanpa lampu menyala.
“Tidak ada yang ketingalan, Bu?” keramahan standar kota kecil. “Terima-kasih.”
Lina menarik nafas dalam-dalam sambil terpejam. Segarnya udara kota-kota kecil. Sebentar lagi mesti naik becak. Sampai terminal ganti naik bis.
“E, dayohe teka. E, beberna klasa. E, kopere bedhah. E....”1
“Kopere apa kemebene...?”2
Celoteh dan kelakar tukang-tukang becak itu membuat Lina ingat kopornya yang sedikit terbuka. Gara-gara Mas Imam sampai lupa muter kuncinya kemarin, keluh Lina sambil merapatkannya lagi.
“Becak, Mbak?”
“Terminal, Pak.” Lina sudah meloncat. Senyumnya mengembang, seperti mau bersalaman dengan ufuk dan cakrawala.
Tak ada dunia seramah ini, pikirannya bermain-main sendiri. Juga waktu dia sudah duduk di bangku bis antarkota yang apek. Terlalu lama kalau mau menunggu patas ke arah sana, Bu. Jawaban yang menjengkelkan Lina itu meluncur ringan dari mulut tak acuh petugas jaga terminal. Terpaksa begini. Berdesakan dengan bau kecoa dan keringat. Tapi Lina tak mau menyia-nyiakan senyumnya. Senyum terus sekalipun jantungnya berdenyaran keras.
Bapak, ya Bapak. Wajahnya yang angker seperti apa sekarang. Setelah hampir lima belas tahun kepergiannya Lina hanya berani mengirim kabar lewat surat, wessel dan kartu ucapan. Lina hanya sesekali pulang dulu, waktu pernikahan pertamanya memberikan sedikit keberanian. Sampai sekarang Lina masih serba ewuh-pakewuh3 kalau musti pulang dan berhadapan dengan Bapak. Sekali pun Bapak sudah mau menerima anaknya, tapi tetap mencibiri pekerjaannya sebagai teman para tamu di klab malam. Masih saja terngiang ledakan kemarahan Bapak begitu mendengar kabar kalau Lina yang masih SMA waktu itu suka mencari tambahan uang saku di sekitar Jl. Daha.
“Lina. Kamu ingat nama lengkapmu?” Bapak duduk di kursi kebesarannya yang terbuat dari bonggol kayu jati. Bertelekan tongkat kayu berukir naga setianya. “Paulina Arumanda Sukmaningtyas.....kamu tahu artinya, kan? Kok sekarang malah kamu bikin malu nama keluarga besarmu ini. Kamu dibesarkan Ibumu yang tekun berdo’a. Bapakmu ini bisa dibilang ndak kenal agama, kafir, tapi ndak pakek cara hina buat cari uang. Dengar?!”
Lina cuma bisa diam, sekalipun bisa saja ia menjawab kalau waktu itu hanya membantu menjual handycraft buatan temannya. Menurutnya Bapak bukan orang yang suka dibantah, jadi ia lebih suka memilih diam. Ia ingat betul wajah setiap teman lelakinya yang kena semprot Bapak saat menjemputnya dari rumah.
“...Karena Bapak menganggap kamu sudah berbuat di luar batas, maka lebih baik kamu tidak tinggal di rumah ini lagi,” Bapak dengan tongkat kebanggannya masih tegak di kursi kayu jati itu. “Dengan begitu mungkin kamu bisa mencari jalan sesukamu.”
Mendengar keputusan Bapak, tak seorang pun berani membantah. Bahkan waktu Ibu mau mengajukan pendapatnya sudah lebih dulu terkena hardikan Bapak dan terpaksa undur sambil mengelus dada. Menangis sekeras-kerasnya, biar cuma dalam hatinya. Tapi Lina tahu. Ino dan Ion, dua adik Lina, juga tahu. Andre si bungsu mungkin juga menangis dengan wajahnya yang tetap tak mengerti dalam gendongan Ibu.
Keluarga dalam rumah separuh dinding bambu itu tetap bertahan di tempat masing-masing, demi nama baik yang selalu diunggul-unggulkan oleh Bapak. Mereka diam dalam bisu saat Lina pergi tanpa permisi.
Lina lari dan tak pernah kembali. Lari ke jalan-jalan. Pub dan restoran, Hotel dan penginapan, jadi medan jajahannya dari hari ke hari. Lina tak lagi menjajakan handycraft temannya. Lina sudah punya dagangan sendiri, dirinya sendiri. Total jenderal hampir sepuluh tahun malang melintang di dunia barunya itu. Sempat terputus saat menikahi Papanya Mei. Tapi pemuda keturunan itu pun tak bertahan di sisinya. Pernikahan itu tak bertahan. Hancur dengan ketetapan yang jelas buat Lina. Tak ada jalan lain kecuali menjadi penerima tamu. Sampai kemudian Imam datang dengan senyumnya yang rawan.
“Ngadisimo. Simo?” Teriakan dari pintu belakang menyadarkan Lina. Buru-buru bangun dan bergegas.
“Simo, Pak! Kiri, kiri!”
“Simo, kiri, kiri!”
Matahari belum bulat benar, tapi jalanan sudah ramai. Tukang becak, kenek-kenek angkutan pedesaan, pedagang sayur, warung-warung, dan pegawai Gudang Garam pulang atau berangkat kerja tumpah di Jl. Imam Bonjol ini. Lina naik becak lagi. Sedikit ke timur, selewat jembatan kecil itu becaknya berbelok ke kiri. Terus ke utara dan berhenti dekat tikungan berikutnya.
Di tikungan itu Lina tercenung. Barusan ia berpikir-pikir soal Bapak, Ibu, dan adik-adiknya. Soal Mbak Mayang, setahu Lina, terakhir kabarnya sudah menikah dengan seorang guru agama sekaligus katekis. Mengenai adik-adiknya, Lina masih pikir-pikir, apakah mereka masih tekun berdoa. Atau mungkin mengambil jalan seperti Lina, larut dan kalah di jalanan.
Sekarang Lina sendirian memperhatikan tempat angker di seberang jalannya itu. Jembatan kecil tempat dimana Bapak dulu biasa duduk, kini sudah tak ada lagi. Jembatan di atas got depan rumahnya itu kini sudah teruruk tanah bergunduk. Juga pagar bambu halaman rumah itu, sudah rata dengan tanah. Juga dinding rumahnya. Pohon mangga tempat sembunyi Lina sewaktu kecil itu pun tak tersisa selembar daun pun. Cuma sumur, bekas sumur, yang meranggas di tengah reruntuhan. Mata Lina makin lindap menatap sebuah papan bertuliskan, TANAH MILIK YAYASAN AL......
Lina bingung, apakah masih ada keluarga yang bisa ditanyai. Lina tahu kalau Mayang, kakaknya sudah menikah, tapi sekedar tahu. Dan tak pernah mencari tahu soal tempat tinggalnya. Bapak juga, tak pernah mau berkumpul dengan keluarga besarnya yang kini entah dimana, entah kenapa. Lina tiba-tiba ingat buku alamat lama dalam kotak besinya.
“Boxnya dimana.....” Lina terus membongkar kopornya. Tak peduli pada mata-mata dari tiap orang yang lewat. Agak lama, Lina hanya menemukan beberapa lembar pakaian yang masih seperti kemarin dan secarik kertas maaf yang dibubuhi nama Roy.
Lina berdiri lagi. Nanap pada rumahnya, sisa-sisa nama bapaknya, itu sekali lagi. Nanap melihat orang-orang berlalu-lalang. Memperhatikan seorang pemuda mengayuh sepedanya dari arah timur, menikung, melintasi Lina. Meludah begitu saja, semburannya hanya beberapa jengkal dari Lina, mengayuh lagi dan hilang di ujung selatan. Bagian terbesar semburan ludah itu jatuh tepat di tempat yang mustinya dulu adalah panepen4, Lina bergumam, “In the name.....”
090300-280103
1. Lagu dolanan anak-anak Jawa. Mustinya berbunyi E, dayohe teka. E, beberna klasa. E, klasane bedhah., dan seterusnya yang artinya E, tamunya datang. E, gelarkan tikar. E, tikarnya jebol. E.....
2. Kemben (bhs. Jw.) artinya kain panjang perempuan Jawa.
3. Perasaan antara takut dan segan.
4. Tempat bersamadi bagi rumah-rumah Jawa.
Setan. Keretaapi itu kesetanan. Menembus kota-kota dan hutan tanpa permisi. Begitu keluar Gambir seperti tak mau menambah penumpang. Sekali berhenti di Balapan, itu pun cuma menurunkan penumpang.
“Dari Surabaya Gubeng terus mau kemana, Mbak?” lelaki muda di sebelah Lina ini bertingkah lagi.
“Ooo, mungkin saya nggak turun Surabaya.”
“Lho, nggak jadi?”
“Memang nggak turun sana,” senyum kirinya tipis saja. “Tapi Kertosono, cukup? Saya perlu istirahat, maaf.”
“Sudah Saradan, sebentar lagi...”
Lina tak mau menanggapi lelaki itu lagi. Ia tahu, mungkin lelaki ini seumur dengannya dan dia cukup hafal tingkah lelaki macam ini. Selalu jadi kelihatan kekanakan, cetus pikiran Lina sendiri.
Jelas beda dari Mas Imam, pikir Lina. Suaminya itu benar-benar sabar menghadapinya. Kesabaran yang datang bukan karena mau sok tebar pesona atau karena menahan diri. Mas Imam sabar karena memang sabar dan tahu benar masalah yang dihadapinya, batin Lina membanggakan suaminya. Pernikahan kami pun bisa menjadi contoh, kalau mau disebutkan bisik Lina dalam mimpinya, dalam keadaan serba tak menentu Mas Imam melamarku. Waktu itu Lina sendiri sedang bingung, saat melamar pekerjaan baru sebagai teman ngobrol tamu-tamu. Keadaan makin menjepit, pekerjaan baru belum didapat, masih pula harus menghidupi anaknya yang berdarah campuran. Belum lagi soal beda agama antara ia dengan anak perempuannya dan Mas Imamnya itu.
“Kalau Mbak Lina belum siap pakai cara saya, soal itu bisa kita pikirkan sama-sama nanti. Sementara kita jalani cara kita sendiri-sendiri. Itu lebih baik daripada terpaksa....” Lina cuma senyum-senyum sendiri menanggap lamaran Imam waktu itu. Tak mungkin juga menampik lamaran itu dengan kasar di meja tempat hiburan begitu, bisa-bisa ia terkena kartu merah dari bosnya yang mulai bangkrut dan banyak mengurangi karyawan itu. Tapi kata orang berkahnya makanan itu memang datang dari suapan terakhir, dan Lina mendapatkannya waktu itu. Berkat yang sering membuat Lina bisa senyum-senyum sendiri. Seperti kali ini, saat Lina ingat kesabaran lain suaminya itu.
“Kenapa mendadak begini? Telpon ke kantor cuma mau bilang soal mingat. Itu kan bikin panik, Bu...” ujar Imam di depan pintu kamar, setelah tergopoh-gopoh pulang dari kantor.
“Biar. Biar Mas tahu kalau aku nggak suka digombali. Obral janji terus soal pulang kampung. Tapi mana buktinya?”
“Ya, sabar sedikit laah. Kita kan belum punya cukup bekal buat pulang. Apalagi katamu, Bapak orangnya galak. Ya kan?”
“Nggak pakai nggoda-nggoda. Nggak pakai senyam-senyum. Pokoknya aku mau pulang. Masak lima tahun di kota nggak pernah pulang sekali pun. Bekal kita sudah cukup, hidup kita di sini jauh lebih bagus dari orang rumahku,” tangannya terus memasukkan beberapa potong pakaian dalam kopor.
“Bekal kan bukan cuma uang dan barang, Buu...” Imam duduk lemas di bibir ranjang. Wajahnya tertunduk dalam-dalam. “Ya, sudah. Kalau mau nekat berangkat, kita tunggu Mei dulu. Sudah bawa uang belum. Kalau kurang bilang, lho. Aku belum bisa ikut pulang, pekerjaan numpuk di kantor menjelang tutup tahun begini, maaf ya?”
“Sudah, sudah. Uangku sudah cukup buat pulang balik, sekalian buat orang rumah nanti. Dan Mei, dia musti ikut pulang nengok Eyangnya. Dia juga pasti sudah kangen sama mereka,” ambil tas jinjing, tempat untuk menaruh macam-macam perhiasan dagangannya.
“Kalau bisa jangan semuanya ditaruh situ, Bu...”
“Aku ya nggak sebodo itu, ya. Semuanya sudah aku bagi-bagi tempatnya. Memangnya, cuma kamu saja yang pinter mbagi-mbagi duit,” mondar-mandir sambil sesekali melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
Gertakan minggat itu ternyata tidak membuat Mas Imam marah atau terpancing ikut mengantar pulang, Lina tersenyum lagi memikirkannya. Sekilas juga sempat terpikir buat membatalkan saja rencana konyolnya itu. Tapi....
“Itu Mei pulang.”
“Bapaaak, lho, kok sudah pulang. Mbolos, ya?” Lina tersenyum masygul melihat anaknya begitu akrab dengan bapak tirinya.
“Mei, ganti baju! Ikut Ibu’, pulang ke rumah Eyang.”
“Lhoh, Ibu kok nggak bilang-bilng dulu? Mei kan belum libur...”
“Kamu nggak kangen sama Yang Ti, Yang Kung, Mas Andre?!”
“Ya kangen. Tapi...”
“Nggak pakek tapi-tapian. Cepet ganti baju!”
“Buu, kita kan belum tanya gimana maunya Mei. Sekarang, biar aku yang tanya....” Menyorongkan badan bertumpu pada lututnya. “Mei...Mei mau ikut Ibu’ atau tinggal di rumah dulu sampai liburan depan. Bapak janji nanti pulang bareng-bareng.”
“Eee, nggak usah ngibuli anak kecil. Pakek ngrayu-ngrayu segala.”
“Sss....” masih sempat senyum ke arah Lina. “Gimana Mei?”
“Mei maunya ikut Ibu’. Tapi sekolahan kan belum libur....”
“Apa susahnya ambil libur sendiri barang seminggu. Bapakmu bisa mintakan ijin nanti,” Lina mulai gusar.
“Nggak. Mei ngak mau ketingalan pelajaran.”
“Eee, dasar anak-bapak sama saja. Kalian sudah sekongkol, ya?! Ya, sudah. Aku berangkat sendiri. Huh!” Lina memburu langkahnya balik ke kamar.
“Gimana Pak?”
“Tenang, Mei. Ibumu selalu begitu kan, kalau lagi marah-marah?”
Lina cuma mendengarkan sekilas sambil menyeret roda kopornya. Sampai di ruang tengah Lina melirik sepintas pada mereka.
“Sebentar, Bu’. Kita antar sampai Gambir.”
“Gak usah! Aku bisa sendiri!” Lina merasa harus menahan harga dirinya di depan persekongkolan anak dan bapak itu.
Dan, sekarang Lina cuma bisa tersenyum kecut dalam mimpinya di atas kereta ini. Mustinya pagi ini dia bisa tidur tenang, di balik selimutnya yang hangat.
“Mbak....Mbak....Maaf sudah sampai Kertosono itu.”
“Oh-eh, ya.” Lina terbangun. “Mereka kan sudah tahu ada yang turun sini.”
“Ya, ya....” masih menebar pesona lewat senyumnya. “Ada yang bisa saya bantu....”
“Oh, nggak. Ma-kasih. Nggak berat, kok.”
“Itu, kopernya?”
“Oya,” Lina segera menyeret kopornya dan menarik perhatian lelaki murah senyum.
“Turunnya?”
Lina menghela nafas lagi. Genit sekali anak ini, pikir Lina. “Saya bisa panggil kuli stasiun, sebenarnya, tapi kalau mau ya sudahlah...silakan saja.”
Musti dijelaskan, musti diluruskan otakanya, gerutu Lina pada diri sendiri. Lelaki itu pun menguntit Lina sampai pintu gerbong, membantunya menurunkan tas besar itu dan menjulurkan tangannya.
“Roy....” cara yang manis dan jorok sekaligus.
“Lina. Anak saya dua. Satu ikut suami pertama. Sulungnya ikut saya dan suami kedua. Terima-kasih bantuannya.”
“Terima-kasih kenalannya. Moga-moga kita masih bisa ketemu lagi di kereta....”
Lina tak suka bualan murahan. Menyeret kopornya dekat pintu keluar. Hari mulai terang, postir tak kesulitan memeriksa tiket Lina sekalipun tanpa lampu menyala.
“Tidak ada yang ketingalan, Bu?” keramahan standar kota kecil. “Terima-kasih.”
Lina menarik nafas dalam-dalam sambil terpejam. Segarnya udara kota-kota kecil. Sebentar lagi mesti naik becak. Sampai terminal ganti naik bis.
“E, dayohe teka. E, beberna klasa. E, kopere bedhah. E....”1
“Kopere apa kemebene...?”2
Celoteh dan kelakar tukang-tukang becak itu membuat Lina ingat kopornya yang sedikit terbuka. Gara-gara Mas Imam sampai lupa muter kuncinya kemarin, keluh Lina sambil merapatkannya lagi.
“Becak, Mbak?”
“Terminal, Pak.” Lina sudah meloncat. Senyumnya mengembang, seperti mau bersalaman dengan ufuk dan cakrawala.
Tak ada dunia seramah ini, pikirannya bermain-main sendiri. Juga waktu dia sudah duduk di bangku bis antarkota yang apek. Terlalu lama kalau mau menunggu patas ke arah sana, Bu. Jawaban yang menjengkelkan Lina itu meluncur ringan dari mulut tak acuh petugas jaga terminal. Terpaksa begini. Berdesakan dengan bau kecoa dan keringat. Tapi Lina tak mau menyia-nyiakan senyumnya. Senyum terus sekalipun jantungnya berdenyaran keras.
Bapak, ya Bapak. Wajahnya yang angker seperti apa sekarang. Setelah hampir lima belas tahun kepergiannya Lina hanya berani mengirim kabar lewat surat, wessel dan kartu ucapan. Lina hanya sesekali pulang dulu, waktu pernikahan pertamanya memberikan sedikit keberanian. Sampai sekarang Lina masih serba ewuh-pakewuh3 kalau musti pulang dan berhadapan dengan Bapak. Sekali pun Bapak sudah mau menerima anaknya, tapi tetap mencibiri pekerjaannya sebagai teman para tamu di klab malam. Masih saja terngiang ledakan kemarahan Bapak begitu mendengar kabar kalau Lina yang masih SMA waktu itu suka mencari tambahan uang saku di sekitar Jl. Daha.
“Lina. Kamu ingat nama lengkapmu?” Bapak duduk di kursi kebesarannya yang terbuat dari bonggol kayu jati. Bertelekan tongkat kayu berukir naga setianya. “Paulina Arumanda Sukmaningtyas.....kamu tahu artinya, kan? Kok sekarang malah kamu bikin malu nama keluarga besarmu ini. Kamu dibesarkan Ibumu yang tekun berdo’a. Bapakmu ini bisa dibilang ndak kenal agama, kafir, tapi ndak pakek cara hina buat cari uang. Dengar?!”
Lina cuma bisa diam, sekalipun bisa saja ia menjawab kalau waktu itu hanya membantu menjual handycraft buatan temannya. Menurutnya Bapak bukan orang yang suka dibantah, jadi ia lebih suka memilih diam. Ia ingat betul wajah setiap teman lelakinya yang kena semprot Bapak saat menjemputnya dari rumah.
“...Karena Bapak menganggap kamu sudah berbuat di luar batas, maka lebih baik kamu tidak tinggal di rumah ini lagi,” Bapak dengan tongkat kebanggannya masih tegak di kursi kayu jati itu. “Dengan begitu mungkin kamu bisa mencari jalan sesukamu.”
Mendengar keputusan Bapak, tak seorang pun berani membantah. Bahkan waktu Ibu mau mengajukan pendapatnya sudah lebih dulu terkena hardikan Bapak dan terpaksa undur sambil mengelus dada. Menangis sekeras-kerasnya, biar cuma dalam hatinya. Tapi Lina tahu. Ino dan Ion, dua adik Lina, juga tahu. Andre si bungsu mungkin juga menangis dengan wajahnya yang tetap tak mengerti dalam gendongan Ibu.
Keluarga dalam rumah separuh dinding bambu itu tetap bertahan di tempat masing-masing, demi nama baik yang selalu diunggul-unggulkan oleh Bapak. Mereka diam dalam bisu saat Lina pergi tanpa permisi.
Lina lari dan tak pernah kembali. Lari ke jalan-jalan. Pub dan restoran, Hotel dan penginapan, jadi medan jajahannya dari hari ke hari. Lina tak lagi menjajakan handycraft temannya. Lina sudah punya dagangan sendiri, dirinya sendiri. Total jenderal hampir sepuluh tahun malang melintang di dunia barunya itu. Sempat terputus saat menikahi Papanya Mei. Tapi pemuda keturunan itu pun tak bertahan di sisinya. Pernikahan itu tak bertahan. Hancur dengan ketetapan yang jelas buat Lina. Tak ada jalan lain kecuali menjadi penerima tamu. Sampai kemudian Imam datang dengan senyumnya yang rawan.
“Ngadisimo. Simo?” Teriakan dari pintu belakang menyadarkan Lina. Buru-buru bangun dan bergegas.
“Simo, Pak! Kiri, kiri!”
“Simo, kiri, kiri!”
Matahari belum bulat benar, tapi jalanan sudah ramai. Tukang becak, kenek-kenek angkutan pedesaan, pedagang sayur, warung-warung, dan pegawai Gudang Garam pulang atau berangkat kerja tumpah di Jl. Imam Bonjol ini. Lina naik becak lagi. Sedikit ke timur, selewat jembatan kecil itu becaknya berbelok ke kiri. Terus ke utara dan berhenti dekat tikungan berikutnya.
Di tikungan itu Lina tercenung. Barusan ia berpikir-pikir soal Bapak, Ibu, dan adik-adiknya. Soal Mbak Mayang, setahu Lina, terakhir kabarnya sudah menikah dengan seorang guru agama sekaligus katekis. Mengenai adik-adiknya, Lina masih pikir-pikir, apakah mereka masih tekun berdoa. Atau mungkin mengambil jalan seperti Lina, larut dan kalah di jalanan.
Sekarang Lina sendirian memperhatikan tempat angker di seberang jalannya itu. Jembatan kecil tempat dimana Bapak dulu biasa duduk, kini sudah tak ada lagi. Jembatan di atas got depan rumahnya itu kini sudah teruruk tanah bergunduk. Juga pagar bambu halaman rumah itu, sudah rata dengan tanah. Juga dinding rumahnya. Pohon mangga tempat sembunyi Lina sewaktu kecil itu pun tak tersisa selembar daun pun. Cuma sumur, bekas sumur, yang meranggas di tengah reruntuhan. Mata Lina makin lindap menatap sebuah papan bertuliskan, TANAH MILIK YAYASAN AL......
Lina bingung, apakah masih ada keluarga yang bisa ditanyai. Lina tahu kalau Mayang, kakaknya sudah menikah, tapi sekedar tahu. Dan tak pernah mencari tahu soal tempat tinggalnya. Bapak juga, tak pernah mau berkumpul dengan keluarga besarnya yang kini entah dimana, entah kenapa. Lina tiba-tiba ingat buku alamat lama dalam kotak besinya.
“Boxnya dimana.....” Lina terus membongkar kopornya. Tak peduli pada mata-mata dari tiap orang yang lewat. Agak lama, Lina hanya menemukan beberapa lembar pakaian yang masih seperti kemarin dan secarik kertas maaf yang dibubuhi nama Roy.
Lina berdiri lagi. Nanap pada rumahnya, sisa-sisa nama bapaknya, itu sekali lagi. Nanap melihat orang-orang berlalu-lalang. Memperhatikan seorang pemuda mengayuh sepedanya dari arah timur, menikung, melintasi Lina. Meludah begitu saja, semburannya hanya beberapa jengkal dari Lina, mengayuh lagi dan hilang di ujung selatan. Bagian terbesar semburan ludah itu jatuh tepat di tempat yang mustinya dulu adalah panepen4, Lina bergumam, “In the name.....”
090300-280103
1. Lagu dolanan anak-anak Jawa. Mustinya berbunyi E, dayohe teka. E, beberna klasa. E, klasane bedhah., dan seterusnya yang artinya E, tamunya datang. E, gelarkan tikar. E, tikarnya jebol. E.....
2. Kemben (bhs. Jw.) artinya kain panjang perempuan Jawa.
3. Perasaan antara takut dan segan.
4. Tempat bersamadi bagi rumah-rumah Jawa.
Doa Dev
Empat sore tepat. Sebagian kaki berhak sepatu tinggi terjulur di atas tangga teras kiri kantor sebuah harian. Sebagian tegak bersandar pada bangku kayu seadanya. Sepasang sepatu kulit biasa bergerak-gerak resah di antara mereka. Sepasang sepatu kulit lain yang lebih mengkilat terinjak keras di ujung lain.
"Nunggu siapa ?" Sepatu hitam bersol rendah mengorek nada acuh-tak-acuh.
"Nggak. Nggak ada." Sepatu kulit depan bangku kayu jadi lebih resah, rokok di sela dua kakinya berputar-putar sendiri.
"Cari hiburan…..?" Sedikit merentang dan menutup lagi dalam tempo allegro.
"Eh. Emm. Bukan. Bukan." Pikirannya larut dengan ocehan editornya pagi ini.
"Lho, mau apa?"
"Istirahat…." Bersandar pada rolling door kantor itu.
"Kerja di sini?" Acuh-tak-acuh lagi. "Bagian apa?"
Harusnya aku yang banyak bertanya, pikir pemilik sepatu kulit itu. Tapi mungkin semuanya memang sedang terbalik. Dia juga merasa harusnya lebih banyak tahu soal-soal di lapangan, tapi editornya merasa sebaliknya. Orang tua itu ngoceh nggak karuan pagi ini. Harus begini, harus begitu. Tidak boleh ini, jangan itu. Hampir tiga jam penuh dihabiskannya cuma buat berceramah soal kerja di lapangan, padahal pemilik sepatu kulit itu tahu benar orang tua itu tak pernah terlihat ada di lapangan. Jangankan di lapangan, jalan saja susah.
"Hei, bengong…"
"Eh, ya-ya. Agama."
"Oo…wartawan agama?"
Cuma anggukan lesu yang menjawab. Suaranya sendiri sudah jauh tertelan pikirannya yang jengkel campur kesal, campur geli. Reporter macam apa yang kerjanya cuma ditanyai orang lain. Mustinya aku yang bertanya, pikirnya keras-keras, mustinya aku yang mencari tahu soal kamu. Tapi, apa menariknya agama buat orang macam kamu, yang tiap hari duduk-duduk di sini menunggu tamu. Tamu?! Hah, orang mana mau bertamu di pinggiran kantor macam ini. Mungkin lebih baik bukan tamu. Tapi, apa ya? Sebutan apa yang pas buat mereka. Aaa, mungkin…
"Suka ngelamun?"
"Nggak juga."
"Lha barusan." Selembar tissue menggosok jatuh.
"Capek."
"Kebanyakan lembur, ya?" Mengingatkan reporter itu pada suara ibunya."Apa….?"
"Dev…..!" Sepatu berkulit licin di ujung memberi tanda.
Sedan biru legam berhenti pelahan. Kaca-hitamnya melorot pelan.
"Ya!" Dev sepatu merah jambu cepat maju. Sebentar menengok pada sepatu kulit sebelahnya. "Sebentar."
Sepatu licin di sana mulai tak sabar, tapi mungkin si Dev itu terlalu berharga buat dibentak keras. Jadi mulut sepatunya saja yang naik turun. Si Dev mengajukan kakinya satu-satu. Membungkuk lembut, kepalanya sedikit masuk jendela sedan itu, mirip lidah panjang yang terjulur dari dalam. Panjang dan berkilat oleh matahari sore. Betisnya padat berisi, sedikit takikan di tengkuk mata kakinya.
Sepatu kulit di bangku tahu ada kecemburuan dari sorot mata banyak sepatu hak tinggi yang lain. Tapi satu yang bersepatu sol tinggi keperakan kelihatan tak acuh saja. Memainkan permen karetnya. Kaki jenjangnya tak tertutup oleh rok mini satin itu. Atau malah sengaja dibiarkannya terbuka. Reporter itu tidak terlalu suka memikirkan mereka. Kepalanya masih ngilu dengan makian atasannya. Sudah bulan ketiga masih belum ada perkembangan juga, seruan serak itu terdengar lagi. Kapan anda bisa maju, kalau begini terus. Bikin berita yang sederhana saja asal pembaca ngerti, ndak usah susah-susah bikin isu sendiri. Ndak usah menggurui pembaca, mereka itu lebih tahu dari anda. Kalau mereka lebih tahu, buat apa baca berita, bantah pikirannya sendiri.
Sudah tiga bulan dia tahu. Soal ada peningkatan atau tidak harusnya orang kantor lebih tahu, protesnya lagi, kenapa musti tanya. Kenapa nggak sekalian tanya gimana hidupku, gimana keluargaku, gimana isteriku. Abu rokoknya menimpa celana. Angin nakal meraupkan abu itu ke mukanya. Berdecak sedikit, lalu matanya ikut-ikutan nakal menguliti rok mini satin yang digoda angin barusan.
"Ee. Cari gratisan, ya?" Si kecil rok satin itu melempar permen karetnya.
Reporter itu mengelak kecil. Senyum sedikit dan menekuri diri lagi. Sebentar matanya menangkap bayangan Dev terlihat alot di samping sedan itu. Tak lama Dev pun menggeleng dan berlalu. Antrian di belakang yang sudah lama menunggu saling berebutan mencapai pintu birunya. Dev melirik arah rok mini sekilas, mengambil sebatang rokok, dan menyulutnya.
"Kenapa?" Reporter itu menyambung rokoknya juga.
Dev menggeleng sambil mengisap kuat-kuat. Meniupkan asapnya lagi dengan hembusan mahal.
"Agama, ya?" Pertanyaan mendadak itu tak sempat terjawab. "Apa menariknya?"
"Kamu sendiri gimana?" Nada desahnya agak tinggi. "Masih percaya?"
"Tanya? Ngejek?" Tarik lagi embus lagi. "Jangan-jangan kamu sendiri nggak percaya."
"Heh."
Mata reporter itu kosong lagi. Pikirannya mengalir ke sekian jalan yang sudah ditempuhnya. Ada senang ada susah. Tak satu pun bikin dia bertanya soal keyakinan macam itu. Tiga bulan ini jadi reporter halaman ini pun tak pernah bertanya buat apa. Tak semua bisa ditanya untuk apa, kata sebuah tulisan. Tapi katanya sendiri kenapa bukan cuma soal untuk apa. Mungkin ada yang salah di otak penulisnya, mungkin juga tidak. Mungkin cuma satu yang bisa menjawabnya, mungkin juga tidak. Dia tidak tahu kenapa mesti kerja di tempat ini. Bertemu perempuan ini. Bertemu orang-orang lain. Bertemu perempuan-perempuan lain. Bertemu isterinya yang mulai melepasnya akhir-akhir ini. Mungkin isterinya jengkel dengan kebebalannya mencari kerja. Mungkin isterinya mau dia berusaha lebih keras lagi. Mungkin juga isterinya memang sudah tidak menginginkannya lagi.
"Nglamun lagi?" Asap itu disemburkan ke teman barunya.
"Bukan." Setelah beberapa kali mengangguk-angguk.
"Lantas apa namanya?" Ditiupkannya lagi asap itu. "Merenungi takdir Ilahi? Apa bedanya? Kamu bisa hidup cuma dengan merenung-renung begitu? Kenyang? Kecukupan?"
Lelaki muda di samping cuma menggeleng lemah. Mungkin karena tak ada jawaban buatnya. Mungkin juga karena reporter ini bosan dengan pertanyaan-pertanyaan macam itu. Isterinya sudah terlalu sering bertanya seperti itu. Bahkan dengan sedikit keras. Dan yang paling menjengkelkan dari mengingat pertanyaan isterinya adalah ingatan soal tabiat isterinya yang mulai berubah. Enam bulan terakhir ini isterinya mulai tak banyak menanyainya lagi. Isterinya membiarkannya saja melakukan apa pun yang dia mau. Mau kerja silakan, mau luntang-luntung juga nggak masalah. Isterinya tak lagi protes ini atau menuntut itu. Harusnya dia senang, tapi tidak.
Reporter ini mulai bingung dengan kelakuan isterinya. Isterinya yang dikenal taat beragama, setidaknya menurut pandangan orang, mulai bergeser sedikit demi sedikit. Membiarkannya bukan karena ingin membebaskannya, tapi karena ingin membebaskan dirinya sendiri.
"Aku pulang dulu." Sepatu kulitnya mulai kurang jelas oleh sisa matahari dan sedikit lampu jalan."Wawancaranya lain kali saja."
Jalan mulai lengang. Selewat hari menjadi saat-saat paling mendebarkan. Dulu isterinya paling suka menegurnya soal sembahyang, sekarang tidak lagi. Dulu isterinya paling rajin membuatkan kopi, sekarang jangan mimpi. Tapi saat begini tetap saja menyisakan rasa kurang nyaman di kepala reporter ini. Sebagian orang di gangnya malah suka cemas pada jam-jam ini kalau-kalau jadi langganan pencuri motor.
"Hei?! Hei?!" Teriakannya mengejutkan seorang perempuan muda yang nyaris masuk sebuah sedan metalik di depan rumahnya.
Buru-buru dia berlari. Memburu nafasnya dan gerung sedan itu, jangan sampai kalah cepat. Ditendangnya pintu kanan sedan itu. Lelaki dalam mobil itu dia tarik keras-keras. Begitu lelaki itu keluar langsung dipukulnya sekerasnya.
"Anjing bau kencur. Suka bawa isteri orang, ya?!" Sengaja dikeraskan buat mengundang orang kampung. "Nggak ada perempuan lain, ha? Nggak bisa cari yang lebih muda, yang belum kawin?"
Pukulannya makin keras bersamaan datangnya banyak tetangga. Pemuda dari dalam mobil itu gelagapan melihat kemarahan di sekitarnya. Benar, yang dia takutkan bukan suami kekasihnya ini melainkan kemarahan massal yang sewaktu-waktu bisa meledak saat itu.
"Masuk. Masuk ke mobil mesummu ini dan jangan datang lagi."
Pemuda itu menurut. Isteri reporter mendatangi suaminya dengan lembut. Tegak di sana dan melayangkan tamparannya kuat-kuat.
"Bikin malu." Lalu masuk sedan itu lagi tanpa ragu, sementara suaminya masih terlongong sendiri.
Orang-orang bubar satu-satu. Lelaki reporter itu sebentar mengawasi sisa debu yang disemburkan knalpot sedan di ujung gang. Lelaki ini masih tak percaya dengan penglihatannya. Tak percaya dengan tingkah isterinya, dengan ketaatannya.
Jalan mulai lengang. Benar-benar lengang. Kantornya sudah lama sepi. Tinggal para penjaga malam bermain kartu, sekadar pengisi waktu. Teras samping kiri juga sepi. Mungkin sepatu-sepatu cantik itu sudah dapat peminatnya sendiri-sendiri.
Dia, reporter itu, cuma duduk saja menunggu angin meniup habis batang rokoknya.
"Nglamun lagi, kan?" Suara itu terdengar capek di telinganya.
"Ya."
"Tumben?" Sebentar menunggu angin kosong. "Tumben ngaku?"
"Ya."
"Kenapa? Capek lagi?"
"Apa katamu soal agama?" Mengisap rokoknya yang buntung separuh. "Kamu percaya?"
Dev menghela nafasnya pelan. Merapikan duduk dan menutup kakinya dengan selembar kain warna-warni. Menyulut sebatang rokok lagi. Mengembuskan asapnya pelan-pelan dan tipis sekali.
"Kerja lembur hari ini?"
"Bukan, yang ini pribadi."
"Oya?! Tak ada recorder?" Tertawa kecil, renyah tapi punya harga. "Wah, nggak terkenal dong?!"
"Aku bisa menulisnya nanti kalau kamu mau."
"Oke. Apa masalahmu? Ada apa di rumah?" Menunggu jawaban dari batu bungkam itu lagi. "Soal isterimu?"
"Apa kita pernah kenal?" Matanya mengawasi lebih tajam tiap lekuk kecantikan di depannya. "Darimana kamu dapat kamus teka-teki-silangmu?"
"Kita sudah pernah kenal." Kali ini benar-benar ada kebingungan dari teman barunya. "Tadi siang……dan aku pikir nggak ada kamus seperti itu. Tapi keluarga muda tanpa anak, biasanya memang masih suka pakai cincin kawinnya. Ini kota besar dan kamu lelaki muda, banyak yang pingin cari selingan toh. Tapi kamu…"
"Oke, oke. Makasih ceramahnya. Kita balik ke soal agama." Kali ini dia yang menunggu. "Gimana komentarmu?"
"Ada kaitan apa dengan masalah di rumah barusan."
Reporter itu mengeluarkan botol kecil dari kantong celananya.
"Sorry." Menenggaknya sedikit dan menawari Dev yang menyambutnya pelan. "Isteriku….."
Dev menutup mulut reporter itu dengan telunjuknya.
"Lebih baik, kita sambil jalan-jalan."
"Kemana?" Reporter itu mulai bingung.
"Kemana saja." Menjulurkan tangannya. "Devi."
"Bram."
Berdua mereka melenggang sepanjang jalan samping kantornya. Sepanjang jalan pusat penjual bunga dan warung-warung makan. Sepanjang jalan-jalan di kota mereka. Sepanjang perjalanan mereka masing-masing. Sepanjang malam. Malam itu Bram tahu bedanya menjual tubuh dan menjual perasaan. Malam itu Bram tahu arti menjual cinta dan menjual kenikmatan. Malam itu Bram tahu Devi menjual tubuhnya hanya demi menutup rasa sakit ditinggal mati kekasihnya yang tertembak polisi karena buron setelah membunuh seorang mucikari yang lama memerasnya.
Besoknya, siang datang begitu cepat. Sore Bram datang ke teras itu lagi. Dia mau ngobrol lagi dengan Devi. Mau memberitahu Devi kalau cerita perjalanan perempuan itu dan pandangan agamanya menarik perhatian editor tuanya. Dia juga mau mengatakan rencananya merangkainya jadi skenario film.
"Dari kemarin dia nggak pulang mungkin sudah mati. Itu juga lebih baik, utangnya pada orang-orang sudah terlalu banyak." Lelaki bersepatu licin itu menjawab ringan sambil mulutnya terus mengunyah permen karet.
Reporter itu melihat yang diam menunduk. Cuma si kecil berok-mini kemarin yang tetap tegak ke jalan sambil senyum-senyum.
2002
Empat sore tepat. Sebagian kaki berhak sepatu tinggi terjulur di atas tangga teras kiri kantor sebuah harian. Sebagian tegak bersandar pada bangku kayu seadanya. Sepasang sepatu kulit biasa bergerak-gerak resah di antara mereka. Sepasang sepatu kulit lain yang lebih mengkilat terinjak keras di ujung lain.
"Nunggu siapa ?" Sepatu hitam bersol rendah mengorek nada acuh-tak-acuh.
"Nggak. Nggak ada." Sepatu kulit depan bangku kayu jadi lebih resah, rokok di sela dua kakinya berputar-putar sendiri.
"Cari hiburan…..?" Sedikit merentang dan menutup lagi dalam tempo allegro.
"Eh. Emm. Bukan. Bukan." Pikirannya larut dengan ocehan editornya pagi ini.
"Lho, mau apa?"
"Istirahat…." Bersandar pada rolling door kantor itu.
"Kerja di sini?" Acuh-tak-acuh lagi. "Bagian apa?"
Harusnya aku yang banyak bertanya, pikir pemilik sepatu kulit itu. Tapi mungkin semuanya memang sedang terbalik. Dia juga merasa harusnya lebih banyak tahu soal-soal di lapangan, tapi editornya merasa sebaliknya. Orang tua itu ngoceh nggak karuan pagi ini. Harus begini, harus begitu. Tidak boleh ini, jangan itu. Hampir tiga jam penuh dihabiskannya cuma buat berceramah soal kerja di lapangan, padahal pemilik sepatu kulit itu tahu benar orang tua itu tak pernah terlihat ada di lapangan. Jangankan di lapangan, jalan saja susah.
"Hei, bengong…"
"Eh, ya-ya. Agama."
"Oo…wartawan agama?"
Cuma anggukan lesu yang menjawab. Suaranya sendiri sudah jauh tertelan pikirannya yang jengkel campur kesal, campur geli. Reporter macam apa yang kerjanya cuma ditanyai orang lain. Mustinya aku yang bertanya, pikirnya keras-keras, mustinya aku yang mencari tahu soal kamu. Tapi, apa menariknya agama buat orang macam kamu, yang tiap hari duduk-duduk di sini menunggu tamu. Tamu?! Hah, orang mana mau bertamu di pinggiran kantor macam ini. Mungkin lebih baik bukan tamu. Tapi, apa ya? Sebutan apa yang pas buat mereka. Aaa, mungkin…
"Suka ngelamun?"
"Nggak juga."
"Lha barusan." Selembar tissue menggosok jatuh.
"Capek."
"Kebanyakan lembur, ya?" Mengingatkan reporter itu pada suara ibunya."Apa….?"
"Dev…..!" Sepatu berkulit licin di ujung memberi tanda.
Sedan biru legam berhenti pelahan. Kaca-hitamnya melorot pelan.
"Ya!" Dev sepatu merah jambu cepat maju. Sebentar menengok pada sepatu kulit sebelahnya. "Sebentar."
Sepatu licin di sana mulai tak sabar, tapi mungkin si Dev itu terlalu berharga buat dibentak keras. Jadi mulut sepatunya saja yang naik turun. Si Dev mengajukan kakinya satu-satu. Membungkuk lembut, kepalanya sedikit masuk jendela sedan itu, mirip lidah panjang yang terjulur dari dalam. Panjang dan berkilat oleh matahari sore. Betisnya padat berisi, sedikit takikan di tengkuk mata kakinya.
Sepatu kulit di bangku tahu ada kecemburuan dari sorot mata banyak sepatu hak tinggi yang lain. Tapi satu yang bersepatu sol tinggi keperakan kelihatan tak acuh saja. Memainkan permen karetnya. Kaki jenjangnya tak tertutup oleh rok mini satin itu. Atau malah sengaja dibiarkannya terbuka. Reporter itu tidak terlalu suka memikirkan mereka. Kepalanya masih ngilu dengan makian atasannya. Sudah bulan ketiga masih belum ada perkembangan juga, seruan serak itu terdengar lagi. Kapan anda bisa maju, kalau begini terus. Bikin berita yang sederhana saja asal pembaca ngerti, ndak usah susah-susah bikin isu sendiri. Ndak usah menggurui pembaca, mereka itu lebih tahu dari anda. Kalau mereka lebih tahu, buat apa baca berita, bantah pikirannya sendiri.
Sudah tiga bulan dia tahu. Soal ada peningkatan atau tidak harusnya orang kantor lebih tahu, protesnya lagi, kenapa musti tanya. Kenapa nggak sekalian tanya gimana hidupku, gimana keluargaku, gimana isteriku. Abu rokoknya menimpa celana. Angin nakal meraupkan abu itu ke mukanya. Berdecak sedikit, lalu matanya ikut-ikutan nakal menguliti rok mini satin yang digoda angin barusan.
"Ee. Cari gratisan, ya?" Si kecil rok satin itu melempar permen karetnya.
Reporter itu mengelak kecil. Senyum sedikit dan menekuri diri lagi. Sebentar matanya menangkap bayangan Dev terlihat alot di samping sedan itu. Tak lama Dev pun menggeleng dan berlalu. Antrian di belakang yang sudah lama menunggu saling berebutan mencapai pintu birunya. Dev melirik arah rok mini sekilas, mengambil sebatang rokok, dan menyulutnya.
"Kenapa?" Reporter itu menyambung rokoknya juga.
Dev menggeleng sambil mengisap kuat-kuat. Meniupkan asapnya lagi dengan hembusan mahal.
"Agama, ya?" Pertanyaan mendadak itu tak sempat terjawab. "Apa menariknya?"
"Kamu sendiri gimana?" Nada desahnya agak tinggi. "Masih percaya?"
"Tanya? Ngejek?" Tarik lagi embus lagi. "Jangan-jangan kamu sendiri nggak percaya."
"Heh."
Mata reporter itu kosong lagi. Pikirannya mengalir ke sekian jalan yang sudah ditempuhnya. Ada senang ada susah. Tak satu pun bikin dia bertanya soal keyakinan macam itu. Tiga bulan ini jadi reporter halaman ini pun tak pernah bertanya buat apa. Tak semua bisa ditanya untuk apa, kata sebuah tulisan. Tapi katanya sendiri kenapa bukan cuma soal untuk apa. Mungkin ada yang salah di otak penulisnya, mungkin juga tidak. Mungkin cuma satu yang bisa menjawabnya, mungkin juga tidak. Dia tidak tahu kenapa mesti kerja di tempat ini. Bertemu perempuan ini. Bertemu orang-orang lain. Bertemu perempuan-perempuan lain. Bertemu isterinya yang mulai melepasnya akhir-akhir ini. Mungkin isterinya jengkel dengan kebebalannya mencari kerja. Mungkin isterinya mau dia berusaha lebih keras lagi. Mungkin juga isterinya memang sudah tidak menginginkannya lagi.
"Nglamun lagi?" Asap itu disemburkan ke teman barunya.
"Bukan." Setelah beberapa kali mengangguk-angguk.
"Lantas apa namanya?" Ditiupkannya lagi asap itu. "Merenungi takdir Ilahi? Apa bedanya? Kamu bisa hidup cuma dengan merenung-renung begitu? Kenyang? Kecukupan?"
Lelaki muda di samping cuma menggeleng lemah. Mungkin karena tak ada jawaban buatnya. Mungkin juga karena reporter ini bosan dengan pertanyaan-pertanyaan macam itu. Isterinya sudah terlalu sering bertanya seperti itu. Bahkan dengan sedikit keras. Dan yang paling menjengkelkan dari mengingat pertanyaan isterinya adalah ingatan soal tabiat isterinya yang mulai berubah. Enam bulan terakhir ini isterinya mulai tak banyak menanyainya lagi. Isterinya membiarkannya saja melakukan apa pun yang dia mau. Mau kerja silakan, mau luntang-luntung juga nggak masalah. Isterinya tak lagi protes ini atau menuntut itu. Harusnya dia senang, tapi tidak.
Reporter ini mulai bingung dengan kelakuan isterinya. Isterinya yang dikenal taat beragama, setidaknya menurut pandangan orang, mulai bergeser sedikit demi sedikit. Membiarkannya bukan karena ingin membebaskannya, tapi karena ingin membebaskan dirinya sendiri.
"Aku pulang dulu." Sepatu kulitnya mulai kurang jelas oleh sisa matahari dan sedikit lampu jalan."Wawancaranya lain kali saja."
Jalan mulai lengang. Selewat hari menjadi saat-saat paling mendebarkan. Dulu isterinya paling suka menegurnya soal sembahyang, sekarang tidak lagi. Dulu isterinya paling rajin membuatkan kopi, sekarang jangan mimpi. Tapi saat begini tetap saja menyisakan rasa kurang nyaman di kepala reporter ini. Sebagian orang di gangnya malah suka cemas pada jam-jam ini kalau-kalau jadi langganan pencuri motor.
"Hei?! Hei?!" Teriakannya mengejutkan seorang perempuan muda yang nyaris masuk sebuah sedan metalik di depan rumahnya.
Buru-buru dia berlari. Memburu nafasnya dan gerung sedan itu, jangan sampai kalah cepat. Ditendangnya pintu kanan sedan itu. Lelaki dalam mobil itu dia tarik keras-keras. Begitu lelaki itu keluar langsung dipukulnya sekerasnya.
"Anjing bau kencur. Suka bawa isteri orang, ya?!" Sengaja dikeraskan buat mengundang orang kampung. "Nggak ada perempuan lain, ha? Nggak bisa cari yang lebih muda, yang belum kawin?"
Pukulannya makin keras bersamaan datangnya banyak tetangga. Pemuda dari dalam mobil itu gelagapan melihat kemarahan di sekitarnya. Benar, yang dia takutkan bukan suami kekasihnya ini melainkan kemarahan massal yang sewaktu-waktu bisa meledak saat itu.
"Masuk. Masuk ke mobil mesummu ini dan jangan datang lagi."
Pemuda itu menurut. Isteri reporter mendatangi suaminya dengan lembut. Tegak di sana dan melayangkan tamparannya kuat-kuat.
"Bikin malu." Lalu masuk sedan itu lagi tanpa ragu, sementara suaminya masih terlongong sendiri.
Orang-orang bubar satu-satu. Lelaki reporter itu sebentar mengawasi sisa debu yang disemburkan knalpot sedan di ujung gang. Lelaki ini masih tak percaya dengan penglihatannya. Tak percaya dengan tingkah isterinya, dengan ketaatannya.
Jalan mulai lengang. Benar-benar lengang. Kantornya sudah lama sepi. Tinggal para penjaga malam bermain kartu, sekadar pengisi waktu. Teras samping kiri juga sepi. Mungkin sepatu-sepatu cantik itu sudah dapat peminatnya sendiri-sendiri.
Dia, reporter itu, cuma duduk saja menunggu angin meniup habis batang rokoknya.
"Nglamun lagi, kan?" Suara itu terdengar capek di telinganya.
"Ya."
"Tumben?" Sebentar menunggu angin kosong. "Tumben ngaku?"
"Ya."
"Kenapa? Capek lagi?"
"Apa katamu soal agama?" Mengisap rokoknya yang buntung separuh. "Kamu percaya?"
Dev menghela nafasnya pelan. Merapikan duduk dan menutup kakinya dengan selembar kain warna-warni. Menyulut sebatang rokok lagi. Mengembuskan asapnya pelan-pelan dan tipis sekali.
"Kerja lembur hari ini?"
"Bukan, yang ini pribadi."
"Oya?! Tak ada recorder?" Tertawa kecil, renyah tapi punya harga. "Wah, nggak terkenal dong?!"
"Aku bisa menulisnya nanti kalau kamu mau."
"Oke. Apa masalahmu? Ada apa di rumah?" Menunggu jawaban dari batu bungkam itu lagi. "Soal isterimu?"
"Apa kita pernah kenal?" Matanya mengawasi lebih tajam tiap lekuk kecantikan di depannya. "Darimana kamu dapat kamus teka-teki-silangmu?"
"Kita sudah pernah kenal." Kali ini benar-benar ada kebingungan dari teman barunya. "Tadi siang……dan aku pikir nggak ada kamus seperti itu. Tapi keluarga muda tanpa anak, biasanya memang masih suka pakai cincin kawinnya. Ini kota besar dan kamu lelaki muda, banyak yang pingin cari selingan toh. Tapi kamu…"
"Oke, oke. Makasih ceramahnya. Kita balik ke soal agama." Kali ini dia yang menunggu. "Gimana komentarmu?"
"Ada kaitan apa dengan masalah di rumah barusan."
Reporter itu mengeluarkan botol kecil dari kantong celananya.
"Sorry." Menenggaknya sedikit dan menawari Dev yang menyambutnya pelan. "Isteriku….."
Dev menutup mulut reporter itu dengan telunjuknya.
"Lebih baik, kita sambil jalan-jalan."
"Kemana?" Reporter itu mulai bingung.
"Kemana saja." Menjulurkan tangannya. "Devi."
"Bram."
Berdua mereka melenggang sepanjang jalan samping kantornya. Sepanjang jalan pusat penjual bunga dan warung-warung makan. Sepanjang jalan-jalan di kota mereka. Sepanjang perjalanan mereka masing-masing. Sepanjang malam. Malam itu Bram tahu bedanya menjual tubuh dan menjual perasaan. Malam itu Bram tahu arti menjual cinta dan menjual kenikmatan. Malam itu Bram tahu Devi menjual tubuhnya hanya demi menutup rasa sakit ditinggal mati kekasihnya yang tertembak polisi karena buron setelah membunuh seorang mucikari yang lama memerasnya.
Besoknya, siang datang begitu cepat. Sore Bram datang ke teras itu lagi. Dia mau ngobrol lagi dengan Devi. Mau memberitahu Devi kalau cerita perjalanan perempuan itu dan pandangan agamanya menarik perhatian editor tuanya. Dia juga mau mengatakan rencananya merangkainya jadi skenario film.
"Dari kemarin dia nggak pulang mungkin sudah mati. Itu juga lebih baik, utangnya pada orang-orang sudah terlalu banyak." Lelaki bersepatu licin itu menjawab ringan sambil mulutnya terus mengunyah permen karet.
Reporter itu melihat yang diam menunduk. Cuma si kecil berok-mini kemarin yang tetap tegak ke jalan sambil senyum-senyum.
2002
Subscribe to:
Comments (Atom)