Sunday, March 17, 2019

FLS 2019 Lomba Baca Puisi Azka Fiorenza SDN Burengan 2 Kota Kediri



Video ini hanya koleksi pribadi, bukan unggahan resmi dari pihak SDN 2 Burengan Kota Kediri. Sekaligus sedikit revisi atas judul dari pengunggah resmi yang "Salah", sehingga mengakibatkan video aslinya tidak ditemukan di mesin pencarian google ketika dituliskan kata kunci "FLS 2019 Lomba Baca Puisi". Saya sendiri sebelum ini menemukan video ini berdasarkan kata kunci yang salah, yakni FLN 2019 Lomba Baca Puisi Azka Fiorenza SDN Burengan 2 Kota Kediri.



Dengan mengunggah ulang video ini, saya berharap banyak pihak bisa belajar bahwa puisi, baca puisi, sastra, seni, dan hal-hal sederhana lainnya dalam hidup kita bisa menjadi viral. Sekaligus belajar untuk tidak mengulangi kesalahan memberikan judul video.





Salam,





Ai

I'm a blackhat. Do not try to find any white in my head.

Saturday, February 26, 2005

Kongsi

Selagi punya kesempatan buat jogging pagi, buat apa ditunda lagi. Toh sebentar lagi aku sudah tidak bakal punya waktu lagi buat jalan-jalan macam ini. Sambil menyusuri jalan sekitar rumah, bisa kunikmati juga suara orang-orang yang bakalan ramai melakukan pemilihan atas diriku. Dengan topi pantai ini, kukira tidak semua orang bakal mengenalku. Aku tidak berharap banyak, sekali pun yakin sekali bakal memenangi percaturan kali ini. Toh, targetnya juga tidak terlalu tinggi, cukup satu kursi saja di satu kota.

Belum beberapa langkah keluar rumah di warung depan gang sudah kudengar selentingan. Kata salah seorang pemuda di situ, kalau kelompok gabungan empat kekuatan rivalku dengan nama kongsi kebanggaan benar-benar dijalankan secara permanen, akan mengubah sistem politik Indonesia secara signifikan pascapemilihan Walikota/Wakil Walikota putaran kedua nanti. Kongsi permanen itu bakal berdampak terhadap terciptanya dua blok kekuatan politik diametral, yakni jajaran pemkot yang berkuasa dan oposisi formal dalam parlemen.

Kulirik pemuda itu, ternyata dia salah seorang aktivis sebuah LSM Pendidikan Sobirin. Pada dasarnya aku suka pada orang pintar macam dia, tapi tidak untuk duduk bersama satu meja. Apalagi di meja makan, aku tahu orang-orang macam mereka cenderung doyan makan dan kurang kerja. Tapi baguslah, setidaknya mereka suka bicara. Terutama yang aku suka, Sobirin bisa bicara apa yang aku mau tahu.

Aku jadi ingat beberapa peristiwa dari awal-awal ’98. Waktu seorang teman yang dikenal sebagai orang pintar juga, Herman atau Hermawan aku lupa tepatnya, dia datang ke sekolah-sekolah, mengipasi kompornya anak-anak muda di sana buat segera mendesak pelengseran Pak Tua – Walikota dari masa itu. Angin memang lantas jadi besar, berputar-putar di sekitar Kantor Walikota. Dan seterusnya lapuklah kayu jati kursi Pak Tua yang memang sudah mulai digerogori rayap di sana-sini itu. Waktu itu aku masih jadi KaSatpol PP di salah satu Kecamatan. Yah, siapa sangka sebentar lagi sudah giliranku naik panggung. Siapa sangka? Tak ada yang menyangka, memang, kecuali aku sendiri dan kau yang gila tentunya.

Sementara aku menggelibat di bawah pohon dekat warung itu, obrolan anak-anak itu makin ngelantur rupanya. Si Dayat Atmodimejo nyeletuk sambil menyambar sebatang pisang goreng. "Kalau para pejabat itu suka bikin kongsi, nantinya kota ini malah jadi bancakan segelintir orang saja, Rin. Padahal kongsi macam gitu belum tentu pas buat urusan pilihan Walikota begini ini. Malah bisa-bisa benturan sama gerakan massa."

Waduuuh, Dayaaaaat, Dayat. Kok jan pinter tenan kowe, batinku sambil pringas-pringis sendiri.
“Wah, ya ndak bisa gitu, Yat.” Sergah Shobirin, “Biar dikata pilihan langsung, tapi orang kita itu kan masih tradisional, masih bisa ditebak arahnya sama gerakan orang-orang atasnya. Orang-orang kita itu masih nggah-nggih sama bendoronya, kyaine. Sekali pun masih harus ditunggu bagaimana para bendoro itu merapatkan barisan sampai ke bawah." Kurang ajar, ternyata ada juga makhluk kucluk berpikiran miring yang tidak mempan program perubahan yang sudah aku janjikan macam begini, mana ludahnya nyembar-nyembur ke sana-sini lagi. Weeelhaaaaa.
Dia ini sambil berlomba ngremus pisang goreng dengan si Dayat, masih bisa bilang tidak terlalu sepakat dengan mereka yang menganggap kalau kongsi-kongsian itu tidak penting dalam pemilihan Walikota langsung ini. “Konfigurasi kekuatan politik yang mengkristal akan bergantung dari hasil pilwali putaran kedua nanti. Dengan syarat, pernyataan kongsi itu akan permanen bisa dibuktikan,” katanya sampai mulut berbusa-busa.

Masih saja nerocos, dasar gembol dobol, kalau Ega/Cak Kocim yang menang, maka akan muncul penguasa yang kuat semacam Barisan Nasional. Walaaaaah, jaaaaan, moncol temenan Arek iki. “Untuk itu, sangat diperlukan kekuatan politik penyeimbang di tingkat parlemen nantinya yang akan mampu mengimbangi dan mengawasi kekuatan kongsi itu, dalam bentuk oposisi,” kotbah Sobirin makin menjadi.

Sebaliknya, kalau Aku dan Cak Ucup yang unggul, praktis parlemen bakal didominasi oleh kekuatan oposisional. “Yang berbahaya, nanti pas Sss-Cup menang dan mereka tidak menyadari bahwa bagaimana pun tetap perlu merajut kongsi dengan kekuatan politik formal dalam bentuk parpol, pemkot akan sangat tidak efektif. Kekuatan oposisi di parlemen akan terus merongrong pemerintahan yang berkuasa," tuturannya yang benar-benar mirip drama radio lama tutur-tinutur membikin semua pendengarnya cuma bisa manggut-manggut.
“Yaaa, saya se, tidak berharap banyaaaak. Moga-moga saja kongsi-kongsian itu bukan sekadar buat bagi-bagi kuasa. Tapi, benar-benar dilakukan dengan berorientasi bagi perkembangan demokrasi kita dalam jangka panjang," tegas Sobirin dengan lagak aktivisnya.
“Kalau gitu sama saja makan simalakama, Cak,” celetuk Bowo si tukang koreksi buku koleksi Balai RW.
Celetukan itu tak membuat Sobirin jadi galak, bagai diplomat ulung dia mengelak. Dia malah menegaskan pada situasi sekarang tidak penting mengarahkan pilihan pada calon A atau B. “Jauh lebih penting dari itu, kita memberi wawasan kepada publik tentang implikasi-implikasi politik yang akan muncul ketika menjatuhkan pilihan pada salah satu calon. Rakyat akan tahu dampak yang muncul kalau ia memilih A atau B. Itu yang terpenting,” ujarnya.
“Wah, kalau orang-orang atas pada ngikuti cara sampeyan dan nggak perduli sama sikap rakyat, bisa-bisa tambah banyak yang anti partai. Padahal partai itu kan alat demokrasi.” Ayo Dayaaaat, jangan kalah cerdik sama Si Birin itu. “Jadi, sikap politik yang ditunjukkan salah satu kelompok buat netral adalah pilihan yang bijaksana dalam situasi politik saat ini,” lanjut si Dayat tak kalah dahsyat menggasak gorengan. “Kalau mereka cuma ngurusi bagi-bagi kursi dan rezeki, jangan kaget kalau nantinya mengental sikap anti partai. Sekarang saja bibitnya sudah muncul.”
“Gila, bener-bener gila. Kongsi macam begitu itu risikonya tinggi, lho. Dalam teori politik klasik seperti dalam buku State in Theory and Practice tulisan Harold J. Laski dikatakan partai merupakan salah satu instrumen demokrasi, dengan sejumlah fungsi yang melekat seperti agregasi, artikulasi, rekrutmen politik, dll.," ujarnya Dayat tanpa basa-basi menyambar rambak goreng. Kremus, kremus, kremus.

Akan tetapi, lanjut Dayat di balik kremusan rambaknya, dalam kenyataan politik di negara kita partai itu sekadar jadi kendaraan politik untuk ambisi pribadi. “Saya cukup tahu bahwa dari tingkat nasional, provinsi, sampai kabupaten/kota biasanya sikap pimpinan partai dipengaruhi oleh masalah lain di luar politik. Ada yang merasa diuntungkan dalam masalah hukum yang dihadapinya atau ada juga yang merasa terancam oleh jeratan hukum yang dihadapinya. Ujung-ujungnya hal itu berimbas pada sikap politik yang bertentangan dengan hakikat demokrasi itu sendiri," urai Dayat. Wah, wah, wah, benar-benar salut buat Dayatku Dahsyat.
Akhirnya Dayat menegaskan bakalan sulit mengarahkan orang-orang dari tingkat kecamatan ke bawah buat bersikap sama dan sebangun dengan sikap elite di provinsi, kota/kabupaten, apalagi nasional. “Pengalaman pemilu legislatif dan pilwali putaran awal menunjukkan demikian,” ujarnya.

Akhirnya aku makin tahu apa kira-kira yang ada di pikiran orang-orang yang bakal aku atur ini. Sebenarnya ada atau tidak adanya kongsi itu bukan terlalu soal bagiku. Sebab aku sudah cukup lama menyiapkan diri buat perhelatan ini. Ya, kira-kira sejak Pak Tua itu turun, lah. Tidak sulit, kok, caranya. Toh, Pak Tua itu juga musti belajar dulu selama 20 tahun dulu pada si Abang Besar, sebelum akhirnya berkuasa selama lebih dari 6 periode. Dan aku? Aku sudah menyiapkannya kira-kira dalam tempo yang sama dengan Pak Tua, kau tahu itu. Ingat, kan? Bagaimana aku selalu luput dari segala cobaan dan hukuman. Singkatnya, aku sangat yakin dengan semua persiapanku ini. Tak perlu khawatir, nanti namamu pasti ikut tercatat dalam buku kebaikan di kota ini. Kalau tidak, bisa saja tercatut dalam buku kebusukan.

Soalnya, kenapa aku agak sewot dan musti ikut-ikutan bikin semacam kongsi adalah usaha mengganjal Ketua Parlemen Kota yang sangat licin itu. Kau tahu, toh, dia lahir dari jenis paling berlendir. Luput dari sana-sini, malah pakai pura-pura mengancam kader-kadernya di tingkat kecamatan lantaran ndak satu suara sama pilihannya. Ah, mustahil itu benar-benar dilakukannya. Itu kan cuma caranya menarik simpati kawan sekongsi saja. Tahulah, tahu. Tahu, kan, bagaimana pintarnya dia mengulur waktu karena kasus susu tempo hari? Dengan begitu kan dia bisa memainkan arah angin.

Ah, sudahlah. Lebih baik lanjutkan jalan-jalan pagi ini. Sebelum pelanggan warung ini ribut, karena calon walikota mereka ikut nimbrung.
****

Aha, akhirnya kau datang juga. Biar cuma lewat mimpi buruk begini. Setidaknya aku bisa mendengar kabar darimu, kalau kemenangan cukup gamblang. Tiga puluh banding dua puluh, wah-wah-wah. Coba kau datang lebih awal, pasti ada bir temulawak di kulkas buat pengganjal lever hepatitismu. Ayolah, senang-senang sedikit. Lupakan uban dan bekas binimu yang gemar berpolitik itu. Ayo.....200904

Friday, April 09, 2004

Mimpi Buruk







Tiba-tiba dia datang, membawa tas punggung besar dan seonggok kelelahan dari lorong gelap pondokanku. Salam pertemuan menampar kesadaranku dan mengantar kami ke jalan depan. Lalu menikung ke meja penerimaan wisma tamu BKKBN.

Aku tak terlalu ambil perduli pada beberapa mata yang melempar prasangka. Waktu penerima tamu itu mengambilkan kunci kamar, dia mulai angkat bicara.

“Harusnya aku dapat layanan gratis di sini.” Matanya menatapku lekat, aku tak bereaksi. “Aku ‘kan, Pengda PKBI.” Sahutnya pada kelambananku.

“Apa itu?”

“Pengurus daerah.”

“Apa itu PKBI?”

“Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia.”

Kusadari, otakku ternyata lamban. Semula kukira itu semacam perkumpulan para peminat bahasa. Bodoh memang. Kamar no. 20 ada di lantai dua. Tanpa tivi dan ac. Sebuah kipas angin duduk digantung terjungkir pada dinding di atas salah satu ranjang. Dia mulai melolosi diri dan kuikuti iramanya. Dengan caranya sendiri, dia minta kipas diputar sedang saja dan mengarah penuh kepadanya. Dia masih hapal kalau aku alergi kipas angin, membuatku sulit tidur. Kecuali mungkin beberapa yang lekat dengan tubuhku.

“Aku sampai lupa wajahmu.” Matanya terus saja seperti mencari-cari sesuatu di mukaku. Sesaat kemudian kamar mulai meriah dengan cerita-cerita dan kejengkelannya. Terutama kejengkelannya pada sikapku yang selalu tak acuh. Ditunjukkannya hampir semua hal yang dirasa bisa membuatku kaget atau terkesima untuk kembali kecewa sendiri. Sebab pikiranku masih dipenuhi kebingungan dengan kedatangannya ini. Aku tidak sedang memegang uang, sepeser pun tidak. Aku berpikir keras mencari cara untuk bisa menelponmu. Tapi kemudian pikiranku larut dalam permainan kami.

Betapa pun aku masih seorang suami yang cukup normal dan ingin membuatnya senang, setidaknya dalam permainan ini dengan sepenuh rasa. Aku jeri memikirkannya, kalau-kalau kami melakukan ini sebatas karena hubungan suami-isteri. Aku mau melakukannya dengan jujur. Dan aku mau, dia menangkap dengan jelas kejujuran itu.

“Aku akan keluar.” Cetusku akhirnya, setelah dia mulai disapu kantuk berat. “Mau cari makan dan telpon Ary.”

“Tak perlu telpon Ary. Besok saja, aku terlalu capek buat ketemu teman-teman.” Katanya lemah.

“Tadi katanya mau ketemu Ary. Bagaimana nanti kauceritakan pertemuan kalian pada Esti?” Kusebut nama teman barunya yang katanya sangat tergila-gila kepadamu itu, biar aku ada alasan yang pantas kalau misalkan nanti kau datang. “Ya sudahlah. Kalau begitu aku beli makan saja.”

Kubiarkan dia pulas dengan polosnya. Apakah setiap orang tidur selalu polos mirp bayi? Entahlah, tapi menurutku begitulah dia. Sedang mereka yang hidup melangkah tanpa kejujuran seperti yang sudah dijanjikan. Di wartel depan wisma aku sudah menelponmu. Sedang sibuk rupanya, maaf mengganggu.

Di warung kopi Pak Sodik ada beberap teman, sebagian yang sudah tahu segera main mata dan kata. Aku tanggapi ringan-ringan saja. Sepulang beli rokok dan shampoo aku jalan ke pondokan mengambil beberapa barang yang kami perlukan. Cari makan dan balik ke wisma tamu. Aku balik ke kamar dengan keyakinan bahwa kau akan datang malam ini di sini.

Tergopoh-gopoh dari mimpi dia bukakan pintu. Sambil tiduran diawasinya segala gerak-gerikku. Seperti mau meyakinkan ingatannya padaku. Melihat aku khusyuk dengan makananku – mungkin kelihatan seperti orang kelaparan – dia geleng kepala pelahan lalu minta disuapi. Minum sedikit kopi dan bersandar pada bantal lagi.

Sekarang semuanya rapi, aku tinggal mengisap sebatang rokok dan menunggu kau datang. Biasanya deadline antara jam satu sampai jam dua, bukan? Dia sudah pulas lagi, setelah lelah menceritakan pengalaman dan teman-temannya di Korea dan Jepang sambil kupijati. Tinggal aku sekarang yang gelisah menunggu-nunggu.

Setiap kudengar suara motor dengan gema tertentu aku jadi berharap-harap cemas. Beberapa lama aku cuma termangu-mangu. Tapi kau belum datang juga. Lemas oleh irama yang hampir setahun lewat tak kami rasakan itu dan oleh kecemasanku sendiri, kubawa langkah-langkah kecil menuju ruang tivi. Dari salah satu saluran yang ada, kunikmati suguhan Dangerous Beauty. Kuikuti dua pertiga film itu sampai muncul teks Warner Bros. Tanda-tanda kedatanganmu masih tak tercium. Aku pun masuk kamar. Lalu kuembus-embuskan permainan baru, sekali lagi, lebih bersemangat lagi. Malam ini benar-benar penuh kejutan melelahkan.

Karena jendela menghadap ke timur, maka pagi kami pun terasa sangat cerah. Biar pun mendung, tapi siraman cahayanya bisa membuat mataku perih. Semalaman aku sulit tidur, karena tidur tanpa selimut di bawah kipas angin keparat itu. Demi setan atau jembalang, sarungku dipakainya menguasai ranjang sebelah semalaman.

Aku segera bangkit dan pergi mandi, seperti disengat ingatan yang tajam bahwa aku harus menukar 20 dollarnya ke money changer. Keliling di beberapa tempat, dua lembar puluhan dollar itu baru bisa tertukar. Waktu kembali dia sudah keluar dari wisma dan sibuk meladeni pertanyaan beberapa teman soal kesibukannya selama ini. Selesai makan dia minta waktu buat bicara. Kali ini pasti masalah lama kami.

Benar juga, dia minta kejelasan rencana kami. Tapi mau bicara dimana? Bahkan di kamar pondokanku pun tak ada privasi. Kami cari-cari tempat, akhirnya malah ke warnet perpustakaan kampus.

“Kita ini sudah gila rupanya.” Suaraku seperti angin lalu, seperti mau bicara sendiri. Kami main di meja masing-masing.

“Kenapa cemberut?” aku sudah selesai dan duduk di sebelah kursinya.

“Kamu ini keterlaluan.” Dia mulai menahan sesuatu di matanya. “Aku jauh-jauh datang ke sini, dan kita cuma nge-net.” Aku tak bisa menjawab lagi.

Keluar dari warnet, kami putuskan buat cari makan. Biasanya, kalau sambil makan obrolan kami jadi bisa santai, tanpa emosi berlebihan. Tapi aku memang keparat, bahkan tempat makan pun aku sudah tak mengenalnya. Akhirnya kami cuma melahap tahu-telor si gondrong di pojok jalan depan gerbang barat kampus kita.

“Jadi, kamu nggak bisa bantu kiriman buatku sampai lulus nanti?” Matanya mengamat-amati tahu-telor di piringku.

“Ya...” Ini suapan yang tersisa dan leherku hampir tercekik tahu. “Kamu tahu soal itu.” Bukankah, harusnya dia lebih tahu soal mengatur keluarga dari pengalaman workcampnya.

Kami masih harus menelpon Ibu di kampung dan Eyang jauh dari garis Ibu, yang selama ini menampung dia di kotanya sekolah. Dari percakapan dengan Ibu dan Eyang, dia merasa dipersalahkan karena sering pergi tanpa pamit. Baik Eyang maupun Ibu mengeluhkannya juga kepadaku.

Ini jadi batu sandungan buatnya. Dia sudah terlalu sering, bahkan bisa dikata sejak kanak-kanak, berseberangan dengan pendapat dan sikap Ibu. Dan ini juga menjadi tekanan tambahan buatku.

Aku berusaha mendukungnya, sambil terus meyakinkan bahwa aku harus tetap berjalan di jalurku. Artinya, untuk sementara waktu, kami memang harus tahan hidup terpisah. “Aku berharap kita bisa bertahan sampai nanti.” Leherku mulai tercekat sesuatu yang pekat dan jarang kurasai. “Tapi kalau dalam perjalanannya nanti, kamu tidak tahan lagi, entah karena punya sandaran baru atau apa, aku tidak akan menghalangi jalanmu.”

Dia hanya mengalihkan pandangan pada dua bocah yang asyik main bola di rumputan sekitar tiang bendera depan bekas gedung rektorat.

“Setelah ini yang penting kamu jaga hubungan baik dengan keluarga, soal aku jangan terlalu dipikir dulu. Perihal Eyang Tyas dan Ibu, jangan terlalu dipikirkan lagi. Toh, kamu sudah sering beda pendapat dengan Ibu.” Suaraku putus-putus. “Kamu masih harus jalan jauh, hati-hati saja di jalan.”

Dia tetap bergeming. Ada benarnya juga. Toh, aku pun tak bisa berbuat lain, kecuali memberikan omongan. Didengar syukur, tak didengar pun sudah biasa.

Aku jengah. Bukan karena marah pada sikapnya, tapi aku benar-benar merasa tak tahu harus bagaimana lagi. Sulit juga menghadapi rasa salah laknatku, serumit jalinan rasa kami yang terkutuk ini.

“Kamu mau lihat aku nangis...” Putus lagi di leher, anjing!

“Nggak, kenapa?”

“Menurutku, lebih baik kamu berangkat sekarang.”

“Ya.” Dia pun bersiap.

Beberapa kali angkutan yang musti ditumpanginya lewat begitu saja di tengah kebisuan kami. Sampai akhirnya dia hentikan salah satunya. Dia cium tanganku sebagai tanda pamit dan kepatuhan. Sampai ketemu lagi, aku berjanji pada diri-sendiri.

Sekilas matanya leleh, jadi senja yang makin merah saga. Leher dan rahangku mengertap. Betapa aku telah membakar senja dan kilau keemasannya. Betapa kesrakat jalinan rasa ini. Betapa sempurna kebinatanganku lata. Berjalan memunggungi matahari aku adalah ular tak berjiwa. Datanglah, aku menunggumu.

Sebelum lebur rasa gelisah pekatku, sebuah motor datang. Bukan kau, melainkan seorang dosen yang dulu sangat akrab dengannya membonceng adiknya yang juga teman akrab dia. “Lho, gimana kabarnya adik saya?” Ah, ternyata berhenti juga. Padahal semula kukira mau sekedar menyalami saja.

“Oh, baru saja dia berangkat. Mungkin masih di pangkalan angkutan.” Gamang, tapi mau apa lagi.

“O, ya sudah. Coba saya kejar dulu, tapi jangan lupa salamnya juga ya?”

“Ya, Mbak.” Lebih lemah dari angin lewat.

Sampai sore aku masih anjing yang melolong ngilu dengan lidah terpotong. Kau pasti ingat Silent Tongue. Begitu lepas Maghrib barulah aku bisa mengambil waktu buat menulis surat buatmu. Siapa tahu ingatanku tak cukup lengkap buat menceritakan semuanya padamu.

Hampir jam sepuluh suratku baru kelar. Kutunggu kau di pojok jalan itu. Kau datang juga akhirnya, sebelum gelas teh pertamaku tandas. Selebihnya kau tahu sendiri. Pulangnya, mungkin karena masih terpengaruh oleh gelibat rasa itu aku sempat lupa membawa motor pinjaman itu.

Siang ini setelah segelas kopi di warung Mak Mursinah, aku sempatkan diri ke warnet lagi. Mencari kabar dari semua lamaran kerja yang aku kirimkan, sambil mengirimkan beberapa tulisan. Kubaca pesan messenger darinya, minta dicarikan disketnya yang kemarin ketinggalan. Dia berjanji akan datang lagi tanggal 26. Lalu kukirimkan isi disketnya lewat e-mail. Biar dia bisa lebih cepat bekerja, pikirku.

Salah satu isi disket itu sebuah file.foto kiriman dari seorang lelaki bule yang terlihat sedang dipeluknya dari belakang. Dia sendiri tersenyum bangga dengan topi bagus workcampnya, tanpa pakaian lengkapnya. Tak ada kerudung senja di sana. Betapa sempurna mimpi burukku. 080204

Kabut Ketakutan







Lapar. Itu saja yang kugelisahkan. Sepertinya tak ada soal lain lagi. Tiap kali perutku mulai berkeriut, bayangan-bayangan mengerikan mulai mengorek-korek ketakutanku yang lembab. Seperti bakal ada sosok paling menyeramkan yang siap menyergap belakang tengkukku. Sesudah bayangan-bayangan itu berkelebatan tak ada lagi yang bisa kuperbuat. Tiba-tiba tubuh kecilku yang biasanya lincah pun jadi lumpuh. Hanya diam, pasrah menunggu waktu.

Lamat-lamat kudengar detik jam bertingkah satu-satu. Jam beker milik Deny bertengger di atas meja yang penuh dengan perlengkapan militer kegemarannya. Deny memang bisa dibilang sebagai army-mania, maka wajar kalau tongkrongannya terlihat sangat army-look. Semula aku menganggapnya hanya seperti kebanyakan orang muda seumurnya. Tapi setelah menumpang tinggal di rumah petak kontrakannya, yang persis kandang ayam ini, barulah aku tahu benar kalau Deny bukan sekadar mau kelihatan jantan dengan dandanan ala tentara itu.

Deny memang gila, tergila-gila tepatnya, pada segala yang berbau tentara. Deny pernah mendaftarkan diri sebagai perwira, tapi gagal karena ada lubang di gerahamnya. Tak cuma pakaian seragam, kaos oblong dan sepatu lars yang dia punya. Perlengkapan lain dia punya, termasuk sebuah teropong dari jaman perang pun disimpannya. Dan semuanya kini mengurungku di ruang tengah yang mirip kamp konsentrasi ini. Di atas kasur busaku tergelar jala hijau tua yang seperti mau menjerat kelaparanku.

Kulirik pullbed hijaunya buat mengalihkan mata dari jam beker sialan itu. Jarum-jarum jam doreng itu makin lama makin bertingkah layaknya bayonet menyudet-sudet perutku. Kulirik terus sambil merutuki kebodohan arti sebuah harga diri berlebihan.

“Kenapa tadi tak pinjam saja padanya?” Bayangan Addek, perempuan berwajah mungil yang kini lengket denganku, berkelebat dan tersenyum lucu seperti tarian kupu-kupu liar di antara kelopak-kelopak mawar yang sedang mekar dan duri-duri segarnya mencakar perutku.

Tapi, aku belum pernah sekali pun meminjam uang pada perempuan. Sekalipun sudah melewati banyak hal bersama dalam enam bulan terakhir ini, dari satu tahun perkenalan kami, bukan berarti aku bisa dengan gampang bilang kalau mau pinjam uang kepadanya. Sekalipun aku tahu benar kalau jatah bulananku tandas setelah menemaninya jalan-jalan seharian. Jadilah aku tertidur di bawah kabut ketakutan pada para agen-agen perut yang dalam bayangan tampak begitu beringas buat merenggut nyawaku, meski tidak sesadis gambaran yang pernah kudengar dari rintihan panjang Kenyut Plekenyun.

Lelap. Bersama bayonet jam beker keparat dan ingatan lamur pada kisah seorang penulis Jepun. Pada bagian akhir kisahnya tertulis bahwa...

Akuranggawa dipandang sebagai seorang sastrawan terkemuka di Jepun. Banyak yang menganggapnya sebanding dengan Gus tf. Faustnerd, penulis Galia yang terkenal dengan novelnya Mama Bonary. Karya Akuranggawa yang terkenal antara lain:.....

Ia meninggal pada tanggal 24 Juli 1927 karena bunuh diri. Sebab-sebabnya tak dapat diketahui, walaupun ia sendiri pernah mengatakan –seandaianya ia bunuh diri– adalah karena kabut ketakutan.

......Aku takut bahwa malam akan membinasakan diriku yang sekarang dan mengubahka menjadi seorang pembunuh celaka. Membayangkan saat tangan ini menjadi merah tua oleh darah! Kutukan macam apa yang nanti bakal menimpa diriku! Dadaku takkan begitu teriris nyeri andai saja aku membunuh seorang musuh yang kubenci. Tapi, malam ini aku harus membunuh seorang lelaki yang tak kubenci........



Orang boleh tak tahu sebab Akuranggawa membunuh dirinya sendiri pada hari ke-23 bulan ke-4 dan tahun ke-35 masa hidupnya, tapi sedikitnya aku yakin bahwa ini bukannya sebuah kebetulan. Sebab 45 tahun sesudahnya, jiwa ketakutan itu menghidupi janin kel-5 dalam perut Ibu, tanggal 22 Juli 1972. Mungkin, sebab aku sendiri tak terlalu yakin dengan tanggal lahirku.

Perihal penggalan tulisan Akuranggawa itu mungkin semacam pernyataan pribadi. Tapi, malam telah mengubahnya jadi bisikan-bisikan tajam di telingaku yang mendadak diserang demam. Dan setiap kali demam begini, aku selalu dilimpahi mimpi-mimpi yang tak kumengerti.

Serombongan tentara musuh memburuku seperti binatang. Teriakan-teriakan keras, derap sepatu lars, dan ancaman kematian benar-benar membidikku sebagai binatang. Sampai menyelami sungai-sungai yang mengalir deras. Dalam arus hijau lumut yang menghimpit aku masih binatang buruan, binatang malam. Di belakang, tentara kuning terus merangsek. Mengejar tanpa ampun.

Malam juga yang selalu menyambung hidupku. Di tengah perburuan itu mataku lemah menyala dengan nafas terengah-engah. Di antara seperangkat alat perangnya Deny pada meja, masih bertengger jam beker dengan jarum-jarum bayonet itu. Dua seperempat, belum setengah jam sejak aku terlelap kengerian mimpi sendiri. Kasur busa ini menyerap hampir seluruh tubuhku. Basah keringat membentuk garis tubuh yang terbenam dalam-dalam. Leherku tercekat hawa panas yang sangat mencekik.

Di sudut meja perkakas Deny, dekat lubang keluar tanpa daun pintu itu, berjejer jerigen-jerigen air. Aku tak yakin apakah air itu sudah dimasak di atas kompor serba-gunanya atau belum. Seharian Deny tak di rumah dan kompor batu-bata yang sekaligus tempat pembakaran sampah, pengering jemuran di lorong rumah, dan pengusir nyamuk itu sama sekali belum kugunakan. Aku malas menyalakan kompor dan memilih menyerahkan masalah gorong-gorong tenggorokku ini pada air ledeng dalam jerigen yang biasa dibawa Deny dari kamar mandi kampus. Siapa tahu juga dengan begini agen-agen perubahan dalam perutku bisa diredam.

Seekor ayam jago berkoar-koar di kejauhan, disahuti ayam-ayam jago lainnya. Seorang anak tetangga merengek, mungkin terbangun dari mimpi buruk sepertiku. Setengah jerigen air memasuki lambungku yang masih teriris-iris. Lemas oleh dehidrasi berlebihan kucoba meringkuk lagi.

Tapi, pikiranku sama sekali tak berperasaan. Dalam keadaan begini malah mengajak jalan-jalan mencari asalnya mimpi-mimpi bejat yang datang setiap kali demam menyerang. Ingatanku membawakan adegan-adegan demam waktu kecil dulu. Waktu menu makanku berubah jadi bubur gurih atau nasi pecel dari sekadar nasi bergaram atau berkecap saja. Juga pada waktu-waktu demam yang lain ketika tidurku disatroni makhluk-makhluk kuning berseragam perang. Memburu dalam hutan, sawah, dan sungai-sungai yang dalam.

Menyelami sungai itu lagi di antara lumut, batu, dan ikan, mengantarku ke sebuah telaga anakan. Menyembulkan kepala, segera kuambil nafas sebanyak-banyaknya. Kusadari benar sekelilingku. Ini bukan telaga anakan, lebih tepatnya sebuah kolam yang mengurai diri lewat celah bawah tanah yang semula kukira sebatang sungai yang teramat dalam. Entah dimana mata airnya, yang kutahu di depan sana terdapat jembatan yang melengkungkan punggung ke arah sebuah paseban. Lalu sebuah rumah kayu jauh di belakangnya. Di atas, langit tampak biru di sela daun-daun sakura dengan rerumpun bunga yang sedang mekar. Batang pohonnya nampak tua dan kokoh di belakang rumah kayu itu.

“Keindahan.” Pikiranku nganga. “Dan aku ada di dalamnya.”

Aku segera melompat ke jembatan dan hampir mencapai lidah tangga paseban waktu para pemburu itu sigap mengurungku. Semua membawa pedang panjang bermata satu. Seorang dari mereka menatapku dengan pandangan mata srigala.

“Boleh saja kau memilih lari ke rumah ibumu.” Seringai tajamnya mengeluarkan desis yang tak kupahami. “Tapi kau tetap harus mati.”

Kuawasi sekelilingku, gerakan mereka satu per satu. Kuperhatikan mata pedang mereka berkilatan ditimpa selarat cahaya matahari yang sempat menembus daun-daun, bunga, dan rerantingan di atas sana. Kilatan tajam mata pedang dan kilau cahaya pada kolam, menyadarkan mata pada tubuhku. Jubah berlengan panjang warna gading membungkusku. Dan waktu sekilas kulihat bayangannya di atas kolam, tampaklah peci menjulang berpangku pada helai-helai rambutku yang terurai sampai ke pinggang. Saat itu aku mengira kalau parasku lebih cantik dari tampan.

“Seppuku!” Seringai itu melemparkan sebuah pedang sepanjang lengan ke lantai kayu jembatan. “Sebagai lelaki kau harus menerima ini.”

Sekalipun tak mengerti bahasa kuningnya, dengan melemparkan pedang ini pun aku bisa tahu kalau dia menyuruhku mati. Kematian di tengah keindahan, bagus juga. Tapi, tanpa perduli pada siapa pun yang telah meminjamkan takdir dengan tubuh cantiknya ini aku tak mau terima begitu saja kematianku.

“Tidak.” Kuawasi lagi sekelilingku, setelah melemparkan kata yang tak kupahami sendiri maksudnya. “Aku tak akan mati....”

Tiba-tiba mereka merangsek ke arahku. Seketika kusapukan barang yang sedari tadi cuma kurasai saja gagang kayunya. Rupanya cuma selembar kipas besar bersepuh warna biru dan sebaris aksara yang tak kumengerti tertera di dadanya. Lalu angin menderu. Daun-daun dan rerumpun bunga bergoyang dari keagungannya dan menebar diri ke sini seperti mau mengubur sebuah mimpi.



Waktu berjalan dalam kerjapan mata tanpa cahaya. Waktu kubuka mata terasa sekali tubuhku tinggal remah-remah dan seperti sedang berayun-ayun di antara ombak-ombak besar. Jerit ketakutan dan decak beberapa mulut terdengar samar. Tanpa sisa, tubuh kecilku sekarang terhampar di atas papan kayu berbalut selembar pakaian usang. Sebuah kamar kayu aku tahu dan aku pun sadar ini di atas lautan, cukup dengan menandai rasa mualnya yang khas ini.

“Minggir! Minggir....” Seorang lelaki setengah baya menyeruak kerumunan. “Pergi! Pergi!!! Aku akan melindunginya dengan nyawaku. Dia sakit, belum lagi mati. Kalian jangan harap bisa memangsanya.”

“Dia cuma penumpang gelap...” Seorang lelaki lain berdecak dengan suara parau dalam bahasa orang-orang perahu.

“Tidak! Tidakkah kalian sadar kalau kita juga penumpang gelap di laut ini?”

“Tapi, dia ini lain dari kita...”

“Tidak. Kita semua sama. Aku tahu, kalian bisa gila karena lapar dan haus ini. Tapi tidak begini caranya....tidak....” Tiba-tiba suara lelaki paruh baya itu melemah. Aku cuma bisa mendengarkan dari kegelapan, tubuhku sudah terlalu lemah buat semua ini. Terlalu lemah, juga buat mencari jawab atas perpindahanku dari tentara kuning ke perahu ini. Terlalu lemah buat menyadari kepergian kerumunan itu satu per satu.

“Air.” Bahkan terlalu lemah buat mengenali kata-kataku sendiri.

Lelaki paruh baya itu terhenyak dari kelemahannya sendiri. Mengangkat kepalanya dari papan kayu tempat tubuhku tergelar ini. Sejenak menatapku dengan pandangan kosong, lalu mengerjap kaku.

“Kau sudah sadar? Kau bilang air?” Mata itu makin tak bisa dipercaya. “Kau ini, sebangsa kami juga rupanya.....”

Mata cerah itu mulai menengok ke bawah, pada botol di genggamannya. Beberapa saat dia ragu, tapi kemudian menyodorkannya juga.

“Sudah beberapa hari ini kami kehabisan bekal. Air terakhir sudah habis kemarin.” Mata cerah itu menerawang di tengah ayunan gelombang. “Ini mau kuberikan pada anak-anakku. Tapi kalau kau mau, minumlah sedikit...”

Lalu dia ceritakan dua anaknya. Kematian isterinya di laut ini, akibat wabah malaria. Kematian beberapa awak lain. Peristiwa pembakaran daging teman yang sakit keras saat mereka terdampar di sebuah pulau liar, karena lapar tak tertahankan. Dia sendiri seorang dokter yang ikut melarikan diri dari negerinya. Di dera wabah penyakit, kelaparan dan rasa haus yang mencekam lelaki ini mencoba bertahan. Barusan anak-anaknya mengeluh kehausan. Sebagian temannya nekad minum air laut dan mati tercekik sendiri. Diam-diam di ujung buritan, jauh dari jangkauan mata anak-anaknya, dia paksakan diri mengeluarkan urine yang tersisa.

“Minumlah.” Bisiknya seperti angin laut yang mengambang di udara berkabut. “Jangan mati karena lapar dan haus....”

Kukuatkan diri meneguknya sambil menutup jalan udara di tenggorokan. Aromanya mungkin mengganggu, tapi sebagian orang percaya pada adanya terapi air seni. Tapi tetap harus menyisakannya buat kedua orang anak dokter ini.

Kupejamkan mata lagi setelah lelaki itu keluar dari kamar. Aku mau secepatnya keluar dari kamar ini. Aku mau segera meninggalkan ayunan ombak memabukkan ini. Aku mau melompat dari bau tajam yang mengambang dalam mulutku. Aku mau meninggalkan kabut ketakutan ini. Aku masih terapung-apung waktu terdengar suara gedoran-gedoran keras pada pintu. Semakin keras, makin mendorong tubuh lemasku ke arahnya.

“Tidak kuliah?” Suara perempuan berkaca-mata kecil itu masih dengan nada tinggi setelah berteriak-teriak barusan. Kali di depan kontrakan Deny menyebarkan aroma yang khas. “Kau sakit?”

Ampun, jangan bawa aku kemana pun hari ini.

100204
Bila Senja Membuka Hari





Mataku seperti pagi yang tak pernah sepi dari embun dan matahari. Ada cahaya keperakan yang tak sanggup terhapuskan dari sudut-sudutnya. Titik-titik cahaya yang akan terus terserap dan tersimpan di kedalamannya. Sampai nanti, sampai saat kereta ekonomi ini menyeret kami keluar lintas batas Jakarta. Ketika itu titik-titik keperakan ini akan meruap, tidak cepat tapi perlahan-lahan seperti uap air di jendela kaca kereta yang mulai dipanasi ufuk pagi. Berguliran saling-silang untuk kemudian hilang kembali ke udara busuk kota besar ini bersama angin tipis yang ditepis laju kereta.

“Selamat tinggal Ibukota........” Begitu gumamku di tengah sesak gerah para penumpang. Dan, seorang dari orang asing yang rupanya agak lama memperhatikan kami pun menyela.

“Mau kemana, Pak?” Pertanyaan basi yang menjadi luar biasa buat telingaku sebagai ajakan untuk bersama-sama meninggalkan tempat keberangkatan kami, cuaca keras Ibukota. Sejak itu aku sadar kalau di setiap tempat seperti itu orang selalu berkumpul dan bertanya menurut arah tujuan, dan bukan sebaliknya. Lupakan hari kemarin, yang lalu biarlah berlalu...

Sejak itu pula aku lupa atau berusaha melupakan untuk memberi tahu Bapak tentang semua yang kualami sebelum ini. Lupa pada pengalaman pertama berpuasa. Pada tugas sehari-hariku berbelanja ke pasar untuk berbuka dan makan sahur bagi keluarga semangku. Pada pukulan anak-anak mereka ketika bercanda dengan ukuran yang bukan lagi bercanda. Pada kesibukan pagi dan sore membersihkan saluran air, kamar mandi, dan wc dari kotoran yang tak pernah boleh kuperbuat di sana.

“Eh, kalau mau mandi atau apa, sana di belakang sana.” Kalimat panjang pertama yang pernah diberikan Pak Haji kepadaku. Pertama dan terakhir, selebihnya adalah perintah-perintah pendek yang butuh cepat dilaksanakan. Pertama, ya semuanya memang baru kali pertama kualami bersama tergusurnya keluargaku dan terpisah jarak dan waktu yang begitu panjang.



Sejak kecelakaan itu keadaan seperti tak pernah lelah memberikan ujian, atau tepatnya hukuman, pada keluargaku. Sekeluar dari Rumah Sakit Umum Serang kami tak punya waktu santai lagi di rumah kontrakan itu. Bapak tak bisa meraih pekerjaannya lagi. Pekerjaan yang baru lepas dari tangan Bapak adalah usaha patungan dengan rekanannya. Dan, PHK yang dialami Bapak kali ini benar-benar pemutusan hubungan kerja secara sepihak oleh rekanannya dengan alasan Bapak terlalu lama mangkir selama sakit. Bapak sudah berusaha menjelaskan masalahnya tapi Pak Hardian, rekanannya itu, tetap tak bisa menerima. Beberapa hari tekanan darah Bapak naik pesat tersandung masalah ini. Puncak penjelasan Bapak adalah melemparkan kursi lipat ke arah Pak Hardian dan meninggalkan kantor dengan sumpah serapah. Sementara seluruh tabungan keluarga sudah hampir terkuras untuk biaya pengobatan dan hidup sehari-hari.

Sudah tak kurang-kurang usaha Bapak buat mengembalikan keadaan. Bapak juga orangnya bisa tahan dan mau mencari pekerjaan lain. Juragan alat-alat peraga sekolah itu sempat menjadi sopir pribadi pada sebuah keluarga yang tak kuketahui. Sekalipun cuma bertahan tiga hari.

Waktu itu Bapak keluar tanpa permisi minta berhenti.

“Sopir kok disuruh nyuci mobil.” Omelan Bapak menandaskan kejengkelannya sore itu sepulang kerja pada Ibu. Ya, Ibu memang sering jadi tumpuan kemarahan Bapak, tak perduli pada siapa Bapak Marah. Dan rupanya kerelaan Ibu ini yang membuat perkawinan mereka bertahan sampai dua puluh lima tahun. Seperempat abad mereka hidup di atas pasang surut keadaan dan Ibu menjadi pendengar setia umpatan-umpatan Bapak sambil melahirkan sepuluh orang anak serta membesarkan mereka.

Sekolahku sudah mulai libur. Buku rapot hasil belajar sudah dibagikan tapi belum bisa diambil, karena itu berarti Bapak harus keluar biaya ekstra buat SPP yang mestinya cukup buat makan sekeluarga selama dua atau tiga hari. Jadi, aku dipaksa bisa terima oleh keadaan.

Juga aku masih bisa terima, waktu Bapak pada akhirnya tak mampu lagi melihat anak-anaknya kelaparan, sementara dia sendiri masih perlu makan buat tenaga mencari kerja. Sore itu semua anak dikumpulkan di ruang tamu sekaligus ruang tivi yang tak jarang jadi ruang makan. Sekilas kulihat mata Ibu yang sembab merah tembaga tapi tak bicara.

“Begini....” Sebentar Bapak berusaha menelan ludah. Ibu menyelinap ke belakang, mungkin mengambil air hangat buat Bapak. “Begini...Bapak, Bapak minta maaf sebab sudah ndak bisa menanggung hidup kalian lagi. Bapak benar-benar menyesalkan semua ini. Mungkin nanti kamu dan mbakmu akan Bapak titipkan pada satu atau dua keluarga.”

Mata Bapak sekilas mengalih pandangan dari tatapanku. Sementara aku sudah menyiapkan anggukan kepala yang mantap meski lemah, Mbakku sudah lebih dulu histeris. Keras, cukup keras, sambil matanya terus mencari-cari nada kebohongan dari suara Bapak dan mencari perlindungan dari kasih Ibu, semua ibu.

“Bagaimana, kamu siap?” Bapak minta penegasan.

“Ya, Pak.” Jawaban yang tak perlu diulur-ulur lagi. Tangis Mbakku meledakkan seisi rumah. Aku tertegun, tak yakin kalau semua ini bukan salah satu adegan dalam episode sepekan drama yang sedang diputar oleh TVRI.

“Nanti,” suara itu makin berat dan serak, “kalau Bapak sudah cukupan, kalian pasti Bapak ambil. Bapak tidak akan membiarkan kalian terpisah dari keluarga lagi.” Mata Bapak mulai merah seperti tempayan di atas tungku pembakaran. Mungkin juga ada tungku menyala-nyala dalam badan Bapak, pikirku menghibur diri. Kepalaku terangguk-angguk kecil sambil tersenyum tipis semanis senyum Presiden waktu itu.



Hasil keputusan keluarga itu memang tak terjadi. Bapak kemudian menjadi pelopor kepulangan keluarga ke kampung halaman, entah di kampung mana. Beberapa minggu keluarga kami hidup dari hasil penjualan segala barang dan perabot rumah tangga. Makanan seadanya menjadi benar-benar seadanya. Kadang tetangga yang berjualan nasi uduk memberi porsi yang jauh lebih banyak dari yang kami beli. Tak jarang tetangga belakang rumah – keluarga China yang punya depot, entah dimana – memberikan beberapa iris daging sejak tetangga itu mendengar tiupan recorderku seperti alunan lagu latar film silat mandarin berseri yang sedang mereka nikmati. Selama itu hubungan dalam keluarga jadi begitu peka. Semua merasa sebagai satu-satunya orang paling menderita di dunia. Pertengkaran bisa meledak dari soal-soal kecil saja. Kemarahan bisa berlangsung cepat, bisa juga sampai berhari-hari lamanya. Sampai di situ aku masih bisa tahan.

Baru ketika semua isi rumah terjual habis dan merasa cudah ada cukup bekal perjalanannya, maka Ibu minta semua anak membantunya mengemas barang yang perlu dibawa pulang. Semuanya pulang, kecuali aku yang sekali lagi diminta bisa menerima buat tinggal sementara di rumah Pak Haji pemilik rumah kontrakan kami. Aku sangat bisa menerima, sebab aku tahu Bapak belum lagi membayar sewa selama tiga bulan. Jadilah aku sebagai jaminan dan sebuah kebetulan akulah satu-satunya anak lelaki, selain si bungsu yang masih terlalu kecil, yang sudah cukup besar untuk bisa mengerti. Baru ketika itulah masalah sebenarnya datang mengendap-endap seperti wajah malaikat pencabut nyawa di malam buta.

Sebenarnya menjadi barang jaminan itu bukan masalah buat aku yang punya kepala dan tubuh lebih kecil dari ukuran anak-anak seumuran ini. Bukan soal bantu-membantu itu yang membuatku terguncang keras seperti terbanting ke batu cadas. Bukan, sekali-kali bukan karena saluran air, jalan-jalan sore ke pasar, atau anak-anak Pak Haji yang suka berlaku kasar itu.

Sejujurnya aku masih bersyukur bahwa permintaan Bapak pada pengertianku kali ini tidak terlalu parah. Aku pun merasa bersyukur masih ada sedikitnya dua orang dalam rumah itu yang cukup ramah dan bersikap melindungiku. Seorang yang pertama ialah Sida, gadis muda seumurku yang menetap di situ lebih sebagai pembantu daripada sebagai keponakan Bu Haji. Seorang gadis yang sewaktu keluargaku masih ada tak pernah kuperhatikan. Anak perempuan yang dulunya kadang terlalu berani kalau ketemu aku di jalan ini, pada hari-hari itu sering memberiku porsi tersendiri untuk makan. Satu-satunya masalah yang kerap diperbuatnya adalah memanas-panasi darah perjakaku sampai tersirap tiap kali baju tidurnya tersingkap, sebab kami menempati satu kamar bersama yang lain-lain juga. Dan, masalah seperti itu acap kali datang ketika jam tidur tiba.

Seorang lagi adalah anak sulung keluarga ini. Kakak kelas dua tingkat di SMP 45 ini selalu melindungiku dari ancaman adik-adiknya atau pun orang lain. Aku merasa benar-benar terlindungi sampai aku sadar kalau sikap Deden itu tak lebih dari usaha untuk menembakku, seperti pagi itu waktu dengan terpaksa mandi bersama di kamar mandi belakang rumah.

“Jangan bilang siapa-siapa. Kalau nyanyi gue bunuh lu...”

“Kenapa?” Kurutuki laknat ini. “Kenapa gak pakai Sida?”

“Hhh, ngeliatnya aja gue udah enegh.” Sambil terus menyampaikan hajadnya. Sementara aku tetap tak habis pikir, ujung-ujung alisku mengkerut dan bertemu di hidung. Sejak itu juga aku tak mudah percaya pada segala niat baik sebuah perlindungan.

Tapi, masih bukan itu yang membuatku merasa perlu mengorek keruh air mata dalam bening mata airnya. Bukan tembakan pagi hari yang mengalirkan benang-benang keperakan itu di atas pipi cekung ini. Soal macam itu buatku sudah bukan barang baru. Sebelumnya, tiga tahun lalu, saat masih di Blitar kegembiraan kelas IV SD-ku telah dikotori oleh tangan putih seorang Imam Belanda di balik bilik rumah pastori. Jadi sekali pun kusumpahi setengah mati, bukan semua itu yang mengalirkan sungai kecil di pipi.

Lebih dari semua ini. Lebih dari penghinaan dan ancaman pagi tadi aku telah ditampar kenyataan sore itu. Pulang belanja dari Pasar Cengkareng juga tidak membuatku terlalu payah, sebab jarak itu cuma setengah jarak dari rumah ke sekolah. Sepulang belanja macam-macam kebutuhan, saat senja membuka hari di Bulan Suci Tahun Rembulan ini, kulihat Bu Haji mendampingi Pak Haji istirahat di serambi muka. Waktu aku lewat dengan suara ringan Bu Haji menegur.

“Wo’, ‘tar kalau sampai lebaran bapak kamu nggak ke sini, kamu Ibu’ jual ya?” Sekilas Pak Haji melirik Bu Haji. Aku terpaku pada ubin licin di kakiku.

“Ya, Bu.” Aku tak punya pilihan. Ujung lidahku seperti cacing di ujung mata pancing. Seperti cacing kepanasan yang bergerak lamban mencari perlindungan, kuseret langkah menuju dapur tempat belanjaan harus diletakkan. Kepalaku berkunang-kunang mencari tempat menumpang dan menampung malam. Seribu berkunang-kunang di kepalaku begitu dihadang sekeping pertanyaan yang tersisa. Kapan Bapak datang menjemputku pulang? Pulang ke kampung halaman. Entah, kampung mana dan halaman siapa.

110204

Friday, December 12, 2003

Maria, Julia dan Aku





Cerpen Susilo




Masih pagi yang sama dan Julia telah kehilangan dua orang buruannya. Pertama seorang lelaki yang setengah asing baginya. Kedua, perempuan matang, yang kemudian dikenalnya bernama Maria, penunjuk jalannya menuju lelaki setengah asing itu, yang lebih asing lagi darinya. Jejak yang tersisa hanyalah sebuah rumah dinas yang menggigil dan bersegel kuning barang sah milik dinas kepolisian. Dan, ia sendiri yang masih juga tak percaya.

?Begitulah dia,? Ujar Maria memulai ceritanya tentang lelaki setengah asing, yang selalu membuatnya penasaran itu. ?Sebenarnya dia hanya akan menunggu setiap yang datang, memberikan sedikit tempat buat menyambung nafas.?

Pagi kemarin, dengan seluruh nafas yang berdenyutan Julia mengadu untung menemui Maria di rumah dinasnya. Sedikit keberanian yang dipaksakan ada pada dirinya sendiri itu telah menghasilkan kalimat panjang lebar dari perempuan berkaca-mata minus itu. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Maria tentang dirinya yang telah begitu berhasrat mencari lelaki carut-marut itu. Satu hal yang pasti mulut perempuan matang itu terus saja berkomat-kamit, seperti membaca mantra atau rapalan tertentu yang dihapalnya di luar kepala. Dari cara bicaranya pun segera tertangkap kesan kalau mereka memiliki carut-marut perasaan yang bermuara pada lelaki setengah asing itu.

?Setelah dua atau tiga hari mendudukan dirinya di taman kota itu maka dia segera tahu kalau aku punya sedikit perhatian padanya. Sebenarnya perhatianku bukan pada tampangnya yang cenderung cantik atau perawakannya yang matang itu, melainkan lebih pada kebiasaannya itu sendiri. Kebiasaan duduk berlama-lama, di satu tempat, pada tiap jam yang sama. Ini membuatku tertarik lebih dari sekadar kegemaran naif pada permainan liar dan cermatnya di atas ranjang. Bukan, sekali-kali bukan karena itu, sekalipun itu bisa jadi catatan tersendiri secara panjang lebar. Sekali lagi, kebiasaan itulah kuncinya. Tolong catat itu lebih dari yang lain.

Aku sendiri baru satu minggu sejak dimutasikan pada Bank di belakang areal taman itu, saat melihatnya untuk kali pertama. Mula-mula aku menganggapnya sebagai orang yang sedikit kelebihan waktu sebelum berangkat kerja. Sambil menunggu bis kota atau apa, dia habiskan waktunya dengan memajang diri begitu rupa. Selebihnya, sentuhan matahari pagi pun cukup menjadikannya punya alasan untuk mendapat sedikit kehangatan dan kesehatan. Tapi, pikirku kemudian, penampilannya kurang lazim untuk seorang pekerja. Pakaiannya tidak cukup mendukung anggapan pertamaku itu. Kamu sendiri di ruangan kantormu tentu kesulitan mencari partner yang bisa bebas dengan ketsnya. Ah, coba dulu minumannya sebelum leher jenjangmu kekeringan.....?

Hati-hati Julia meneguk minuman itu karena tak ingin merusak suasananya. Sejak titik ini, Maria mulai lebih lancar dari setengah jam sebelumnya.

?Bahkan sebagai pekerja kerah biru pun jelas sekali dia tak punya potongan.? Lanjut bibir senja yang merona ditimpa fajar itu. ?Memasuki minggu kedua sejak kali pertama melihat tingkahnya itu aku mulai menyadari kalau dia tengah menunggu sesuatu atau seseorang tepatnya. Hari ketiga minggu kedua itu juga matanya mulai bisa memaksaku bertukar senyum dengannya. Senyumku mungkin berarti tegur sapa calon tetangga, sedang miliknya ? seperti yang kau lihat juga, kusadari kemudian ? mengandung dorongan yang lebih dalam dari sebuah ketekunan. Menurutku, seperti retakan ice cream saat gigitan pertama. Beberapa kali aku berusaha mencari tahu sampai berapa lama dia bertahan duduk di situ setelah setiap pagi biasanya. Setahuku, setiap aku pulang kerja dia sudah tak ada di taman itu. Maka, aku coba luangkan waktu saat jam istirahat buat sekadar memeriksa batang hidungnya, juga tak ada.

Jum?at minggu kedua sengaja aku berangkat dua jam lebih siang dari biasanya dan dia ternyata masih duduk di tempatnya. Sabtu pagi, agak malas aku bangun dan setelah berbenah aku keluar cari sarapan. Tepat tiga jam dari kebiasaanku berangkat kerja, taman itu sudah dipenuhi banyak orang, terutama kaum tua, dan dia sudah tak ada lagi di sana.

Segera kusimpulkan kalau dia memang menunggu sesuatu setiap pagi selama tiga jam lebih, satu jam sebelum dan dua jam sesudah jam masuk kerjaku. Tapi, aku tak pernah tahu apa dan siapa yang ditunggunya. Dia memang mengambil waktu sekitar jam berangkatku, tapi itu saja tidak cukup membuatku merasa sebagai orang yang ditunggu-tunggu itu. Jadi aku memang digariskan untuk tak pernah tahu sasaran yang ditunggunya sampai aku memberanikan diri bertanya waktu itu. Memberanikan diri terhadap pandangan orang di sana atau teman kerjaku yang kebetulan lewat. Aku menguatkan diri pada celaan yang muncul dari kepalaku sendiri. Bisa kau bayangkan, aku seorang staf akuntan sebuah bank terkemuka milik pemerintah disibukkan dengan perhatianku pada seorang lelaki asing yang terbiasa duduk-duduk di salah satu sudut taman kota. Hahahahahaha.....

Toh, akhirnya aku berhenti juga. Menyapanya sekilas dan segera semuanya berubah, seperti tengah malam paling hening saat terjadinya pergeseran hari menjelang esok. Lalu kami berjalan menyusuri pinggang taman itu, bercerita tentang beberapa hal di sela senyum dan sorot matanya. Selebihnya, dia menjadi penghuni baru di rumah ini. Tapi, maaf aku tak bisa memberikan satu nama pun padamu untuk menyebut atau memburunya. Sebab, buatku nama tak menjadi soal dan sikap selalu lebih penting dari sekadar kartu pengenal apa pun, kau tahu maksudku.

Terus terang aku merasa pernah berhubungan dengan orang macam ini, jauh sebelum ini. Berhubungan dengan orang yang bisa mencukupi nyaris semua kebutuhhanku. Uang, kehormatan, dan....seks, tentu saja, seperti yang kau harapkan bakal keluar dari mulutku. Perhatiannya yang besar membuat setiap yang dekat dengannya akan merasa nyaman dengan sendirinya. Bisa jadi itu wajar, mengingat dia adalah site manajer sebuah grup supermarket di tempatku kerja waktu itu. Satu hal yang sedikit menarik mungkin karena aku harus rela melepaskan posisi bagusku di sana hanya karena kami berencana menikah. Sekalipun baru sebatas rencana. Padahal kau tahu, untuk mendapatkan,? Maria berhenti sejenak meneguk minumannya, ?site manajer itu aku musti siap pula meninggalkan pasanganku yang lain, seorang analis komputer jempolan.

Tentang yang terakhir, analis komputer itu, dia benar-benar jembatan emas buatku. Dari semula aku hanya berencana menggunakan statusnya sebagai dosen bantu pada lab komputasi di Fakultasku untuk menghacurkan nilai setiap orang yang telah merusak jalanku. Salah satunya adalah seorang teman sekelas yang sama sekali tak tahu diri, seorang mahasiswi bermoral yang kehabisan tempat. Hmm, setelah kubantu pindah tempat tinggal ke tempat kosku, perlahan-lahan ia mulai menelikungku dari balik selimut. Mengaduku dengan ibu kos yang rupanya lebih mempercayai orang baru ini dan mengusirku hanya karena adegan kecil suatu petang di teras rumah. Ah, aku benar-benar tak ingin melihat wajahnya lagi sejak itu. Biar dia hadapi kehancuran berulang-ulang di bangku yang sama dengan moralitasnya. Juga yang lain, semua yang telah seenaknya mempermainkan aku menjadi mangsa empuk analis komputerku itu. Begitulah, sementara waktu berjalan dan kelulusanku menjadi dentang bel berakhirnya menikmati waktu di atas jembatanku. Maaf, mungkin aku bukan perempuan lembut yang cukup pantas kau jadikan sosok ibu yang kau cari-cari. Tak pernah terbayang sekilas pun dalam benakku gambaran menjadi seorang ibu. Menjijikkan sekali bahwa perempuan dipaksa melahirkan dan membesarkan anak-anak, sementara lelakinya asyik bermain-main di luaran.

Dia, maksudku partnerku yang site manajer dulu itu, datang tepat waktu. Begitu bel akhir itu berdentang teramat keras, begitu saja dia menyelinapkan dirinya lembut-lembut ke balik selimutku. Dan, jembatan emas itu pun hancur berkeping-keping. Kudengar sebentar kemudia dia nikahi adik kelasku yang cantik, beranak, lalu diceraikannya lagi. Beberapa kali dia menelponku di antara sekian dering yang lain. Tapi, telpon di tempatku rupanya sudah terlanjur mengikat diri pada basement pusat perbelanjaan baru itu. Malahan waktu telponnya membisik-bisikkan gesekkan lembut selimut dan ranjang merah jambu, hahahahaha...anggrekku cuma senyum tipis dengan desahan lirih setengah merintih, yang aku yakin akan membuat analis komputer itu makin terguncang-guncang di atas cadiknya yang rapuh. Kubilang satu kali menjawabnya.....

?Sudahlah, belajarlah dari sedikit, buanglah sampah pada tempatnya. Dan menuai benih dari yang kautaburkan.? Lalu terdengar kertak gigi di seberang, suara gagang telpon terbanting keras dan ngiiiiing. Baik, akan kuteruskan sendiri, semuanya. Kalau kau sendiri sudah terserang penyakit gagu dan gagap dalam mengiblatkan jalanmu sampai kau datang ke rumah dinas ini. Sedikit banyak kau pasti tahu, apa itu monolog. Dulu aku suka juga melihat pertunjukkan biarpun sedikit.

Benar, bukan cuma perhatian dan kehormatan yang aku dapatkan dari site manajerku itu. Lebih dari itu, kehangatan bisa aku nikmati setiap saat, di tempat paling dingin sekali pun. Justru dari karena site manajerku itu datang dari kota dingin. Di atas kotanya dia benar-benar kuda liar, baik di jalanan maupun di tengah ranjang. Serangan gencarnya membuatku berkali-kali kewalahan. Sekali putaran aku bisa mencapai tiga sampai lima puncak dengan resiko seluruh tulang serasa berlepasan. Dan anggrekku, ah anggrekku seperti dirajam pisau bermata seribu. Darahnya sulit berhenti, tapi sungguh ngilu yang kunikmati. Biasanya setelah saat-saat yang dahsyat itu kami menghabiskan waktu dalam buaian mimpi indah sebuah puri di gigir telaga yang seluruhnya diliputi cahaya remang. Sepasang angsa menggiring angin di wajah telaga yang pias oleh cahaya bulan setengah telanjang. Hahahahaha....

Saat-saat indah dalam hidupku. Setelah sekian kerikil tajam menisik dan mengantuk kakiku. Mungkin hanya satu orang yang bisa mengalahkan kegilaan macam ini. Kegilaan dan kenikmatan yang pekat. Ya, mungkin hanya satu orang yang sanggup mengalahkan rekor site manajerku. Sekali pernah kudaki tujuh puncak sekaligus, lalu aku benar-benar jadi sejenis lolita di sana. Di sisi novel pertamaku, lelaki kecil dan naif yang aku yakin masih menunggu sampai saat ini, setelah sekian penerbangan bersama analis komputer dan site manajerku. Lelaki kecil dan naif.....lebih tepatnya seorang bocah gembala yang selalu kekanakan. Entah sampai kapan, sebab kami dipertemukan dalam musim kawin pertama tahun kedua kuliahku. Selayaknya setiap musim kawin pertama, si kecil ini pun terlanjur melingkarkan cincin akar rumput di jari manis batinku.

Tak cuma soal tujuh puncak itu reputasinya, selalu dia mengakhiri perjalanan kami dengan basuhan-basuhan lembut di tubuhku yang basah dan membawaku terentang antara kaki langit gumpalan awan putih. Ah, sudahlah biarkan dia menghuni albumku yang berdebu dan lapuk sendiri suatu hari nanti.? Maria seperti mengalami kesulitan untuk keluar dari labirin masa lalunya. Kernyit kecil mempertajam bola matanya yang menjauh.

?Lalu, bagaimana tentang basementmu....?? Julia berusaha memperbaiki keadaan.

?Oya, kami berencana menikah. Baiknya langsung saja dari situ. Tapi, selalu aku harus berhadapan dengan masalah keluarga. Dia punya seorang ibu dari sejenis ular aristokrat sejati. Bermulut tajam, memandang orang lain dengan mata yang selalu mengantuk, penuh gairah dan sedikit culas. Bapaknya tak jauh beda. Macan kampung, tuan tanah puluhan hektarare, berkulit dan hidung belang-belang. Pada kekasih anaknya pun sempat mendenguskan nafas mesumnya. Semua ini yang membuat kami bertahan hanya lewat jalan belakang. Sampai, entah bagaimana, keluargaku mencium hubungan kami yang aga kelewatan itu. Papi memintaku pulang kampung secara mendadak. Sampai di sana aku dihadapkan pada sidang keluarga. Keluarga besar Mami datang semua. Tak ketinggalan seluruh warga dari garis Papi datang bertandang. Lalu sidang dibuka oleh Eyang Sepuh ? kakak tertua Eyang Kakung dari Mami.

?Aapa yang sudah kamu lakukan, Nduk? Mamimu nangis ndak habis-habis.? Eyang Sepuh mulai mendesakku.

Aku bergeming dan terus saja berusaha sekerasnya memperjuangkan pertahananku. Tapi sidang kemudian memutuskan agar aku memeriksakan diri ke dokter. Mami diutus sebagai pengantar pemeriksaan diriku. Dari sanalah bermulanya pergeseran hari. Semua mulai membaca dan mengulitiku habis-habisan. Untung mereka tahu hanya sebatas itu. Lalu tuntutan diajukan pada site manajerku beserta keluarga. Sampai di situ, habislah semuanya. Ibunya marah besar, mulutnya menyemburkan bisa. Bapaknya mengamuk sejadi-jadinya, menggeram dan mencabik-cabik hargaku dengan kuku di tiap ujung lidahnya. Dan makin tertampar aku waktu site manajer itu cuma diam, tertunduk kelu dan sekali bersuara.

?Buka aku yang pertama...?

Bagus, tampaknya semua batu harus diangkat oleh sisiphus yang sama. Sejak itu kuputuskan untuk menjalani hidup selibat tanpa sakramen, lepas dari keluarga dan siapa pun yang selama ini mengikatku. Menerbitkan dan menggelamkan sendiri matahariku. Sampai suatu pagi, aku lihat lelaki asing kita di sudut taman itu.

Dari semula aku tak berharap banyak darinya. Aku hanya tertarik pada kemauannya menunggui patung-patung batu di taman itu. Sekali tempo, sempat terpikir olehku, kalau dia tak hanya menunggu melainkan membasuh tubuh dewa-dewi di sekitar kolamnya juga. Tapi, pikiran-pikiran cengeng itu segera kuempaskan lagi dan terjadilah yang musti terjadi. Sejak dia menghuni rumah ini, tak sekali pun kutanyakan pekejaannya atau mengungkit-ungkit kebiasaannya memandang jauh keluar pagar taman setiap pagi sebelumnya.

Pagi-paginya kemudian diisi dengan membangunkan aku dengan ciuman lembut. Menyiapkan sarapan dan secangkir kopi dengan cream. Melepaskan aku pergi dan menutup pintu pagar lagi. Selebihnya aku tak tahu. Yang pasti aku melihatnya adalah sambutan hangatnya ketika aku pulang kerja. Membantuku melepaskan perlengkapan kerja satu per satu. Menyeka tengkuk, punggung dan beberapa bagian lain dengan handuk hangat. Sementara makanan kecil dan lemon tea sudah tersedia. Tiap malam kami isi dengan acara televisi atau permainan atau obrolan ringan seputar masalah umum. Selain menyiapkan makan malam, kalau kebetulan badanku terlalu capek untuk keluar rumah, tak lupa dia menyuguhiku santapan utama pengantar tidur.

Pernah sekali waktu, aku mencuri tahu kebiasaannya setelah larut malam. Kulihat pintu kamar kerja sedikit terbuka dan ada cahaya biru remang keluar dari mulut pintu. Kuperhatikan dia tercenung di depan layar monitor di sana. Entah sedang menulis apa, aku tak terlalu yakin dengan mata telanjangku pada jarak lebih dari lima meter. Kegugupan segera menyerang waktu dia menyadari kedatanganku, dia menengok ke arahku dengan pandangan tajam. Dia menghampiri dan aku menggigil dalam gelap, matanya seperti srigala lapar.

?Tidak baik membiasakan diri dengan pencurian...? Senyumnya masih bisa kubaca lewat berkas cahaya tipis dari monitor. Aku tertunduk lemas. Dia menuntunku kembali ke kamar dan menina-bobokanku dengan usapan lembut di kepala. Lamat-lamat Schubert merintih lewat Ave Maria.

Baik, semuanya telah kubeberkan, hanya karena aku perlu seorang teman bicara yang bisa dipercaya. Semuanya, sampai dia mendadak hilang sekarang. Sampai kau datang hari ini. Sekarang, mungkin giliranmu....? Perempuan matang berkaca-mata kecil itu seperti sedang melepaskan pukat ke depannya.

?Maksudku, sekarang mungkin giliranmu untuk bercerita. Barangkali kau sendiri punya sesuatu yang menarik untuk kita dengarkan siang ini.?

?Ee, begini. Ini tak lebih dari sekedar...?

Julia memulai tentang perjalanan kariernya sebagai reporter muda pada sebuah tabloid wanita. Juga tentang perasaannya pada lelaki setengah asing itu. Bahwa ia seperti pernah akrab dengan lelaki itu. Bahwa ia seperti bisa membayangkan apa yang dilakukan lelaki itu saat ini. Semua diketahuinya berdasarkan pengamatannya pada beberapa kasus serupa yang pernah dikejarnya. Tapi, satu hal yang tak pernah dibukanya pada Maria adalah bahwa lelaki jenis ini lebih berbahaya dari ular maupun srigala lapar. Dia dilahirkan sebagai jenis kegilaan yang melebihi guru besar kegilaan dari RS. John Hopkins, Hannibal Lector.

Bayangan yang dulu masih disimpannya itu kini telah terbukti, mungkin. Selain pita kuning tand panyegelan, kepolisian wilayah kota juga memberikan informasi.

?Kasusnya bunuh diri. Motifnya belum pasti. Masih dalam proses.?

Rumah dinas itu masih menggigil pagi ini, ketika Julia hendak beranjak pergi dan melepaskan sisa pandangan terakhir pada bangunan ngungun itu. Ia sadar benar, banyak kasus bunuh diri yang hanya bersaksi dinding bangunan itu sendiri. Julia sudah akan beranjak pergi waktu seseorang berbisik lembut dari belakang telinga kirinya, waktunya sudah habis, mari.....

medio1999-2003

________________________

Susilo, penulis lepas tinggal Jl. Karangmenjangan 68A, Surabaya, karya-karyanya pernah dimuat dalam; Antologi Puisi I Puska 1992, Jurnal Sastra Jejak ? Gapus Unair 1998, Majalah Aksara, Majalah Jayabaya, Majalah Liberty, Harian Surabaya News, Harian Sinar Harapan, Harian Berita Sore, Tabloid Mitra Rakyat, Tabloid The Smile File, www.cybersastra.net, www.puisi.crimsonzine.net, dan www.pintunet.com



Sunday, October 19, 2003

Kisah







Untuk Riyono dan W. Haryanto yang kesrakat


Setelah habis sekira 4 cerita membaca dari buku kumpulan cerita pendek Riyono, segera kutaruh buku itu di lantai dekat ranjang. Sambil memandangi buku bergambar goresan tangan biola bengkok, aku terus saja mngumpat dalam hati. Bangsat benar pengarang satu ini, pikirku, orang disuruh larut dalam permainan kisah-kisah seremnya yang teramat liar.

Aku pun lantas ingat pada salah satu cerpennya yang berjudul Kepanjangan, yang mana telah pula mengingatkanku pada Bapak. Dikisahkan, dalam cerpen itu, ada sepasang suami-isteri yang telah menghadapi kesedihan mendalam begitu si isteri mengalami suatu peristiwa keguguran atas kandungan pertamanya yang telah berumur sekira tujuh bulanan. Begitu halnya dengan Bapak.

“Bapak ini ada memiliki riwayat kelahiran yang serem punya.” Ujar Bapak suatu siang, waktu aku masih kerap mendengar dongeng-dongengnya. “Waktu Nenek mengandung bayinya Bapak, genap usia tujuh bulan Kakekmu mengajak Nenek berpindah rumah. Padahal, menurut kepercayaan, orang tak boleh bepergian jauh atau berpindah rumah apalagi sampai ke luar kota selama masih mengandung seorang bakal bayi. Malahan sebelum bayi yang kemudian terlahir itu genap berumur satu tahun, menurut kepercayaan juga, tak baik di bawa bepergian kelewat jauh.

Tapi karena Kakek sudah terlanjur berjanji pada stasiun tempatnya bekerja sebagai opas polisi istimewa maka berangkatlah Kakek Nenek sekeluarga berpindah ke kota yang jadi tempat dinas barunya Kakek. Sekalipun dengan sedikit kecemasan, untuk menghindari apa-apa yang tidak diinginkan Nenek sudah membawa sebongkahan tanah dari halaman rumah lama, begitu seperti yang dinasehatkan oleh Buyut. Semua berjalan lancar.

Sampai pada satu sore, sepulang dari kerja di stasiun kota, Kakek teramat terkejutnya mendapati laporan dari Nenek. Siang tadi perut Nenek tiba-tiba mengempis. Tak ada tanda-tanda perdarahan seperti layaknya perempuan yang mengalami keguguran.

‘Jadi apa yang kaualami ini?’ Kakek masih ada menyimpan keheranan atas pengalaman Nenek. Kakek seperti merasa kalau Nenek membohonginya, entah dengan tujuan apa. Kakek merasa kalau bayi (bakal bayi tepatnya) Bapak masih ada tersimpan dalam perut Nenek, entah di bagian mana.

Nenek pun merasa tak tahu harus berbuat apa, mendapati keheranan Kakek itu. Nenek cuma menunduk saja. Menganggap kalau semuanya bakal selesai bersamaan berlalunya waktu. Sebaliknya sebagai opas polisi istimewa, yang sekalipun sehari-harinya bertugas di stasiun, Kakek merasa ada sesuatu yang harus diluruskan. Dengan naluri kepolisiannya Kakek segera mau mengajukan serentetan pertanyaan pada Nenek. Tapi melihat tanda-tanda ketakutan pada air muka Nenek, ditambah sedikit keyakinan kalau Nenek masih mengandung bakal bayi Bapak, maka sore itu waktu berlalu seperti aliran kali kecil di belakang rumah mereka.

Kakek kepikiran terus dengan dugaan-dugaannya, dan menganggap lebih baik mendiamkan keadaannya sementara waktu. Di pihak Nenek yang merasa sedang dipersalahkan oleh kelalaiannya menjaga amanah suami, seperti seorang tertuduh pada umumnya, juga merasa lebih baik mendiamkan saja keadaannya untuk sementara waktu. Sepanjang sore sampai malam harinya, kedua penanda rumah-tangga itu sedang asyik mengunci mulutnya rapat-rapat. Alhasil, layaknya sebuah kapal tanpa nahkoda, rumah mereka pun jadi kehilangan kendali.

Tak seperti biasanya sore itu, rumah pun jadi lebih ramai. Anak-anak pulang bermain, mandi sore, makan, mengaji, dan berangkat tidur tanpa ada yang menyuruh, mengatur ini dan itu atau memarahi. Mulanya, sore-sore mereka sudah berkumpul ramai berebut mandi. Air mandi yang tinggal separoh kolah jadi rebutan. Tentu saja yang paling kecil jadi kalah-kalahan. Mak Yat, kakak perempuan Bapak (atau bakal bayi Bapak?) yang masih paling bontot, jadi korban rumah tangga tanpa aturan itu. Mak Yat hampir menangis waktu itu, tapi dasar orangnya pendiam dan perasa sejak kecil dia pun memilih diam mengisak di pojok kamar mandi dekat sumur. Beruntung Pak De Jani, yang kemudian hari kukenal sebagai keranjingan besar (penjahat ulung?), mau mengambil air wudhlu menjelang maghrib.

‘Kenapa kamu ndepipis (jongkok menyudut di satu pojok) di situ?’ Tanya Pak De Jani setelah melihat adiknya teronggok di sudut sumur itu. ‘Belum mandi, ya?’

Tak mendapat sahutan, Pak De Jani segera melihat isi kolah dan tersadarlah dia akan nasib adik perempuannya yang sengaja terlambat sekolah sebab orang-tuanya belum ada uang itu. Tanpa banyak kata lagi Pak De Jani segera menimbakan beberapa ember air buat mengisi kolah. Sedikit susah payah, karena ukuran tubuhnya yang terlalu kecil untuk ukuran ember yang kelewat besar itu, akhirnya terisi juga kolah itu sampai separohnya.

‘Sudah kau mandi sana, biar aku tunggui di sini.’ Pak De Jani mengangkat bahu adiknya supaya berdiri dan pergi mandi. Setelah itu dia sendiri duduk berjongkok dekat sumur, menunggui adiknya mandi di balik bilik bambu yang mulai berlubang di sana-sini itu.

Tak berapa lama, rupanya Pak De Jani sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia pun segera menanyai adiknya yang di dalam bilik mandi itu. ‘Sudah Yat? Kalau sudah aku mau wudu.’ Tak ada sahutan dari dalam, hanya suara gayung masih berdeburan membuat jantung Pak De Jani berdebar keras. Bukan apa-apa, pikirnya waktu itu, sebentar lagi maghribnya habis, bisa-bisa aku kehilangan kesempatan ini.

Hari-hari itu Pak De Jani memang sedang tekun-tekunnya sembahyang. Itu pun bukan apa-apa, melainkan karena dia sedang nglakoni suatu lelaku. Jadi tak boleh putus sembahyangnya itu. Ini sudah hari keenam, rusuh batinnya lagi, tinggal sehari lagi, jangan sampai sia-sia usahaku hanya karena kelewatan maghrib sekali ini. Tak jelas lelaku apa yang sedang dijalaninya, yang jelas dia dikenal semua saudaranya sebagai bocah yang gemar lelaku. Perbuatan seperti itu sudah sering dilakukannya sejak masih di rumah lama, di bawah bimbingan Buyut dari pihak Nenek. Sebab keluarga dari pihak Kakek tinggal jauh di kota lain lagi. Tentu saja, pikiran bocah Pak De Jani tak mau dikalahkan oleh keadaan apa pun demi mendapatkan kemauannya.

Baru dia memutuskan mau menyuruh adiknya segera selesaikan mandi. Tahu-tahu dari arah belakang tengkuknya dia ada merasakan selembar angin yang lain dari yang lain. Belum sempat dia menengok ke belakang dia sudah mendapat sebuah teguran. Pak De Jani tidak yakin apakah lelaki tua berjenggot putih itu tetangganya atau bukan, karena dia merasa sebagai penduduk yang masih baru di situ. Hanya sebagai jaga-jaga dalam hatinya dia membatin; nuwun sewu, tunggal guru ojo ngganggu, tunggal ilmu ojo nyatru.

‘Apa yang kamu tunggui di sumur ini, Bocah?’ Tanya lelaki tua itu. Samar-samar Pak De Jani pun mulai bisa menangkap bayangan utuhnya. Lelaki tua itu tak hanya berjenggot putih, melainkan sekujur tubuhnya dibalut pakaian serba putih, rambutnya pun putih seluruhnya.

‘Kulo nungui adik Kulo yang sedang mandi.’

‘Mana adikmu yang mandi itu? Tak ada adikmu yang sedang mandi di situ.’

Tersadar oleh teguran itu, Pak De Jani sudah tidak lagi mendengar suara gayung berjeburan. Pak De Jani segera menengok ke arah kolah, memastikan kalau pendengarannya benar adanya. Terkesiap oleh kenyataan kalau sudah tidak terdengar suara jeburan gayung, Pak De Jani segera pula mau bertanya pada orang tua berjenggot putih itu. Tapi, si penegur sudah tidah ada di tempatnya tadi berdiri. Pak De Jani menengok ke kanan dan kiri. Tidak ada sesiapa pun di sekitarnya. Bayangan orang tak ada, angin yang meremangkan tengkuknya pun tak ada. Dalam keremangan matanya hanya menangkap bayangan pohon-pohon saja.

Tak mau larut dalam kebingungan pikirannya sendiri, Pak De Jani segera pergi mengambil air wudhlu, sambil beristighfar terus sepanjang waktu. Dan saat tangannya membasuhkan air ke kedua daun telinganya lamat-lamat di dengarnya lagi sebuah teguran. ‘Bocah, jangan dikira tempat ini tak ada yang punya. Kau hanya menumpang lewat saja di sini. Oleh sebab itu jangan memamerkan ilmu di depan kami….’

Pak De Jani tak mau banyak mendengar lagi. Begitu wudhlunya selesai dia segera beranjak masuk ke dalam rumahnya. Dia juga mau secepatnya memastikan kalau-kalau adiknya, Mak Yat, sudah selesai mandi dan selamat sampai di rumah.

Begitu menginjakkan kakinya ke undakan batu belakang rumah, Pak De Jani sudah pula mendapat teguran keras dari Kakek yang dikenal galak oleh anak-anaknya itu. ‘Jani, kamu kemana saja?! Tiga hari tidak pulang, kamu pikir rumahmu ini gardu (waktu itu orang-orang tua dan para pemuda suka menghabiskan waktu sorenya dengan duduk-duduk di gardu penjagaan), cuma dibuat mampir lewat saja?!!’

Pak De Jani, sekali lagi, terkesiap oleh kenyataan dirinya. Air wudhlu di wajah, ubun-ubun, telinga, tangan dan kakinya belum lagi kering. Tapi Kakek sudah menuduhnya meninggalkan rumah selama tiga hari. Ingatan Pak De Jani segera berlari ke arah bayangan orang tua berjenggot putih itu, dan merasa benar-benar telah dicobai olehnya. ‘Nggih…’ Pak De Jani tak punya jawaban lain pada bapaknya.

‘Sudah, bantu Makmu sana!’ Sahut Kakek waktu itu. ‘Kita harus cepat meninggalkan rumah kesrakat ini.’

Belakangan Pak De Jani mendengar selentingan, kalau Mak Yat mengalami demam, badannya panas dingin tak keruan, selama dua hari ini. Dan Nenek selalu mimpi hal-hal menakutkan. Belum lagi Kakek dibingungkan oleh kepergiannya yang tanpa kabar itu.

Tak sempat sembahyang maghrib, Pak De Jani membantu Nenek selekasnya mengemasi barang-barang mereka, utamanya yang paling dibutuhkan saja. Perkakas yang besar-besar bakal menyusul kemudian. Kakek-Nenek sekeluarga boyongan lagi, tapi sekali ini untuk kembali ke rumah lama yang untungnya belum sampai dijual oleh Buyut.”

Berhenti sebentar Bapak menarik nafas agak berat, sebelum meneruskan ceritanya. “Beberapa bulan kemudian perut Nenek membesar lagi seperti umumnya orang hamil sembilan bulan lebih. Tapi sampai sebesar itu kandungan tak juga terlahirkan. Genap enam bulan kandungan yang kedua ini, tepat pada Bakda Mulud lahirlah seorang bayi.

Waktu itu Pak De Jani yang tak merasa putus asa dengan kegagalannya nglakoni sebelumnya, sudah menyelesaikan tirakatannya semula. Dan sore selepas selamatan Muludan dan bersih desa, Pak De Jani bertemu dengan orang tua berjenggot putih tempo hari. ‘Ngger.’ Sapa orang tua itu di tikungan pekuburan desa. ‘Adikmu yang baru lahir ini, bakal minta korban. Sesiapa saudaranya yang punya hari dan neptu sama dengan kelahirannya harus mengalah. Kalau tidak, ya bayi itu yang kalah.’

Pak De Jani tak sanggup menjawab apa pun lagi, kecuali melepas kepergian orang tua itu berjalan seperti angin dan hilang di ujung barat jalan.”

Memang kemudian salah seorang Bu Dhe kami meninggal tak berapa lama sejak Bapak lahir. Aku sendiri masih setengah percaya pada cerita Bapak kali ini. Tapi perihal kejengkelanku pada cerpen-cerpen Riyono itu tak bisa kuelakkan.

Kalau memang ada anjing yang bisa berubah jadi gadis cantik seperti digambarkan dalam cerpen Kepanjangannya Riyono itu, maka aku mau memeluknya kuat-kuat. Kalau perlu dikuburkan satu liang dengannya.

Susilo, 191003

Monday, October 06, 2003

Scriptwritter





Oleh: Susilo




Sekumpulan merpati liar di taman kota berlonjakan mengikuti arah angin. Berebut makanan yang dilemparkan para pengunjung taman. Tiap kepakannya melahirkan anak-anak angin baru. Angin mengndus samar menebarkan semburat senja ke tiap sudut ruang yang sisa. Menanting aroma gunung yang mulai menggigit. Tapi ada yang selalu perkecualian dan tak tergigit.

"Jadi dimana posisimu sekarang?" Perempuan bersyal biru menyoroti mata di depannya.

"Sementara............" Sebatang rokok menyusup mulut si lelaki kaca-mata kecil. "Aku pikir, jangan dululah."

"Lantas buat apa kau cari aku?"

"Aku perlu sedikit dukungan........."

"Berapa?"

"Bukan. Bukan berapa, tapi apa." Menunggu jawaban yang masih menganggapnya sepi. "Baiklah, aku sedang menyelesaikan sebuah naskah...."

"Film? Opera? Teater? Apa?" Suara lembut itu mulai tajam.

"Naskah kita."

"Naskah kita........?"

Sepi. Pelayan datang menanyakan pesanan. Tapi mereka sedang tak suka makan rupanya. Hanya dua gelas penghangat pikiran mereka minta. Tak kurang tak lebih, sepasang gelas, semangkuk es dan sebotol anggun minuman yang berdesis. Berdesis, pikir si lelaki kecil itu, persis ular para fakir yang kehilangan seruling. Meliuk dalam jambangan terbuka. Kata orang, gelitik pikiran kecilnya lagi, gelas kristal membawa kesehatan. Tapi tidak untuk sore ini. Tidak, dengan desis di dalamnya.

Biasanya, setidakanya tiga tahun lalu, mereka bakal segera membukagabus penutup botolnya. Menuang jadi dua, menghirup aromanya, dan mencecapnya pelan-pelan seperti dari tadahan cawan. Sedikit tengadah lantas saling kerling dan gelak-gelak kecil. Memainkan sedikit tangan, sedikit kaki, sedikit sudut, dan sedikit malam yang mungkin untuk mereka bagi berdua. Tapi memang, tak setiap malam jadi yang sedikit itu. Kebanyakan malam mereka habiskan di tempat masing-masing. Lelaki kecil itu selalu sibuk dengan isteri yang tak pernah bisa memahami tingkah aneh suaminya pada tiap malam tertentu itu. Sedang perempuan ini cuma bisa menunggu sampai hampir lewat tiga tahun berlalu.

"Aji......." Cairan berdesis itu tak melicinkan leher jenjangnya. "Aku tak tahan lagi."

"Aku juga." Matanya menekuni asbak dan gelas kristal di tangan. "Apalagi menjelang musim dingin begini."

"Matamu...." Menuangi isi perutnya dan mengetukkan kaki gelas sedikit keras. "Terlalu suka gelas dan minuman. Lama-lama dia merasa Cuma jadi asbak rokokmu saja."

"Oh, maaf, maaf..........maksudku......"

"Sudahlah. Aku tak mau dibodohi terus, seperti isterimu. Nama boleh sama tapi soal cara tidak harus serupa, kan?" Bangkit dari duduknya. Tegak di atas kakinya yang menjulang

"Eh...Anna sebentar. Aku belum selesai."

"Siapa yang belum selesai? Apakah Anna juga mau datang ke sini?" Mengemasi tas kecilnya. "Kamu belum selesai, aku sudah."

"Baik, baik. Aku minta maaf lagi. Sekali lagi. Ayolah....Duduk dulu...." Lirih tapi ajakan itu penuh tekanan dan memaksa perempuan itu duduk lagi.

"Baik....Aku tadi terlalu buru-buru menebak maksud tak tahanmu. Maaf. Aku minta maaf.....Bagaimana?"

Tiga tahun hampir-hampir lewat begitu saja. Persis seperti Yulianna, isterinya yang tak pernah tahu tingkah anehnya, perempuan ini pun sama meledak-ledaknya. Suka menggoda, suka melabrak juga. Tourisiana hampir tak berbeda dari Yuliana yang suka di rumah saja. Perbedaannya mungkin cuma soal ukuran. Medium dan large siapa bilang sama, sekalipun tak selalu menunjukkan kemampuan dan kekuatan. Tapi orang memang tak harus mencari yang lain sama sekali dari rumput depan rumahnya. Orang, dalih lelaki kecil kita, bisa mengendus rumput dari jenis yang sama, toh tak setiap hujan sore datangkan pelangi senja.

"Kamu persis....."

"Isterimu?!"

"Bukan. Ibuku." Mengorek rokok lagi. "Selalu marah, teriak, tertawa, dan menangisnya dulu sebelum tahu. Sebelum mendengarkan omongan orang."

"Kamu pikir aku tuli?"

"Kamu mendengar tapi tidak mendengarkan. Kamu terlalu jarang mendengarkan omongan orang."

"Hh, kamu bukan Ibuku."

"Ah, bahkan Ibumu tak kamu dengarkan."

"Bahkan Ibuku?"

"Bahkan Bapakmu?"

"Bahkan Bapakku?! Cukup! Kamu mulai suka jadi petugas sensus."

"Bukannya kamu yang mau supaya suatu hari ada yang menyensusmu? Bukannya kamu yang mau menikahi petugas sensus bernama Mas Aji itu? Kamu berhak bosan pada semua ini. Kamu berhak bosan padaku. Ah, siapa juga aku ini toh. Tapi jangan pernah kamu bosani harapan-harapanmu, mimpi-mimpimu. Jangan, jangan pernah. Sebab, itu berarti kamu sudah siap mati. Dan petugas sesusmu ini belum siap melepasmu pergi, sendiri. Belum siap. Belum."

Tourisiana, perempuan itu, menyilangkan kakinya. Menepukkan tangan satu sama lain, sehingga beberapa orang mengira mereka sedang melatih salah satu adegan dari sebuah melodrama.

"Nana, tolong........dengarkan aku."

Perempuan itu masih berdiri dan memperhatikan saja aktor kecilnya ini mengoceh tak keruan. Tanpa berkedip. Tersenyum terus dan mengatupkan rahangnya pelahan.

"Baik. Nana, sekarang terserah kamu." Melepaskan kaca-mata kecilnya. "Orang-orang ini mau mengontrak kita buat film mereka rupanya. Hmmm, kamu lihatkan? Tapi, baiklah terserah kamu. Aku cuma minta sedikit waktumu. Sedikit saja lagi."

Senyum Nana sedikit mengembang dengan mata menari-nari membalas tiap mata di lain meja. Dan meneruskan senja di pertemuan jahanamnya. Dengan seorang seniman, aktor, penulis dan apalah yang serba amatiran.

"Aku cuma mau menyerahkan ini." Tangannya bergerak gesit, menyentuh ringan telinga Tourisiana dan tiba-tiba sebuah kotak beludu ada dalam genggamannya yang terbuka. "Bukalah, kalau kamu suka."

Sebentar Nana ragu-ragu pada perasaannya, pada harapannya sendiri. Seperti bakal ada ulat kecil yang melenting dari dalam kotak mungil itu. Ulat kecil yang bisa merambat ke tangan dan meremah hatinya.

"Apa itu?"

"Dukunganmu..."

"Dukunganku?"

"Ya, dukunganmu. Seperti yang aku minta tadi." Tangannya menuntun jari-jari Nana. "Bukalah. Biar aku cerita sedikit soal mobil, rumah dan seisinya yang sekarang sudah jadi punya isteriku sepenuhnya. Mantan maksudku, mantan isteriku."

"Apa?!" Emas putih itu hampir jatuh dari genggamannya. Dia memang pernah berharap, bahkan sangat berharap, segera datangnya peristiwa ini. Tapi tidak secepat ini. Sebelum dia mampu meredakan gelenyar-gelenyar dalam dadanya.

"Yah, aku sekarang tinggal sendiri menunggumu meminangku." Mengaduk es dalam gelasnya pelan. "Aku tinggal di penginapan kelas kambing. Moga-moga kamu nggak kecewa. Oya, ada tawaran menyelesaikan naskah komunikasi spiritual. Dan aku juga mau menyelesaikan naskah kita....."

"Mas Aji..." Nana duduk lagi. Tunduk, tengadah, senyum dan menangis kecil. "Aku belum ada krenteg......."

Begitulah naskah itu, kenang Aji sepanjang waktu yang lewat kemudian, Nana moga-moga kado ini bisa mengingatkan kamu terus pada senja hangat kita. Mas Aji meninggalkan ziarahnya pada pesta pernikahan Tourisiana, dua tahun kemudian. Ziarah pada naskahnya yang tak akan pernah selesai.

121100-051003

Thursday, September 25, 2003

Think of the lizard. It spends most of its life on the ground, envying the birds and indignant at its fate and its shape. "I am the most disliked of all the creatures," it thinks. "Ugly, repulsive, and condemned to crawl along the ground." One day, though, Mother Nature asks the lizard to make a cocoon. The lizard is startled -- it has never made a cocoon before. He thinks that he is building his tomb, and prepares to die. Although unhappy with the life he has led up until then, he complains to God: "Just when I finally became accustomed to things, Lord, you take away what little I have." In desperation, he locks himself into the cocoon and awaits the end. Some days later, he finds that he has been transformed into a beautiful butterfly. He is able to fly to the sky, and he is greatly admired. He is surprised at the meaning of life and at God's designs.

"Maktub" means "It is written." The Arabs feel that "It is written" is not really a good translation, because, although everything is already written, God is compassionate, and wrote it all down just to help us. The wanderer is in New York. He has overslept an appointment, and when he leaves his hotel, he finds that his car has been towed by the police. He arrives late for his appointment, the luncheon lasts longer than necessary, and he is thinking about the fine he will have to pay. It will cost a fortune. Suddenly, he remembers the dollar bill he found in the street the day before. He sees some kind of weird relationship between the dollar bill and what happened to him that morning. "Who knows, perhaps I found that money before the person who was supposed to find it had the chance? Maybe I removed that dollar bill from the path of someone who really needed it. Who knows but what I interfered with what was written?" He feels the need to rid himself of the dollar bill, and at that moment sees a beggar sitting on the sidewalk. He quickly hands him the bill, and feels that he has restored a kind of equilibrium to things. "Just a minute," says the beggar. "I'm not looking for a handout. I'm a poet, and I want to read you a poem in return." "Well, make it a short one, because I'm in a hurry," says the wanderer. The beggar says, "If you are still living, it's because you have not yet arrived at the place you should be."

Thursday, August 28, 2003

tak semua memang

bisa ditanya untuk apa




ini dari sebuah puisi si gundul itu...padahal ini pun sudah merupakan sebuah reduksi; klo berniat bertanya tentang sang mengapa, aku rasa lebih baik gunakan mengapa. Mengapa tidak sesempit makna yang dipertanyakan oleh sebab/karena apa alias kena apa yg dipersingkat menjadi kenapa. Mengapa pun tidak sesempit untuk apa atau buat apa yang terlalu pragmatis bahkan cenderung mengarah pada utilitarianis, opportunis, dan bahkan hedonis...mari aku berkaca lagi dan mengapa aku bertanya-tanya; ah mungkin hanya ingin mengenali diri (gnoi seaton; bual plato menirukan gurunya di pintu-pintu kelas academosnya), mungkin hanya ingin berpatut-patut diri, barangkali sekadar mau katarsis meski tak selalu ekstasis (masturbasi batin seperti setiap saat aku sambat pada yg aku anggap kuasa pada segala doa dan dosa; sayang, aku mulai coba tinggalkan pikiran tentang reward and punishment yg kerap membuatku jadi penjilat atau paranoia), pun barangkali sekadar mewedar mimpi-mimpi yang tak pasti....barangkali seperti mimpi...soal apakah ruang ini bakal jadi ajang perdebatan diskusi karya atau apa ya terserah saja...sebab pada ruang yang terlanjur terbuka sebagaimana juga karya penulis/penyair telah mati di sana...ketika ia coba mengunjungi lagi ruang itu, ia pun tamu dan pembaca yang baru...toh tak ada kaki yang menyeberangi sungai dua kali...justru kalau aku menyayangkan adanya gejolak dan perbedaan yang berkembang atau kukuh memegang petak-petak sawah yang ada maka aku merasa seperti berada dalam penjara strukturalisme mesin-mesin, padahal cukup lama kudengar gaung perlawanan yang terbantun dalam maraknya gelegak Rage Against the Machine, padahal aku begitu gandrung dengan tarian masyuknya para penggembira di jalanan generasi bunga (the lost generations?), padahal aku sangat terpesona oleh pesona dialog pembunuh tua yang dibualkan sean connery dalam the rock (setelah ini aku berhenti dan memilih menjadi petani atau penyair...) sementara teriakan nelangsanya nicholas cage menyeruak ke udara pecah seperti balon-balon kalimat dalam komik...aku suka tekanan, aku suka tekanan, aku suka tekanan...aku bahkan jarang membayangkan hidup dalam kelimpahan benda-benda dari [B]puri rapuhku[/B] setelah sekian abad suntuk dalam menggoreskan darahku pada dinding-dindingnya karena kertas, korden, pakaian dan sprei telah habis bersama menguapnya dawat tinta dalam botol-botol jack daniels…toh, aku bukan nirdawat atau penulis kwartet tarian cangkir remuk yang nyatanya menyosor dari quatrine of an artist as a didderot man…aku pun rafilus aku juga bukan bekas pelukis yang tergila-gila pada mayat bekas istrinya…aku bukan kropos yg diselundupkan, dimangsa dan dicerabut dalam oleh dan dari zabaza….aku tak mungkin menjelma bekas calon rahib, bekas pejuang, bekas algojo pemenggal kepala para pengkhianat, dan gelandangan yang dihidupi maria dan hendak dihidupi vivi yang terbunuh itu….aku pun bukan lelaki yang sanggup menatap inti matahari hingga hanya tinggal satu dan satu-satunya masalah yang dihadapinya yakni bahwa sepanjang malam ia ada melihat matahari dalam tempurung kepalanya…meski aku bukan si dungu yang ketika digorok akan berbisik mesra pada cuaca….”seperti anjing…..” mustahil…..dan musykil aku menjadi seorang muda yang sedia membunuh nyonya rentenir tetangga hanya demi suara-suara tokoh besarnya sambil melunasi seluruh hutang hidupnya….pun tak ada niatan dalam benakku untuk sekali pun mengeja-wantah diri sebagai kecoa seperti metamorfosa yang gagal dan memuakkan…..aku tak berhasrat merengkuh segala kemuakkan dalam mata jejala mayapadha ini sebagaimana pernah dinyatakan oleh si penjual kata-kata, yang kerap merasa muak pada keterasingan….juga tak perlu aku menggerus rumusan-rumusan pretensi atas surga atau neraka di dasar pantatku hingga merusukkan tinju peradaban dalam buku bulukan tertajuk hajad absolut….kalo kerasa reseh atau bikin pusing…..lah apa ya setiap langkahku musti ga kesandung, ga pake jatuh….aku kok ga ngerasa itu perlu diperumit dengan segala perhitungan….terlalu banyak berhitung mending aku ga usah mencintai bunga-bunga….terlalu sedikit gunanya….mending aku milih jadi tukang intelek atawa dagang bualan di kelas-kelas…atau sekalian koar-koar jadi nabi penjaga gawang moralitas kaya juragan sekte di jepang yg bisa bikin orang sekampung bunuh diri massal…tanpa perlu jagal…wah kalo dah kayak gitu kayanya aku dah jadi teror yang lebih mengerikan ketimbang segala bentuk senjata balistik, bom plastik, bombasme…..sebab bombie ada di kepalaku….lha aku mau mleding, mau nungging, mau ngibing, mau apa juga siapa sebenarnya yang paling sah seabsah-absahnya memberikan tanda seru sampai…..kotaku penuh tanda seru….kecuali temenku yang kadang selera humornya rada kelewatan itu….dia yang kadang jadi penembak yang tak jitu…dia yang juga mencintai bunga-bunga…..

aku tak bicara

buah, daun dan pokok

anggur kebunmu

cuma kucinta

semai, semi, dan mekar

bunga-bungaku

proklamasi58 sby, 3:38

Tuesday, August 05, 2003

cerpen itu dibacok-bacok Parang



diremas-remas seperti daging segar. dibuka lagi, pelan-pelan, selembar-demi-selembar. dibuatkan pigura, dipajang dalam kamar. ternyata masih kurang sreg juga.

piguranya diusung ke kamar mandi. dipelototi ampe mata juling begasing-gasing, tapi itu cerpen masih bandel juga. gak ada bagus-bagusnya acan. lama ngendon di kamar mandi, digedor sama orang serumah dikira sudah mati di dalam. cerpen itu bikin tak bisa mandi. orang serumah protes keras lantaran bergidik liat kertas comel comang-comeng darah segar dari tangan terParang. cerpen itu menggigil keluar dari kamar mandi.

saking geregetan cerpen itu ditaruh sembarangan dalam wc. lagi-lagi cerpen yang gak sreg itu bikin ulah. orang-orang takut masuk wc. di bawah lampu wc yang remang cerpen itu mengeluarkan gambaran remang-remang dari seorang penulis cerpen yang mati penasaran. cerpen itu menghantui orang serumah. saking ketakutannya, mereka lari berhamburan keluar rumah. ruang tengah, kamar tidur, dapur, ruang tamu, tak lupa wc dan kamar mandi sudah tak lagi aman. orang-orang berlarian ke sana-sini nyari tempat sembunyi. tak sempat berpakaian, tak baju, tak celana, luar dalam mereka lupa. orang-orang terus berlarian keluar rumah. apalagi setelah cerpen itu ikut lari ketakutan. berkejaran mereka berlarian, tanpa busana, tanpa paksaan, tanpa pigura.

cerpen itu mencari teman menghambur ke orang-orang yang ketakutan. keliling kampung, keliling kota.

orang-orang kampung terpukau oleh pemandangan istimewa ini. mereka anggap serupa santapan mewah. mereka turut suka berlari-lari dalam histeria. orang serumah dihantui cerpen itu dan diturutsukai orang sekampung berlarian tak kunjung ujung. semua orang (termasuk si cerpen, sic!) lantas terlibat dalam karnaval panjang sambil berteriak, tertawa, mengacung-acungkan pakaian dan celana. kegembiraan tak terduga ini tentu saja disambut meriah oleh tiap orang sepanjang-jalan-mana mereka lintasi dengan lintasan-lintasan pikiran sepintas. orang-orang di jalan-jalan, gedung-gedung, warung-warung, kantor jawatan pemerintah dan partikelir sedikit tertegun oleh kenyataan bahwa di kota mereka masih ada yang tertawa. segera saja semua memburu ke arah yang sama. tak ketinggalan pula seorang pemburu-gembira-ria ini yang berlari sambil mengebor jalan.

yang lain tak mau kalah, cepat-tepat dilakukannya goyang ngecor. sebagian lagi menyusul dengan goyang ngedor. amboooooi, alamaaaaaak, alakazaaaaaaaam, abracadabrrrrrrrrra. seisi kota mencair riak ke dalam larutan kegembiraan ini. semua seperti kenabian (sebutan lain untuk kata kesetanan; hanya berlaku di kota itu, pen.) membentuk karnaval panjang yang lebih meriah dari pesta hari jadi kota, seluruhnya mengekoooooooooorrrrrrrrrr.

setengah terengah-engah, sampailah kepala keluarga pemilik cerpen itu pada ujung kota yang mewujud dalam bentuk tubir jurang teramat dalam.

pelahan kepala keluarga itu menengok ke arah orang-orang serumah dan orang-orang sekotanya. lalu matanya tertumbuk pada sebuah cerpen tanpa pigura. "ini semuuuuuaaaaaa garrraaa-garrrraaa kamuuuu!!!!

serta-merta kepala keluarga itu mencabik cerpen yang masih menggigil ketakutan dan nyaris kehabisan nafas itu. tak sanggup mengelak cerpen itu pun menurut saja dicabik-cabik oleh kepala keluarga. orang-orang serumah segera sadar akan keadaannya, orang-orang sekota begitu pula jadinya. si penulis cerpen yang tangannya terParang itu pun tak mau kalah rindu-dendam pada cerpennya. akhirnya setelah melalui pergulatan yang sangat dahsyat cerpen itu bisa dijinakkan dari kebanalannya. akhir kata, jadilah sebuah cerpen pendek seperti ini.2003

Sunday, August 03, 2003

Jalan gelap belakang SC











Debu. Dan puing-puing beterbangan memenuhi ruangan. Hampir seluruh sudut ruang di tepi pantai ini lebur jadi serpihan debu dan remah-remah sisa bangunan. Pantai ini jadi lebih luas dan ramai oleh potongan-potongan tubuh basah merah, ketimbang oleh hingar-bingar musik klab malam.



Ari terus merangkak, keluar. Mencari jalan paling mungkin di antara perih sekujur tubuhnya yang terbuka dan lepuh. Bertumpu pada lengan kanan, dilihatnya tubuh-tubuh lain di sekelilingnya pun cuma potongan tulang dan keratan daging hangus, dia mulai yakin kalau Devia telah habis riwayatnya. Sasaran yang seharusnya habis di tangannya itu rupanya sudah lebih dulu mati. Matanya terasa hangat dan basah, entah untuk siapa. Entah untuk apa, dia cuma ingat tak semua bisa ditanya untuk apa.



Lelaki legam ini mendengus, saat tangan kirinya menyikut tembok lapuk di luar bangunan rubuh itu. Nyeri yang menyebar dari sikunya hampir-hampir membuatnya berteriak sekeras geledek yang pernah didengarnya. Beruntung dia segera menahan kelojotan lidahnya begitu sadar beberapa orang mulai datang. Tak lama berselang orang-orang itu berbiak jadi puluhan sampai ratusan penduduk dan pelancong yang sibuk mencari sanak keluarganya. Ari selamat, mungkin juga bakal lebih selamat kalau segera dilarikan ke rumah sakit. Tapi Ari lebih memilih diam, menyelinap diam-diam.



Rumah sakit mungkin bisa menyelamatkannya dari luka-luka, tapi tidak dari kejaran orang-orang yang sedang memburunya. Dengan luka di mana-mana lelaki ramping kecil itu terus menuju kegelapan. Menembus malam, sampai ke sudut paling gelap di kolong kota pesisir selatan ini, tak ada lagi yang perlu ditakutkannya terhadap malam. Sebab Ari bahkan telah menembus batas perjanjiannya dengan You-As Inc. Intl.



Perjanjiannya adalah bahwa Ari harus menghabisi seorang pembelot bernama Devia. Entah, pembelotan macam apa yang telah dilakukan perempuan muda berdarah lokal dan Yunani itu. Buat Ari alasan bukanlah satu hal penting untuk pelaksanaan tugasnya, bisnisnya. Satu sasaran, satu penghabisan1 dan satu pembayaran, sudah cukup buat dijadikan satu alasan. Tugas adalah tugas, bisnis adalah bisnis.



Biasanya juga begitu. Mulai dari model penghabisan manual, penghabisan dengan mesiu, kecelakaan biasa, sampai kecelakaan tanpa jejak korban pun biasa dilakukannya. Begitu yakin dengan sasaran, maka sisanya tinggal menunggu saat yang tepat buat saat penghabisan. Itu pun tak perlu banyak makan waktu. Dan kalau harganya terlalu kecil, maka jebolan sekolah jalanan Jagir ini akan memakai cara lama yang sudah ketinggalan dan sederhana.



Dia jemput orang itu dari depan atau belakang. Renggut rambutnya, lalu gesekkan katana2 dari ujung ke ujung. Lalu pergi tanpa pernah menengok ke belakang lagi, hanya jeritan orang-orang di sekitar korban yang kadang terngiang. Begitulah semua sasaran Ari habis tanpa menyisakan perkara. Satu-satunya masalah adalah bahwa dia tak bisa cepat pulang. Dua tiga bulan ke depan dia harus pergi keliling negeri ini.



Satu kali sempat ibunya bertanya.



“Apa nggak bisa cari kerjaan lain?” tangan ibunya terus menggerus ramuan luka akibat terobek dalam sebuah bisnis besar untuk menghadapi seorang jawara tua dan memaksanya pulang sebentar.



“Buat apa?” meringis menahan rasa perih di iga kirinya.



“Apa nggak takut kuwalat?”



Sebenarnya jeri juga Ari pada pertanyaan itu. Tapi meninggalkan bisnis yang sudah dijalaninya sepuluh tahun lebih ini bukan pekerjaan mudah. Dan lagi lelaki berambut daun cemara ini, yang kalau dipotong pendek bakal kelihatan seperti mau menantang langit, sudah punya satu cara buat menghindari kata kuwalat itu. Satu hal, jangan pernah melihat mata korban3. Apa pun yang terjadi padanya. Satu lagi kunci di luar tugas, sehari-hari jangan pernah mencari atau mendekati masalah.



Pernah satu kali kampungnya diributkan oleh tawuran persahabatan, perebutan daerah kekuasaan, dengan pemuda kampung sebelah. Seorang pemuda kampungnya datang berlari-lari dari arah lokasi kejadian menuju rumahnya. Ari segera berdiri dari tempatnya berjongkok di depan pintu.



“Jangan. Cari tempat lain saja,” tangannya tetap ringan tanpa kesiagaan bertarung, tapi matanya sarat tekanan.



“Tolonglah, Ri,” pemuda itu mencekam lambungnya yang menangis merah.



“Kamu tahu bagaimana aku. Aku tahu siapa kamu,” sambil berbisik Ari melangkah satu-satu. “Kamu sudah maju, kenapa sekarang mundur?”



Pemuda itu tak mau lebih lama menunggu, segera terbungkuk-bungkuk lari lebih cepat dari saat dia datang. Dan hilang di gelap malam. Ari jongkok lagi, menyulut rokoknya. Beberapa saat kemudian seorang pemuda lain datang, pemuda yang tak dikenalnya. Pedang panjang karatan berlumuran basah di tangannya. Ari diam di tempat, hanya pandangannya nanap ke titik hitam mata pemuda itu. Diisapnya rokok ditangan dalam-dalam, matanya menatap lebih dalam dari luka yang bisa dibuat dengan pedang gemetar itu.



“Kalau pedangmu deg-degan lihat mataku, jangan datang ke rumah ini.” embusan tipis keluar dari lubang hitam di wajahnya.



Penenteng pedang itu pun mundur beberapa tindak dan menghilang lagi. Mungkin mulai sadar, siapa lelaki di depannya barusan. Lelaki yang tak boleh disebutkan namanya dengan tidak hormat dalam radius 500 rumah dari kampungnya. Nama yang juga dikenal baik oleh para cukong pendendam. Namanya tak jarang juga dijadikan jaminan buat keluar tahanan, asal dia tak tahu. Sebab begitu dia tahu, maka tak akan segan-segan menghabisi tukang catut nama itu. Apa pun pasalnya. Jadi hidup bersih sudah menjadi kesehariannya.



Bukan apa-apa. Dia berusaha selalu tetap bersih, bahkan alkohol pun tak lagi disentuhnya. Cukup susu putih setiap pagi dan sorenya. Bersih di rumah, bersih di luar rumah, bersih pula pikirannya dari mata yang ketakutan saat para korban sekarat menjemput maut. Begitulah biasanya dan seharusnya.



Tapi kali ini Ari dipaksa melakukan kerja tambahan. Ada pembayaran lebih memang, meski sebenarnya dia tak terlalu suka melakukannya. Ari diminta lebih dulu menemui seseorang di salah satu kafe di ibukota, dia biasanya lebih suka melakukan transaksi lewat layar monitor dan nomor rekening saja. Tapi sudahlah, dia sudah terlanjur masuk ke dalam ruangan ber-ac itu. Duduk di antara orang-orang rapi paling menyebalkan yang pernah dilihatnya. Minum ini, minum itu, lantas melantur tak kenal ujung pangkal. Dan cuma satu yang tak seperti itu.



“Jadi anda, orang yang dikirimkan You-As?” suara lembut itu kemudian mengenalkan diri sebagai Devia.



Ari tercekat beberapa saat. Pertama kali itu dia menghadapi perempuan sebagai sasarannya. Selebihnya dia pun tak tahu bagaimana harus bersikap pada sasaran yang sudah tahu keadaannya sebagai korban.



“Kalau anda tak bersedia duduk, bagaimana kita bisa bertransaksi?” masih lembut, masih mencekam pikiran Ari. “Baik. Mana bagian saya? Saya sedang buru-buru.”



Bagian? Uang? Ini lagi, Ari tak pernah soal transaksi dan pembagian uang apa pun.



“Tidak, saya cuma diminta mengantar sampai Pelabuhan Ratu,” tukas pemuda itu tanpa arah.



“Kenapa mereka selalu mempersulit keadaan?” kepalanya menggeleng beberapa kali. “Kecil-kecil tapi menjengkelkan. Ah, kalau saja anda pernah melakukan tugas yang lebih berat dari ini. Hal-hal kecil seperti ini pasti akan sangat menjengkelkan. Saya sudah menunggu lebih dari enam bulan untuk pembayaran yang seharusnya saya terima segera setelah tugas saya selesai. Pernah menghabisi orang-orang tak dikenal?”



Pertanyaan itu. Pertanyaan itulah yang menghentakkan Ari dari arah jalannya. Dia sedang dalam tugas, menghabisi orang yang harusnya mendapat bayaran sebagai hasil jerih payahnya. Orang yang seharusnya bisa menjadi teman senasib. Senasib, pikiran itu juga yang menjerumuskannya dalam kubangan yang lebih jauh. Aku pun bisa mengalami nasib serupa kalau sudah tak dibutuhkan lagi atau dianggap seperti itu, pikiran Ari mulai limbung.



Sampai di kamar hotel dekat Pelabuhan Ratu, Ari juga tak menemukan pengantar pembayarannya yang dijanjikan akan menemuinya di sana. Ari lebih keras lagi berpikir, jangan-jangan aku pun menjadi sasaran. Diperiksanya beberapa barang bawaan Devia. Tak ada yang berbahaya, tak ada benda tajam, tak ada peledak yang bisa membuatnya sekarat, tak ada mesin penghancur kaliber berat. Hanya sebuah magnum yang bisa diamankannya.



“Kenapa kau bongkar barang-barangku?!” masih dengan handuk di badan, keluar dari kamar mandi, kelembutan itu pun berubah berang. Ari sedikit terusik oleh tingkah berang-berang betina ini.



“Kita harus pergi.”



“Kemana lagi?!”



“Entahlah, aku merasa tidak nyaman di sini.”



“Kenapa? Ini kan yang kalian inginkan? Kita berlarat-larat dengan perjalanan celaka ini?!” G-string, bee-dee’s dan seragam hitam dari You-As sudah lengkap di tubuh padat-rampingnya.



“Rasanya....tak lama lagi aku pun bakal mengalami perjalanan sepertimu.”



“Baik. Lelaki penuh perasaan, jelaskan maksudmu,” resleting panjang seragam itu hampir mencapai leher jenjangnya.



“Aku diminta menghabisi seseorang,” suaranya lemah.



“Aku?” melompat gesit dan digerayanginya tas hitam di bawah meja sudut sana. Lalu segera lemas setelah sadar kalau perbuatan itu pun sia-sia belaka. “Baik. Lakukan sekarang. Cepat!!”



Ari bergeming. Suara di depannya terngiang antara kemarahan dan keputus-asaan. Tangan kanan lelaki legam ini menjulur lemah, matanya menyapu lantai di bawah. Tenggoroknya naik turun saat magnum itu lepas berpindah tangan dengan cepat.



“Kenapa?” pertanyaan anak-anak sekolahan yang paling dibencinya.



“Kita harus cepat pergi dari sini.”



Devia tak bersuara lagi. Semua tas hitamnya sudah tertutup rapi. Beberapa saat mengintip keluar lewat tirai kamar mereka. “Berapa hargaku?”



“Tiga ribu dollar.”



“Murah sekali! Hh! Mereka benar-benar anjing,” Devia mengikat rambut sebahunya dan mundur bebarapa langkah, menjauhi jendela kamar itu pelahan. “Berapa per diem4mu sekarang.”



“Sekitar 250. Tapi rekeningku sudah cukup buat beli tanah peternakan di pedalaman timur sana,” mencoba melucu.



“Berapa banyak rekeningmu yang bisa kau selamatkan dari mereka?” mengintip tirai itu lagi. “Kita jawab nanti saja.”



Devia menggelandang tangan jagal yang baru pertama kali gagal ini. Ari kaget bukan kepalang, tapi Devia sudah menghambur tungang langgang, mendobrak pintu, dan terus berlari. Beberapa saat kemudian terdengar hingar bingar salvo melubangi jendela dan kamar yang baru lima langkah mereka tinggalkan.



Dan keduanya terus berlari. Lewat gang-gang kelinci dan lubang-lubang tikus yang mereka kenali. Sampailah keduanya di kota pesisir pantai selatan tempat sandaran para pelancong ini. Surga dunia di negeri para dewa ini, satu-satunya pilihan yang bisa mereka sepakati. Ari tak mau pulang dan menghancurkan hidup ibunya, keluarga satu-satunya. Devia tak tahu lagi harus ke mana. Angin kematian mereka sama, tapi mereka punya selera yang jelas berbeda. Ari tak suka keriuhan. Devia sebaliknya, lebih suka sembunyi di tengah keramaian.



“Aku tak mau mati berkumpul kebo dan sapi di ladang peternakan dalam otak konyolmu itu.”



“Aku juga tak mau mati di antara orang-orang bodoh yang suka berpura-pura menggelandang itu.”



“Terserah, kalau aku mati lebih dulu. Kau toh bakal punya pilihan buat menarik bayaranmu.”



Ari masih akan membantah kemungkinan itu, tapi Devia sudah tak bisa diajak bicara lagi. Berang-berang betina ini sudah menghambur di tengah keramaian pelabuhan. Melompat ringan di antara para penumpang bercampur ayam, kambing, dan sapi kiriman. Ari mengikut saja, tak tahu kenapa.



“Mau berapa lama kau bertahan dengan pekerjaan ini?” bisikan itu menyemburkan aroma tajam yang tak disuka Ari.



“Sampai aku bisa berhenti,” masih dengan susu putih hangat yang bisa bikin perut Devia mual-mual.



Sore itu keduanya keluar dari motel pinggir jalan milik kenalan Ari. Duduk berhadapan di salah satu sudut klab malam ini. Dekat pintu masuk, seorang lelaki berbadan tegap meninggalkan tas hitam. Lelaki itu sendiri menuju toilet seperti ditunjukkan oleh portir. Ari mendenguskan ketakutannya. Apakah orang tegap itu juga anggota You-As? Kenapa dia pergi lagi? Haruskah orang lain yang akan membuka tas hitam itu dan melakukan eksekusi atas mereka? Haruskah dia memastikan isi tas hitam itu? Haruskah dia digantung oleh pertanyaan-pertanyaan itu?



“Dev...?”



“Ri!” perempuan cantik itu sudah menyelinap jauh di antara para pesakitan di lantai dansa. Menari-nari di sana, sambil menunjuk-nunjuk ke arah pintu belakang. Dua orang berseragam You-As menunggu di bibir pintu itu. Devia hilang lagi, Ari memburunya tak tentu arah. Dalam hitungan 25 detik kemudian, Ari merasakan tubuhnya melambung tinggi, melayang keras dan akhirnya terhempas tumpas.



***



Ari terus merayap pelahan seperti kadal. Pelahan tapi pasti dia pun hilang di antara mayat-mayat. Di antara semak dan sisa bangunan. Radius seratus meter atau lebih telah rata dengan tanah. Tak lama berselang terdengar lagi ledakan yang tak kalah kerasnya. Tapi sepertinya bukan dari dalam kota, mungkin jauh di luar kota. Ari tak mau peduli lagi. Ari benar-benar tak mau melihat ke belakang lagi. Terus merayap dan mengumpat.



“Devia...” terus digumamkannya nama itu. Demamnya tak kunjung turun. Saat dia mulai sadar, tiba-tiba saja sudah banyak orang di sekitarnya. Sebagian kasihan, sebagian bertanya-tanya.



“Ah mungkin istrinya hilang di sana.”



“Ya, benar. Siapa tahu.”



“Nama bapak siapa?” seorang pemuda berpakaian serba putih menanyainya dengan sopan. Ari sendiri mencoba hentikan gigil demamnya



“Abim. Abimanyu lengkapnya,” diliriknya tangan pemuda itu mencatat namanya di secarik kertas berbantal kayu lapis, seperti ingin menjadi malaikat penjaga makamnya. Ari tak mau kalah dengan aksi penyamaran pemuda itu. Semua data yang diberikannya hanya pemanis bibir belaka. Genap seperempat jam pemuda itu selesai dengan daftar pertanyaannya. Ari, sebagai pengusaha seperti yang barusan diakunya, mendapat perawatan lebih intensif dan khusus. No. Registrasi kartu kredit atas nama Abimanyu ternyata bisa menjadi jaminan yang berharga. Beberapa lama kemudian didapatinya balutan disekujur tubuh dan wajahnya.



Tiga hari kemudian, Ari keluar dari kamp penampungan korban setelah menyelesaikan urusan administrasi. Tapi dia sendiri pun sulit mengenali wajahnya. Dia merasa harus menemui kenalannya pemilik motel pinggir jalan itu.



Tinggal puing-puing motelnya. Tapi pemiliknya masih selamat dan mengadakan semacam selamatan ruwat bumi di bekas bangunan motelnya. Lelaki paruh baya bersila di sana dengan seluruha sanak keluarganya, tak kurang seorang pun.



“Aku Ari, Bli.”



“Ah, saya kira sudah hilang juga kamu,” mata pensiunan jagal ini pun bertanya-tanya.



“Kupakai nama lain. Wajah dan badanku habis diberangus. Gila benar mereka.”



“Kudengar, urusanamu bukan masalah kecil. Devia tahu urusan di kota ini, kemarin dia datang, tapi dia tak mau bilang.”



“Jadi dia sengaja membawaku kemari.”



“Bukan. Dia tahu lokasi ini bakal lebur. Karena itu dia diburu. Sintingnya dia justru sengaja datang kemari, mungkin mencari teman mati sebanyak-banyaknya dari pihak mereka. Sudah taruh kemenyannya dan pergi.”



“Tolong urus surat-suratku.”



“Di kamar belakang rumah Tanah Lot,” lelaki itu terus memanjatkan doa bersama bubungan kemenyannya. Semoga dewa-dewa mendengarkan doa orang-orang yang tulus kepadanya. Ari menghilang di kerumunan orang-orang.



Sampai di kamar itu, Ari segera mencari kotak besi pipih hitamnya. Menemukan surat-suratnya masih lengkap.



“Mungkin aku memang harus mati berkumpul kebo dan sapimu.” Bisikan itu masih secantik orangnya. Luwak5 keparat, Ari mengumpat dalam hatinya kaget tak keruan, bagaimana berang-berang ini bisa menyelamatkan diri dan kecantikannya. Keduanya pun pergi lebih ke timur. Dari sana mereka tak mau lagi mendengar berita tentang ledakan yang makin simpang siur dan tak jelas jluntrungannya itu.



Ari lebih suka beternak dan berkebun, Devia sibuk dibelakang layar monitornya.



2003







1 Ari tak pernah punya kata bunuh dalam kamusnya, tapi tiap korbannya selalu sadar apa yang dialaminya setelah badannya terpisah dari roh yang memberinya tenaga. Sedang yang namanya roh itu sendiri sudah pergi entah kemana. Mungkin pergi bersama angin. Entah.



2 pedang ukuran sedang; warisan Mbah Karso yang sempat selamat dari jaman PETA Jepang. Lebih ringan dari samurai klasik dan lebih mumpuni buat membikin goresan tajam dari pedang pendek.



3 cara ini pun diturunkan oleh Mbah Karso yang telah berpuluh tahun sebelum akhirnya mereka bertemu waktu Ari kanak-kanak. Mbah Karso banyak cerita soal perjalanannya setelah meninggalkan keluarga mereka. Mbah Karso bukan raja tega atau rampok. Tapi kalau sewaktu-waktu terpaksa melakukan itu karena merasa direndahkan harga dirinya oleh orang lain, maka dia bakal menghabisi orang itu dengan cara sederhana.



Pertama kali tentu sulit melakukannya. Tapi pengalaman selalu mengajarkan lebih banyak hal daripada pengetahuan. Pengalaman kedua, ketiga dan seterusnya akhirnya mulai menjadi tabiat biasa. Tabiat hidup di luar rumah. Kadang buat sekadar bertahan hidup pun kita harus menghentikan hidup orang lain, begitu kata Mbah Karso berkali-kali. Dan jangan pernah melihat mata mereka setiap kau lakukan itu, ujar Mbah Karso mewanti-wanti waktu Ari muda terpaksa menohok ulu hati teman minumnya, tembus punggung. Sejak itu Ari mulai terbiasa dengan kebiasaan Mbah Karso. Sayang bahwa kebiasaan ini tidak bertahan lama, karena Ari terlibat masalah yang lebih besar. Dia lari keluar pulau beberapa bulan. Balik ke rumah setelah dirasanya aman. Seterusnya hidup menggiringnya ke arah yang lebih pasti dan berbau uang, bisnis barunya.



Tak hanya cerita dan katana, Mbah Karso juga mewariskan lembu sekilan. Rapalan milik Gajah Mada dan Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya seperti tertulis dalam riwayat pejuang Mahesa Jenar ini mampu melindungi pemiliknya dari kecelakaan berjarak antara 25 cm dan 1 meter dari badan.



4 biaya transportasi dan akomodasi.



5 berang-berang (Jw.)